BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
71


__ADS_3

Suara teguran itu kembali mengingatkan nyi Cempaka kepada seorang remaja di pertapaan Pucangan. Dadanya berdebar kencang bersamaan dengan timbulnya gejolak dendam menggelora memenuhi ruang dadanya. Pemuda yang membuat dirinya dan kawan - kawannya tercemar rasa malu memenuhi guratan dunia olah kanuragan.


"Kau mengenalnya, nini ?" tanya ki Ploso Slangkrah.


Nyi Cempaka mengangguk, "Dia yang membunuh murid kakang Ajar Lodaya, kakang."


"Berhati - hatilah, pemuda itu pewaris kitab kuno Prabu Airlangga." sambung nyi Cempaka.


"He.. Benarkah itu ?" kejut ki Ploso Slangkrah.


"Jangan kau takut, Ploso Slangkrah." kata seorang berambut putih, lanjutnya, "Biar aku urus anak itu, tetapi imbalannya ialah kitab yang mungkin ia bawa.. hahaha.. "


Tawa orang itu telah menggetarkan udara malam. Sebuah pertanda betapa ilmu yang diungkap oleh orang itu tak bisa dipandang sebelah mata.


"Baik, ki Jara Mudra. Aku serahkan anak itu kepadamu." kata ki Ploso Slangkrah.


Sementara itu di atas panggungan Arya Dipa memerhatikan dengan sungguh - sungguh ke arah orang yang dipanggil ki Jara Mudra. Seorang berperawakan tinggi besar dengan muka bengis terhias diraut wajahnya.


"Orang - orang ini tak mampu dipandang sebelah mata. Selain nyi Cempaka dan orang tua itu, pemuda yang dibelangkang itu juga patut aku waspadai." batin Arya Dipa.


"Ki Demang, suruhlah dua atau tiga orang bebahu untuk menghadapi perempuan dan pemuda yang berada di belakang orang tua yang tertawa tadi." Arya Dipa mencoba memberi petunjuk kepada ki Demang.


"Baik, anakmas." sahut ki Demang Mlanding, "ki Bayan katakan hal itu kepada bebahu dan pemimpin pengawal."


"Iya, ki Demang."


Bersamaan dengan turunnya ki Bayan dari panggungan, ki Ploso Slangkrah kembali memerintahkan Kincang dan anak buahnya untuk membuka pintu regol dengan paksa. Tetapi bahan pintu regol terlalu kokoh walau empat orang sudah mendobrak pintu itu.


"Minggir !" teriak pemuda penunggang kuda di belakang kuda ki Jara Murda, seraya turun dari kudanya.


Pemuda itu berdiri kokoh memusatkan nalar dan budi. Jemari mengepal itu pun sesaat memukul ke arah pintu regol, sebuah serangan jarak jauh melontarkan tenaga mendebarkan dan menggebrak pintu regol.


"Byaaarr !!!"


Pintu dari kayu besi itu hancur berkeping - keping terkena lontaran dahsyat dari si pemuda. Sorak membahana memekik dari mulut anak buah ki Ploso Slangkrah. Sorak kesombongan yang akan menciutkan nyali lawan yaitu penghuni kademangan.


"Jangan takut !" seru ki Kamituwo, menenangkan pengawal kademangan yang bersembunyi tak jauh dari pintu regol.

__ADS_1


Rusaknya regol segera disambut dengan teriakan perintah dari ki Ploso Slangkrah, "Serbu.... !!!"


Seketika anak buak gerombolan Kalamuda menghambur memasuki regol yang rusak. Tetapi baru satu tombak, jerit membahana keluar dari mulut gerombolan yang memasuki regol. Ternyata lebih dari sepuluh orang jatuh ke dalam lubang yang menganga.


"Licik kau, Danurejo !!" umpat ki Ploso Slangkrah.


"Hindari lubang !" seru Kincang memberi aba - aba kepada bawahannya, "Menyebar !"


Tak ingin mengalami kesialan yang sama, anak buah gerombolan Kalamuda mencari jalan memutar dari lubang jebakan.


"Sekarang... !" seru ki Kamituwo sambil menggerakan tangannya.


Dari balik dua rumah penghuni yang sebelumnya sudah dikosongkan, berhamburanlah anak panah mengincar tubub yang berlarian ke dalam kademangan. Jeritan pilu kembali meraung menggetarkan bumi Mlanding. Tajamnya panah menghujam di tubuh anak buah gerombolan Kalamuda, tetapi kebanyakan menyasar paha ke bawah. Itu seperti permintaan dari Arya Dipa, supaya mengurangi korban nyawa sebanyak - banyaknya.


"Kurang ajar !" umpat Kincang seraya memutar goloknya demi melindungi tubuhnya dari sasaran panah lawan.


"Mari ki Demang." ajak Arya Dipa untuk terjun menghadang lawan.


"Kincang, pimpin kawan - kawanmu memasuki kademangan lebih dalam dan bakar kademangan ini !" perintah ki Ploso Slangkrah sambil turun dari kuda dan siap menghadapi adiknya, ki Danurejo Demang Mlanding.


"Awas jebakan !!!"


Tubuh Kincang berhasil menghindari susunan batang menjulang tinggi itu, tetapi puluhan kawannya terjepit keras susunan batang kayu dengan landasan bawah beroda. Selain itu, Kincang dan kawan - kawannya tak mampu memasuki lorong jalan dikarenakan lorong itu telah tertutup oleh susunan batang tersebut.


Walau gerombolan Kalamuda berkurang banyak, tetapi kekuatan mereka masih terlalu banyak bagi para penghuni kademangan. Terjadilah kini pertempuran brubuh di segenap jalan terdepan kademangan. Suara denting benda tajam menggema mencari mangsa tak pandang bulu.


"Lawan terlalu banyak, paman. Sebaiknya kita keluar membantu mereka." desis seorang pemuda.


"Hm.. Mari, ngger."


Kedua orang itu lantas muncul dari kegelapan dan menyerang serbuan dari gerombolan Kalamuda. Tandang keduanya sangat mengagumkan sehingga sekali gerak, satu dua orang jatuh terjerembab.


"Bangsat ! Siapa kalian ?" teriak Kincang.


"Kami penghuni kademangan ini, kisanak." jawab orang yang dipanggil paman.


"Tepatnya danyang kademangan ini, kisanak.. hehehe.. " celetuk pemuda lainnya.

__ADS_1


"Lancang kau pemuda edan !" maki Kincang, "Akan ku buat kau menyesal atas kelancangan mulutmu !"


Sementara itu ki Demang sudah bergerak menghadapi kakaknya. Keduanya bergerak tangkas dengan menggunakan tata gerak berbeda jalur. Walau begitu Ki Danurejo atau ki Demang sedikit banyak mengetahui dasar dari ilmu kakaknya itu, yaitu ilmu dari perguruan Kalamuda.


"Lumayan juga kau, Danurejo." puji Ki Ploso Slangkrah, lalu, "Tapi hal itu lumrah.. "


Kerut menghiasi dahi ki Demang Mlanding atas ucapan kakaknya. Tentu kata - kata itu mempunyai kelanjutan dari tindakan kakaknya selanjutnya. Benar saja, Tata gerak kakaknya berubah menjadi lain dan sulit ia baca arahnya.


"Ilmumu dangkal, Danurejo."


Dua pukulan bersarang di dada ki Demang Mlanding. Tubuh itu bergeser dari tempatnya dan wajah ki Demang seperti menahan rasa sakit. Dadanya bagai ditumbuk besi gligen.


Walau begitu ki Demang tak segera menyerah. Semangatnya muncul seiring datangnya kesadaran yang melintas di benaknya. Dimana tanggung jawab dari ayahnya untuk memakmurkan kademangan yang diwariskan kepadanya. Semangat itulah yang menjadi pendorong untuk meningkatkan kemampuannya untuk mencegah perbuatan kakaknya.


"Kau tak sadar juga, anak cengeng !" seru ki Ploso Slangkrah.


"Kau keliru, kakang. Kita sudah sama - sama memutih rambut kita dan bukanlah seorang anak bengal lagi."


"Hm.. Bagus, kalau begitu tunjukan ilmu yang kau warisi dari orang tua mu itu."


"Kakang, jangan kau berlaku durhaka. Ayah demang juga ayahmu juga !"


"Cuh.. Itu dahulu, sekarang tidak !"


"Kakang... "


"Diam kau !" bentak ki Ploso Slangkrah sambil meloncat menyerang ki Demang.


Keduanya kembali beradu liatnya daging dan kerasnya tulang. Semakin sengitlah tandang keduanya dalam setiap gerak. Kerasnya hamtaman dielakan gesitnya langkah menghindar. Lajunya tendangan terhenti denga kuatnya cengkraman tangan.


Di sisi lain Ki Jara Murda memandang tajam ke arah Arya Dipa. Pamuda yang dikatakan menyimpan ilmu dari kitab kuno peninggalan Prabu Airlangga. Oleh karena itu orang tua itu berhati - hati dalam menentukan setiap langkahnya. Walau musuh masih muda, tetapi bila nyi Cempaka telah memperingatkan dirinya, tentu itu menjadikan pertimbangan di hatinya.


"Bersiaplah, anak muda !" seru ki Jara Murda.


"Baik, kisanak." sahut Arya Dipa sembari membuka kuda - kuda dengan kokohnya.


"Hm.. Kuda - kuda yang bagus." desis ki Jara Murda, "Majulah !"

__ADS_1


__ADS_2