BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
99


__ADS_3

Hiruk pikuk di luar gubuk tak membuat Jati Pamungkas yang merawat tukang satang, tergesa - gesa. Pemuda yang memakai topeng getah karet itu tidak ingin memecah pemusatan dalam menyalurkan tenaga dalamnya kepada tukang satang. Ini ia lakukan demi mempercepat kerja bubuk penawar racun yang ia larutkan ke dalam mulut tukang satang.


.


Kira - kira sepenginang lamanya Orang Bercambuk menunggui tukang satang. Hingga ia pun menyudahi penyaluran tenaga dalamnya. Tangannya bergegas mengambil kain dan menyeka darah hitam yang muncul di sela - sela bibir tukang satang. Keluarnya darah hitam itu semakin menambah rasa lega di hati Jati Pamungkas, yang kemudian ia teruskan dengan ucapan syukur kepada Sang Pencipta.


.


Barulah pikiran Jati Pamungkas tenang, tinggalah kini melihat apa yang terjadi di luar gubuk. Langkah kakinya bergegas mendekati pintu dan perlahan tangannya membuka pintu gubuk.


.


Saat Jati Pamungkas melewati pintu gubuk, pertama yang ia lihat ialah tandang dari pemuda yang membawanya. Pemuda yang tiada bukan adalah Arya Dipa, berkelahi berhadapan dengan orang tua serta dibantu oleh dua orang berwajah kembar. Tandang pemuda itu, terlihat pelan dan seperti tidak bertenaga, namun hal itu tidak membuat pemuda itu mudah dikenai serangan lawan.


.


"Tata gerak aneh.. " desis Jati Pamungkas.


.


Begitu juga tata gerak yang dilakukan oleh ketiga lawan pemuda tersebut. Orang tua yang rambutnya mulai memutih itu, kakinya bagai tidak menyentuh tanah. Loncatan yang menyita banyak tenaga dari orang tua itu, seakan tidak menguras tenaganya. Bahkan setetes peluh-pun tak terlihat sama sekali.


.


Sementara orang berwajah kembar dipihak orang tua, selalu menutup lubang dengan kerjasama yang apik. Langkah keduanya ini mengisi serangan berlainan sisi. Jika yang pertama menyerang kepala, dan orang tua menyerang perut, si kembar satunya mengincar serangan bagian bawah. Dan jika sebaliknya.


.


Desak - mendesak, tekan - menekan, serang dibalas bertahan, gempuran mendapat elakan, gaplokan ke kepala dapat dihindari ataupun serangan mematikan terus berlanjut semakin seru dan sengit. Itu akan berubah semakin memuncak dan membahayakan satu dengan lainnya. Dengan alasan dapat menakhlukan lawan secepatnya.

__ADS_1


.


Di sisi lain, Orang bercambuk mengerutkan alisnya, manakala pemuda satunya berlaku lebih trengginas dan sedikit melepas tenaganya. Pemuda itu menghadapi empat orang yang dari tata gerak ke- empatnya, memiliki tata gerak seirama. Dari keempatnya, Jati Pamungkas dapat mengenali siapa mereka. Itu dikarenakan adanya ciri khusus yang terdapat di ikat kepala mereka, yaitu adanya corak Kala hitam dalam sebuah lingkaran.


"Gerombolan Kala Ireng... " gumam Jati Pamungkas, "Hm... Gerombolan perampok dari telatah Lasem juga sampai di sini."


.


Dahi Jati Pamungkas mengerut, "Oh... Racun yang bersarang di tubuh tukang satang tadi... Mereka... "


.


Angan Jati Pamungkas terhenti manakala sesosok tubuh berkelab dan berdiri tiga langkah di depannya. Orang tua dengan rambut panjang terurai, pakaian jubah abu - abu yang ia kenakan membuat orang itu terkesan sangar. Apalagi dari balik punggungnya tersembul ujung tombak hitam legam, yang menambah keangkeran orang tua itu.


.


"Hmm... Jadi inikah wujud dari Orang Bercambuk.. " kata orang tua itu, yaitu ki Kala Sargota.


.


.


"Kisanak, jika aku tak salah mengenali, bukankah kisanak ini yang terkenal sebagai pemimpin gerombolan Kala Ireng, ki Kala Sargota ?" ucap Jati Pamungkas, sambil mengangguk hormat.


.


Ki Kala Sargota menyeringai. Tatapan matanya tajam, seolah dapat menembus topeng yang dikenakan Orang Bercambuk. Tetapi sia - sia saja, meskipun begitu ki Kala Sargota yakin kalau orang di depannya ini masih berusia muda. Mungkin sebaya dengan mendiang putranya, Kala Gumbrek.


.

__ADS_1


"Hm.. Akulah pemimpin Gerombolan Kala Ireng. Apakah hatimu menciut ?"


.


Orang Bercambuk menghela nafas, sambil menggeleng, "Tidak, ki Kala Sargota. Aku bersyukur dapat berjumpa dengan kisanak."


.


Ki Kala Sargota mengernyitkan alisnya.


.


Sebelum ki Kala Sargota angkat bicara, Orang Bercambuk sudah mendahuluinya, katanya, "Karenanya aku memohon kepada kisanak, yaitu sadarkan pengikutmu yang sudah berlaku kurang tata dan senang membuat susah kepada sesama."


.


"Tobil.. Tobil.. Tobil.. " gumam ki Kala Sargota, "Mulutmu lancang, anak muda. Hendaknya kau berpikit seribu kali jika harus berurusan dengan gerombolan Kala Ireng."


.


"Tundukan kepalamu sedalam - dalamnya. Aku jamin kau tidak akan mengalami rasa sakit saat Malaikat maut menjemputmu !" seru ki Kala Sargota.


Orang Bercambuk tertawa lirih. Meskipun begitu ia telah siap siaga jika lawan meloncat menyerang. Karena pemuda bertopeng itu yakin kalau orang setenar ki Kala Sargota, memiliki segudang ilmu. Maka ia tidak memandang sebelah mata.


.


"He.. Kau masih sempat tertawa, he... !" seru ki Kala Sargota, "Sebutlah bapa biyung supaya kau tidak menyesal !"


.

__ADS_1


Selekas itu pula ki Kala Sargota menyerang dengan melakukan penjajagan terlebih dahulu. Tangan kanan yang terbuka mengara leher pemuda bertopeng itu, sedangkan tangan satunya segera menyusul dengan sebatnya. Dari kedua serangan penjajagan, deru angin sudah terasa mendebarkan, ini menandakan kalau ki Kala Sargota memang pantas ditempatkan diantara golongan hitam di bang tengah seperti Singa Lodra dan Lawa Ijo.


__ADS_2