BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
79


__ADS_3

Menjelang malam di tepian kolam di luar padukuhan Bungkul, Arya Dipa dan Begawan Kakrasana membicarakan adanya gerakan dari tokoh - tokoh kanuragan ke gumuk emas, pinggiran kali Brantas.


"Semakin hari banyak dari mereka mulai bergerak, ngger. Desas - desus itu semakin santer menunjukan kalau benda itu berada di sebuah gumuk kalau disenja hari menyerupai bongkahan emas." Begawan Kakrasana mulai pembicaraannya.


"Apakah eyang mengetahui siapa yang menyebarkan letak benda itu ?"


"Seorang pemuda tampan yang dagunya berbulu runcing."


"Sanjaya.." desis Arya Dipa perlahan.


"Kau mengenalnya, ngger ?"


Arya Dipa kemudian menceritakan awal pertemuannya tatkala di pesisir pantai Gunung Kidul, walau tak bertatap mata secara dekat.


Begawan Kakrasana mengangguk setelah mendengarkan cerita dari Arya Dipa. Orang tua dari alas Parang itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Hm.. Sepertinya pemuda itu mempunyai rencana yang mendebarkan.."


Tanpa disadari Arya Dipa menoleh ke Begawan Kakrasana, "Apa maksud dari eyang ?"


"Coba kau renungkan, ngger. Pemuda bernama Sanjaya itu ingin merebut benda dari gurunya. Awalnya ia bekerja sama dengan Pandak Wengker, Widarba, Gonggang Keling dan Bango Banaran, lalu kemudian ia malah membeberkan rencana itu kepada orang lainnya. Bukankah ia hanya membuat palagan luas bagai tokoh - tokoh kanuragan dan kemudian ia akan merebut benda itu dari tangan orang yang terakhir ?"


"Hm.. Sungguh culas sekali anak itu." sambung Begawan Kakrasana.


"Lalu apa rencana eyang sekarang ?"


Orang tua itu terlihat memikirkan sesuatu, lalu kemudian jawabnya, "Andai akan mengatakan kepada mereka yang mengincar barang, tentu mereka tak percaya dan menuduh kita sebaliknya. Tetapi bila membiarkan, tentu darah akan membanjiri gumuk pinggir Brantas.


Orang tua itu memukul kepalanya dengan perlahan sambil mengumpat sendiri, "Bodoh.. Bodoh.. Bodoh.. "


"Dari dulu kau memang Bebal, Kakrasana !" seru sebuah suara dan disusul dua sosok.


Arya Dipa segera waspada atas kemunculan dua orang yang terdiri dari seorang kakek dan anak muda hampir sebaya dengan dirinya.


"Tenang, ngger. Ia kakang seperguruanku." desis Begawan Kakrasana perlahan.


Walaupun suara Begawan Kakrasana tadi perlahan, tetapi orang tua yang baru datang itu bisa mendengar dengan jelas dan membentak, "Huh kau menganggap saudara terhadapku ?!"


Tiada jawaban terdengar, melainkan sebuah terjangan deras mengarah kakek tua yang baru muncul.


"Dess.. Dess.. Dess.. "


"Edan kau Kakrasana.... !" seru orang tua itu sambil menangkis setiap gempuran dari Begawan Kakrasana.


Sehabis menyerang dengan tiga gebrakan, Begawan Kakrasana mumbul ke udara dua kali putaran dan sepanjutnya meluncul ke tempatnya berdiri sejak awal.


"Hehehe.. Walaupun tulang kakang sudah termakan usia, ternyata masih mampu menahan gempuran Tri Bayu Murda." seru Begawan Kakrasana.


Orang itu menoleh kepada pemuda disampingnya, "Windujaya, ternyata bila dibandingkan dengan paman gurumu, masih hebat gempuran Tri Bayu Murda yang kau miliki.. Hehehe."


Pemuda disamping orang tua itu menunduk hormat kepada Begawan Kakrasana seraya berucap, "Maafkan kedatangan kami berdua paman, yang mengganggu ketenangan paman Begawan."


Begawan Kakrasana tertawa riuh, sementara orang tua disamping Windujaya mencak - mencak tak karuan. Sedangkan Arya Dipa hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Sudahlah kakang Bancak marilah ke gubuk. Di sana udara tak terlalu dingin." ajak Begawan Kakrasana sambil berjalan ke gubuk seraya menggamit Arya Dipa.


"Baik jika kau buatkan aku wedang sere dan nasi megana." sahut Orang tua itu.


Sesampainya di dalam gubuk, Begawan Kakrasana mengenalkan Arya Dipa kepada kakak seperguruannya dan murid kinasihnya itu, begitupun sebaliknya. Arya Dipa mengangguk hormat kepada kedua guru murid itu.


Windujaya membalasnya dengan ramah, lain halnya dengan orang tua yang dipanggil kakang Bancak, orang tua itu tak menoleh sedikitpun kepada Arya Dipa. Untunglah Arya Dipa tak menanggapi dengan sungguh - sungguh.

__ADS_1


"Apakah kau mengambilnya sebagai murid, Kakrasana ?" tanya orang tua itu.


Begawan Kakrasana yang masih di ruang belakang tak segera menjawab. Barulah saat ia muncul kembali dan membawa suguhan, ia menjawab, "Tidak, kakang Bancak. Dia pemuda yang aku rasa menyimpan ilmu lebih dari cukup."


Kakang Bancak itu sekilas melirik ke Arya Dipa memperhatikan tubuh pemuda itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh adiknya, sekilas melihat saja ia mampu mengetahui adanya tumpukan ilmu berada dalam tubuh anak itu.


"Siapa yang mendidikmu, bocah ?"


Arya Dipa dengan terus terang menjawab, "Eyang Puspanaga, eyang."


Suara Arya Dipa sebenarnya lirih dan halus, tetapi ditelinga kakang Bancak bagaikan gemuruh kilat yang meledak diatas kepalanya.


"Puspanaga..." desis orang tua itu dengan muka memerah, walau hanya sekilas.


"Wah, jadi kau murid pertapa Pucangan, ngger." kata Begawan Kakrasana.


"Hanya sebatas ilmu dasar saja, eyang."


"Hm.. Seorang pertapa yang benar - benar dahsyat ilmunya." puji Begawan Kakrasana.


"Huh.. Hanya ilmu setetes sempalan Ningrat kau terlalu memuji, Kakrasana." desuh kakang Bancak.


Arya Dipa mengerutkan keningnya lebih dalam. Kata - kata itu terlalu tajam sehingga membuat telinganya panas. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menenangkan amarah yang hampi terungkit itu.


."Maafkan jika aku berlaku kasar, eyang Bancak. Mengapa eyang mencemoh diri eyang Puspanaga ?"


Orang tua itu menatap tajam ke arah Arya Dipa, "Kau tersinggung bocah ?"


Keadaan semakin tegang dan panas. Begawan Kakrasana yang mampu membaca suasana segera bertindak.


"Ayo minumannya diminum dan ini kakang nasi megana yang tadi aku hangatkan." kata Begawan itu, lalu menoleh kepada Arya Dipa "Dipa, minumlah."


Kakak Begawan Kakrasana mengambil gelas wedang sere dan meneguknya, sehabis itu memakan nasi megana. Dan Arya Dipa setelah mendapat isyarat dari Begawan Kakrasana, mengikutinya demi menghormati orang tua itu. Sedangkan Windujaya yang tadinya merasa tak enak, akhirnya bisa bernafas lega.


.Suling yang terbuat dari bambu gading itu, ia pandang lekat - lekat. Seakan dicermati kalau suling itu mengalami kerusakan, sehingga nantinya akan merusak suara dari hasil tiupan tembang.


Di dalam, Begawan Kakrasana yang ingat setiap tindak tanduk kakak seperguruannya, mulai bergumam lirih kepada Windujaya, "Ngger, gurumu mulai lagi dalam mengidungkan tembang yang membuatku merinding."


Benar saja, tak lama kemudian mulailah bunyi suara suling menceritakan sebuah cerita pilu menyayat hati. Bunyi tembang itu mengalun tinggi penuh dengan sayatan luka yang menggores daging hati.....


.... Gunung tentram berubah membara....


.... Keluarga kecil lenyap seketika....


.... Darah berceceran membasahi buana....


.... Luka menganga menggores dada....


.... Si wanita tak bernyawa sekali tebas....


.... Nyawa si lelaki akhirnya lepas....


.... Bayi mungil entah kemana....


.... Kakek berilmu tak mampu jua....


.... O kenapa tua bangka ini masih bernyawa....


Suara suling itu pun berhenti berganti dengan desau angin malam, angin yang menyeret awan untuk menutupi cahaya rembulan. Suasana malam itu seolah - olah mengikuti hati Begawan Bancak dalam menuangkan kegundahan dalam hatinya. Masa lalu suram yang sulit ia lupakan sampai usianya sudah mendekati senja.


"Hm.. Semua menganggap akulah yang berbuat. Mungkin ini adalah karma dari masa mudaku." keluh Begawan Bancak.

__ADS_1


Sebuah tepukan dipundak Begawan Bancak membuat orang tua itu menoleh kepada tangan yang menepuknya.


"Hidup adalah sebuah perjalanan pencarian bekal, kakang Bancak. Bila kau menyesali masa mudamu, saat inilah kita mendekatkan diri kepada Gusti Agung." desis Begawan Kakrasana.


Begawan Bancak menunduk dalam, "Hehehe.. Dahulu, seorang raden Kadiri selalu berlaku sesuka hatinya. Tanpa menghiraukan orang lain kesusahan dalam kehidupannya. Sangat berbeda dengan seorang putra patih Udara, ia selalu menghormati sesama insan, entah itu bangsawan atau pun kawula alit."


"Raden Kuda Mapanji sejak kecil sudah berlaku benar, kakang. Ia sangat berbeda dengan patih Udara yang tamak dengan kekuasaan. Sampai saat ini ia selalu bersembunyi menjauhkan diri dari kehidupan duniawi." sahut Begawan Kakrasana, "Karena dirinyalah kita mengerti dengan adanya titik putih dari pancaran Sang Nata."


Begawan Bancak menghela nafas, "Sulit Kakrasana, diriku ini kadang lepas kendali dan sering membuat ulah. Padahal kawan - kawan kita banyak yang telah kembali keharibaanNYA. Handaningrat pun dengan cepatnya meninggalkan kita tanpa berpamit kepadaku."


"Kalau begitu cobalah kakang mengirim warta kepadanya..." celetuk Begawan Kakrasana.


Seketika Begawan Bancak meraup tanah di bawah dingklik dan dilempar kepada adiknya itu. Lemparan pasir itu bukanlah lemparan biasa, terbukti adanya kesiur angin yang menyertainya.


Adapun Begawan Kakrasana yang sudah menduga serangan itu, menotolkan kedua kaki ke tanah untuk melambungkan tubuhnya.


"Sruut.. Byaar.. "


Dinding gubuk jebol seukuran pasir sejauh lingkup serangan. Sedangkan Begawan Kakrasana tertawa terkekeh - kekeh duduk di batu depan gubuk dengan santainya.


Bersamaan dengan itu, Arya Dipa dan Windujaya berlari keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Namun keduanya terkejut manakala melihat bekas serangan yang mengenai dinding tembok. Keduanya saling bertatap muka dengan tegangnya bercampur rasa bingung.


"He, kalian berdua jangan menampakan wajah bagai kunyuk seperti itu !" seru Begawan Kakrasana, "Kami berdua hanya bermain melemaskan otot."


Windujaya yang mengerti watak guru dan paman gurunya itu, menggamit Arya Dipa untuk diajaknya ke dalam lagi. Niat hati ingin melanjutkan pembicaraan diantara keduanya, tetapi baru berbalik Begawan Bancak berseru kepada keduanya.


"Keluarlah kalian berdua." seru Begawan Bancak yang kemudian lanjutnya, "He, kau anak muda. Coba kau tunjukan sejauh mana kau menguasai ilmu dari Pucangan."


Arya Dipa tak mengerti, oleh karenanya Begawan Bancak kembali berkata kepada muridnya.


"Windujaya, tunjukan kemampuan Cakra Ningrat kepada murid Puspanaga !"


"Tetapi, guru... "


"Cepat.. !" bentak Begawan Bancak.


Arya Dipa masih diam mematung, sementara Windujaya dalam kebimbangan dalam hatinya.


"Hehehe.. Lakukanlah, ngger. Hitung - hitung kalian membuat senang hati seorang yang mau sekarat." tiba - tiba Begawan Kakrasana bersuara.


"O kau mau mati Kakrasana ?!" kata Begawan Bancak, lalu lanjutnya kepada kedua pemuda, "Dengar bukan, ini permintaan dari adik seperguruanku yang sudah sekarat."


"Wong tuo gemblung !" maki Begawan kakrasana.


Tetapi Begawan Bancak membalas dengan usilnya, "Apa matamu lamur, Kakrasana ? Kau sendiri juga tua, jelek, gemblung, dan tadi mengaku bebal.. Hehehe."


Ejekan itu membuat Begawan Kakrasana mengkal, sehingga ia mendupak potongan bambu sepanjang tiga ruas.


"Wyuuut.. Dess.. "


Bambu itu meluncur menghujam Begawan Bancak dengan derasnya, tetapi saat bambu sejarak sekilan, tangan Begawan Bancak bergerak dan meremas bambu itu hingga hancur berderak.


"Hehehe.. Tangan kakang masih sekuat di keraton dahulu."


Begawan Bancak tak menghiraukan ocehan adik seperguruannya, ia kembali berseru kepada kedua pemuda untuj menunjukan kemampuan keduanya. Dan keduanya pun akhirnya mengikuti kemauan orang tua itu.


"Kakang Dipa, mohon bimbingannya." ucap Windujaya.


"Ah.. Akulah yang harus memperhatikan apa yang akan kau tunjukan, adi." balas Arya Dipa, tak kalah merendah.


Maka keduanya mulai memasang kuda - kuda sesuai jalur masing - masing. Kaki mulai bergeser setapak demi setapak menggores tanah memutar. Tangan dan kaki selalu berpindah seiring bergesernya tempat keduanya.

__ADS_1


Inilah gerak penantian dalam mengekang rasa. Yaitu rasa bosan yang timbul dari lamanya waktu dalam penantian gerak selanjutnya. Dan yang menang ialah siapa yang bertahan dalam penantian serangan.


__ADS_2