BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
82


__ADS_3

Getaran halus menusuk seluruh urat nadi Arya Dipa tatkala Suara Panglulut mulai menguasai tubuhnya. Tenaga yang kasat itu semakin dalam memasuki jiwanya dan membuat pemuda itu tak mampu menghentikannya walau hanya sekejap.


Dengan terkenanya tenaga Suara Panglulut ini, Arya Dipa mengalami sesuatu yang sulit diterangkan. Dirinya bagai dilempar ke suatu kejadian yang mana di situ telah terjadi kejadian berujung mengerikan.


Awalnya Arya Dipa melihat seorang begawan yang berdiri membelakanginya. Begawan itu memegang pedang panjang bermata tajam dan kemudian mengayunkan ke leher seorang lelaki muda. Seketika kepala lelaki itu lepas dari tubuhnya, dengan darah memancar deras dari leher dan tubuh lelaki itu ambruk tak bernyawa.


Bersamaan ambruknya lelaki muda itu, jeritan mengerikan menggetarkan dari seorang perempuan muda yang memondong bayi. Sialnya, jeritan itu jelas didengar oleh begawan yang menggenggam pedang tadi, yang tertarik mendekati perempuan muda dengan langkah perlahan.


"Jangan.. Jangan.. Kasihani dia.. " tanpa sadar Arya Dipa memohon agar begawan itu tak menyakiti perempuan itu.


Tetapi Begawan itu tak menghiraukan suara Arya Dipa. Begawan itu terus melangkah mendekati perempuan muda dengan mata bagai ingin melahap nya tanpa tersisa. Dan sekali lagi sebuah tebasan mengerikan mengarah ke tubuh perempuan muda tanpa ampun.


Tebasan itu awalnya mengarah tubuh depan perempuan yang memondong bayi, tetapi perempuan itu bergerak memutar tubuh demi menghindari tajamnya pedang mengenai bayi dalam pondongan. Sehingga punggung perempuan muda-lah terkena sabetan pedang tajam menyilang panjang. Darah seketika terpancar dari tubuh kecil langsing tak terbendung.


Walau begitu si perempuan di dalam rasa kesakitan masih terus memeluk bayi dalam gendongannya. Melihat keuletan perempuan itu dalam mempertahankan anak bayinya, Begawan tadi kembali menghujamkan pedangnya berulang - ulang.


"Tidaaaaak.... !" teriak Arya Dipa demi melihat kekejaman Begawan.


"Hahaha... Itulah orang yang membunuh kedua putramu, anak muda. Apakah kau membiarkan kekejaman yang ia lakukan ?" sebuah suara tiba - tiba terdengar di telinga Arya Dipa.


"Siapa kau ?" desis Arya Dipa, tertuju ke suara tadi.


"Aku hatimu yang mencari keadilan, anak muda."


"Bohong...!" bantah Arya Dipa.


"Hehehe... " suara itu tertawa, lalu lanjutnya, "Bukalah matamu, anak muda. Lihatlah yang dilakukan oleh Begawan itu...!"


Bersamaan usainya perkataan suara itu, di depan kembali terlihat kejadian seperti apa yang dilihat Arya Dipa sejak awal. Kejadian mengerikan terulang dan terulang sampai berkali - kali.


"Apa kau tega melihat orang tuamu diperlakukan seperti itu, anak muda ?" kata suara tak nampak wujudnya, "Bila kau tak membalaskan dendam kematian orang tuamu, kau memang binatang yang tak mempunyai hati nurani..."


"Diam.. Diam.. Diam.. " teriak Arya Dipa seraya menyumbat kedua telinga dengan kedua telapak tangannya.


Namun hal itu sia - sia belaka, suara itu tetap terdengar dan terus menyudutkan Arya Dipa untuk membunuh Begawan itu.


"Pakailah ini... "


Tiba - tiba sebuah pedang sudah berada dalam genggaman Arya Dipa.


"Cepat bunuhlah dia. Cincang tubuhnya arang kranjang.. !" kembali suara itu terdengar, "Bunuh.. Bunuh.. Bunuh.."


Suara yang terus membujuk Arya Dipa bagai mengandung kekuatan sihir. Tubuh pemuda itu tak terkendali lagi oleh kesadarannya. matanya merah membara dan tangannya semakin erat memegang pedang dan siap mengayunkan ke tubuh Begawan.


Saat itulah, letupan cahaya bersinar terang dari hati kecil pemuda itu. Cahaya welas asih dari kekuatan dirinya menyeruak membangkitkan kekuatan suci. Tangan yang masih menggenggam pedang terayun deras, bukan ke begawan tadi tetapi diayunkan ke samping kiri.


"Craaaas.... "


"Bangsat kau manusia.... !"


Umpatan mengerikan disusul dengan terbelahnya tubuh raksasa Bala Kala terjadi setelah ayunan pedang ditangan Arya Dipa.


Kejadian itu membuat Nara Maya tersenyum dan mengangguk. Tanpa berkata, raksasa alam putih itu terbang meninggalkan tempat itu, membubung ke angkasa.


Sementara raksasa Bala Kala yang tubuhnya terbelah mulai memudar wujudnya, disusul bergulungnya kedua alam menjadi satu dan menghempaskan tubuh Arya Dipa ke alam kesadaran.

__ADS_1


"Akulah orang yang disebut Jambul Kuning, ngger."


Suara Begawan Bancak itu masih terngiang dengan jelasnya.


"Eyang... " desis Arya Dipa, "Oh Eyang... "


Arya Dipa menubruk tubuh kakeknya dengan eratnya, "Eyang, benarkah eyang yang membunuh ayah dan ibu."


Pemuda itu menagis mencurahkan air mata bagai bendungan yang tak mampu menahan lajunya air sungai, sehingga bendungan itu jebol. Dan itulah luapan perasaan Arya Dipa berupa tangisan disertai pelukan kepada eyangnya, satu - satunya keluarga yang tersisa.


Malam anggara manis, malam pertemuan kedua eyang dan cucu di luar padukuhan Bungkul. Dua hati yang mengalami persamaan rasa cinta kasih terpisah oleh masa, akhirnya Sang Batara menyambungkan dengan lancarnya walau bayangan kelam menyelimutinya.


Awalnya secarik kertas tiada noda tinta terpercik walau setitik, tetapi kelanjutannya secarik kertas itu dalam kodratnya harus menerima tetesan tinta. Tinta beraksarakan perjalanan sang insan sesuai garis tangannya, akan tetapi manusia itu sendirilah yang sebenarnya bisa merubah arahnya garis itu. Tentunya garis itu ialah garis yang tak mutlak dari ketentuan Sang Nata.


Begitu juga halnya dengan Arya Dipa. Hidupnya sebatangkara karena sang ayah dan ibu telah tiada akibat ulah eyangnya. Itu menurut cerita dari Resi Puspanaga, seorang pertapa dari gunung Penanggungan. Apakah itu benar atau Resi itu berbohong.. ?


Demi meyakinkan itu semua, kini saatnya Arya Dipa bisa bertanya kepada eyangnya sendiri, yang mengalami kejadian masa lampau di puncak gunung Bancak.


"Eyang, benarkah apa yang dituduhkan eyang Puspanaga terhadap diri eyang ?" tanya Arya Dipa, setelah mampu menguasai kesedihannya.


Angin malam berhembus sesuka hatinya, seolah tak menghiraukan orang - orang itu. Dengan riangnya angin itu bermain - main menggerakan apa pun yang ada dalam cakupannya. Sementara di langit sang bulan berbentuk sabit acuh tak acuh dengan kejadian di buana, ia lebih senang bercengkrama dengan bintang gemintang.


Helaan nafas mengawali Begawan Bancak atau Begawan Jambul Kuning dalam menentukan apa yang akan ia sampaikan. Katanya dengan sareh, "Angger, Dipa. Apa tanggapanmu dengan Resi Puspanaga ?"


Pertanyaan dari Begawan Jambul Kuning tak terduga sebelumnya oleh pemuda itu. Sekilas raut wajah Arya Dipa bergelombang dengan alis mengernyit.


"Maksud, eyang ?"


"Tidak, aku hanya ingin mendengar darimu. Menurut pengenalanmu, seperti apa Resi Puspanaga ?"


"Eyang, Resi Puspanaga bagiku sudah aku anggap eyang sendiri dan merupakan seorang yang mendidik cucumu ini dalam menempatkan letak sesungguhnya di buana ini."


"Buana manakah itu, ngger ?"


"Buana sesungguhnya, eyang. Buana sebagai ladang dalam menanam padi sebanyak - banyaknya dan menjaga tanaman itu dari hama berupa nafsu yang berlebihan."


Begawan Jambul Kuning menghela nafas lega. Kakek itu bersyukur dengan perbuatan yang dilakukan oleh sahabat mudanya itu, terhadap cucunya. Tak jauh dari kedua eyang dan cucu, Begawan Kakrasana ikut senang mendapati kejadian yang tak ia sangka - sangka itu. Begitu juga dengan Windujaya.


"Apakah itu saja, ngger ?" kembali Begawan Jambul Kuning bertanya.


Arya Dipa mendongak menatap bulan sabit di langit, bibirnya tersenyum, "Bila aku ucapkan, malam ini tak akan selesai, eyang. Eyang Puspanaga banyak sekali memberikan aku petuah - petuah disetiap waktunya. Dan saat pertama aku mendapatkan dasar ilmu darinya, ia menanyakan apakah aku akan menggunakan ilmuku untuk membunuh eyangku sendiri ?"


Sejenak pemuda itu berhenti untuk mencari kesan dari raut wajah eyangnya, lalu katanya dengan tegas, "Tidak... Begitulah yang aku jawab, eyang. Tetapi eyang Puspanaga tak diam sampai disitu saja. Ia memintaku untuk menguraikan alasan dari jawabanku itu."


Dengan sungguh - sungguh Begawan Jambul kuning serta Begawan Kakrasana dan Windujaya mendengarkan perkataan dari Arya Dipa.


"Seperti aku katakan kepada eyang tadi. Aku tak akan membunuh eyangku meskipun eyang telah membunuh ayah Wila dan ibu Dyah Ratna. Kerana apa ? Pertama, ayah dan ibu tak akan hidup lagi dan kedua, hal itu semakin memburamkan garis keluarga eyang."


"Kau memang seorang ksatria, Dipa !" seru sosok yang muncul dari balik pohon disertai dua orang lelaki.


"Kau Puspanaga.. !" seru Begawan Jambul Kuning.


Sosok itu memanglah Resi Puspanaga dan kedua muridnya, Palon dan Sabdho. Dan kemunculan ketiganya membuat orang - orang kaget, karena mereka tak menyadari keberadaan mereka.


"Sehatkah kau Arya Bancak dan adi Brajang Mas ?" tegur Resi Puspanaga, sambil tersenyum ke arah Arya Dipa dan Windujaya.

__ADS_1


"Apakah kau masih menuduhku melakukan tindakan keji terhadap kedua anak dan menantuku itu, Puspanaga ?!"


Resi Puspanaga tak langsung menanggapi. Orang tua itu berusaha mendekat dengan santainya, diiringi Palon dan Sabdho.


"Sebaiknya adi Brajang Mas mempersilahkan kami singgah di gubuknya." kata Resi Puspanaga sembari menoleh ke Begawan Kakrasana.


"Tunggu dulu... " kata Begawan Jambul Kuning, tetapi tak dilanjutkan karena adanya isyarat dari adik seperguruannya.


"Masuklah, kakang Resi. Begitu juga dengan kakang Bancak dan yang lainnya. Malam sudah menggelincir semakin mendekati dini hari." ajak Begawan Kakrasana.


Resi Puspanaga mengikuti langkah Begawan Kakrasana. Sementara Begawan Jambul Kuning masih ragu - ragu, tetapi segera digamit oleh Arya Dipa, "Mari, eyang.."


Di dalam gubuk semua orang duduk di amben besar. Suasana dalam gubuk masih terasa ketegangan. Dan Begawan Kakrasana sebagai tuan rumah berusaha mencairkan dengan melempar guraun.


"Aku tak mengira jika macan ompong berkumpul disini seperti ini... hehehe.. "


"Benar adi Brajang Mas, tetapi macan itu ada perbedaannya. Yaitu dua macan dari istana keraton, dan satunya lagi macan yang benar - benar dari pucuk gunung." sahut Resi Puspanaga, "Tetapi untungnya kita sudah menyiapkan macan - macan perkasa di masa mendatang."


"Kau salah, kakang Resi. Aku belum menemukan macan itu, padahal dahulunya ia mampu kuhandalkan." kata Begawan Kakrasana, suaranya mengandung kegetiran.


."Ah sudahlah, adi. Anakmu sudah tenang di alam kelanggengan, aku yakin ia selalu menatap bangga terhadapmu." Resi Puspanaga.


Sementara itu Begawan Jambul Kuning masih terdiam membisu.


"Arya Bancak, apakah kau masih membenciku ?" tanya Resi Puspanaga.


"Huh.. " desuh Begawan Jambul Kuning.


Resi Puspanaga menghela nafas, ia mengerti keadaan sahabatnya itu. Untuk itulah ia berkata, "Maafkan atas ketidak percayaanku kepadamu waktu itu. Sekarang aku akan menerangkan dengan jelas kepadamu dan kepada Arya Dipa, mengenai peristiwa di puncak gunung Bancak."


"He... " seru sekalian orang.


Kemudian Resi Penanggungan itu menceritakan semua yang ia ketahui. Peristiwa yang membuat suramnya gunung Bancak, sedikit demi sedikit terkuak semakin terang


"Begitulah. Sehingga pertamanya aku menuduh dirimu yang melakukannya, karena kau dan orang itu serupa." kata Resi Puspanaga mengakhiri ceritanya.


"Apakah kakang Bancak tak mengetahui orang itu ?" tanya Begawan Kakrasana.


Begawan Jambul Kuning menggeleng, "Tidak.. Ayah Pangeran tak pernah berkata, begitu juga ibu."


Disebutnya ayah Pangeran oleh Begawan Jambul Kuning, membuat Arya Dipa bertanya - tanya. Siapa sebenarnya eyangnya ini ? Tetapi iti semua masih ia simpan sampai urusan yang disampaikan oleh eyang Puspanaga bisa sedikit terang.


"Orang itu berada di antara pasukan Bang Wetan. Dan dialah otak dari semua serangan pasukan wetan." kembali Resi Puspanaga.


Begawan Jambul Kuning menatap Arya Dipa, "Sekarang kau mendengarnya Arya Dipa. Aku Jambul Kuning tak melakukan tindakan keji itu, melainkan yang melakukan itu ialah orang yang mirip denganku. Entah benarkah ia kembaranku, aku sendiri tak banyak mengetahui. Karena yang aku tahu, ayahku Pangeran Banyak Paguhan hanya memiliki anak tunggal saja."


"Jadi eyang juga bangsawan Kadiri.. "


"Hm.. Tetapi aku menolak saat Prabu Giriwardhana menggempur Wilatikta, sehingga ia mengasingkan keluargaku ke sekitar gunung Bancak yang masih hutan belantara itu."


"Hm.. Terima kasih atas kemunculanmu kali ini, Puspanaga. Sehingga aku dan cucuku ini tak ada lagi mengandung rasa syah wasangka." ucap Begawan Jambul Kuning atau raden Arya Bancak.


"Ah sudahlah, Arya Bancak. Peemasalahan itu sekarang sudah usai. sekarang sebaiknya kita menitik beratkan masalah yang akhir - akhir ini menyerabak."


"He.. Apa itu ?" Begawan Jambul Kuning heran.

__ADS_1


"Pusaka dan harta di aliran sungai Brantas.. "


__ADS_2