BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
123


__ADS_3

"He, siapa kau yang mencampuri urusan orang lain !" seru Blego Trengganis, yang mencuatkan alisnya demi melihat keanehan yang ditunjukan sosok bertopeng itu.


   Arya Dipa mendehem untuk sesaat. Di lihatnya Panji Tohjaya dan orang tua yang masih menghadapi lawan masing - masing. Tindakan Arya Dipa ini telah menyulut kemarahan Blego Trengganis, yang merasa diremehkan.


   "He... Setan alas !" bentak Blego Trengganis, "Kau rupanya belum mengenalku, setan bertopeng !'


   "Hem... Lambang di dada kirimu telah menunjukan siapa kalian." kata Arya Dipa, "Kalian para pengecut dari Gunung Kendeng, bukan ?!"


   "Rupanya kau bukanlah katak dalam tempurung, setan bertopeng. Tetapi kau merupakan katak yang bodoh !" ejek Blego Trengganis.

__ADS_1


   Meskipun diejek seperti itu, Arya Dipa tetap tenang. Pemuda bertopeng itu masih sempat menyaksikan bagaimana tandang Panji Tohjaya menghadapi tata gerak Panca Margi Pralaya tingkat keempat. Murid ki Ageng Sekar Jagat anom itu telah mengungkap aji Alang Alang Kumitir, sehingga mampu membuat tubuhnya bagai lenyap walau hanya sesaat - sesaat dan melakukan serangan cepat terhadap lawan.


   Di sisi lain, tak kalah seru apa yang dilakukan oleh ki Wijang Pawagal. Orang tua yang sudah kenyang asam manisnya dunia olah kanuragan itu, bagai menemukan permainan yang mengasyikan. Lawan - lawannya dibuat pontang - panting tak karuan. Tangan dan kaki yang terlihat sudah menua itu, laksana besi gligen disetiap menumbuk tubuh lawannya.


   "Kisanak, lihatlah para anak buahmu. Mereka jika tidak kau hentikan, tubuh mereka akan lunak layaknya gedebog pisang yang ditumbuk batang besi." kata Arya Dipa.


   Selesai berkata, Blego Trengganis melancarkan serangan mematikan. Orang satu ini bila bergerak tak setengah - setengah. Siapa yang menghalangi atau mencampuri urusannya, kematianlah yang akan ia berikan. Maka tak heran jika kepala gerombolan Ular Sendok ini terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin.


   Sambaran tongkatnya mengandung deru angin tajam dan ganas. Arya Dipa tak memandang serangan hebat itu. Dari awal ia sudah waspada dalam menyikapi lawan kali ini. Karenanya, saat tongkat itu bergerak aji Niscala Praba sudah manjing menyelimuti Arya Dipa.

__ADS_1


   Seru dan sengit mewarnai tandang dari Arya Dipa dan Blego Trengganis. Tata gerak berbeda jalur saling tindih ingin memenangi disetiap saat. Rerumputan dan tanah terinjak - injak menjadi ***** bak terkena bajakan saja. Daun - daun menguning luruh tersambar deru angin dari mereka yang bertarung.


   Dari kejauhan ki Wijang Pawagal merasa heran dengan apa yang disaksikan oleh pandulunya. Baru kali ini ia menyaksikan tata gerak yang padat berbobot seperti yang digerakan oleh orang bertopeng.


   "Sebuah tata gerak tingkat tinggi. Tetapi sepertinya orang bertopeng itu belum bersungguh - sungguh." batin ki Wijang Pawagal, seraya menghindari tendangan lawannya.


   Sembari menghindar itulah ki Wijang Pawagal menggerakan telapak tangannya. Begitu cepat dan penuh tenaga dari telapak tangan ki Wijang Pawagal, membuat lawannya mental sejauh tiga tindak. Tak sampai disitu saja, pewaris tertua perguruan Sekar Jagat di lereng gunung Lawu itu memutar tubuhnya bagai kitiran. Tangan dan kakinya menghajar ketiga lawannya dan mengakibatkan lawannya mencelat semua.


   Meskipun rasa sakit menjangkiti tubuh mereka, ketiga lawan ki Wijang Pawagal kembali bangkit dan memasang tata gerak yang sama. Siasat mereka tiada lain dan bukan untuk menerapkan tata gerak Nagadahana. Di mana tangan mereka membara dari telapak sampai pergelangan tangan.

__ADS_1


__ADS_2