
Kedua mata dari kedua orang itu tidak melepaskan
pandangannya dari sebuah bungkusan dari kain mori yang dibawa oleh Resi
Chandakara.
"Inilah anak mas Adigama dan Ki Mahesa Anabrang, inilah kitab Cakra Paksi
Jatayu." Berucap Resi Chandakara, sambil meletakan kitab itu dihadapan
mereka.
Dengan perlahan-perlahan kain bungkusan itu dibuka oleh Resi Chandakara, lalu
terlihatlah sebuah kitab yang terbuat dari kulit binatang dengan bagian depan
kitab itu terdapat sebuah gambar burung garuda yang memakai mahkota sedang
mengepakkan kedua sayapnya dengan dikelilingi oleh sebuah lingkaran berbentuk
cakra.
"Sungguh sebuah lambang yang sangat menakjubkan." Ucap Ki Mahesa
Anabrang secara perlahan.
Kini Resi Chandakara mulai membuka kitab Cakra Paksi Jatayu, pada halaman
pertama, berisi sebuah petunjuk siapa orang yang bisa mempelajari kitab Cakra
Paksi Jatayu. Yaitu seorang yang berjiwa besar, sabar, jauh dari rasa dendam
dan mempunyai lambang yang sama dengan lambang kitab Cakra Paksi Jatayu.
"Ki Mahesa, bisakah Ki Mahesa untuk membacakannya ? Dan apakah Adigama
memenuhi syarat untuk mempelajarinya.?" Kata Resi Chandakara, kepada Ki
Mahesa Anabrang.
Maka Ki Mahesa Anabrang membaca tulisan bahasa sansekerta itu, dan Ki Mahesa
pun menggangguk - anggukkan kepalanya.
"Kau sangat beruntung ngger, ternyata dirimu memang berjodoh dengan kitab
peninggalan Prabu Airlangga yang sangat melegenda di dunia olah kanuragan di
tanah jawa dwipa." Ucap Ki Mahesa Anabrang kepada Adigama Bayu Chandakara.
Adigama hanya terdiam dan tatapannya terus tertuju ke arah kitab itu. Kembali
Resi Chandakara membuka halaman selanjutnya, tapi di halaman selanjutnya kosong
tidak ada tulisan apapun, dan hal ini membuat Ki Mahesa Anabrang tercengang,
tetapi Ki Mahesa lebih memilih diam saja.
Lembaran demi lembaran dibuka oleh Resi Chandakara, namun setiap lembaran kita
itu dibuka hanya ada lembaran kosong sampai di halaman terakhir.
"Maaf Resi, mengapa kitab itu semua lembarannya kosong dan yang berisi tulisan
hanya lembaran depan dan itupun berupa petunjuk siapa yang bisa mempelajarinya.?"
Tanya Ki Mahesa Anabrang, yang tak bisa menahan rasa heranannya.
Tetapi Resi Chandakara menatap dengan wajah yang lembut dan tersenyum saja
__ADS_1
serta memandang Adigama, seraya membuka halaman ketiga dari paling depan.
"Apakah ada yang kau lihat, anakmas.?"
"Ada eyang Resi, gambar seseorang yang memasang kuda – kuda dengan kaki
yang merenggang dan kedua tangannya melipat
di samping kiri kanan badannya, dengan tangan yang mengepal sangat
bertenaga." Jawab Adigama.
"Apakah hanya itu.?" Kembali Resi Chandakara bertanya.
"Tidak eyang Resi, ada lagi sembilan buah gambar yang memperlihatkan sebuah
olah tata gerak dari ilmu kanuragan."
Mendengar penjelasan Adigama, Ki Mahesa Anabrang tercengang dan keheranan.
"Hahaha.. Apa kau mendengar sendiri Ki Mahesa.? Hanya orang yang berjodoh
saja yang mampu melihat isi kitab ini."
"Dan Resi sendiri.?"
"Hahaha... Aku pun juga tak dapat melihatnya Ki Mahesa." Jawab Resi
Chandakara, yang menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Lalu Resi, apakah Adigama akan mempelajari isi kitab ini sendiri tanpa
adanya seorang yang menuntunnya karena tidak ada orang lain selain angger
Adigama.?" Bertanya Ki Mahesa Anabrang.
"Tenang saja Ki Mahesa, aku akan berusaha semampuku untuk mendapinginya
hidupnya dalam membawa ilmu Prabu Airlangga." Jawab dan janji Resi
Chandakara.
"Oh.. Syukurlah apabila Resi akan membimbing dan menjaganya." Kata Ki
Mahesa Anabrang, dengan wajah sumringah dan lega.
"Baiklah, mulai besok kita akan memulai mempelajari isi kita Cakra Paksi
Jatayu. Matahari sudah semakin tinggi, mungkin Ireng dan Wilis telah selesai
mempersiapkan makanan untuk kita." Ucap Resi Chandakara.
Lalu ketiganya segera bangun dari duduknya dan beranjak keluar dari dalam
sanggar, sebelum mereka keluar dari dalam sanggar, tidak lupa Resi Chandakara
menyimpan kembali kitab peninggalan Prabu Airlangga ditempat yang sekiranya
aman dan hanya sang Resi saja yang mengetahui tempat itu.
Sementara itu di lain tempat, di sebuah padepokan, seorang Ajar yang tampak
sudah sepuh sedang menerima seorang tamu, tamu itu tidak lain adalah Menak
Cokro, seorang lurah prajurit dari Kadipaten Puger.
"Ki Lurah, bagaimana kabar kakak seperguruanmu.?" Bertanya orang tua
sepuh itu yang tidak lain pemimpin padepokan Lemah Jenar yang bernama Ki Ajar
__ADS_1
Lodaya.
"Atas restu serta doa dari Ki Ajar Lodaya, keadaan kakang Damar dalam keadaan
sehat, Ki Ajar. Dan aku datang ke padepokan ini karena kakang Damar meminta ku
untuk berkunjung dan bertemu serta menyampaikan pesan untuk Ki Ajar. Dan kakang
Damar, kini sedang berada di Japanan."
"Oh seperti itu, tapi sebelum Ki Lurah menyampaikan pesan dari Damar,
lebih baik Ki Lurah menikmati makan malam yang sedang dipersipakan oleh
penghuni padepokan ini."
"Terima kasih sekali Ki Ajar, tetapi....." Jawab Ki Lurah Menak Cokro
yang pembicaraannya terpotong oleh Ki Ajar Lodaya.
"Ki Lurah, walau makanan yang kamu suguhkan hanyalah makanan pedesaan,
tapi tolong janganlah kau tolak tawaranku ini Ki Lurah." Balas Ki Ajar
Lodaya, sembari menggamit lurah muda itu.
Karena rasa segan dan rasa hormat serta tidak ingin membuat sahabat dari kakak
seperguruannya itu kecewa, maka Ki Lurah Menak Cokro mengikuti Ki Ajar Lodaya
ke dalam bangunan. Yang ternyata didalam bangunan itu telah tersedia hidangan
untuk jamuan makan malam yang menggugah selera.
Setelah jamuan makan malam itu sudah selesai, maka mereka pun kembali duduk di
pendopo padepokan. Dan tidak jauh dari tempat Ki Lurah duduk bersama Ki Ajar
ternyata seorang putut sedang memberikan dan membimbing beberapa orang cantrik
dalam olah kanuragan.
"Ternyata para cantrik disini sangat terampil dan cekatan, Ki Ajar."
Puji Ki Lurah Menak Cokro.
"Hahaha, mereka cuma pandai meloncat - lancat saja, Ki Lurah. Masih
terlampau jauh apabila di bandingkan dengan padepokan Ki Ajar Bajulpati."
Balas Ki Ajar Lodaya.
"Hahaha, Ki Ajar Lodaya selalu merendah. Padahal Ki Ajar Lodaya dan guru
merupakan orang - orang pinunjul di daerah brang wetan ini, mungkin ilmu Ki
Ajar dan guru imbang."
"Tidak Ki Lurah, waktu dulu disaat kami masih seusia Ki Lurah, diriku
sempat mengadu liatnya tulang dalam ilmu kanuragan, tetapi aku kalah cukup telak
oleh Ki Ajar Bajulpati, hingga diriku mengalami luka dalam yang cukup serius,
untunglah Ki Ajar Bajulpati masih berbaik hati kepadaku dengan merawat diriku
sampai sembuh. Dan setelah beberapa waktu berlalu, ketika aku bertemu dengan Ki
Rangga Damar, ternyata hasilnya seimbang." tutur pemimpin padepokan Lemah
__ADS_1
jenar itu.