
Sesungguhnya di balik tubuh ular besar itu, tumbuh sebuah tumbuhan ajaib yang selalu diperebutkan oleh semua orang. Terbukti dari adanya tulang - tulang kerangka manusia yang berserakan di dekat ular besar tersebut dan di sekitar gua. Ular besar itu kembali bergerak walaupun hanya sesaat. Dan Adigama sangat yakin dengan apa yang ada di balik badan ular yang besar itu. Segera Adigama memutar otaknya untuk memancing ular besar yang besarnya sebesar batang kelapa itu meninggalkan tempatnya dan tumbuhan yang dia tunggu. Karena itu, Adigama memungut sebutir batu dan dengan tenaga dalam, batu itu dia sentilkan tepat ke arah kepala ular besar itu.
Begitu besarnya tenaga dalam Adigama dalam menyentil batu yang mengarah ke kepala ular besar tersebut, derasnya laju batu tersebut menimbulkan bunyi angin yang cukup terdengar dan membuat ular besar itu membuka matanya dan dengan mendesis keras menandakan kemarahan.
Sorot mata sang ular begitu tajam dan menusuk melihat sosok pemuda yang ada tidak jauh didepannya yang telah berani masuk dan mengganggu tidurnya. Tubuh ular itu menggeliat, dan ekornya dengan dasyat menyambar tubuh pemuda yang berada di depannya yaitu Adigama. Tetapi serangan dari ekor ular itu sudah diperkirakan oleh Adigama. Lalu Adigama menggerakan kakinya bergeser kebelakang beberapa langkah, lalu melompat kebelakang dan berhenti di depan pintu masuk gua.
Mengetahui pemuda yang akan menjadi mangsanya dapat dengan mudah menghindari serangan dari ekornya, ular besar itu semakin marah. Kembali ular itu menggunakan ekornya untuk menyerang tumpukan tanah yang tidak jauh berada didepan tubuh si ular besar tersebut. sehingga membuat tumpukan tanah yang padat
itu mental mencelat kearah Adigama.
Sungguh kekuatan dan kecepatan lesatan tumpukan tanah yang padat itu melebihi dan melampaui pemikiran orang awam. Tetapi itu semua tidak membuat Adigama kehilangan akal, dia tetap berfikir tenang dan dengan penuh perhitungan menggulingkan badannya untuk menghindari tanah padat yang sedang mengarah ke
dirinya.
Dan tanah itu terus melaju hingga mengenai semak semak di depan gua. Pemandangan mendebarkan jantung terlihat dari akibat tanah yang dipentalkan oleh ular raksasa itu, semak – semak itu hancur dan rusak tak karuan. Mungkin jika tumpukan tanah yang padat itu mengenai manusia, bisa di pastikan tubuh itu
__ADS_1
akan mengalami luka yang tak karuan.
Adigama kini sudah berdiri setelah berguling menghindari serangan sang ular raksasa dan siap menghadapi ular besar itu. Agar mendapat tempat yang menguntungkan, anak angkat dari ki Mahesa Anabrang itu menggeser posisinya ke tempat yang agak luas dan juga memancing si ular raksasa keluar dari dalam gua. Suara desisan sang ular yang panjang dan keras terdengar seiring kemarahan sang ular. Gesekan badan ular itu cukup membuat tanah yang dilewati meninggalkan bekas panjang.
Sesampainya ular besar itu berada di luar gua, ular besar yang disebut Dewa Anta Denta dalam kitab Cakra Paksi Jatayu itu, mengamuk dengan mengibaskan ekornya mengarah ke Adigama. Kibasan itu membuat tumbuhan yang berada di sekitarnya, porak poranda. Bahkan suara ranting yang terkena serangan ekor Dewa Anta Denta, sampai terdengar ke tempat ki Mahesa Anabrang dan Resi Chandakara, tetapi kedua orang tua itu tak bisa berbuat apa – apa dan hanya bisa mendoakan Adigama selalu dalam lindungan Sang Maha Agung.
Kembali ke Adigama yang dengan cekatan dan lincah menghindari serangan Dewa Anta Denta. Suatu ketika Adigama menotolkan kakinya hingga melampaui tubuh sang Dewa Anta Denta, kaki Adigama sempat menendang kepala belakang Dewa Anta Denta. Tetapi tendangan itu, bagi Dewa Anta Denta seperti terkena usapan saja. Lain halnya dengan yang dirasakan oleh Adigama, kakinya seperti menendang sebuah
besi, hingga Adigama sempat meringis.
Kelengahan sesaat itu, mengakibatkan Adigama terhempas, terkena serangan ekor ular itu. Dengan susah payah dan tertatih tatih Adigama berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, tapi lagi - lagi serangan ular menggunakan ekor yang dikibaskan itu berhasil membuatnya tehempas kembali dan memberikan luka memar yang menghiasi tubuhnya. Namun Adigama dengan tekad yang bulat berhasil menguatkan diri kembali. Kakinya kembali berdiri dengan kokoh. Tetapi Ular itu kini bergerak cepat ingin melahap sosok pemuda itu, mulut ular itu terbuka dengan lebar dengan dua taring yang mengerikan siap menggigit kepala Adigama.
Namun semua itu sirna manakala Adigama melesat seperti seolah burung garuda dan hinggapdi atas kepala Dewa Anta Denta. Adigama yang tidak mau menjadi mangsa ular tersebut, dengan keras tangannya memegang dan mencengkram tonjolan merah yang berada tepat di dahi ular tersebut. Akibatnya ular raksasa itu menggerakan badannya tak karuan. Begitu pun dengan ekornya yang berusaha mengibasnya. Serangan ular raksasa itu pun bertubi - tubi mengenai tubuh Adigama, tetapi dengan sekuat tenaga Adigama berusaha
bertahan menahan sakit akibat serangan ekor ular raksasa itu dengan lebih kuat dan disertai tenaga dalam mencengkram tonjolan merah yang terdapat di dahi ular raksasa itu lebih keras lagi.
__ADS_1
Karena usaha serangannya tidak berhasil, ular raksasa itu mengguling - gulingkan tubuhnya yang besar itu, agar manusia yang berada di atas tubuhnya terlepas dan terpental. Usaha itu ternyata membuahkan hasil, tangan kanan Adigama terlepas dari cengkraman, tetapi dengan sigap tangan Adigama kini mengarah pada
belakang kepala ular itu dan di situ pula terdapat sisik yang bergaris panjang menyerupai sebuah sabuk. Dengan tangan yang dilambari tenaga dalam dan tenaga luar yang keras Adigama menggapainya dan menarik dengan sekuat kuatnya. Ternyata sebuah keuntungan tidak terkira didapatkan setelah anak itu menarik keras sisik yang bergaris yang menyerupai sabuk, walau tubuhnya terpelanting dan jatuh. Beda halnya dengan ular raksasa itu yang merasakan tubuhnya tersiksa dengan rasa sakit dikarenakan tonjolan sisik bergaris panjang itu, merupakan kelemahan keduanya. Sementara itu Adigama memperhatikan dengan seksama bekas tonjolan sisik bergaris panjang yang berada di genggamannya.
"Inikah tadi yang membuat kakiku sakit ketika aku mendepak belakang kepala ular itu, walua begitu sisik ini lentur layaknya kain." desis pemuda itu.
Di depannya, Anta Denta yang berangsur meredakan rasa sakit yang tak terkira, kembali menatap penuh kemarahan dan menyergap anak yang sudah berlaku berlebihan itu. Serangan yang menggunakan mulut itu kembali terulang dengan cepat dari serangan pertama. Adigama yang tak menghilangkan kewaspadaannya, telah menyilangkan sabuk sisik naga itu ke depan tepat ke mulut yang menganga lebar itu.
Saling dorong pun telah terjadi dengan dahsyatnya. tetapi tenaga ular itu sangat besar, hingga hamir membuat Adigama kewalahan. tetapi sebuah pemikiran yang tak terduga melintas dibenak kepala Adigama. Anak itu
menggunakan hasil dorongan lawan untuk mengangkat tubuhnya yang kemudian menggunakan mulutnya, Adigama menggigit tonjolan merah yang berada tepat di tengah dahi ular Anta Denta.
Tonjolan merah itu pecah dan darah yang ada dalam tonjolan itu tak ayal lagi tertelan oleh Adigama dan masuk ke dalam tubuh dan menyebar ke seluruh tubuh Adigama, yang mengakibatkan tubuh Adigama itu merasakan panas yang amat sangat. Di lain sisi ular Anta Denta bagai tanaman yang layu, ular itu lemas dan lunglai yang tidak lama ular raksasa Anta Denta meregang nyawa.
Bersambung ke episode 10 .....
__ADS_1