BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
58


__ADS_3

Salam yang merdu terucap dari mulut ki Prenjak seraya mengetuk pintu bangunan yang di tempati ki Lurah Ganjur. Dari dalam sambutan atau balasan salam terdengar bergemuruh, yang menandakan beberapa oranglah yang menjawab salam ki Prenjak.


Tak berselang lama derit daun pintu terdengar dan seorang pemuda tampan muncul dari balik daun pintu sisi dalam.


"O paman Prenjak... " kata itu terputus manakala si pemuda menatap orang yang berdiri di belakang ki Prenjak, "Kau kakang Lurah.. "


Mendengar pemuda dari dalam menyebut nama Lurah kepada orang yang diantarnya, ki Prenjak terkejut dan segera memutar badan menatap pemuda yang ia antar. Tampak wajahnya terlihat takut bercampur rasa sesal. Untunglah sentuhan tangan di pundaknya disusul kata lembut membuat hati ki Prejak, lega.


"Jangan paman pikirkan, aku juga seperti paman yang terdiri dari segumpal darah dan daging."


"Oh.. maafkan kelancanganku, ki Lurah. Itu semua karena ketidaktahuanku." ucap ki Prenjak.


"Sudah aku bilang, paman. Aku tak mempermasalahkan, karena aku berkunjung juga tak menggunakan pakaian dan tugas keprajuritan." kata ki Lurah Arya Dipa dengan lembut, "Malah aku mengucapkan terima kasih karena paman berkenan mengantarku."


Kelegaan merayapi hati ki Prenjak dengan sikap pemuda yang tak tahunya seorang perwira prajurit. Kemudian penjaga Suranatan itu kembali ke gardu dekat regol halaman, sampai di gardu ki Prenjak mengatakan kepada kawannya bahwasannya tamu muda itu seorang Lurah.


Sementara itu ki Lurah Arya Dipa dipersilahkan memasuki bangunan yang ditempati oleh ki Ganjur. Bangunan itu terdiri dari ruang tamu, lalu tiga bilik dan dapur paling belakang. Di ruang untuk tamu itu ada dua orang tua yang sebelumnya duduk beralaskan tikar mendong, bangkit berdiri menyambut ki Lurah Arya Dipa.


"Selamat datang di lingkungan Suranatan, anakmas." sapa seorang yang rambutnya bersulam uban.


"Terima kasih, paman." ucap ki Lurah Arya Dipa


Lalu ki Lurah Mas Karebet memperkenalkan ki Lurah Arya Dipa kepada kedua orang tua itu, yaitu orang tua yang menyapa pertama ialah ki Ganjur paman dari telatah Tingkir, sedangkan orang disampingnya adalah ki Sembada yang diaku uwa oleh Mas Karebet.


"Jadi anakmas ini Lurah prajurit yang pernah bertugas di Ksatriyan waktu gusti Pangeran Bagus Mukmin masih belum diangkat Adipati Anom ?" tanya ki Ganjur.


"Benar, paman." jawab ki Lurah Arya Dipa.


Ki Ganjur menganggukan kepala karena senang dengan tamu kemenakannya itu, karena dikalangan kotaraja perwira muda itu terkenal dengan kecerdikannya dalam menghadapi setiap medan pertempuran. Pertama saat menghadapi gerombolan perampok di pesisir utara Jepara, lalu yang kedua saat kedatangannya di bukit Kapur Grobokan menghadapi pasukan yang diduga dari Jipang hanya bersama sepuluh prajurit saja.


"Tak aku sangka hari ini aku kedatangan seorang pemuda sakti seperti anakmas."


"Ah.. Paman terlalu berlebihan, aku tak seperti yang paman Ganjur bayangkan." kata ki Lurah Arya Dipa, merendah.


"Hehehe.. Inilah tanda orang yang berkemampuan tinggi, semakin berisi semakin merendah." sekali lagi ki Ganjur berkata.


Percakapan itu terhenti manakala seorang gadis keluar dari ruang dalam, membawa nampan berisi minuman dan sepiring makanan. Perlahan hidangan itu disajikan di atas tikar mendong, oleh gadis itu. Lalu kemudian gadis itu mempersilahkan hidangan itu yang kemudian akan bangkit berdiri untuk kembali ke dapur. Tapi ki Ganjur menahan gadis itu untuk bergabung duduk di ruang tamu.


"Sudahlah, nduk kamu disini saja. Biarlah urusan dapur dikerjakan bibimu."


"Benar, nimas Widuri." sela Mas Karebet, lalu, "O ya nimas, kenalkan ini kakang Arya Dipa. Lurah prajurit Wira Tamtama."


"Kakang Dipa, ini Endang Widuri kakak sepupuku, putri uwa Sembada." lanjut Mas Karebat, "Tapi ia biasa memanggilku kakang."


Gadis itu mengangguk hormat agak tersipu malu. Ki Lurah Arya Dipa membalas dengan anggukan pula.


"Lebih baik aku membantu bibi di dapur, paman dan kakang." sahut gadis itu, lalu, "Kasihan bibi bila sendirian."


"Bantulah nyi Ganjur, Widuri." sahut ki Sembada, "Bila disini ia akan mengantuk, karena di tak biasa mengobrol dengan banyak orang."


"Ah.. Ayah." desis gadis itu.


Sepeninggal gadis yang bernama Endang Widuri perbincangan terus berlanjut semakin asyik dan rancak. Dengan cepat telah terjalin keakraban diantara keempat orang itu. Hingga suatu kali Arya Dipa menanyakan seorang tua kepada tuan rumah.


"Paman dan adi, apakah tadi sore ada seorang yang bertamu ke sini ?" tanya Arya Dipa.


"Benar, anakmas." jawab ki Ganjur, "Memang sore tadi kami kedatangan tamu yang tak lain guru anakmas Karebet. Adapakah anakmas mempertanyakan tamu itu ?"


Ki Lurah Arya Dipa menggeser letak duduknya supaya terasa nyaman, lalu barulah ia berucap, "Begini paman dan adi, orang yang bertamu itu sangat mirip dengan seseorang yang pernah aku jumpai dipinggiran hutan Prawoto, tapi saat itu yang aku jumpai seorang tua berbadan bongkok dengan tongkat sebagai penyangga saat orang itu berjalan."


"Oh.. Tapi guru anakmas Karebet sangat lain dengan perawakan yang anakmas sebutkan tadi." kata ki Sembada.

__ADS_1


"Itulah yang aku rasakan keanehannya, paman." sahut ki Lurah Arya Dipa, sambil tertegun.


"Adi Karebet, siapakah nama guru adi, jika aku boleh tahu ?"


"Kanjeng guru memang seorang yang mempunyai kebiasaan yang aneh, kakang. Begitu halnya dengan namanya yang ribuan jumlahnya. Apakah kakang pernah mendengar nama Lokajaya ?"


"Maksud adi, brandal yang pernah membuat geger di jaman Majapahit itu ?!" kejut ki Lurah Arya Dipa.


Anggukan diunjukan oleh Mas Karebet.


"O.. Jagad Batara Agung." ucap ki Lurah Arya Dipa, Akhirnya aku mendapatkan titik terang itu."


Kerut merut mewarnai Mas Karebet serta Ki Ganjur dan Ki Sembada, atas ucapan pelan dari pemuda Arya Dipa.


"Sebenarnya ada apa, kakang ?" tanya Mas Karebet.


Lalu ki Lurah Arya Dipa menceritakan pertemuannya dengan orang yang berbadan bongkok yang dipastikan kanjeng Sunan Kalijaga atau raden Said, juga terkenal dengan Bagus Lokajaya, seorang brandal yang mendermakan hasil rampokannya kepada rakyat kecil. Serta tak lupa dan karena percaya kepada orang - orang yang saat ini duduk satu ruang itu, ki Lurah Arya Dipa mengatakan mendapat tuntunan dari gurunya untuk berguru kepada Kanjeng Sunan Kalijaga.


Demi mendengar penuturan ki Lurah Arya Dipa mengenai kenapa Lurah muda itu menanyakan perilahal salah satu guru ki Lurah Mas Karebet, membuat semua orang yang ada di ruang bangunan itu takjub. Sungguh sangat jarang seorang anak manusia yang mempunyai seorang penuntun olah kanuragan di alam lain, seperti yang dialami oleh ki Lurah Arya Dipa. Apalagi orang yang menuntun pemuda itu bukanlah orang yang tak dikenal oleh ki Ganjur dan ki Sembada, nama itu sudah lama menggetarkan tanah jawa di masa akhir Medang Kamulan hingga sekarang ini, semua orang pasti sangat tahu dengan Prabu Airlangga menantu Prabu Darmawangsa Teguh yang kerajaannya hancur oleh kerajaan Wura Wari dan Sriwijaya. Seorang raja dengan lambang Garuda sebagai kendaraan Sang Wisnu, dan setelah menepi menggati jati diri seorang pertapa dengan gelar Resi Gentayu.


Rasa kagum itulah yang dirasakan oleh ki Ganjur, ki Sembada dan Jaka Tingkir terhadap Lurah muda dari Wira Tamtama, yang pengabdiannya sudah terbukti sejak Kanjeng Sultan Trenggono masih belum menduduki tahta kesultanan Demak ini.


"Kakang Dipa." ucap Jaka Tingkir, "Bila kakang mau, besok aku bisa mengantarkan kakang menghadap kanjeng guru di Kadilangu."


."Sungguh senang hatiku, adi." sahut ki Lurah Arya Dipa, "Tapi mungkin belum waktunya aku berjumpa kembali dengan kanjeng Sunan, karena esok hari aku akan ikut rombongan ki Panji Arya Palindih ke Banyubiru."


Alis ki Sembada mencuat manakala disebut nama tanah perdikan Banyubiru. Tanah dimana dirinya mengenal seorang yang setara dengan orang tuanya, yaitu kakek Jaka Tingkir.


"Adakah suatu tugas disana, anakmas ?" tanya ki Sembada.


"Benar paman, Kanjeng Sultan memerintahkan kami untuk mengambil dua benda kesultanan, yang saat ini berada di Banyubiru."


"Oh.. Paman juga mengetahui dua pusaka Demak yang jengkar dari gedung perbendaharaan itu?"


Orang tua yang merupakan uwa dari ki Lurah Mas Karebet, menghela napas.


"Tanpa sengaja aku mendengar kabar hilangnya benda pusaka itu ketika dalam pengembaraanku. Di setiap kedai ataupun warung, hal itu dijadikan bahan pembicaraan oleh kalayak ramai. Bahkan para begal, rampok, kecu dan gegedug di rimba rayapun mengetahui dua pusaka itu, anakmas." kata ki Sembada.


"Ternyata paman Empu Citrasena berhasil menyebarkan kabar itu kepada kalangan golongan hitam dan kalayak ramai." batin ki Lurah Arya Dipa.


Sementara itu ki Sembada kembali berkata, "Anakmas, apakah kabar itu hanyalah kabar burung saja ? Mana mungkin seorang kepala tanah pedikan yang dimasa mudanya sangat tinggi pengabdiannya kepada kesultanan Demak, menyimpan pusaka itu tanpa langsung mengantarkan ke hadapan Kanjeng Sultan ?"


Sebenarnya ki Lurah Arya Dipa akan gamblang dalam memberi jawaban sebenarnya, tapi demi menjaga kerahasiaan apa dalam pemikiran ki Ageng Sora Dipayana, terpaksa Lurah muda itu mengelaknya.


"O.. Kalau hal itu, aku kurang mengerti paman. Karena sebenarnya aku belum mengenal siapa sebenarnya ki Ageng Gajah Sora itu."


"Hm.. Perlu kau tahu, anakmas. Adi Gajah Sora yang kini mendapat palungguhan di Banyubiru, di masa mudanya merupakan kawan baik dari adik seperguruanku." kata ki Sembada.


"Oh.. " desuh ki Lurah Arya Dipa.


"Ia mengabdi ke Demak pada masa Demak akan melakukan penyerangan ke selat Malaka, yang dipimpin mendiang Kanjeng Sultan Sabrang Lor. Aku dengar adi Gajah Sora sangat gemilang dalam penyerangan dengan Armada Demak, hingga ia mendapat anugerah dari Pangeran Sabrang Lor sebuah pusaka kyai Bancak." tutur ki Sembada, "Oleh karena itulah aku sangat sangsi jika adi Gajah Sora berbuat tak sepantasnya dengan dua pusaka Demak, yang selama ini ramai dibicarakan."


"Hm.. Tapi itu bukan salah anakmas, karena anakmas hanyalah seorang prajurit yang harus tunduk dengan perintah semata. Tapi aku mohon kepada anakmas, untuk memberi pertimbangan - pertimbangan kepada pimpinan anakmas. Karena aku yakin, suara anakmas tentu akan didengar." pinta ki Sembada.


"Aku akan berusaha, paman." kata ki Lurah Arya Dipa.


Sudah lama ki Lurah Arya Dipa berkunjung di lingkungan Suranatan, oleh karenanya pemuda itu pamit untuk kembali ke barak kesatuan Wira Tamtama. Dengan diantar oleh ki Lurah Mas Karebet sampai di pintu regol, ki Lurah Arya Dipa beranjak. Sampai di pintu regol Suranatan, ki Prenjak dan kawannya yang bertugas jaga berdiri untuk menghormati Lurah muda itu.


"Ki Lurah akan pulang ?"


"Iya paman, malam semakin memuncak. Dan mata ini sudah mengantuk, oleh karenanya aku minta diri." sahut ki Lurah Arya Dipa.

__ADS_1


"O.. Seringlah ki Lurah singgah di Suranatan."


"Iya, paman. Terima kasih, kalau begitu aku pamit." pamit Lurah muda itu.


"Mari - mari, ki Lurah." sahut ki Prenjak dan kawannya berbarengan.


Pemuda itupun kemudian melangkahkan kakinya melewati lorong - lorong jalan kotaraja Demak. Tinggalah kini kepekatan malam yang menemani pemuda itu dalam langkah menuju baraknya.


Pagi hari membentang memenuhi cakrawala Demak, sinar sang surya terasa segar mengenai kulit di tubuh. Di dapur barak kesatuan Wira Tamtama, kesibukan telah terjadi sejak fajar hari, dimana para prajurit juru adang mempersiapkan makanan ransum bagi para prajurit penghuni barak itu, khususnya pasukan yang akan berangkat menuju Banyubiru.


Dan ransumpun akhirnya dibagikan kepada pasukan setelah makanan sudah matang. Walau ransum sangat sederhana tapi dikala makan bersama, terasa nikmat dan lezat tak terkira.


Seiring dengan waktu persiapan pun mulai dilakukan dengan cermat. Pasukan yang akan menyertai ki Panji Arya Palindih telah mulai berbaris di halaman depan barak. Para pimpinan kelompok dengan sigap menyiapkan kelompoknya sesuai urutannya.


Baris terdepan kelompok berkuda sebagai pasukan perintis tampak gagah duduk diatas kuda keprajuritan. Disusul dengan prajurit pembawa bendera Gula Kelapa yang diapit oleh dua prajurit di sisinya serta tiga prajurit di belakang dengan senjata tombak. Kemudian prajurit yang membawa umbul, rontek, panji serta tunggul dengan ciri kesatuan Wira Tamtama Demak, berkibar dengan megahnya.


Selanjutnya ki Panji Arya Palindih yang menunggang kuda hitam, diapit oleh ki Panji Reksotani dan ki Rangga Gajah Sora. Menyusul dibelakangnya ki Rangga Gajah Alit, ki Lurah Saroyo dan ki Lurah Arya Dipa. Baris selanjutnya terdiri dari pasukan Bertombak, pedang, perbekalan, panah dan kuda


Sejenak kemudian setelah mendapat isyarat, iringan itu mulai bergerak keluar dari barak Wira Tamtama menyusur lorong - lorong kotaraja. Saat iringan itu melewati lorong jalan kotaraja, mendapat pekik sorak gegap gempita dari rakyat yang merasa bangga dengan pasukan itu. Hal itu menjadi semangat para prajurit yang akan melaksanakan tugas itu.


Maka terlihatlah sebagian prajurit muda dengan langkah tegap membusungkan dada mereka yang bidang. Apalagi ketika melewati sekumpulan gadis yang berdiri berbaris, semakin berkembanglah kebanggaan di hati prajurit muda itu.


Iringan pasukan itu semakin lama mendekati pintu gerbang kotaraja bagian selatan, dan kemudian pasukan perintis mulai bergerak mendahului pasukan induk untuk mengamankan jalan yang akan dilalui oleh pasukan Demak.


Perjalanan yang sebenarnya bisa ditempuh cepat itu, tak mampu ditempuh dengan semestinya. Ini dikarenakan karena banyaknya pasukan dan barang yang dibawa. Sehingga iringan pasukan itu seperti siput yang merapat, sangat perlahan.


Ki Lurah Arya Dipa yang merupakan perwira paling muda telah ditugaskan untuk mengawasi semua pasukan, oleh karenanya dirinya selalu hilir mudik berpindah tempat. Disuatu kali perwira itu di depan iringan, lain waktu berada di ujung belakang pasukan dan memberi laporan kepada ki Panji Arya Palindih yang berada di tengah pasukan.


Walau ki Lurah Arya Dipa sebagai seorang perwira, namun pemuda itu tak segan - segan ikut berjalan dengan para prajurit yang berjalan kaki. Dengan ramah mengajak prajurit bercakap untuk mengurangi rasa tegang atau lelah. Dan kepada prajurit yang tua darinya, ki Lurah Arya Dipa menaruh hormat. Maka terjalinlah sebuah hubungan yang harmonis antara pimpinan dan yang dipimpin, tanpa adanya rasa yang tak dikehendaki ataupun rasa iri. Bagi prajurit akan tertanam rasa segan terhadap pimpinan, dan itu lebih baik daripada seorang prajurit yang dalam hatinya takut kepada pimpinan.


Pasukan Demak yang dipimpin oleh ki Panji Arya Palindih akhirnya sampai di luar batas Kabuyutan Banyubiru dan dengan sebuah isyarat dihentikan. Lalu ki Panji Arya Palindih mengumpulkan para perwira demi meminta pertimbangan yang terbaik untuk langkah selanjutnya.


"Baiklah kalau begitu." kata ki Panji Arya Palindih setelah melakukan pembicaraan dengan para perwira, "Ki Panji Reksotani dan ki Rangga Gajah Sora tetap disini untuk memimpin para pasukan."


"Baik, ki Panji." sahut ki Panji Reksotani dan ki Rangga Gajah Sora.


Kemudian ki Panji dari Bergota itu beralih kepada perwira yang lain, katanya, "Ki Rangga Gajah Alit, ki Lurah Saroyo dan ki Lurah Arya Dipa akan mengiringiku ke padukuhan induk Banyubiru."


Ketiga perwira yang disebut dengan serentak siap sedia untuk mengiringi ki Arya Palindih menghadap ki Ageng Gajah Sora, di padukuhan induk Banyubiru. Kuda ke-empat perwira telah disiapkan dan sekelompok prajurit juga menyertai.


Iringan kelompok prajurit itu saat memasuki padukuhan pertama telah disambut oleh pimpinan pengawal Kabuyutan, dan kelompok prajurit itu kemudian diantar oleh salah satu pimpinan pengawal Kabuyutan ke padukuhan induk.


Semenjak memasuki padukuhan pertama iringan dari ki Panji Arya Palindih telah memancing perhatian dari penghuninya. Dalam hati mereka menumpuk berbagai pertanyaan setelah di Kabuyutan mereka baru saja mengalami persoalan. Dimana sekelompok orang melakukan kerusuhan.


"Kakang, Prajurit yang datang kali ini apakah ada hubungannya dengan peristiwa yang baru terjadi kemarin di padukuhan induk ?" tanya seorang lelaki kepada tetangganya.


"Entahlah, adi. Tapi kita harus cepat bertindak manakala ada isyarat dari padukuhan induk." sahut tetangga orang pertama.


"Apa tak sebaiknya kita mempersiapkan para pemuda padukuhan ini, kakang ? Aku merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi. Ingat kakang, adik ki Ageng Gajah Sora itu lenyap bersamaan dengan mundurnya para perusuh."


"Maksudmu ki Lembu Sora ?" orang kedua meminta penegasan.


"Begitulah yang terjadi, kakang. Tentu ki Lembu Sora tak rela jika ki Ageng Sora Dipayana menyerahkan kepemimpinan Kabuyutan ini kepada ki Ageng Gajah Sora."


"Oh.. " desuh tetangga orang pertama, "Sebegitukah sifat ki Lembu Sora ?"


"Hati manusia siapa yang mampu menduga kakang."


"Baiklah, kumpulkan para pemuda dan lelaki dewasa yang masih mampu memegang senjata di banjar padukuhan. Tapi ingat semuanya harus menunggu perintah." akhirnya orang yang ternyata seorang Bekel itu, memberi perintah.


"Baik, kakang Bekel." dan orang itupun bergegas mengumpulkan para pemuda dan para lelaki dewasa di banjar.

__ADS_1


__ADS_2