
Ki lurah Arya Dipa hanya mampu menggelengkan kepala atas keras kepala orang yang menyebut dirinya Kebo Mrapen. Sejenak perwira muda itu akan kembali bersuara, tapi lawannya sudah mendahului dengan serangan rantai mengancam dirinya.
Juluran rantai berbandul itu sangat cepat dan ganas, tapi kembali ki lurah Arya Dipa berhasil menghindari terjangan rantai berbandul. Secepat ki lurah Arya Dipa menghindar, selekas itu pula lawan menyusuli tendangan ke pinggang ki lurah Arya Dipa seraya menarik rantainya untuk mempersiapkan serangan selanjutnya.
Perkelahian itu makin seru dan dahsyat mencari kelengahan lawan dan mengarah titik - titik kelemahan lawan. Rantai Bandul ki Kebo Mrapen semakin ganas dengan ayunan yang mendebarkan setiap senjata itu mengarah lawan. Tapi ki lurah Arya Dipa bukanlah lawan yang sebanding dengan pemimpin bromocorah itu, yang sesungguhnya hanya melayani setiap langkah dan serangannya.
Sementara itu para anak buah ki Kebo Mrapen sudah dapat dilumpuhkan oleh prajurit Sambi Wulung dan Jaka Ungaran. Keduanya selanjutnya mengawasi perkelahian yang dilakukan oleh ki lurah Arya Dipa dan ki Kebo Mrapen.
Keadaan tak menguntungkan dialami oleh ki Kebo Mrapen, tenaganya mulai menyusut serta peluh membasahi tubuhnya, tak terasa napasnya pun juga mulai ngos - ngosan tak beratutar. Manakala menggunakan tenaga yang tersisa untuk mengayunkan rantainya, matanya terbeliak dikarenakan pedang tipis lawannya telah memutus rantai yang terbuat dari besi itu. Tinggalah rantainya hanya sepanjang empat kilan saja akibat tebasan pedang tipis kyai Jatayu.
Tubuh ki Kebo Mrapen langsung lunglai dan jatuh terduduk untuk menerima apa yang akan dilakukan lawannya untuk selanjutnya. Tenaganya sudah tak berdaya lagi untuk sekedar beringsut barang sejengkal saja.
"Bunuhlah aku, ki prajurit." serunya.
"Apakah dengan membunuhmu, akan menyelesaikan semuanya ?" tanya ki lurah Arya Dipa.
Mendapati pertanyaan itu ki Kebo Mrapen mengerutkan dahinya, "Tentu begitu, dengan terbunuhnya aku tiada lagi tindakan kejahatan di Mrapen ini."
"Oh.. Apa yang kau tahu dengan tindakan kejahatan ?"
"Kejahatan ya kejahatan, anak kecil saja pasti mengerti." jawab ki Kebo Mrapen.
"Aneh kau ki Kebo Mrapen. Kau bilang anak kecil saja akan mengerti dengan tindakan kejahatan, tapi kau yang setua ini tak memahami arti dari kejahatan." kata ki lurah Arya Dipa.
"Itu... " kata ki Kebo Mrapen terputus.
"Mengapa kisanak ? Bukankah apa yang aku duga itu benar ? Bahwasanya dirimu kalah dengan anak kecil dalam memahami makna kejahatan." tukas ki lurah Arya Dipa, "Aku rasa dalam hati kisanak pasti ada secercah sinar yang mampu memahami dan membedakan apa itu kejahatan dan kebaikan. Kisanak kita ini manusia yang mendapat anugerah lebih daripada makhluk lainnya, yaitu akal dan hati."
"Oh.. " kepala ki Kebo Mrapen menunduk, seakan - akan ia duduk di ruang pesakitan.
"Tuhan menciptakan manusia untuk berpikir menggunakan akal dan menghayati dengan hati, sehingga akan mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Sudahilah perbuatan merugikan sesama itu dan gunakan apa yang kisanak punya itu untuk kebaikan atau kerja yang dikehendaki oleh Sang Nata Buana." sejenak ki lurah Arya Dipa berhenti demi memandang orang yang lebih tua darinya, "Maaf kisanak, bukannya aku menggurui kisanak yang sudah mempunyai pengalaman hidup lebih panjang dariku."
"Oh.. tidak anakmas." desis ki Kebo Mrapen yang mulai terketuk hatinya, "Bukan ukuran jika yang tua itu lebih baik dari yang muda, malah aku mengucapkan permintaan maaf, dan aku siap menerima hukuman yang anakmas jatuhkan."
"Oh Gusti Yang Maha Agung.. " ucap ki lurah Arya Dipa, senang demi mendengar adanya perubahan yang dialami oleh ki Kebo Mrapen.
"Tidak untuk kali ini, kisanak. Kami akan memberi kesempatan kepada kisanak serta yang lainnya, dengan syarat meninggalkan tindakan merugikan orang lain." kembali ki lurah Arya Dipa berkata.
"Oh.. Terima Kasih - terima kasih anakmas prajurit." ucap ki Kebo Mrapen seraya menyembah hormat.
"Sudahlah, kisanak. Tapi jika kami mengetahui kisanak atau yang lainnya masih berlaku seperti ini di telatah mana pun, kami tak segan untuk berlaku keras."
"Kami berjanji anakmas, kami akan bekerja bertani atau pun menggunakan kemampuan kami sebagai pengawal para pedagang." janji ki Kebo Mrapen.
"Baik kami pegang janji kisanak, kalau begitu kami akan melanjutkan perjalanan kami."
Sebenarnya ki Kebo Mrapen mempersilahkan ki lurah Arya Dipa untuk singgah di gubuknya, tapi dengan halus ki lurah Arya Dipa menolak dan akan segera melanjutkan langkahnya ke Demak.
Perjalanan ki lurah Arya Dipa dan kedua prajurit kepercayaannya akhirnya sampai juga di telatah Demak. Di depan, pintu gerbang sudah terlihat menampakan kekokohannya yang diapit dengan panggungan bagi prajurit penjaga berdiri di atas panggungan.
Ketiganya memasuki gerbang dengan mendapat sambutan prajurit penjaga yang mana tangan kanan memegang tombak dan tangan kiri memegang tameng baja menambah kegagahan prajurit penjaga, berupa sikap tegak dan menundukan kepala.
"Selamat datang di kotaraja, ki lurah." sambut prajurit penjaga.
Dengan ramah ki lurah Arya Dipa membalas sapaan prajurit penjaga, lalu segera berlalu dari pintu gerbang.
"Ki lurah, kita langsung ke barak atau ke keputren ?" tanya prajurit Sambi Wulung dengan senyum menggoda.
"Ah.. Kau mulai lagi Sambi Wulung. Memangnya ada yang kau cari disana ?" sahut ki lurah Arya Dipa seraya melempar pertanyaan.
"Hehehe.. Sebenarnya begitu, ki lurah. Aku ingin mencarikan lurahku seorang bidadari yang bertugas mengawal gusti putri Cempaka."
"Oh.. Benarkah itu Sambi Wulung ? Kalau kanjeng Sultan menyewa seorang bidadari untuk mengawal gusti putri Cempaka ?" prajurit Jaka Ungaran ikut menggoda.
Ulah berupa godaan dari kedua prajuritnya itu membuat ki lurah Arya Dipa tersipu malu, selintas warna semburat merah menghiasi pipinya, namun dengan cepat ia mampu menghilangkan kesan itu seraya menarik kekang kudanya supaya berhenti.
"Kakang berdua memang keterlaluan, aku sebagai lurah tidak ada perbawanya sama sekali." kata ki lurah Arya Dipa mengkal.
"Oh.. Maafkan hamba ki lurah yang terhormat, bukan maksud hamba berdua untuk berlaku deksura terhadap ki lurah yang bijaksana." ucap prajurit Sambi Wulung, "Jikalau kata - kata kami membuat hati ki lurah mengkal, hamba berdua siap menerima hukuman seberat - beratnya."
"Begitu pun dengan hamba ini, ki lurah. Nyawa ini siap menebus kesalahan yang hamba perbuat." sela prajurit Jaka Ungaran.
"Bagus, prajurit. Nyata kalian sudah sadar dan akan menerima hukuman yang aku beri. Apakah kalian benar - benar ikhlas menerimanya ?"
"Hamba duh gusti.. " sahut prajurit Jaka Ungaran dan Sambi Wulung bersamaan.
"Bagus.. Kalau begitu sampai di barak kalian cuci Jatayu Pethak dan kasih makan, lalu cuci pakaianku dan pijati kakiku !" seru ki lurah Arya Dipa dengan lagak dibuat - buat.
"Ah.. kalau begitu tidak jadi, ki lurah."
"Hahaha... Dasar kalian !" seru ki lurah Arya Dipa, lalu katanya, "Ayo kita ke barak menemui ki tumenggung Gajah Pungkuran."
Begitulah diantara prajurit itu yang masih sempat berkelakar tanpa melihat perbedaan jenjang kepangkatan. Ketiganya lantas menuju ke barak untuk menemui ki tumenggung Gajah Pungkuran, yaitu pemimpin dari kesatuan Wira Tamtama Demak.
Di bangunan barak Wira Tamtama yaitu tepat di ruang dimana ki tumenggung Gajah Pungkuran berada, ki lurah Arya Dipa diterima sendiri oleh ki tumenggung Gajah Pungkuran.
__ADS_1
"Bukankah ki lurah Arya Dipa bertugas mengikuti pasukan ke Purbaya ?" tanya ki tumenggung Gajah Pungkuran.
"Benar, ki tumenggung. Kami yang awalnya memberi tuntunan bagi para pengawal tanah perdikan Sembojan, kemudian melanjutkan tugas bersama pasukan Demak ke Purbaya. Namun ketika berada di selatan kademangan Prambanan, kami mendengar sebuah warta yang mana menyangkut keberadaan dari dua pusaka Demak yang saat ini jengkar dari gedung perbendaraan." tutur ki lurah Arya Dipa, yang kemudian melanjutkan tujuannya kembali ke Demak, yang tiada lain mendapat perintah dari ki tumenggung Suranata untuk meminta sebuah pasukan menuju tanah perdikan Banyubiru.
"Oh.. " ki tumenggung Gajah Pungkuran nampak kaget demi mendengar warta itu.
"Apa kau membawa nawala dari adi tumenggung Suranata, ki lurah ?"
Setelah mengiyakan maka perwira muda itu menyerahkan nawala kepada ki tumenggung Gajah Pungkuran.
"Baik, ki lurah. Sekarang juga kau ikut denganku, menghadap kanjeng Sultan di Balai Agung." kata tumenggung Wira Tamtama.
"Sendiko, gusti tumenggung." sahut ki lurah Arya Dipa.
Keremangan malam mulai menyelimuti kotaraja Demak, tapi nyala dimar mulai dinyalakan untuk memberi penerangan kotaraja. Sekelompok prajurit dengan gagah berada di tempat - tempat yang ditentukan, khususnya digardu perondan depan rumah para nayaka praja, barak pasukan, pintu gapura, balai - balai di dalam keraton, kaputren, kasatryan dan sebagainya. Lorong - lorong jalan yang membujur serta membelah kotaraja mulai nampak menyusutnya orang yang melintas.
Di bawah kanjeng Sultan Trenggono, suasana kesultanan Demak mulai berbenah diri meskipun kemelut yang masih bergejolak di bang wetan. Keamanan mulai ditingkatkan demi menjaga ketenangan dan ketentraman para penghuninya, walau waktu yang lalu kegemparan sempat mengguncang kotaraja. Yaitu atas berhasilnya maling sakti mencuri dua sipat kandel peninggalan Majapahit, keris kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten. Hal itu merupakan pelajaran yang berharga serta sebuah lecutan bagi prajurit Demak, untuk meningkatkan kemampuannya disegala bidang.
Di sebuah lorong yang segaris lurus dengan gedung istana, dua orang yang menunggang kuda terlihat mengarah menuju gedung istana. Dua orang itu tiada lain dan bukan, yaitu ki tumenggung Gajah Pungkuran dan ki lurah Arya Dipa. Seperti yang telah dikatakan keduanya ingin sowan menghadap kanjeng Sultan Demak, demi melaporkan perihal penting mengenai dua pusaka Demak yang hilang.
Prajurit penjaga bagian gardu utama yang mengetahui adanya dua orang pendatang, segera turun dari gardu menuju pintu regol gapura istana.
"Oh.. ki Tumenggung" kata prajurit itu seraya mengangguk hormat.
"Prajurit, katakan kepada pemimpinmu, aku ingin menghadap kanjeng Sultan."
"Sendiko, gusti Tumenggung."
Prajurit itupun lantas melaporkan kedatangan ki Tumenggung Gajah Pungkuran, kepada atasannya yaitu Lurah Tambakmas. Dan Lurah Tambakmas segera membawa ki Tumenggung Gajah Pungkuran dan ki Lurah Arya Dipa menaiki tlundak istana yang kemudian mengarah sebuah ruangan.
"Mohon kiranya gusti Tumenggung dan ki Lurah menunggu barang sesaat." kata ki Lurah Tambakmas, "Hamba akan menyalurkannya kepada prajurit Dalem, gusti."
"Iya, ki Lurah. Silahkan."
Lurah itu kemudian masuk ke dalam dan mengatakan kepada prajurit Dalem, kalau ki Tumenggung Gajah Pungkuran ingin menghadap kanjeng Sultan. Memang di dalam istana peraturan sangat ketat, bila seseorang ingin menghadap kanjeng Sultan harus melalui beberapa prajurit atau pengawal kanjeng Sultan. Tak semua tamu dengan mudah langsung menghadap raja begitu saja.
Malam itu kanjeng Sultan berkenan menemui ki Tumenggung Gajah Pungkuran dan ki Lurah Arya Dipa di ruang dalam.
"Tak sehari - harinya kakang Tumenggung menghadap pada malam hari seperti ini, Kiranya pasti ada sesuatu yang tentunya sangat mendesak ?" ucap kanjeng Sultan.
Tumenggung Wira Tamtama itu menunduk seraya merangkai telapak tangan merapat di kening, dengan penuh hormat ia pun mulai bertutur.
"Duh kanjeng Sultan, kedatangan hamba kemari tiada maksud lain kecuali ingin mengunjukan sebuah warta yang mengenai hilangnya pusaka Demak."
"Hm.. Apakah prajurit sandi sudah mendapatkannya, kakang Tumenggung ?"
Kanjeng Sultan Trenggono baru menyadari jikalau perwira yang dari tadi menundukan kepala, ialah ki Lurah Arya Dipa. Kanjeng Sultan masih ingat dengan sepak terjang pemuda itu yang beberapa kali memberikan sumbangsihnya, yang terakhir saat dirinya terkekepung oleh dua pasukan dari Jipang Panolan di bukit kapur Grobokan.
"Kau kah, ki Lurah.. " seru kanjeng Sultan.
"Sembah hamba, kanjeng Sultan." sahut ki Lurah Arya Dipa.
"Benarkah kau mengetahui keberadaan dua pusaka kyai Naga Sasra dan kyai Sabuk Inten, yang berhasil dicuri maling sakti ?"
"Hamba, kanjeng Sultan."
"Coba terangkan, ki Lurah." perintah kanjeng Sultan Trenggono.
Maka ki Lurah Arya Dipa dengan penuh hormat mulai menuturkan semua yang ia ketahui tanpa dikurangi atau dilebihi. Serta tak lupa mengatakan jika tindakan dari ki Ageng Sora Dipayana merupakan jalan untuk menuntaskan golongan hitam supaya tak menjadi ganjalan kesultanan Demak, di waktu yang akan datang.
Kanjeng Sultan menganggukan kepala demi mendengar penuturan dari Lurah muda itu. Kanjeng Sultan juga memahami bahwa tindakan dari ki Buyut Banyubiru itu sebenarnya sangat berbahaya, tapi demi mengingat pengabdian dari putra ki Ageng Sora Dipayana, yaitu Gajah Sora maka kanjeng Sultan berkenan.
Dahulu waktu kanjeng Sultan Sabrang Lor melakukan penyerangan pertama ke selat Malaka, Gajah Sora ikut dalam rombongan Armada itu. Bahkan pemuda Gajah Sora mampu memberikan sumbangsih yang baik, sehingga kanjeng Sultan Sabrang Lor berkenan menganugerahi pusaka tombak kepada Gajah Sora.
"Kakang Tumenggung, besok panggilah kakang Arya Palindih dari Bergota. Aku harap ia mampu mengambil tindakan dalam permasalahan ini."
"Sendiko dawuh, kanjeng Sultan."
"Dan kau, ki Lurah."
"Hamba, kanjeng Sultan." sahut ki Lurah Arya Dipa.
"Aku ingin kau nantinya ikut pasukan yang dipimpin oleh kakang Arya Palindih ke Banyubiru." titah kanjeng Sultan.
"Sendiko dawuh, kanjeng Sultan.
"Baiklah kalian boleh meninggalkan istana."
Keduanya kemudian mengundurkan diri dan kembali ke barak kesatuan Wira Tamtama, tapi di tengah jalan ki Lurah Arya Dipa berpisah dengan ki Tumenggung Gajah Pungkuran, karena ada kepentingan pribadi.
"Cepatlah kembali ke barak, ki Lurah. Besok kau akan ke istana kembali." kata ki Tumenggung Gajah Pungkuran.
"Hamba, ki Tumenggung."
Lantas keduanya berpisah jalan menurut tujuan masing - masing.
__ADS_1
Sejak awal ki Lurah Arya Dipa memang berkeinginan untuk melepas rasa rindunya kepada sang pujaan hati, yaitu Ayu Andini. Seorang gadis putri angkat Empu Citrasena yang saat ini menjadi prajurit Srikandi dengan tugas mengawal di Kaputren Demak.
Langkah kuda ki Lurah Arya Dipa memutar kembali menuju lingkungan keraton sebelah barat, yaitu sebuah lingkungan khusus diperuntukan untuk putri - putri raja. Sampai di depan regol gapura alit, ki Lurah Arya Dipa turun dari kuda dan memasukinya.
"Berhenti.. !" seru seorang prajurit dengan tombak menyilang.
"Oh.. Kau Prajurit Widagdo, ini aku Arya Dipa." kata ki Lurah Arya Dipa, tersenyum.
Prajurut itu memperhatikan dengan seksama orang yang menuntun kuda putih dengan seksama. Sejenak kemudian prajurit Widagdo baru mengenali jikalau orang itu seorang Lurah dari Wira Tamtama.
"Maaf, ki Lurah atas ketidaktahuan diri ini." ucap Prajurit Widagdo.
"Tak mengapa prajurit Widagdo, kau sudah berlaku dengan semestinya sesuai tugas yang kau emban." sahut ki Lurah Arya Dipa, lalu kemudian, "Siapa saat ini yang memimpin tugas ronda ?"
"Ki Lurah Mas Karebet, ki Lurah." jawab prajurit Widagdo.
Ki Lurah Arya Dipa mengerutkan dahinya demi mengingat nama yang disebutkan oleh prajurit Widagdo, tapi tak kunjung diri lurah muda itu mengenal nama yang baru ia dengar itu. Kemudian ki Lurah Arya Dipa mengeliarkan pandang ke arah gardu parondan. Di situ terdapat lima prajurit yang juga melihat ke arah ki Lurah Arya Dipa, tapi tak satu pun yang ia kenali.
Demi melihat pandang yang dilontarkan seorang prajurit dengan ciri pakaian seorang Lurah, prajurit di gardu Parondan segera berdiri dan mengangguk hormat, dan ki Lurah Arya Dipa telah membalasnya.
"Mereka semua prajurit baru, ki Lurah. Begitu juga dengan ki Lurah Mas Karebet merupakan seorang pemuda yang mampu menarik perhatian kanjeng Sultan Trenggono, ki Lurah mendapat anugerah pangkat Lurah Wira Tamtama." prajurit Widagdo, memberi penjelasan.
"O begitukah.." sahut ki Lurah Arya Dipa, "Lalu di manakah pemimpinmu ?"
"Ki Lurah Mas Karebat sedang dipanggil gusti putri, ki Lurah."
"Baiklah, sebenarnya kedatanganku kali ini ingin menemui nini Ayu Andini. Tolong laporkan hal ini kepada pimpinanmu untuk memberikan ijin kepadaku untuk menemui nini Ayu Andini."
"Baik, ki Lurah. Mohon tunggu sejenak di gardu Parondan." ucap prajurit Widagdo, kemudian beranjak ke dalam Keputren.
Setelah kepergian prajurit Widagdo, ki Lurah Arya Dipa menghampiri gardu yang disambut oleh para prajurit petugas di malam itu.
"Silahkan ki Lurah." kata salah seorang prajurit.
"Terima kasih, ki prajurit." ucap ki Lurah Arya Dipa sambil mengambil tempat duduk.
Sambil menunggu kembalinya prajurit Widagdo, ki Lurah Arya Dipa mengisi waktu untuk sekedar bertanya kepada prajurit - prajurit penjaga.
"O jadi kalian mengikuti pendadaran prajurit yang selesai candra ini ?"
"Benar, ki Lurah. Dalam pendadaran kali ini kami mendapat rintangan untuk mengalahkan seekor banteng, yaitu dipendadaran paling akhir." jawab seorang prajurit.
"O.. Begitu rupanya, pasti hal itu mendebarkan."
"Benar, ki Lurah. Nyawaku saat itu hampir melayang terkena serudukan banteng, jika saja ki Lurah Mas Karebet tak menolongku."
"Sejak awal ki Lurah Mas Karebet memang sangat meyakinkan daripada calon prajurit lainnya. Perawakannya yang tegap dan kokoh ternyata diimbangi dengan ilmu yang mengagumkan." sambung prajurit lainnya.
Saat itulah prajurit Widagdo telah keluar mengiringi seorang pemuda tampan yang berperawakan tinggi tegap dengan dada bidang.
"Selamat malam ki Lurah, aku Lurah Mas Karebet yang bertugas saat ini." ucap pemuda itu.
"Selamat malam juga, ki Lurah." sahut ki Lurah Arya Dipa berdiri menyalami pemuda yang tak lain ki Lurah Mas Karebet.
"Prajurit Widagdo sudah mengatakan semuanya dan karena ki Lurah sudah sangat dikenal di lingkungan ini, maka aku tak keberatan untuk mengijinkan ki Lurah untuk bertemu nini Ayu Andini."
"Terima kasih, ki Lurah." ucap ki Lurah Arya Dipa.
Dengan langkah pasti maka ki Lurah Arya Dipa menuju taman lingkungan Kaputren. Taman yang ditumbuhi bermacam bunga dan tetumbuhan yang membuat mata memandang, akan takjub dengan keindahan bunga itu. Beberapa lampu yang berasal dari negeri Atas Angin melalui perantara pedagang atau saudagar yang singgah di bandar Bergota, Tuban, dan Ujung Galuh.
Suasana yang indah ditambah dengan bermunculan sang bintang - gemintang yang berkedip di angkasa raya, serta sebuah lingkaran bercahaya tanpa selang memancarkan sinarnya menerangi bumi, yaitu sang candra atau rembulan.
"Aneh, kata ki Lurah Mas Karebet tadi Ayu Andini akan menemuiku disini. Tapi tiada seorangpun yang nampak." desis ki Lurah Arya Dipa.
Pemuda itu duduk di sebuah bangku yang menghadap kolam, di dalam kolam ikan - ikan berenang kian kemari seolah - olah tak merasakan rasa lelah. Tingkah ikan itu telah memancing perhatian ki Lurah Arya Dipa, pandangannya tertuju dengan dua ikan yang saling bekejaran.
Sangking terpesonanya ki Lurah Arya Dipa dengan ciptaan Sang Nata, tanpa ia sadari seorang gadis berpakain merah dengan pelan menghampirinya dari arah belakang. Entah mengapa pada saat seperti itu, seorang Lurah yang mempunyai segudang ilmu tak menyadari sama sekali, hingga Lurah muda itu kaget bukan kepalang.
"Oh.. Ayu, kau mengagetkan diriku." desis ki Lurah Arya Dipa.
Gadis itu tersenyum manis dengan dua lesung menghiasi pipi si gadis, sebuah lesung pipi indah yang membuat ki Lurah Arya Dipa semakin terpesona untuk terus memandangnya. Pandangan seorang lelaki kepada sang gadis pujaan hati, penuh dengan arti cinta berjuta rasa.
Si gadis yang sesungguhnya sangat mengharapkan tatapan kasih sayang dari sang lelaki, tak kuat untuk terus membalas tatapan itu dan membuat kepala si gadis menunduk dengan rona wajah bersulam warna merah, tersipu malu.
"Kapan kakang datang dari bang wetan ?" tanya Ayu Andini, berusaha menghilangkan rasa kaku.
"Tadi siang, Ayu." jawab ki Lurah Arya Dipa, lalu katanya, "Surat yang kau titipkan kepada paman Citrasena telah berada ditanganku. Terima kasih kau masih memegang erat rasa diantara kita berdua."
"Oh syukurlah bila kakang sudah berjumpa dengan ayah Citrasena."
Dua insan itu selanjutnya saling mencurahkan rasa rindu dengan kata ataupun ucapan indah dan mesra. Ucapan mengandung sejuta asmara diselingi dengan goda kecil terbalas cubitan mesra nan indah.
Sesungguhnya kata nikmat itu memang tah hanya hal yang enak saja, nyatanya sebuah rasa sakit itu terasa nikmat manakala munculnya dari sesuatu yang dicintainya.
Salah satunya ialah yang dialami oleh ki Lurah Arya Dipa pada malam itu, walau kulitnya terkena cubitan, nyatanya pemuda itu selalu tersenyum senang.
__ADS_1
Ada lagi sebuah rasa nikmat walau diri seorang itu sangat payah, yaitu seorang wanita hamil, yang mana perut membesar karena hamil sebenarnya sangat payah. Tidur miring kanan tak enak, tidur ke kiri tak enak, bahkan tidur telungkup malah susah. Tapi si wanita hamil sangat gembira dan nikmat, karena si jabang bayi yang ada dalam kandungannya hasil dari cinta dengan lelaki pujaannya.