
Dua kasih berlabuh dalam dermaga cinta, saling melepas cumbu rayu semerbak wewangian di indraloka. Para Dewa tersipu malu dan mencoba tak mengganggu dua insan anak manusia yang asyik, syahdu berbagi rasa. Panah Dewa Kamajaya menusuk dalam tersambut dewi Kama Ratih yang cantik jelita. Dunia yang penuh dengan manusia seakan kosong tinggal dua insan itu saja. Ikan di kolam, bunga di taman, bulan dan bintang di angkasa seakan ikut berbahagia.
Itulah gambaran dari rasa cinta ki Lurah Arya Dipa dan Ayu Andini di taman Kaputren Demak di kala malam itu.
"Kakang Dipa, kita sudahi dahulu." desis perlahan Ayu Andini, yang bersandar di dada bidang ki Lurah Arya Dipa.
Ki Lurah Arya Perlahan mengelus rambut hitam panjang sang kekasih seraya berkata, "Apakah kau ingin kembali, Ayu ?"
Tubuh Ayu Andini bergerak sehingga terlepas dari pelukan tangan ki Lurah Arya Dipa, lalu menyender ke kursi taman. Sejenak terdengar helaan napas putri angkat Empu Citrasena itu.
"Tidak kakang, sebenarnya aku ingin meminta pertimbangan dari kakang."
Kerut menghiasi dahi ki Lurah Arya Dipa, "Mengenai apa, Ayu ?"
"Kakang, pastinya kakang sudah bertatap muka dengan ki Lurah Mas Karebet ?"
"Oh Lurah muda yang tampan itu, lalu ?"
"Sejak ki Lurah Mas Karebet bertugas di Kaputren ini, ia mendapat perhatian lebih dari Gusti Putri Cempaka. Gusti Putri setiap hari selalu melamun dan makannya tidak teratur, hingga suatu hari ia sakit." Ayu Andini sesaat berhenti demi menilai kesan dari kekasihnya, "Tapi anehnya saat ki Lurah Mas Karebet berada di Kaputren, sakit yang diderita Gusti Putri seketika hilang. Wajahnya yang pucat lemah berangsur pulih sediakala, wajah gusti Putri bersinar kembali, kakang."
"Mengapa kakang tersenyum seperti itu ? Adakah kata yang aku ucapkan itu lucu ?" kata Ayu Andini dengan nada agak mengkal.
"Hahaha.. Janganlah kau cemberut seperti itu, bidadariku. Sungguh aku tak menertawakan dirimu."
"Tapi nyatanya kakang tersenyum dan tertawa !"
"Dengarlah penjelasanku ini, mengapa aku tersenyum tiada lain maksud ialah menangkap apa yang dialami oleh gusti Putri." ucap ki Lurah Arya Dipa.
"Gusti Putri Cempaka saat ini sedang dilanda gelombang Asmara, Ayu. Tidakah engkau dapat merasakan saat kita berjumpa pertama di pertapaan Pucangan dulu ?" kata ki Lurah Arya Dipa, "Aku juga mengalami rasa sakit dari tamparan seorang gadis perkasa...."
Kata ki Lurah Arya Dipa terputus tergantikan keluhan yang menimpa kulit pinggangnya, akibat cubitan dari Ayu Andini.
"Sudah.. Sudah Ayu, bisa - bisa pinggangku berlubang.. " ki Lurah Arya Dipa memohon ampun.
"Biar saja, salah kakang yang terus menggodaku. Walaupun kakang mempunyai aji Niscala Praba, pasti mampu aku tembus dengan aji Segoro Geni !" seru Ayu Andini.
"Aku mohon, Ayu. Bisa - bisa aku besok tak bisa bertugas dan akan digantung oleh Kanjeng Sultan Trenggono."
"Kakang janji tak mengulangi lagi ?!"
"Iya, aku berjanji."
Cubitan itu akhirnya terlepas, tapi si gadis masih cemberut mengkal. Hal itu membuat ki Lurah Arya Dipa bergeser sedikit menjauh.
"Bahagianya aku malam ini, Dewata menganugerahiku seorang bidadari yang duduk cemberut..."
Kembali kata ki Lurah Arya Dipa tak terselesaikan karena pemuda itu bergerak menghindari cubitan si gadis dengan meloncat menjauh.
"Ayu sudah, jika kau mencubitku aku akan pergi.. " ancam ki Lurah Arya Dipa.
"Pergi saja jika kakang kehendaki." sahut Ayu Andini seraya duduk kembali di kursi.
Walau agak geli dengan tingkah laku Ayu Andini, ki Lurah Arya Dipa beringsut menuju kursi kembali dan duduk di dekat gadis pujaannya.
"Maaf Ayu, itu semua karena rasa cintaku kepadamu. Sungguh dalam hati ini hanya kau seorang yang menempati." suara ki Lurah Arya Dipa terdengar bersungguh - sungguh.
"Aku pun juga menyadarinya, kakang. Namun tangan ini ingin rasanya membelai pinggang kakang." sahut Ayu Andini.
"Belaian tanganmu tentu akan meninggalkan bekas selamanya kan ?" seraya bibir pemuda itu terkulum senyum.
"Ah kakang." wajah itu menunduk tersipu.
Desir angin semakin dingin menusuk kulit. Malam semakin memuncak menghiasi persada bumi. Ki Lurah Arya Dipa menyadarinya, oleh sebab itu ia pun berkata dengan sungguh - sungguh mengenai apa yang dialami oleh Gusti Putri Cempaka.
"Itu semua memang garis cinta, kita tak sepatutnya untuk mencegah. Usahakan agar keduanya jangan terlalu berlebihan, Ayu." kata ki Lurah Arya Dipa.
__ADS_1
"Aku akan berusaha, kakang."
"Baiklah, hari sudah malam aku harus kembali ke barak. Ki Tumenggung Gajah Pungkuran tentu akan menanti diriku, karena esok hari aku akan kembali menghadap Kanjeng Sultan Trenggono."
"Adakah tugas yang akan kakang emban ?"
"Begitulah, pastinya kau mendengar peristiwa keris kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten, dan inilah yang nantinya akan berusaha kami dapatkan di telatah Kabuyutan Banyubiru." ucap ki Lurah Arya Dipa.
"Berhati - hatilah, kakang. Seandainya aku diijinkan, tentu aku ingin sekali mendampingi kakang ke Kabuyutan itu." kata Ayu Andini.
"Sudahlah, disini pun kau juga mempunyai tugas yang tak kalah ringannya, keselamatan Gusti Putri juga harus terlindungi." sahut pemuda anak angkat ki Panji Mahesa Anabrang, "Sudahlah, aku pamit dahulu."
"Baik kakang."
Pemuda itupun beranjak dari taman Kaputren mengarah ke halaman depan. Di situ ki Lurah Mas Karebet menyambutnya dengan menghampiri.
"Kiranya kakang Lurah ingin kembali ke barak ?"
"Hari sudah malam, adi Lurah. Terima kasih atas kemurahan adi meluangkan waktu untuk kami berdua." ucap ki Lurah Arya Dipa.
"Hahaha.. Sudahlah kakang, jangankan aku yang berpangkat Lurah prajurit seperti kakang, Gusti Putri dan Gusti Pangeran Bagus Mukmin saja berkenan dan menghendaki jika kakang berkunjung ke Kaputren maupun Kekasatryan." sahut ki Lurah Mas Karebet.
"Ah.. adi Lurah terlalu berlebihan. Baiklah aku akan kembali ke barak, oh iya apakah adi Lurah juga tinggal di barak Wira Tamtama ?"
"Tidak kakang, aku tinggal dengan paman Ganjur di Suranatan. Karena paman mengabdi kepada ki tumenggung Suranata dan aku oleh paman disuruh untuk menemaninya di sana." jawab ki Lurah Mas Karebet.
"O.. Kalau begitu lain kali ingin aku berkunjung ke Suranatan, untuk sekedar berbincang dengan adi Lurah dan ki Ganjur." kata ki Lurah Arya Dipa
"Aku akan menanti dengan senang hati, kakang Lurah." sambut ki Lurah Mas Karebet.
Kemudian ki Lurah Arya Dipa pamit untuk kembali ke barak kesatuan Wira Tamtama. Perlahan kuda yang ia namai Jatayu Pethak berjalan melewati lorong jalan yang membelah kotaraja Demak.
Dua hari setelah ki Tumenggung Gajah Pungkuran dan ki Lurah Arya Dipa menghadap Kanjeng Sultan Trenggono, untuk melaporkan keberadaan dua pusaka Demak yang dipastikan berada di Kabuyutan Banyubiru, maka Kanjeng Sultan Trenggono menitahkan ki Panji Arya Palindih memimpin pasukan segelar sepapan menuju Kabuyutan yang berdiri sejak Prabu Brawijaya Pamungkas mas Majapahit, yaitu Kabyutan Banyubiru.
Sebelumnya dalam pisowanan ki Panji Arya Palindih mengungkapkan rasa yang menganjal dalam hatinya mengenai prajurit yang akan mengiringinya. Mengapa harus membawa pasukan sebanyak itu kalau hanya mengambil dua pusaka yang jelas keberadaannya berada di lingkungan sendiri. Karena ki Panji Arya Palindih sangat memahami pambeg dari ki Ageng Gajah Sora yang dimasa mudanya ikut menyeberang ke Malaka. Inilah yang merisaukan hati seorang perwira yang sebelumnya bertugas di bandar Bergota.
"Kakang Panji, kali ini tak usah kakang membawa pasukan dari Bergota. Biarlah pasukan dari Wira Tamtama yang menyertai kakang menuju Banyubiru." kata ki Tumenggung Gajah Pungkuran.
"Ki Tumenggung, prajurit dari kesatuan manapun juga tentu tak masalah. Tapi tolong berilah titik terang kepadaku ini, mengapa hanya mengambil dua pusaka yang berada di tangan anakmas Gajah Sora saja harus mengerahkan pasukan sebanyak ini ? Apakah Buyut baru mempunyai hati kotor untuk memberontak ?" tanya ki Panji Arya Palindih.
"Hm.. " Tumenggung dari kesatuan Wira Tamtama itu menghela napas, "Entahlah kakang Panji, tapi yakinlah bahwa pasukan itu nantinya akan membantu dan melapangkan jalan kakang untuk tugas kali ini."
"Lalu siapa saja perwira yang akan menyertaiku ?"
"Karena sebagian perwira maju ke Purbaya dan sebagian lagi harus berada di kotaraja, serta atas perkenan dari Kanjeng Sultan, kakang akan ditemani oleh ki Panji Reksotani, ki Rangga Gajah Sora, ki Lurah Saroyo dan ki Lurah Arya Dipa ini." ucap ki Tumenggung Gajah Pungkuran sambil menunjuk ki Lurah Arya Dipa yang belum dikenal oleh ki Panji Arya Palindih.
Demi dirinya ditunjuk, ki Lurah Arya Dipa mengangguk hormat kepada perwira tua dari kesatuan Jalapati tersebut. Dan ki Panji Arya Palindih menyambutinya dengan anggukan.
"Baik, ki Tumenggung. Sesuai dengan titah Kanjeng Sultan, esok dikala sang cakrawala bersinar di ujung timur maka kami siap berangkat." sahut ki Panji Arya Palindih, mantap.
Lantas siang itu di barak kesatuan Wira Tamtama terjadi kesibukan dalam mempersiapkan pasukan yang siap mengiringi duta dalam mengemban pengambilan keris kyai Naga Sasra dan kyai Sabuk Inten di Banyubiru. Persiapan - persiapan mulai ditata dan diteliti secara cermat oleh para perwira, mulai dari persenjataan, tunggangan, perlengkapan berupa umbul, rontek, panji, dan tak lupa bendera Gula Kelapa telah terikat kuat di sebatang tombak panjang setinggi pertengahan pohon kelapa. Juga masalah perbekalan pun tak ketinggalan.
Hal itu mengundang tanda tanya di sebagian besar para prajurit yang akan ikut.
"Sebenarnya kita ini ke Banyubiru atau menyusul kawan kita ke Purbaya ?" tanya seorang prajurit muda.
"Bukankah sudah jelas seperti yang dikatakan oleh, ki Lurah Saroyo kalau pasukan ini mengawal ki Panji Arya Palindih ke Banyubiru." jawab prajurit yang mempunyai kumis tipis.
"Tapi mengapa sebanyak ini ?" kembali prajurit muda bertanya.
"Iya, apalagi perlengkapan dan perbekalan yang dibawa begitu lengkap." sela prajurit berbadan jangkung.
"Mengapa kalian mempermasalahkan seperti itu ?" seorang prajurit yang sudah berumur tiba - tiba mengangkat suara, "Itu semua sudah tugas kita sebagai prajurit rendahan seperti ini, sepantasnya kita mengikuti perintah atasan kita kemana saja pemimpin kita bergerak."
"Ah kau kakang Siman, tapi tak salahnya jika kita tahu arah jalan yang akan ditapaki. Ibarat seorang buta jikalau disuruh ke jurang, tentu ia pun akan menolak." kata prajurit yang berbadan jangkung.
__ADS_1
"Itu berbeda Wapang Jangkung, hidup kita ini sebagai seorang prajurit yang sudah bersumpah sejak kita menggeluti bidang keprajuritan ini. Perintah atasan adalah harga mati yang tak bisa ditolak."
"Walau itu harus melanggar rasa kemanusiaan, kakang Siman ?" tanya prajurit yang muda.
"Ah.. Aku rasa pemimpin kita tak seperti itu dalam memberi perintah, Kajar." jawab Prajurit Siman. "Ah sudahlah, sebaiknya kita berkemas dan segera melapor ke ki Lurah Saroyo."
Itulah yang digunjingkan sebagian prajurit di lingkungan kesatuan Wira Tamtama, khususnya prajurit dibawah pimpinan ki Lurah Saroyo. Begitu juga halnya di ruang lainnya, setiap prajurit sambil berkemas sempat menjadikan kepergian mereka ke Banyubiru sebagai bahan pergunjingan.
Sementara itu di ruang utama barak terjadi sebuah pertemuan, dimana seorang petugas telik sandi baru datang dari sekitar Rawa Pening yang jaraknya dekat dengan Kabuyutan Banyubiru.
"Siapa saja orang - orang itu, prajurit ?" tanya ki Tumenggung Gajah Pungkuran kepada prajurit yang baru datang itu.
"Mereka pemimpin gerombolan perampok dan perompak, ki Tumenggung." lapor prajurit sandi itu. "Salah satunya Lowo Ijo dari alas Mentaok yang kini melebarkan ruang jelajahnya sampai ke alas Tambakboyo, Sepasang Uling Rawa Pening dan ada lagi seorang gegedug dari gunung Ciremai."
"Ki Bugel Kaliki.. !" seru ki Lurah Saroyo.
"Kau mengenal orang itu, ki Lurah ?" tanya ki Tumenggung Gajah Pungkuran.
"Kami pernah berselisih dengan orang itu, ki Tumenggung. Dia seorang sakti yang sangat jarang tandingannya, kemampuannya membuat pasukan ronda yang aku pimpin porak - poranda ditangan ki Bugel Kaliki. Bahkan nyawaku pada saat itu sudah di ujung tanduk jikalau saja tak muncul seorang tua sakti dari tanah Baluran." kata ki Lurah Saroyo.
"Siapa orang itu, ki Lurah."
"Awalnya orang itu enggan untuk menunjukan jati dirinya, tetapi rupanya ki Bugel Kaliki mengenali orang itu dengan sebutan ki Ajar Bajulpati." jawab ki Lurah Saroyo.
"Begitu kuatkah orang - orang itu, ki Tumenggung ?" kini giliran ki Panji Arya Palindih yang bertanya.
"Itulah kenapa Kanjeng Sultan mengiringkan pasukan ini kepada kakang Panji. Tentunya kelompok di Rawa Pening itu orang - orang pinunjul dalam olah kanuragan." jawab ki Tumenggung Gajah Pungkuran.
Sejenak ruang itu hening dan hanya terdengar desau angin yang mampu menerobos lewat lubang angin - angin. Ki Tumenggung lalu kemudian memerintahkan prajurit sandi itu untuk kembali ke tempat penyelidikannya di dekat Rawa Pening.
"Bagaimana menurut kakang Panji, selaku perwira yang akan memimpin pasukan ini ?" tanya ki Tumenggung, setelah kepergian prajurit telik sandi.
"Kita pusatkan pasukan ini ke Banyubiru dahulu, jikalau orang - orang yang berada di Rawa Pening itu nampak bergerak menghadang kita, barulah kita bertindak." terang ki Panji Arya Palindih.
"Baiklah jika itu yang terbaik, aku percayakan tugas ini di pundak kakang Panji seperti yang diyakini oleh Kanjeng Sultan."
Pertemuan itu dibubarkan untuk hari ini, segala rancangan telah disepakati dengan berbagai tindakan, mulai yang wajar ataupun pengerahan pasukan Demak.
Matahari pada hari itu seolah - olah bergerak merangkak layaknya bayi sehingga terasa lamban, itulah yang dirasakan oleh sebagian prajurit kesatuan Wira Tamtama. Namun tidaklah bagi ki Lurah Arya Dipa, pemuda ini memanfaatkan waktu itu dengan sungguh - sungguh. Di biliknya pemuda itu duduk bersila memusatkan nalar dan budi memasrahkan diri kehadapan Sang Pencipta, tubuh tenang pemuda itu menyatu dengan ruang lain, mata terpejam, telinga tertutup dari hiruk pikuk dunia, hidung menanggalkan kerja penciuman. Sehingga benar - benar dirinya memasuki sebuah alam lain yang tak mampu ditembus oleh akal.
Dalam alam itu, ki Lurah Arya Dipa mampu melihat sosoknya sendiri yang sedang duduk bersila dengan mata terpejam dan tangan bersedekap.
Sejenak pemuda itu menjauhi wadagnya yang masih bersila, dengan langkah ringan ki Lurah Arya Dipa bergeser ke depan sejarak satu tombak. Tubuhnya secara perlahan bergerak mengunjuk sebuah tata gerak dasar dari ilmu yang ia pelajari di gunung Penanggungan. Tata gerak dari kitab Cakra Paksi Jatayu peninggalan Prabu Airlangga raja pertama Kadiri. Gerak dasar diperagakan dengan mantap dan sigap sesuai alur ilmu Prana tingkat tinggi, semakin membuat gerakan itu bertenaga. Desiran tenaga yang ditimbulkan mampu menyibak udara di alam itu. Selapis demi selapis kemampuan ki Lurah Arya Dipa semakin meningkat, hingga tenaga cadangan terungkap menyatu dan melebur kesetiap geraknya. Aji perlindungan kasat mata yaitu Niscala Praba ikut muncul membuat alam itu berkilauan. Tak berhenti disitu saja, gerakan perwira pemuda itu terasa ringan bak kapas karena aji Sepi Angin pun ikut andil.
Dan sebuah keanehan muncul di alam itu manakala dari depan, segumpal batu besar mencelat mengarah Lurah muda itu. Tetapi ki Lurah Arya Dipa selalu waspada, dengan gerak tangkas pemuda itu meloncat tinggi dengan kaki merentang dan tangan memukul batu hitam itu dengan pukulan Aji Sepi Angin.
"Desss..... !!!"
Batu hitam besar itu hancur berkeping - keping.
Selesai memukul hancur batu hitam ki Lurah Arya Dipa masih mengambang di udara, kaki kanannya tiba - tiba bergerak menendang ke samping.
"Dess... !!" disusul bunyi keluhan.
"Hrrr.. Anak manusia beraninya kau memasuki alam ini !" sebuah suara dari sesosok tinggi besar menyeramkan.
"Hm.. " hanya desuhan dari mulut ki Lurah Arya Dipa.
"Tulikah kau ?! Atau mulutmu tak bisa bicara !" bentak sosok itu.
"He.. Makhluk hitam, seharusnya akulah yang bertanya kepadamu. Siapa kau ini dan bagaimana kau bisa memasuki alam ini ?"
"Tobil manusia kerdil, aku Mahesa Sura akan melumatkan dirimu. Karena seorang berpakaian layaknya Resi suci telah menyuruhku untuk menguji dirimu !" seru sosok hitam yang menyebut dirinya sebagai Mahesa Sura.
"Maksudmu Gusti Resi Gentayu ?" ucap ki Lurah Arya Dipa keheranan.
__ADS_1
"Hrrr... Tak usah banyak tingkah, rasakan pukulanku !" Mahesa Sura langsung mencecar lawan dengan pukulan ganas.
Untunglah ki Lurah Arya Dipa tak melepaskan kewaspadaanya dengan sosok itu, Lurah muda itu dengan sebat menghindari terjangan pukulan Mahesa Sura. Tapi memang dahsyat sosok yang menyebut utusan dari Resi Suci, pukulan yang mampu dihindari lawan masih mampu membuat kulit lawan bagai tersulut api. Udara dari tebasan tangannya mampu menimbulkan tenaga dahsyat.