BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
Kitab 2 - Eps.06


__ADS_3

Kedua mata dari kedua orang itu tidak melepaskan


pandangannya dari sebuah bungkusan dari kain mori yang dibawa oleh Resi


Chandakara.


"Inilah anak mas Adigama dan Ki Mahesa Anabrang, inilah kitab Cakra Paksi


Jatayu." Berucap Resi Chandakara, sambil meletakan kitab itu dihadapan


mereka.


Dengan perlahan-perlahan kain bungkusan itu dibuka oleh Resi Chandakara, lalu


terlihatlah sebuah kitab yang terbuat dari kulit binatang dengan bagian depan


kitab itu terdapat sebuah gambar burung garuda yang memakai mahkota sedang


mengepakkan kedua sayapnya dengan dikelilingi oleh sebuah lingkaran berbentuk


cakra.


"Sungguh sebuah lambang yang sangat menakjubkan." Ucap Ki Mahesa


Anabrang secara perlahan.


Kini Resi Chandakara mulai membuka kitab Cakra Paksi Jatayu, pada halaman


pertama, berisi sebuah petunjuk siapa orang yang bisa mempelajari kitab Cakra


Paksi Jatayu. Yaitu seorang yang berjiwa besar, sabar, jauh dari rasa dendam


dan mempunyai lambang yang sama dengan lambang kitab Cakra Paksi Jatayu.


"Ki Mahesa, bisakah Ki Mahesa untuk membacakannya ? Dan apakah Adigama


memenuhi syarat untuk mempelajarinya.?" Kata Resi Chandakara, kepada Ki


Mahesa Anabrang.


Maka Ki Mahesa Anabrang membaca tulisan bahasa sansekerta itu, dan Ki Mahesa


pun menggangguk - anggukkan kepalanya.


"Kau sangat beruntung ngger, ternyata dirimu memang berjodoh dengan kitab


peninggalan Prabu Airlangga yang sangat melegenda di dunia olah kanuragan di


tanah jawa dwipa." Ucap Ki Mahesa Anabrang kepada Adigama Bayu Chandakara.


Adigama hanya terdiam dan tatapannya terus tertuju ke arah kitab itu. Kembali


Resi Chandakara membuka halaman selanjutnya, tapi di halaman selanjutnya kosong


tidak ada tulisan apapun, dan hal ini membuat Ki Mahesa Anabrang tercengang,


tetapi Ki Mahesa lebih memilih diam saja.


Lembaran demi lembaran dibuka oleh Resi Chandakara, namun setiap lembaran kita


itu dibuka hanya ada lembaran kosong sampai di halaman terakhir.


"Maaf Resi, mengapa kitab itu semua lembarannya kosong dan yang berisi tulisan


hanya lembaran depan dan itupun berupa petunjuk siapa yang bisa mempelajarinya.?"


Tanya Ki Mahesa Anabrang, yang tak bisa menahan rasa heranannya.


Tetapi Resi Chandakara menatap dengan wajah yang lembut dan tersenyum saja

__ADS_1


serta memandang Adigama, seraya membuka halaman ketiga dari paling depan.


"Apakah ada yang kau lihat, anakmas.?"


"Ada eyang Resi, gambar seseorang yang memasang kuda – kuda dengan kaki


yang  merenggang dan kedua tangannya melipat


di samping kiri kanan badannya, dengan tangan yang mengepal sangat


bertenaga." Jawab Adigama.


"Apakah hanya itu.?" Kembali Resi Chandakara bertanya.


"Tidak eyang Resi, ada lagi sembilan buah gambar yang memperlihatkan sebuah


olah tata gerak dari ilmu kanuragan."


Mendengar penjelasan Adigama, Ki Mahesa Anabrang tercengang dan keheranan.


"Hahaha.. Apa kau mendengar sendiri Ki Mahesa.? Hanya orang yang berjodoh


saja yang mampu melihat isi kitab ini."


"Dan Resi sendiri.?"


"Hahaha... Aku pun juga tak dapat melihatnya Ki Mahesa." Jawab Resi


Chandakara, yang menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Lalu Resi, apakah Adigama akan mempelajari isi kitab ini sendiri tanpa


adanya seorang yang menuntunnya karena tidak ada orang lain selain angger


Adigama.?" Bertanya Ki Mahesa Anabrang.


"Tenang saja Ki Mahesa, aku akan berusaha semampuku untuk mendapinginya


hidupnya dalam membawa ilmu Prabu Airlangga." Jawab dan janji Resi


Chandakara.


"Oh.. Syukurlah apabila Resi akan membimbing dan menjaganya." Kata Ki


Mahesa Anabrang, dengan wajah sumringah dan lega.


"Baiklah, mulai besok kita akan memulai mempelajari isi kita Cakra Paksi


Jatayu. Matahari sudah semakin tinggi, mungkin Ireng dan Wilis telah selesai


mempersiapkan makanan untuk kita." Ucap Resi Chandakara.


Lalu ketiganya segera bangun dari duduknya dan beranjak keluar dari dalam


sanggar, sebelum mereka keluar dari dalam sanggar, tidak lupa Resi Chandakara


menyimpan kembali kitab peninggalan Prabu Airlangga ditempat yang sekiranya


aman dan hanya sang Resi saja yang mengetahui tempat itu.


Sementara itu di lain tempat, di sebuah padepokan, seorang Ajar yang tampak


sudah sepuh sedang menerima seorang tamu, tamu itu tidak lain adalah Menak


Cokro, seorang lurah prajurit dari Kadipaten Puger.


"Ki Lurah, bagaimana kabar kakak seperguruanmu.?" Bertanya orang tua


sepuh itu yang tidak lain pemimpin padepokan Lemah Jenar yang bernama Ki Ajar

__ADS_1


Lodaya.


"Atas restu serta doa dari Ki Ajar Lodaya, keadaan kakang Damar dalam keadaan


sehat, Ki Ajar. Dan aku datang ke padepokan ini karena kakang Damar meminta ku


untuk berkunjung dan bertemu serta menyampaikan pesan untuk Ki Ajar. Dan kakang


Damar, kini sedang berada di Japanan."


"Oh seperti itu, tapi sebelum Ki Lurah menyampaikan pesan dari Damar,


lebih baik Ki Lurah menikmati makan malam yang sedang dipersipakan oleh


penghuni padepokan ini."


"Terima kasih sekali Ki Ajar, tetapi....." Jawab Ki Lurah Menak Cokro


yang pembicaraannya terpotong oleh Ki Ajar Lodaya.


"Ki Lurah, walau makanan yang kamu suguhkan hanyalah makanan pedesaan,


tapi tolong janganlah kau tolak tawaranku ini Ki Lurah." Balas Ki Ajar


Lodaya, sembari menggamit lurah muda itu.


Karena rasa segan dan rasa hormat serta tidak ingin membuat sahabat dari kakak


seperguruannya itu kecewa, maka Ki Lurah Menak Cokro mengikuti Ki Ajar Lodaya


ke dalam bangunan. Yang ternyata didalam bangunan itu telah tersedia hidangan


untuk jamuan makan malam yang menggugah selera.


Setelah jamuan makan malam itu sudah selesai, maka mereka pun kembali duduk di


pendopo padepokan. Dan tidak jauh dari tempat Ki Lurah duduk bersama Ki Ajar


ternyata seorang putut sedang memberikan dan membimbing beberapa orang cantrik


dalam olah kanuragan.


"Ternyata para cantrik disini sangat terampil dan cekatan, Ki Ajar."


Puji Ki Lurah Menak Cokro.


"Hahaha, mereka cuma pandai meloncat - lancat saja, Ki Lurah. Masih


terlampau jauh apabila di bandingkan dengan padepokan Ki Ajar Bajulpati."


Balas Ki Ajar Lodaya.


"Hahaha, Ki Ajar Lodaya selalu merendah. Padahal Ki Ajar Lodaya dan guru


merupakan orang - orang pinunjul di daerah brang wetan ini, mungkin ilmu Ki


Ajar dan guru imbang."


"Tidak Ki Lurah, waktu dulu disaat kami masih seusia Ki Lurah, diriku


sempat mengadu liatnya tulang dalam ilmu kanuragan, tetapi aku kalah cukup telak


oleh Ki Ajar Bajulpati, hingga diriku mengalami luka dalam yang cukup serius,


untunglah Ki Ajar Bajulpati masih berbaik hati kepadaku dengan merawat diriku


sampai sembuh. Dan setelah beberapa waktu berlalu, ketika aku bertemu dengan Ki


Rangga Damar, ternyata hasilnya seimbang." tutur pemimpin padepokan Lemah

__ADS_1


jenar itu.


__ADS_2