BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
80


__ADS_3

Nafas terhenti sesaat dengan adanya sebuah pergerakan kaki Windujaya. Pemuda itu sudah lepas dari kekangan tembok tebal berupa kesabaran dalam penantian. Dikarenakan waku terbuang lama dan lawan tak menunjukan adanya sebuah niatan mengawali adu ilmu itu, maka ialah yang termakan keinginan mendahului.


Walau begitu, murid kinasih Begawan Bancak atau Begawan Jambul kuning masih melakukan penjajagan terlebih dahulu, yaitu mengetahui sebatas mana kemampuan pemuda di depannya. Karenanya pukulan seper-empat sajalah yang ia luncurkan melalui tangan kanan, mengarah dada lawan. Sementara untuk memberikan serangan susulan, Windujaya sudah mempersiapkan berupa tendangan yang ia arahkan jikalau lawan menghindarinya, atau pukulan tangan kiri seraya menarik tangan kanan andai lawan mencoba menahan.


Dan ternyata yang terjadi ialah lompatan kecil Arya Dipa ke kiri sesuai perkiraan Windujaya. Tak pelak rencana yang sudah terbayang ia lakukan untuk melakukan tendangan kaki kokohnya. Tetapi Arya Dipa juga mampu membaca serangan itu, dan Arya Dipa tak menghindar melainkan ia tekuk kakinya sebagai landasan penyangga tubuhnya, seraya menghadang laju tendangan menggunakan tangannya yang menyiku.


Saat tendangan itu hampir mengenai lengan Arya Dipa, tiba - tiba saja Windujaya secepat kilat menarik tendangannya dan kemudian mengganti sodokan ke lambung. Tarik kaki, berganti tumpuan dengan menekuk kaki, tangan bergerak, sodokan ke lambung tujuan berikutnya.


Bila Windujaya bergerak secepat kilat, tak kalah hebat yang ditunjukan oleh Arya Dipa. Tekukan penyangga tetap, tangan kanan bergerak sebat, dan hap.. Jemari terbuka bagai jala menangkap ikan dengan erat, lalu tangan kiri mencaplok pundak erat - erat.


Kali ini terlihat tubuh Windujaya tak menginjak tanah dikarenakan adanya tenaga besar menari dan mengangkat tubuh pemuda itu.


Memang kenyataannya seperti itu. Arya Dipa mengerahkan tenaga ke-kedua tangan untuk mengangkat tubuh lawan dengan tujuan menunjukan kalau dasar dari bimbingan Resi Puspanaga tak pantas dijadikan cemohan oleh Begawan Bancak atau orang lain. Dan tiada rasa menyakiti tubuh Windujaya, karena nantinya bila tubuh itu sudah melewati kepala, tubuh itu akan ia taruh seperti sediakala.


Beda orang beda pemikiran, dan ini dialami oleh Windujaya. Walau pada awalnya ia menyayangkan sikap gurunya dalam memulai penjajagan ini, namun apa yang diperlakukan oleh Arya Dipa menggelitik rasa ke-aku-annya. Inilah yang mengawali adanya keinginan mementahkan tindakan lawan kepadanya. Yaitu melalui adu ilmu jaya kawijayan.


Perubahan mulai terjadi diantara kedua pemuda itu. Yang paling merasakan ialah Arya Dipa, yang menunjukan perubahan rona merah dikarenakan kekuatan menghimpit tangan dan tubuhnya.


"Liman satubondo... " desis Arya Dipa.


."Maafkan aku kakang, aku terpaksa menerapkan aji ini, karena aku tak ingin tubuhku engkau jadikan gedebok yang ***** setelah kau lemparkan." seru Windujaya, kemudian lanjutnya, "Lebih baik kakang berseru kepada guru mengaku kalah.."


.Suara Windujaya terdengar pelan saja, tetapi kata kalah yang terucap tadi bagai tajamnya mata pisau. Walau begitu sebanarnya Arya Dipa tak terlalu memasukan dalam hati, jikalau teringat adanya cemohan dari Begawan Bancak diawal tadi, mengenai ilmu Resi Puspanaga.


"Cepatlah kakang... " ulang Windujaya, "Lihat, kakimu sudah tenggelam sampai lutut.."


Betapa menakjubkan kekuatan Windujaya berupa ilmu Liman Satubondo, yang membuat kaki Arya Dipa ambles dalam tanah sebatas lutut.


Di bawah, Arya Dipa yang awalnya merasa dalam kesulitan, kini ia mengerahkan ilmu sesungguhnya. Ilmu dasar dari pertapaan Pucangan ia poles dengan ilmu kitab Cakra Paksi Jatayu. Tenaga dalam tubuhnya mulai kembali seperti sediakala dan siap merubah keadaan.


Tarikan nafas dalam mengawali sebuah tenaga disalurkan di telapak kaki yang masih dalam tanah. Tubuh Arya Dipa merendah sedikit dan.....


"Wuuuss.... "

__ADS_1


Tubuh dengan masih menyangga beban Windujaya bagai terbang mengangkasa menembus gelapnya malam. Hanya seleret warna putih meluncur sesaat dan kemudian berpindah tempat dengan keadaan berubah.


"Edan.... !" seru Begawan Kakrasana dan Begawan Bancak, bersamaan.


"Adi, masihkah kau menganggap aku akan berlaku diluar batas ?" tanya Arya Dipa, pelan.


Windujaya membisu. Pemuda itu masih takjub dengan apa yang telah terjadi. Bagaimana mungkin seorang yang sudah dibawah himpitan tenaga gajah, bisa lepas dan bahkan membawa beban ratusan gajah mengudara setinggi pohon Bramasta ?


"Bila aku ingin, ketika masih di udara tadi aku tentu mampu melakukan apa yang kau tuduhkan tadi, membuat tubuhmu bagai batang pisang yang *****." kata Arya Dipa, "Tetapi itu akan penyesalan tiada akhir, adi.


Tepuk tangan terdengar keras dari Begawan Kakrasana. Orang tua itu tersenyum sambil melirik kakak seperguruannya. Hatinya setuju dengan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Arya Dipa.


"Kau dengar, kakang. Anak muda ini mirip dengan mendiang putramu." kata Begawan Kakrasana, "Apakah kau masih ingin melanjutkan keinginanmu tadi ? Mengapa kau selalu marah jika mendengar nama Resi Puspanaga ?"


Keadaan masih belum menunjukan titik terang. Masih samar tertutup awan tebal sehingga sinar gemintang tak mampu menembus secara langsung. Begitupun dengan Begawan Bancak. Orang tua itu masih berdiri menatap tajam ke arah Arya Dipa dan Windujaya.


Dalam pikiran orang tua itu terdapat dua lorong yang berbeda. Lorong pertama ia masih ingin melanjutkan penjajagan itu sampai tingkat selanjutnya, karena muridnya belum mengeluarkan segenap ilmu yang ia wariskan. Sedangkan lorong satunya, ialah menuntaskan sampi disini saja.


Pertimbangan dari lorong terakhir dikarenakan adanya beberapa hal. Yaitu, kata Arya Dipa sangat mirip dengan mendiang putranya. Selain itu perkataan tadi juga mengingatkan dirinya dengan putra Patih Udara, yaitu Raden Kuda Mapanji. Selanjutnya mengenai Resi Puspanaga, sebenarnya keduanya adalah kawan seperti dirinya dengan Adipati Handaningrat, perbedaannya hanyalah dikarenakan adanya kesalahpahaman semata.


Begawan yang suka berbuat urakan itu marah bagai singa yang kehilangan anaknya. Dengan tubuh gemetaran ia berlari ke arah anak menantunya yang masih bernapas walau darah membasahi tanah dibawahnya.


Kedatangan Begawan Jambul Kuning bukannya membuat menantunya senang, melainkan perempuan itu dalam kesakitannya memohon belas kasihan kepada ayah mertuanya itu.


"Ayah Begawan, cukup kami berdua saja yang mengalami penderitaan ini. Aku mohon, biarkan bayi itu tetap hidup..." ucap perempuan dengan terbata - bata.


"Apa maksudmu, Dyah ? Siapa yang melakukan ini ?" Begawan Jambul Kuning tak mengerti.


Putri menantunya tak menjawab. Perempuan itu hanya menunjuk buntalan kain di sisi kanannya. Dan kemudian nyawa perempuan itu lepas dari raganya.


"Dyah.. Dyah.. Dyah.. !" panggil Begawan Jambul Kuning sambil mengguncang tubuh putri menantunya.


"Oh Bathara Yang Agung..... " teriak Begawan Bancak.

__ADS_1


Sekali lagi orang tua itu melihat menantunya itu. Wajah cantik perempuan istri anaknya, perlahan mulai memucat. Tubuh dalam dekapan semakin dingin. Diletakan tubuh itu perlahan ke tanah seraya merapikan kedua tangan di atas perut. Kemudian ia alihkan pandangan di sisi kanan tubuh yang mulai membeku, dimana sebuah bungkusan kain membalut tubuh mungil.


Perlahan diraih bungkusan itu. Di dalamnya, bayi mungil terlelap dalam mimpi. Wajah si jabang bayi bersinar cerah berpadu antara sang ayah dan sang ibu.


"Cucuku, kau tampan seperti Arya Wila dan putih mirip ibumu Dyah Ratna." desis Begawan Jambul Kuning sembari mengelus pipi mungil cucunya.


Saat itulah berkelebat bayangan putih berdiri tegap menghadap Begawan Jambul Kuning.


"Jambul Kuning, Janganlah kau sakiti bayi yang tak berdosa itu." tegur sosok yang baru datang.


Mendengar teguran itu, Begawan Jambul Kuning mengerutkan alisnya dalam - dalam. Tak mengerti apa yang diucapkan oleh orang itu.


"Kau gila apa, Puspanaga ?!" seru Begawan Jambul Kuning, "Dia cucuku... !"


Orang yang berada di depan itu menghela nafas. Mencari peluang waktu yang tepat menyelamatkan anak yang berada dalam ancaman kakeknya. Lantas tubuh itu perlahan beringsut melangkahkan kaki ke depan dan berhenti satu tombak dari tubuh Begawan Jambul Kuning.


"Lihatlah putramu Arya Wila, betapa menyedihkan ini. Tataplah Dyah Wulan, perempuan yang tak mengerti apa - apa walau ia putri Nayaka Praja Demak. Dan sekarang kau tega membunuh cucumu sendiri, Jambul Kuning ?"


"He.. Kau bicara apa, Puspanaga ? Janganlah kau berbicara tanpa ujung pangkalnya !"


"Jambul Kuning, kini kau berubah lagi tak seperti tadi saat membabat putramu sendiri dengan pedang yang menggeletak itu. Tak segarang saat kau menyayat menantumu."


"Diam... !" seru Begawan Jambul Kuning seraya meloncat menyerang orang di depannya.


Loncatan dengan pukulan walau tak mendebarkan dari Begawan Jambul Kuning, tak membuat orang berpakaian resi lengah sedikitpun. Kakinya mengisar surut ke belakang dan selanjutnya ujung kaki menotol tanah demi melambungkan tubuhnya. Tak berhenti disitu saja, tubuh resi sembari melambung berhasil merebut bayi dalam gendongan Begawan Jambul Kuning.


Dirasa cucunya berhasil direbut oleh resi itu, tak pelak membuat Begawan Jambul Kuning melakukan tebasan tangan mengarah tubuh resi yang masih berdiri membelakang. Tubuh itu membalik dan tak menyangka tebasan begitu cepatnya, dan tak mampu lagi dirinya menghindar.


Tetapi yang membuat resi itu takut bukanlah karena tebasan itu mengenai dirinya, melainkan tebasan Begawan Jambul Kuning segaris lurus dengan tubuh bayi dalam gendongannya.


"Whuutss.. Byaaar.. "


Sebuah kejadian aneh terjadi di atas gunung Bancak. Begawan Jambul Kuning terpental deras dan jatuh ke semak belukar dengan tanah gembur. Maka tubuh Begawan Bancak menggelinding jatuh ke bawah.

__ADS_1


"Oh.. " desis Begawan Bancak yang sadar dirinya berada di depan gubuk milik Begawan Kakrasana.


__ADS_2