
Mendapatkan pasukannya terhimpit dari sisi kanan dan kiri, Pangeran Arya Singasari memerintahkan senopatinya untuk bergerak cepat demi membangun kembali semangat tempur prajuritnya. Perintah itu pun secara beranting mengalir ke seluruh prajurit pasukan Bang Wetan dan membangkitkan tekad prajurit tersebut.
Denting senjata dan teriakan serta keluh jerit mulai membuat hutan sebelah selatan Banyubiru riuh. Darah segar mengucur membasahi setiap tubuh yang lengah sehingga tergores maupun tertusuk tajamnya senjata. Bahkan ada yang mengalami lebih buruk beruba kepala remuk dan tubuh arang keranjang. Sungguh miris terjadi tatkala perang menguasai tanah pertiwi ini.
Di ramainya perang, sosok berpakaian hitam telah melumpuhkan dua tiga orang sekaligus. Padahal orang itu hanya menggunakan tangan kosong saja. Namun lawan - lawannya dapat dibuat kalang kabut oleh tandang orang tersebut.
Suatu kali dua prajurit Demak meluncurkan tombak mereka mengarah orang berpakaian hitam. Sebuah kenyataan telah mengakibatkan kedua prajurit terheran - heran. Tiada lain karena tombak keduanya yang berhasil mengenai tubuh lawan tak dapat menembus gumpalan daging dibalik baju. Malah orang yang dikenai terlihat tersenyum sembari menggerakan kedua tangan memapas kedua tombak.
"Kraaak... Kraaak... "
Tombak terpotong dari landeannya.
Belum lagi rasa kaget hilang, dua prajurit itu melotot sekaligus mulut menganga seraya tangan keduanya menyentuh pundak mereka yang berdarah tertusuk tajamnya potongan tombak. Rupanya orang berpakaian hitam itu setelah memapas tombak, langsung meraih potongan tombak dan bergerak cepat menancapkan potongan tombak. Maka tak heran jikalau dua prajurit Demak tak berdaya jatuh memeluk bumi.
Mendapati lawannya sudah tak bernyawa, orang tersebut melompat mengarah prajurit Demak lainnya. Tetapi tiba - tiba dari samping telah meloncat seorang yang menghadangnya. Seorang berpakaian kuning kecoklatan yang juga memakai topeng tipis terbuat dari getah pohon.
"Ho.. Minggirlah kisanak, jika kau tak ingin melihat indahnya sang surya diesok hari." tegur orang berpakaian hitam.
"Kau aneh, kisanak. Tadi saat menghadapi prajurit Demak, kau tidak menegur sedikitpun. Tapi kali ini kau mau memberi aku peringata." sahut Kilatmaya.
"Justru itu aku memperingatkanmu, kisanak. Karena kau bukanlah prajurit, maka aku sudi mengingatkanmu untuk minggir dari medan ini."
Kilatmaya tertawa lirih, "Kau salah, kisanak. Meskipun pakaianku tak melambangkan seorang prajurit, sejatinya Demak adalah tempatku menyumbangkan tenaga yang sedikit ini. Karenanya marilah kita mulai saja, kisanak."
Orang berpakaian hitam itu sudah muak terhadap orang bertopeng yang tidak menghiraukan peringatan darinya. Tanpa basa - basi lagi, orang tersebut meloncat menyerang Kilatmaya. Kaki orang itu menyambar kepala Kilatmaya, namun serangannya tak menghasilkan apa - apa.
Kali ini Kilatmaya merendahkan kepala sambil mengisarkan kakinya. Tak hanya itu saja, tangannya langsup menyusup ke tubuh lawan yang terlihat terbuka. Hampir saja tangan pemuda bertopeng itu mengenai sasaran jikalau lawannya tidak mampu melentingkan tubuhnya.
Terjadilah perang seru diantara keduanya. Kegesitan kaki dan liukan tubuh disertai kerasnya pukulan tindih menindih tak terelakan. Dua jalur ilmu keduanya menggambarkan ketinggian pencapaian ilmu tingkat tinggi. Itu terlihat dari deru dan desir angin yang mereka timbulkan.
Adanya perkelahian antara orang bertopeng dan orang berpakaian hitam, tak lepas dari pengamatan Pangeran Arya Singasari. Entah mengapa bangsawan dari tanah Tumapel ini merasakan kalau dirinya pernah merasakan dan melihat tata gerak dari orang bertopeng.
"Ilmu tata gerak itu.... Ah sepertinya aku pernah menyaksikan ilmu orang bertopeng itu." desis Pangeran Arya Singasari.
Dalam pada itu, perkelahian seru juga terlihat disemua titik medan. Di capit kanan, ki Lurah Lembu Sura menghadapi senopati pilihan pasukan Bang Wetan. Sehingga bantuan Wasis dan Sambi Wulung sangat diperlukan untuk melayani keganasan senopati lawan.
Begitu juga di capit kiri, seorang kakek berpakaian layaknya pendeta harus dijaga ketat oleh ki Lurah Wiratsemi dan Rara Asih.
"Babo.. Babo... " ucap kakek itu, "Cah ayu, istirahatlah supaya kau tidak cepat letih."
Rara Asih tak menyahuti dengan kata - kata. Putri Panji Reksotani ini malah menggunakan pedang tipisnya membacok mulutkakek itu.
"Tobat - tobat... Galaknya minta ampun ini bocah !" celotehnya sambil menepis pedang itu menggunakan pakaian lengan panjangnya.
__ADS_1
Pedang Rara Asih terlihat mental dan hampir saja lepas dari pegangan. Untunglah gadis ini masih dapat mempertahankannya. Dan kembali berwaspada.
Tatkala Rara Asih mengalami kerepotan yang ditimbulkan oleh kakek berpakaian pendeta, Lurah Wiratsemi masuk menggantikan tempat Rara Asih. Membekan nanggala, perwira muda ini melancarkan serangan gencar hingga membuat kakek tua itu mundur sampai lima tindak
"Hebat juga kau, cah bagus." puji kakek itu, lalu katanya kemudian, "Tapi janganlah kau membusungkan dada terlebih dahulu."
Habis berkata, kakek pendeta menotolkan kaki sehingga membuat tubuhnya melayang meloncati tubuh Lurah Wiratsemi.
"Deeess... !"
Pundak perwira muda Demak dapat dikenai dengan kerasnya. Membuat Lurah Wiratmaya terdorong bergulingan ke tanah. Untungnya pemuda itu dapat menempatkan tubuhnya sehingga tak mengalami celaka yang lebih parah dan segera melenting berdiri.
Menyadari jika menghadapi seorang yang sulit dihadapi, Lurah Wiratsemi dan Rara Asih bergerak berbarengan. Keduanya menjalin kerjasama dengan baiknya. Pedang tipis Rara Asih selalu bergerak sangat lentur mengejar tubuh kakek pendeta. Sementara nanggala Lurah Wiratsemi menjulur layaknya lidah ular mematuk mangsanya.
Tak urung kerjasama dari keduanya membuat kakek pendeta tersebut tak olah - olah menghadapi. Jika lengah yang dipertaruhkan ialah nyawa yang bersarang dalam raga tua itu. Oleh karenanya, kakek itu mulai meningkatkan ilmunya. Deru angin dari hasil peningkatan ilmunya membuat lawannya semakin berhati - hati.
Suatu kali tangan pendeta itu menjulur mengarah Rara Asih yang masih berada dalam keraguan. Akibatnya pundak Rara Asih terkena hantaman telapak tangan pendeta tua tersebut. Membuat tubuh gadis itu terhempas.
Untungnya Lurah Wiratsemi bertindak cepat dengan menolong gadis putri Senopati Reksotani. Sehingga tubuh gadis tersebut tak mengalami luka yang lebih parah.
"Terima kasih, ki Lurah." ucap Rara Asih, yang masih merasakan pundaknya bagai terhantam besi gligen.
Lurah Wiratsemu hanya mengangguk saja. Perwira muda itu lebih memusatkan perhatiannya kepada lawan mereka yang tangguh, meskipun usia lawannya sudah terbilang lanjut.
Kembali ke arah Kilatmaya, di mana pemuda bertopeng ini sedang melayani lawannya yang juga memakai topeng dengan pakaian serba hitam. Keduanya bagai membuat kalangan tersendiri yang cukup lebar. Dan terlihat betapa seru perkelahian mereka.
Cepat dan cekatan diperagakan mendekati kesempernuaan dunia kanuragan. Serta lambaran ilmu dari dua sumber berbeda mencari keunggulan dalam menekan ilmu lainnya, terlihat jelas dari dua orang bertopeng berbeda warna pakaian.
"Rasakan ini... !" seru orang bertopeng satunya, seraya melayangkan pukulan ganda.
"Oh... Mengagumkan kisanak... !" sahut Kilatmaya, sembari beringsut sekaligus membalas serangan.
Kembali keduanya memamerkan tata gerak - tata gerak penuh tenaga dan tipuan yang mengagumkan bagi siapapun yang menyaksikan.
Kaki bergerak ke depan, tangan kanan menangkis sergapan terus kaki beringsut, demi melingkari tubuh lawan dan desss... Satu sentuhan dapat membuat orang bertopeng berpakaian hitam bergeser satu tindak. Meskipun begitu rupanya orang itu sempat menyarangkan tangannya ke pundak Kilatmaya, yang mampu membuat Kilatmaya harus merasakan pedih di pundaknya.
Sentuhan demi sentuhan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Demikian juga ilmu keduanya terus menanjak semakin tinggi menggetarkan udara disekitar mereka. Terlihat tubuh masing - masing terlapisi cahaya samar berbeda warna. Dimana warna merah menyelimuti orang berpakaian hitam, sedangkan Kilatmaya menyeruak adanya cahaya kuning keemasan.
Itulah dua ilmu yang menyerupai ilmu kebal dengan sebutan berbeda. Niscala Praba diperuntukan untuk ilmu Kilatmaya yang bersumber dari kitab Cakra Paksi Jatayu, peninggalan raja Bedahulu di Bali Dwipa dan Prabu Airlangga. Lain halnya sebutan ilmu lawannya yang berwarna merah, yaitu ilmu Prahara Geni tingkat tertinggi yang dapat dikendalikan untuk mengamankan tubuh penggunannya.
Bunyi letupan kecil semakin terus terdengar tatkala ilmu Niscala Praba bergesekan dengan ilmu Prahara Geni. Asap samar pun juga terlihat dari akibat yang ditimbulkan oleh dua ilmu mendebarkan tersebut. Tak pelak membuat kagum bagi masing - masing hati.
"Inikah orang yang diceritakan oleh Panji Menak Sengguruh dari Puger itu ?" batin orang bertopeng hitam yang ternyata Lintang Kemukus.
__ADS_1
Rupanya Kilatmaya pun mengagumi ilmu lawannya, sehingga disela menghadapi lawannya, ia pun membatin, "Hm... Orang ini berilmu tinggi."
Keduanya terus berusaha mengungguli lawan satu dengan lainnya. Adu siasat melalui gerekan - gerakan dahsyat terus bergulir semakin hebat. Tata gerak rumit penuh kembangan dan tenaga menyeruak mengakibatkan gelombang mendeeu - deru penuh ancaman. Hingga debu dan dedaunan kering berhamburan terkena getahnya.
Suatu kali sembari meloncat, Lintang Kemukus menggerakan tangannya yang menyebabkan munculnya gelembung merah menyala melabrak lawannya. Gelembung itu hampir saja mengenai sasaran jikalau, orang bertopeng berbaju kuning kecoklatan terlambat menghindarinya. Sehingga hanya mengenai tanah dan menjadikan tanah berlubang dengan asap mengepul dari lubang tersebut.
Mengetahui ilmunya dapat dihindari lawan, Lintang Kemukus merasa penasaran. Oleh karenanya, kecepatan geraknya semakin ia tingkatkan selapis lebih tinggi. Tak heran jika tubuhnya seperti bayangan saja, saking cepatnya.
Kilatmaya tak tinggal diam. Meskipun tubuhnya berada dalam lindungan aji Niscala Praba, pemuda ini tak mau membiarkan lawannya dengab mudah mengenainya. Oleh sebab itulah segala daya upaya ia kerahkan untuk mengikuti permainan dari lawannya. Cepat dan tangkas kaki Kilatmaya bak tak menginjak tanah.
"Benar - benar lawan yang tangguh yang dimiliki oleh Demak.. " ucap Lintang Kemukus.
"Andai saja ia berada dipihak Panembahan Bhre Wiraraja, tentu kami semakin mudah menggulung orang - orang Demak." kembali Lintang Kemukus berucap dalam hati.
Dalam pada itu, Kilatmaya sekaligus Arya Dipa, mencoba meraba apa yang dipikirkan lawannya. Gerakan lawan yang agak melambat tentu ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh lawannya. Dengan ucapan yang bersahabat, Kilatmaya mencoba mencari tahu jati diri lawannya yang juga memakai topeng seperti dirinya.
" Kisanak..!" tegur Kilatmaya tanpa mengurangi kewaspadaannya dan madih melayani lawannya, "Mengapa kisanak ini berusaha melawan pranatan yang berhak melanjutkan kebesaran Wilwatikta ini ?"
"Huh... Kau tahu apa dengan trah yang malah merusak apa yang telah didirikan oleh Raden Wijaya ?" bantah Lintang Kemukus, "Dengan alasan palsu mereka mengobrak - abrik keraton Wilwatikta dan mengusir serta memburu Prabu Brawijaya Pamungkas !"
"Itukah yang kau maksud sebagai penerus sah Wilwatikta, kisanak !?" seru Lintang Kemukus.
Kilatmaya sedikit banyak mengetahui apa yang terjadi di tanah Jawa Dwipa ini di saat - saat akhir tenggelamnya sang surya langit Majapahit. Tentu sangat keliru apa yang diucapkan oleh lawannya yang menuduh Demak sebagai biang kehancuran Majapahit. Malah Demak-lah yang masih menjadi kadipaten Glagahwangi dapat mengamankan beberapa pemberontakan kadipaten - kadipaten yang mbalelo terhadap Majapahit.
Tetapi adanya pergerakan pasukan Demak ke Wilwatikta yang mengusir prabu Giriwardhana dari Kadiri, menjadikan hal itu sebagai fitnah yang merusak citra Raden Patah dan Demak. Banyak orang - orang yang membenci Demak menyebarkan warta palsu berupa fitnah terhadap putra Prabu Brawijaya tersebut.
"Rupanya kisanak ini salah seorang yang mengikuti pemikiran pihak yang tidak suka terhadap trah Demak. Tentu saja sangat sulit pemahaman kita untuk bertemu dalam satu titik."
"Huh.. Memang kenyataannya kamilah yang berada dalam perjuangan yang lurus dan benar, kisanak !"
"Kebenaran macam apa yang kisanak maksud ?" tanya Kilatmaya.
"Kebenaran nyata berupa wahyu keraton yang seharusnya milik Panembahan Bhre Wiraraja. Karena dialah yang pantas duduk di dampar kencana Wilwatikta, dan hanya sang Panembahan saja yang nyata dari garis Amurwabumi serta Kertarajasa !" ungkap Lintang Kemukus.
Kilatmaya mencoba meloncat menjauh menjaga jarak. Tindakan ini bukanlah karena ia jerih, melainkan sebuah tindakan untuk menanggapi perkataan terakhir Lintang Pamungkas yang dirasakan sangat janggal.
" Bila itu hak orang yang kau sebut sebagai Panembahan Bhre Wiraraja, mengapa kalian tidak pergi ke Wilwatikta yang kini menjadi kadipaten Japanan ? Dan menjadikan tempat itu sebagai pusat kerajaan yang kau agung - agungkan itu, kisanak ?!"
Ucapan Arya Dipa memang tepat mengenai dada Lintang Kemukus dan membuat tangan kanan Panembahan Bhre Wiraraja mengatupkan mulutnya. Orang itu tak mengira jika lawannya dapat berucap seperti itu. Hampir saja Lintang Kemukus mengiyakan ucapan lawannya, jika saja gelora nafsu dalam merengkuh kamukten tak mengusiknya.
"Cukup.... !" teriak Lintang Kemukus, "Lebih baik kita tuntaskan permainan kita dengan menggunakan jaya kawijayan !"
Kilatmaya hanya menghela nafas saja.
__ADS_1