
Waktu berjalan terus tanpa ada yang bisa menghentikan walau hanya sekejab. Di Demak Arya Dipa dan Ayu Andini yang ikut serta memasuki penerimaan calon prajurit baru, telah menolak secara halus uluran tangan pangeran Trenggono untuk langsung dijadikan seorang senopati.
"Maafkan kami pangeran, bukannya kami tak menghargai kemurahan pangeran mengangkat kami menjadi senopati, tapi itu semua pasti akan menimbulkan ketidakpuasan beberapa pihak dikarenakan pembuktian yang nyata dari hamba ini." kata Arya Dipa di suatu hari.
"Baiklah bila memang itu menjadi keyakinanmu, tapi aku yakin dengan kemampuanmu itu kau bisa mengungguli perwira yang akan memimpin pendadaran." sahut pangeran Trenggono.
"Ah, pangeran terlalu berlebihan menilai kemampuan hamba yang hanya sekuku ireng ini." Arya Dipa merendah.
"Hahaha... kau terlalu merendah, Arya Dipa."
Maka di keesokan harinya di alun - alun Demak telah dibuka untuk umum penerimaan calon prajurit baru. Ternyata banyak yang memasuki pendadaran itu, anak muda atau yang sudah berumur dan dari wanita atau gadis. Dan mereka pun berasal dari berbagai pelosok telatah Demak, dari pedesaan maupun kotaraja.
Seorang perwira bertubuh tinggi besar dengan kumis melintang berdiri di panggungan dan menerangkan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap calon prajurit.
Di tahap pertama calon prajurit akan diuji ketahanan tubuh mereka dengan berlari dari alun - alun kotaraja menuju hutan kecil di luar pintu gerbang timur dan memutar ke selatan memasuki gerbang selatan dan berakhir di barak prajurit.
Namun tak semudah itu saja, di hutan kecil luar gerbang timur setiap calon prajurit harus bisa menghindari berbagai jebakan yang sudah dipersiapkan oleh perwira penyelenggara.
"Apakah kalian mengerti.?" kata rangga Gajah Sora, setelah menerangkan tata cara pendadaran dan mendapat jawaban serentak dari para calon prajurit, bahwa semuanya mengerti dan siap sedia.
"Bagus, kalau begitu semuanya laksanakan.!" perintah rangga Gajah Sora.
__ADS_1
Aba - aba itu segera menggerakkan semua peserta calon prajurit, tak terkecuali Arya Dipa dan Ayu Andini. Dari ratusan peserta itu semuanya berusaha saling mendahului satu dengan lainnya. Tapi berbeda dengan Arya Dipa dan Ayu Andini, mereka berusaha menyesuaikan diri mereka dengan peserta lainnya.
Sampai di hutan kecil luar gapura, ternyata jalan yang dilalui semakin sulit dan terjal, selain itu berbagai rintangan membuat langkah mereka semakin parah.
"Sial siapa yang membuat lubang dengan isi kotoran sapi ini.!" maki salah satu calon prajurit yang jatuh dalam lubang penuh kotoran sapi.
Ada juga yang terikat kakinya dan membuat tubuhnya terjungkal dengan kepala di bawah. Lain lagi seorang berbadan tambun, saat berlari terkena sambitan senjata tumpul dan membuat orang tambun itu pingsan.
Dari sekian calon prajurit itu yang mampu menyelesaikan dan sampai di barak tinggal setengahnya saja, termasuk Arya Dipa dan Ayu Andini.
"Baiklah untuk hari ini kalian yang lolos dalam pendadaran kali ini akan di tempat barak ini sampai kalian di wisuda menjadi prajurit Demak." ucap rangga Gajah Sora. "Untuk calon prajurit wanita akan diberikan tempat sisi kanan barak ini dan untuk laki - laki sebelah sisi kiri, sekarang kalian bisa menempati bilik - bilik itu dan menerima ransum."
Walau terasa sedih berpisah dengan Arya Dipa, Ayu Andini merasa lega tatkala seorang calon prajurit wanita menghampiri dirinya.
"Oh..." Ayu Andini tak melanjutkan kata - katanya.
"Sudahlah, aku Rara Asih, bolehkah aku tahu namamu.?"
"Aku Ayu Andini, salam kenal." jawab Ayu Andini, yang mulai akrab dengan kawan barunya itu.
"Baiklah mari kita ke barak dan membersihkan diri." ajak Rara Asih, sambil mengandeng tangan Ayu Andini.
__ADS_1
Sementara itu Arya Dipa pun juga mendapat kawan baru, tapi ada juga calon prajurit yang sombong tak mau bercakap sesama calon prajurit, karena menganggap yang lainnya tak melebihi kemampuannya.
Setelah memberaihkan diri dan berganti pakaian yang telah disediakan, mereka pun mendapat makanan rangsum berupa nasi jagung dengan lauknya. Walau begitu makanan yang terlihat sederhana itu dengan lahapnya termakan oleh para peserta calon prajurit.
...............
Di Jipang Panolan, ki patih Mentahun telah ditemui senopati Rakai Welar, senopati sekaligus kemenakan patih Mentahun.
"Paman aku rasa ini semua berhubungan dengan orang dalam." desis senopati Rakai Welar.
"Aku pun juga berpikir begitu, ngger. Apalagi saat melihat akibat yang di timbulkan oleh racun itu menjurus ke seseorang yang dekat dengan perguruan kita."
"Benar paman, tapi apakah saudara eyang guru masih hidup atau mewariskan ramuan racun yang membahayakan itu kepada seseorang.?"
"Entahlah, tapi sudah sewindu ini paman Jati Kanjar tak nampak terdengar wartanya. Bila ia masih hidup umurnya sudah hampir se abad."
"Paman patih, aku curiga ini semua berhubungan dengan apa yang dibicarakan oleh paman tumenggung Sardulo waktu itu." gumam senopati Rakai Welar.
"Maksudmu ajakan makar kepada Demak yang akan di pimpin seseorang yang mengaku keturunan raden Wijaya itu.?"
"Begitulah pendapat saya, paman patih."
__ADS_1
"Hemm, aku sudah berkata kepada Sardulo dan Harya Kumara kalau perbuatan itu salah. Mungkin orang yang menyebut dirinya panembahan Bhre Wiraraja itu hanyalah membual." sejenak ki patih Mentahun berhenti dan menghela napas, lalu lanjutnya, "Awasi terus lingkungan Harya Kumara dan Sardulo."
"Baik paman."