BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
103


__ADS_3

Nama besar pemimpin gerombolan Kala Ireng memang bukan bualan semata. Tubuh ki Kala Sargota yang mencelat di udara terkena tendangan Jati Pamungkas, berputar miring sekaligus menotolkan tangan ke tanah sebagai penopang tubuhnya dan membal kembali ke udara. Maka dengan indah dan mantab tubuh tua itu sudah berpijak di atas bumi.


.


Sejenak orang tua itu mempererat genggaman landean tombaknya sambil ia putar ke kanan. Gerakan itu menimbulkan desingan angin menakjubkan siapa pun yang melihatnya. Inilah pertanda kalau ki Kala Sargota tidak main - main lagi, menghadapi orang bercambuk. Baginya lawan yang masih muda itu harus ia binasakan supaya dikemudian hari tidak menjadi batu sandungan.


.


Kaki kanan sudah mengawali gerakan menyerang dengan landean berputar, disusul loncatan layaknya terbang. Cepat penuh tenaga disetiap gerak ki Kala Sargota demi menusukan ujung tombak pendek ke dada lawan. Orang tua ini berkeinginan mendahului laju senjata lawan yang lentur dengan menempatkan serangan bertubi - tubi seakan mengejar sang waktu.


.


Cara pikir dari ki Kala Sargota dalam melakukan serangan sungguh membuat debar jantung Jati Pamungkas berdebar - debar. Untunglah dirinya sudah membentengi tubuhnya dengan aji Tameng Waja. Meskipun begitu, anak muda ini tidak membiarkan ujung tombak yang dilumuri warangan mematikan itu mengenai dirinya walau hanya menyobek pakaiannya. Karenanya ia semakin meningkatkan ilmunya, terutama dalam meringankan tubuhnya demi menghindari setiap serangan lawannya.


.


Betapa seru dan sengitnya pertarungan dua jalur ilmu dengan corak dan tata gerak penuh kembangan, sesuai berkembangnya si pemilik ilmu itu sendiri. Tentunya itu hasil dari penyempurnaan yang dilakukan berhari - hari, berbulan - bulan dan bahkan bertahun - tahun. Dan disinilah keuletan atau ketekunan dalam lelaku untuk mendekati kesempurnaan ilmu kanuragan akan terbukti. Serta tidak lupa dan diingkari, pengendalian jiwa untuk berlaku tenang dan waspada harus dimiliki oleh seorang petarung sejati.


.

__ADS_1


Cambuk Jati Pamungkas dengan lecutan sendal pancing selalu membuat lawannya bergetar. Bunyi yang tidak terlalu keras dan tidak memekakan telinga, malah berbahaya bagi lawannya. Itu dikarenakan setiap lambaran tenaga mampu membuat isi dada bergetar hebat seperti di dalam tubuh ada seseorang yang mengobrak - abrik.


.


"Gila... !" geram ki Kala Sargota sambil membentengi dadanya dari getaran ilmu lawan.


.


Suatu kali tubuh ki Kala Sargota tiba - tiba melenting jauh ke belakang. Jati Pamungkas yang mengira lawan terdesak terus saja mengejarnya dengan melakukan loncatan jauh sambil menggerakan melecutkan cambuknya. Tetapi baru ditengah jalan, sekonyong - konyong tombak pendek ki Kala Sargota meluncur deras.


.


.


"He.. Ilmu apa ini ?!" batin Jati Pamungkas.


Baru pertama kali inilah si orang bercambuk berjumpa dan menghadapi ilmu aneh yang mampu membuat senjata menjadi lebih dari satu. Meskipun masih dilanda badai kejut, anak muda perkasa ini mencoba untuk berlaku tenang. Ia pusatkan mata batinnya untuk mencoba kebenaran dari senjata lawan. Hasilnya senjata itu terlihat nyata adanya. Karenanya kini yang ia harus lakukan hanyalah menghadapi senjata itu dengan senjata dan ilmunya saja.


.

__ADS_1


Tekad ia pupuk dengan mantab. Tangan memegang cambuk lebih erat. Aji Tameng Waja diperkuat membentengi seluruh tubuhnya. Ilmu meringankan tubuh ia ungkap lebih tinggi lagi demi menanggulangi setiap ujung tombak yang mengancam. Tidak lupa meminta perlindungan kepada Dzat Suci untuk mendapatkan ketenangan dan kemantaban dalam menghadapi cobaan di depan mata.


.


"Taarrr... Tarrr... Tarrr... "


.


Lincah, cepat dan trengginas tandang orang bercambuk merontokan setiap serangan dari ilmu ki Kala Sargota. Tiga tombak mencelat entah ke mana tiada rimbanya, satu lagi mental setelah menghantam tubuh Jati Pamungkas dan satu lagi kembali kepada sang pemiliknya. Tidak sampai disitu saja, cambuk yang dilambari aji Lebur Saketi meluncur deras ke tubuh ki Kala Sargota.


.


"Buuummmm....... !


.


Tepian kali Brantas berderak hebat membuat tanah bermuncratan ke mana - mana. Pagi menjelang siang yang awalnya cerah, seketika diselimuti debu bercampur rumput liar. Selain itu, suara itu membuat dua kalangan lainnya sejenak berhenti untuk menyaksikan akibat dari menyeruaknya aji dalam tubuh orang bertopeng.


.

__ADS_1


Sedikit demi sedikit debu luruh ke tanah. Di mana ki Kala Sargota berdiri, tak nampak walau batang hidungnya. Ini membuat anak buahnya ketar - ketir penuh rasa cemas. Jika pemimpinnya tewas, akibat buruk akan melanda gerombolan Kala Ireng. Gerombolan itu akan mudah diserang lawan - lawannya dan telatah kekuasaannya dipastikan akan direbut oleh gerombolan yang lebih kuat dari mereka.


__ADS_2