
Debur ombak di tepian pantai selatan di sore hari terus menerus menghempas karang tiada henti. Gelombang air samudera itu mengombak dahsyat bagai diaduk oleh kekuatan tenaga selaksa raksasa. Buih yang ditimbulkan nampak timbul tenggelam tergantikan dengan yang baru.
Di atas karang yang menjorok ke bibir laut itulah, seorang pemuda duduk dengan sekali - kali menggaruk rambutnya. Pemuda yang berusia delapan belasan tahun ini sudah satu purnama melakukan pengembaran yang hanya ia dan seorang saja yang mengetahuinya.
Sejak pagi hari setelah memasuki pesisir selatan, ia berniat bermalam di pantai yang masuk telatah gunung kidul itu. Entah mengapa hatinya mengatakan kalau akan ada sesuatu terjadi di telatah pesisir selatan itu. Padahal ia harus segera ke bang wetan menembus benteng pertahanan pasukan bang wetan di Purbaya.
"Karang ini terlalu terjal untuk dituruni." desis pemuda itu sembari mengeliarkan pandang ke sekitarnya.
"Oh itu ada sebuah belik di balik bebatuan karang yang memisahkan dengan bibir pantai." kembali pemuda itu berkata sambil melangkahkan kaki menuruni bebatuan yang agak landai.
Jalan yang ia lalui ternyata licin dikarenakan adanya lumut hijau tumbuh di permukaan bebatuan. Selain itu di sela bebatuan juga tumbuh semak berduri kecil - kecil. Maka pemuda itu mengurai benda yang melingkar di pinggangnya, yang ternyata itu sebuah pedang tipis dan lentur.
Digunakanlah pedang tipis itu untuk membabat semak yang menghalangi langkahnya, sehingga memudahkan dirinya melewati permukaan tanah berbatu itu. Dan tibalah ia dibawah, dimana di situ terdapat belik atau mata air yang tawar dan jernih sekali air itu.
Segera pemuda itu menyiduk air itu dengan kedua tangannya dan ia dekatkan dengan bibirnya. Seteguk dua teguk air dalam cangkupan kedua tangannya, mulai memasuki bibir dan membasahi rongga mulut dan kerongkongannya.
"Hm.. Sungguh segar sekali air ini." ucapnya perlahan.
Setelah dirasa cukup pemuda yang tak lain Arya Dipa, membuka pakaian atasnya dan diletakan di batu samping belik. Selanjutnya ia mandi membersihkan tubuhnya dengan menceburkan di belik itu. Rasa lelah seketika lenyap manakala air membasahi dada yang bidang itu.
Bersamaan waktu Arya Dipa mandi di belik, di atas karang terdengar ringkikan seekor kuda. Ringkikan itu membuat Arya Dipa waspada dan segera naik dari belik dan memakai pakaiannya, untuk selanjutnya mengetahui siapa penunggang kuda diatas batu karang. Untunglah hari mulai remang sehingga menyamarkan Arya Dipa dari penglihatan orang dari atas karang.
"Siapa mereka ?" tanya Arya Dipa dalam hati.
Di atas karang, seorang penunggang kudaturun dari kudanya dan menyerahkan tali kendali kepada orang lain.
"Duaji, benarkah kalau mereka akan ke sini ?" tanya orang yang turun dari kuda.
"Aku yakin mereka segera muncul, Denmas." sahut orang yang memegang tali kekang kuda, "Mereka tak akan berani bertindak tanpa kehadiran kita."
Orang yang dipanggil Denmas itu mematung, tangannya mengelus janggot tipis yang tumbuh menghiasi janggutnya. Wajah orang itu terlihat cakap apalagi dengan tumbuh jenggot tipis meruncing, menambah kesan yang ditimbulkan.
Sudah sepenginang lamanya kedua orang itu berdiri di atas karang, tetapi orang yang dinantikan juga belum menunjukan batang hidungnya. Sehingga hal itu membuat orang yang dipanggil Denmas itu, gelisah dan berjalan mondar - mandir.
"Huh apa mereka mempermainkan diriku ? Berjanji di senja hari tetapi sampai gelap juga belum muncul !!" geramnya.
"Bersabarlah, denmas. Kita tunggu sesaat lagi, jika mereka melanggar janji, aku akan mendatangi tempat mereka satu persatu." kata Duaji.
Tiba - tiba sebuah suara menggelegar menghentak udara di atas karang itu, "Hahaha.. Mulutmu besar juga, Serigala pesisir selatan !"
Habis dari suara itu, sesosok tubuh bagai terbang meluncur menjotoskan tangannya kepada Duaji. Kesiur angin dari pukulan itu bukan olah - olah. Tetapi Duaji bukanlah orang biasa, sebutan yang ia sandang Serigala dari pesisir tak kosong mlompong. Tubuhnya masih berdiri di samping kuda, tetapi kepalanya-lah yang bergerak menghindar dari sergapan sosok itu.
"Wuuuss.... !"
Tangan sosok orang yang baru datang itu hanya mengenai udara kosong. Bahkan hempasan udaranya tak membuat Duaji cedera sedikitpun.
__ADS_1
"Bango Banaran, sekali lagi kau berbuat seperti itu akan ku buat kau pincang !" ancam Duaji.
Orang yang dipanggil Bango Banaran hanya tertawa terkekeh, "Hehehe.. Janganlah kau begitu kaku, Duaji. Aku hanya ingin melemaskan otot - ototku saja."
"Sudah.. !" seru orang yang dipanggil denmas oleh Duaji, "Mana yang lainnya ?!"
Bango Banaran mengangguk hormat kepada orang itu, walau hanya basa - basi. Selanjutnya sambil menunjuk ke arah timur ia berkata, "Itu mereka, Sanjaya."
Dari arah timur bermunculan lima tiga orang yang berbadan tinggi tegap dengan wajah menunjukan kalau orang orang itu menyimpan ilmu dalam tubuhnya. Seorang dengan rambut panjang namun tengahnya botak, bernama Ki Widarba. Selanjutnya lelaki dengan tongkat di tangan kanan, disebut Gonggang Keling. Yang terakhir berwajah penuh bulu dan kedua lengan terdapat akar bahar melingkar, bernama Pandak Wengker.
Selintas Arya Dipa yang mencoba menyembunyikan getar keberadaannya, mempertajam apa yang dibicarakan oleh orang - orang itu. Awalnya keenam orang itu hanya saling mengumpat satu dengan yang lainnya, hingga orang yang disebut Sanjaya menghentakan kakinya. Padahal kaki itu hanya sekedar menghentak saja, tetapi kekuatan yang ditimbulkan membuat daerah itu bagai diterjang lindu.
"Bukan main tenaga orang itu." desis Arya Dipa, semakin menekan getar keberadaannya.
Usai hentakan kaki dari Sanjaya, kelima orang lainnya terlihat bersungguh - sungguh. Selanjutnya kelima orang itu menanti apa yang akan keluar dari mulut lelaki berjenggot runcing.
Sanjaya yang dinanti akan suaranya, tak kunjung mengangkat suara. Orang itu malah memusatkan segala panca inderanya untuk memlerhatikan keadaan di tempat itu. Untunglah orang itu tak mendengar detak jantung atau pun keberadaan Arya Dipa, maka orang itu mulai bersuara.
"Keberadaan benda itu memang nyata." ucapnya perlahan sambil memperhatikan kesan dari setiap wajah yang hadir.
"Tetapi benda itu sudah tak disekitar tempat ini lagi." sambungnya.
"He.. " kejut dari Gonggang Keling, "Ah, jauh - jauh aku datang kemari, hanya kesia - sia'an saja yang aku dapat."
"Hm.. " desuh ki Widarba dan Pundak Wengker berbarengan.
Wajah - wajah dari orang - orang itu berkesan kecewa, apalagi raut muka dari Gonggang Keling yang sudah jauh meninggalkan tempat tinggalnya di utara pulau jawa, yaitu pulau Karimun.
Kaki Gonggang Keling sudah akan beranjak pergi meninggalkan karang, tetapi saat itulah Sanjaya mengucapkan kata yang membuat orang Karimun itu menghentikan langkah kakinya.
"Biarlah ia pergi, Jadi harta yang menyertai benda itu akan mudah kita bagi." kata Sanjaya.
Gonggang Keling langsung membalik menghadap Sanjaya, "He.. Kau tadi bilang kalau benda itu berikut hartanya ? Harta apakah yang kau maksud, Sanjaya ?"
"Bukannya kau akan pergi, Cleret Lor ?" celetuk Bango Banaran kepada Gonggang Keling, diselingi tawa menyindir.
Wajah Gonggang Keling memerah dan melototi Bango Banaran. Diantara ke-enam orang itu, hanyalah Bango Banaran yang mempunyai sifat usilan. Maka tak heran jika setiap ia bicara pasti membuat orang yang belum tahu betul dengan orang ini, akan mudah tersulut kemarahannya. Jangankan orang yang belum kenal, Gonggang Keling yang sudah mengenal bertahun - tahun itu saja masih mampu dibuat jengkel dengan ulah Bango Banaran.
"Diam kau bocah gemblung !!" umpat Gonggang Keling.
"Hehehe.. Walau aku gemblung, tetapi wajahku tampan dan banyak gadis perawan yang mengerubutiku, Cleret Lor."
"Sudahi permainan kalian !" lerai Sanjaya, "Baiklah aku akan menjelaskan kepada kalian semuanya."
"Dua hari yang lalu, orang yang membawa benda dan harta itu mengetahui rencana yang kita susun. Maka dia meninggalkan gua di bawah karang ini, dan pergi ke timur."
__ADS_1
"Apa kau tak mengejarnya, Sanjaya ?" tanya Pandak Wengker.
Lelaki dengan Jenggot tipis runcing itu menghela nafas sambil menggeleng, "Orang itu sangat sakti, hanya menggunakan pelepah pisang ia mengarungi derasnya ombak lautan."
"He.. " seru sekalian orang.
Begitu juga dengan Arya Dipa yang berada di balik gundukan batu. Pemuda itu kagum dengan adanya orang yang mampu menyebrangi lautan luas hanya menggunakan pelepah pisang. Berarti orang itu mempunyai ilmu meringankan tubuh mengagumkan.
"Kemungkinan orang itu di pesisir Wengker atau bahkan memasuki pedalaman. Karena itulah aku mempunyai rencana untuk melakukan pencarian orang itu dengan lelaku di malam ini. Apakah kalian ingin terus mendapatkan benda itu atau tidak ? terserah kepada kalian." Kata Sanjaya.
Semua orang kecuali Duaji terlihat merenung memikirkan keuntungan dari benda dan harta yang dibawa orang dalam gua.
"Sanjaya," desis Ki Widarba, "Mengapa orang itu membawa benda dan harta tetapi terus sembunyi dari keramaian ? Bukankah lebih baik ia menggunakan harta itu untuk membangun istana dan hidup bermewah - mewahan ?"
"Hahaha.. ki Widarba, orang itu sudah bosan hidup seperti yang kau sebutkan tadi. Dahulu orang tua itu seorang bangsawan Majapahit yang hidup di kotaraja Wilwatikta. Sejak kematian ayahnya ditangan Prabu Kadiri, ia lari ke sini dan menetap di gua itu untuk melupakan masa lalunya." Jawab Sanjaya.
"Dan kau mencoba menghianatinya, Sanjaya ?" kini giliran Pandang Wengker.
"Sudahlah, itu urusanku dengan orang tua itu. Yang terpenting kita akan merebut benda dan harta orang itu."
Semua orang mengangguk menyetujui apa yang direncanakan Sanjaya. Kelima orang itu kemudian mengikuti Sanjaya yang berjalan ke timur untuk melakukan lelaku dalam menyusuri keberadaan orang tua yang membawa benda dan harta peninggalan Majapahit.
Tempat di atas karang itu kembali sunyi. Angin laut leluasa mempermainkan tempat disekitar itu, sekehendak hatinya. Sayup - sayup suara binatang malam mulai meramaikan suasana di atas karang.
Di rasa keadaan sudah aman, Arya Dipa melangkah keluar dari persembunyiannya ke tengah karang. Tak habis pikir dirinya dengan apa yang ia dengar tadi. Ternyata sebuah benda dan harta kembali menjadi permasalahan yang panjang dengan akhir sebuah perebutan.
"Harta dan benda apa yang membuat orang - orang itu berlaku seperti itu ?" desisnya.
"Oh iya, tadi orang yang bernama Sanjaya mengatakan kalau di bawah karang ada sebuah gua. Ah aku ternyata tak cermat mengamati keadaan di bawah karang tadi."
Selesai berkata, Arya Dipa beranjak kembali ke bawah karang. Yang ia tatap pertama hanyalah belik yang ia gunakan untuk mandi tadi. Kemudian ia teliti satu demi satu setiap dinding karang itu, dengan cara meraba dan mempertajam panca inderanya.
"Oh.. Ini dia." serunya manakala sebuah mulut gua yang tersamarkan oleh tetumbuhan menggelantung di mulut gua.
Ruang di dalam gua sangat gelap dan pekat. Sinar rembulan terhalang oleh rerumputan yang menggelantung di mulut gua. Secepatnya Arya Dipa merogoh batu titikan dan sejumput rumput kering untuk kemudian dia bakar.
Ternyata ruang di dalam gua agak luas setelah cahaya menerangi tempat itu. Tiada yang aneh dalam gua itu, semuanya sama dengan gua - gua yang pernah Arya Dipa lihat.
"Malam ini sebaiknya aku tidur di gua ini." desisnya, sembari melangkah mengumpulkan ranting di atas karang.
Tetapi langkah kaki belum sampai di mulut gua, pandangan matanya tertumbuk ke permukaan lantai gua. Samar - samar ada sebuah goresan aksara di atas lantai gua itu.
"Terlalu kecil nyala api, " desis Arya Dipa, manakala ia tak mampu membaca goresan dikarenakan api semakin redup.
Segera ia bergegas naik kembali ke atas karang dan mengumpulkan ranting kering untuk dibawa kembali ke dalam gua. Ranting yang banyak itulah yang kemudian memberikan nyala api yang memadai setelah dibakar oleh Arya Dipa. Dan nyala api itulah yang membuat mata Arya Dipa semakin mudah membaca setiap goresan di dasar lantai.
__ADS_1
"Sebuah ungkapan penyesalan atas keserakahan." desis Arya Dipa, setelah membaca sebaris goresan itu.