BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
43


__ADS_3

..


Sekali loncat tangan kekar dari warok Suro Pakisan mencoba mencengkeram bahu lawan, namun lagi - lagi lawan yang menerapkan aji Alang Alang Kumitir dengan mudah terhindar dari terkamannya. Raut wajah memerah bak tersiram air mendidih, oleh karenanya warok itu merambah ilmu simpanannya semakin tinggi, dan hasilnya mampu membuat tubuhnya ringan dan cepat mengejar kemana lawan menghindar.


Suatu kali pukulan keras mengarah ki Wijang Pawagal dan tak mampu dikecoh oleh kemampuan dari aji Alang Alang Kumitir, sehingga tubuhnya terhenyak ke belakang dua tindak. Sekuat tenaga orang tua itu mencoba mempertahankan dirinya agar tak terjungkal, tapi sekali lagi lawannya meloncat menjejak dengan kedua kaki.


"Desss... " Benturan keras tak dapat dielakan, kaki kokoh terhalang tenaga tangkisan kedua tangan menyilang ki Wijang pawagal. Benturan tersebut membuat warok Suro Pakisan mental dan bergulingan di tanah, lalu dengan cepat melenting berdiri. Sementara ki Wijang Pawagal, tak luput jatuh meskipun dengan sigap kembali melenting.


Kedudukan keduanya masih imbang sama - sama kuat dan masing - masing merasakan linu dibagian anggota badan berbenturan.


Tak menunggu lama keduanya lantas bergulat semakin dahsyat hingga keadaan sekitar terkena imbas dari pergulatan sepenuh tenaga. Kaki menyepak, tubuh menghindar. Pukulan terarah, kaki mengisar menghindari dilanjutkan serangan balasan mencari titik terlemah lawan.


Dirasa pergulatan memakan waktu lama, seketika tangan warok Suro Pakisan menggapai ikat pinggang koloran dan mengurainya.


"Pawagal, gunakan senjatamu agar aku tak dipandang licik !" seru warok Pakisan.


"Baiklah, sekarang mari bermain dengan senjata." sahut ki Wijang Pawagal, sambil mengambil senjatanya dibalik punggung.


Senjata sejenis tombak pendek dengan ujung mirip keris terlihat dicekalan tangan ki Wijang Pawagal. Senjata ciri khas padepokan Sekar Jagat mulai diperlihatkan oleh orang tua itu. Di dalam padepkan Sekar Jagat, yang memiliki senjata itu hanya tiga orang saja dan salah satunya ki Wijang Pawagal.


"Oh.. Pusaka itu, tombak kyai Giri..." desis ki panji Tohjaya, saat melirik perkelahian diluar kalangannya.


"Mati kau anak muda !" seru ki panji Jaran Tangkis, yang mengayunkan pedangnya ke tubuh lawannya.


"Uuuh..." kejut ki panji Tohjaya, yang hampir terkena ayunan mendatar tajamnya pedang.


Sejenak perwira muda itu mundur, tapi kedua anak buah ki panji Tohjaya tak membiarkan pemuda itu leluasa, serangan silang bagai gunting mengarah leher lawannya.


"Auch.... " teriakan mengerikan terdengar dari dua mulut.


Hal itu diakibatkan oleh tebasan ki panji Tohjaya ketika merendahkan dirinya dan menebas mendatar ke perut kedua lawannya. Darah segar membajir dari luka memanjang di perut kedua anak buah ki panji Jaran Tangkis, yang dilanjutkan oleh rubuhnya kedua tubuh yang tak akan mampu berdiri lagi untuk selamanya.

__ADS_1


"Bangsat, kau telah membunuh pengawalku !" umpat ki panji Jaran Tangkis, yang masih menutupi jati dirinya.


"Apa boleh buat, kisanak. Jika bukan mereka tentu tubuhku yang akan berbaring." balas ki panji Tohjaya.


"Kau harus membayar dengan nyawamu, Tohjaya !" seru panji Jaran Tangkis.


"Siapa kau sebenarnya, dan mengapa kau menginginkan nyawaku ?"


"Tak perlu kau banyak tingkah !" usai berkata panji suruhan tumenggung Haryo Kumara mencerca lawan dengan libatan pedangnya.


Tak jauh dari keduanya, warok Suro Pakisan mulai memutar ikat pinggang yang lentur itu di atas kepalanya, ayunan senjata lentur itu menimbulkan kesiur angin dan bunyi mendesis layaknya ular.


Panasnya Langit Demak


jilid 5 bag 2


oleh : Marzuki


.


..


Dikarenakan serangan senjatanya tak bertemu lawan, maka ikat pinggang seanjang dua tangan disentak pulang berganti sisi yang lainnya memapaki tajamnya tombak. Rencananya ikat pinggang itu akan dililitkan ke landean tombak lawan, namun rencana itu terbaca lawan dan lawannya menarik serangannya sambil memutar tubuh, menggemplang ke kepala lawan.


"Dessss " batang tombak mengenai lengan warok Suro Pakisan, membuat orang itu bergetar saja.


"Ia sudah menerapkan aji Tamengwesi." desis ki Wijang Pawagal, seraya merendahkan tubuhnya supaya tak terkena sabetan ikat pinggang lawan.


Serangan demi serangan telah dilakukan oleh keduanya dengan pengerahan tenaga cadangan yang mendebarkan. Senjata keduanya bukan olah - olah benda mati, tetapi didalamnya telah dilambari tenaga inti yang berpusat dari pusar dan disalurkan ke lengan yang kemudian merambat ke senjata mereka. Itu terbukti saat ikat pinggang atau koloran itu menyabet dan mengenai batu sebesar kepala kerbau, batu itu hancur berkeping - keping. Begitupun dengan tombak kyai Giri milik ki Wijang Pawagal, saat tombak mengenai batang pohon nyamplung sebesar dua paha orang dewasa, batang pohon itu berderak dan roboh.


Sungguh dahsyat penggambaran pertempuran dua orang yang memasuki usia senja itu, tenaga yang dilontarkan kembuat udara menyibak, tanah terjungkit layaknya terkena bajak, daun - daun berguguran membuat keadaan semakin parah.

__ADS_1


"Mati kau Pawagal !" seru warok Suro Pakisan, yang melihat celah terbuka dan mengayun koloran tepat ke pundak lawan.


"Desss !" "Uuuh..." keluh ki Wijang Pawagal.


Tubuh orang tua itu jatuh bergulingan ke tanah, dan sekuat tenaga berdiri kembali.Tangannya memegangi pundaknya yang bagaikan terkena hantaman besi gligen.


"Oh, liat juga kau Pawagal, kau mampu berdiri kembali setelah terkena pusakaku ini."


"Hemm." desuh ki Wijang Pawagal, "Pusaka dan lambaran tenagamu memang hebat."


"O.. sekarang kau sadar juga, kalau begitu cepat kau angkat kaki dari sini !" seru warok Suro Pakisan.


"Kau salah, malah aku akan bersungguh - sungguh, supaya senjatamu tak memakan korban lagi." sahut ki Wijang Pawagal, yang sudah mampu mengendalikan rasa sakit di pundaknya.


"Keras kepala kau tua bangka !" damprat warok itu.


Namun ki Wijang Pawagal malah tertawa geli atas dampratan dari lawannya, bukankah dia juga sama tua dengan dirinya ?


"Bangsat kau " kemarahan membobol menembus ubun - ubun warok Suri Pakisan.


Koloran tergenggam erat mulai kembali bergerak mematuk lawan, walau lawan mampu menghindar, koloran itu terus mengejar kemana saja lawan bergerak. Patukan, sabetan, sentakan terus mengayun kembali diluncurkan tiada henti demi keberhasilan dirinya melumpuhkan lawan.


Tapi kini ki Wijang Pawagal bersungguh - sungguh, dan memperhitungkan setiap langkah yang diambilnya. Tombak kyai Giri pun mulai mengunjukan kedahsyatannya dari sebelumnya. Ujung tombak telah berpijar memancarkan cahaya agak kemerahan, menandakan lambaran aji Brajadaka mulai menyatu sepenuhnya.


"Wuss... dess... " tombak memapas koloran pusaka warok menjadi dua bagian, tak hanya itu saja, kaki ki Wijang Pawagal pun ikut andil menumbuk dada lawan, hingga membuat tubuh raksasa itu terjengkang mencium tanah.


"Bangkitlah, ki Suro Pakisan" ki Wijang Pawagal memberi kesempatan lawan.


Merah padam raut wajah warok Suro Pakisan, senjata andalannya terpapas tajamnya tombak lawan menjadi dua. Sekuat tenaga orang itu berdiri dan meregangkan kakinya, memasang kuda - kuda kuat layaknya berakar ke bumi. Tangan kanan dan kiri merapat di depan dada, layaknya menyembah, lalu mengurai seperti membuat segaris lingkaran di udara dan merapat kembali di atas kepala.


"Oh..." kejut ki Wijang Pawagal, ketika tahu apa yang akan dilakukan oleh lawannya. Secepat mungkin tombak dimasukan ke warangka panjang dibalik punggungnya, lalu ia pun mulai memusatkan nalar budi demi mengungkap aji simpanan jalur Sekar Jagat, aji Bajradaka yang dilambari aji Bayu Mandala, untuk mempertahankan diri dari amukan ilmu lawan.

__ADS_1


__ADS_2