
Di waktu yang bersamaan menjelang wayah sepi bocah, di Balai Manguntur terjadi sesuatu yang mengejutkan semua yang berada di tempat itu. Sebuah penuturan dari pangeran Arya Jepara yang berniat ingin menetap di tlatah jawa bang kulon.
"Kau jangan bercanda, ananda pangeran." kata pangeran Sekar.
"Tahta keraton ini merupakan kewajiban yang ananda pikul setelah gugurnya, ayahandamu." pangeran Trenggono ikut membujuk kemenakannya itu.
Sementara itu sunan Giri menatap tajam putra Sultan Demak II, waliullah itu merasakan tanda - tanda peralihan kekuasaan kali ini pasti akan menimbulkan guncangan bagi keutuhan Demak.
"Apakah kau sungguh - sungguh, cucunda pangeran.? Pertimbangkanlah dengan hati jernih dan matang, karena semuanya ini akan menentukan keberlangsungan dan keutuhan kerajaan yang telah di bangun oleh eyangmu, Sultan Demak I." kata sunan Giri.
"Maafkan cucunda ini, kanjeng Sunan. Suara hati cucunda mengatakan serta memberikan petunjuk sebuah jalan terang yang akan cucunda lalui di ujung kulon, cucunda akan menyerahkan tahta kerajaan ini kepada kerabat disini."
Semua yang hadir saling berpandangan satu dengan yang lainnya. Penyarahan tahta itu tentu membingungkan semua pihak, entah itu dari sesepuh sekaligus penasehat keraton, kerabat keraton maupun nayaka praja dengan jenjang tumenggung dan panji.
"Dimas sunan Gunung Jati, cobalah kau bujuk cucu mu ini, hanya suara dimas saja dapat didengar oleh pangeran Arya Diwang." kata sunan Giri sambil memandang sunan Gunung Jati.
Waliullah sekaligus pemimpin Cirebon itu hanya menghela napas, sebelumnya ia sendiri sudah mendengar niat dari cucunya itu dan pernah membujuk pangeran Arya Jepara untuk mengurungkan niatnya, tapi niat pemuda itu sekokoh gunung Merbabu.
__ADS_1
"Maafkan aku kangmas sunan Giri, aku pun pernah membujuknya saat cucunda mengatakan niatnya itu, tapi tiada dayaku untuk membujuknya, pendirian cucunda pangeran sangat kuat dan kokoh." ucap sunan cucu dari prabu Siliwangi ini.
Jalan buntu menghadang pikiran para sesepuh dan waliullah untuk membujuk calon penerus Demak. Tak ada jalan lain selain memilih siapa yang pantas memimpin roda pemerintahan di kerajaan yang baru berdiri ini.
Rundingan demi rundingan dilakukan demi mendapatkan calon yang pantas memegang tampuk kerajaan, namun perundingan para sesepuh dan penasehat itu diwarnai perdebatan dari beberapa pihak. Ada yang mencalonkan pangeran Sekar sebagai sultan selanjutnya, tapi usulan itu mendapat tentangan dari seorang sesepuh Demak.
"Tapi pangeran Sekar hanyalah putra ketiga, aku lebih condong jika pangeran Kanduruwan lah yang pantas menjadi sultan Demak." kata sesepuh itu.
"Kau keliru adimas, walau pangeran Sekar hanya putra ketiga tapi aku yakin jika ia pun mampun." bantah sesepuh yang memihak pangeran Sekar.
"Tenanglah kalian, disini telah hadir seorang waliullah yang menjadi panutan kita, biarlah sunan Giri memberikan pendapatnya." seseorang kerabat keraton menengahi.
Penunggang kuda itu dengan tangkas turun dari kuda mereka dan mengucapkan salam kepada seorang santri yang berjaga di panggungan samping dalam regol pondok pesantren.
"Selamat malam kisanak, adakah ada yang bisa aku bantu.?" tanya santri itu.
"Selamat malam, kisanak. Kami dari kotaraja Demak mendapat perintah dari kanjeng sunan Kudus untuk mengambil pusaka beliau."
__ADS_1
Santri yang ada di atas panggungan mengerutkan keningnya, memang saat ini kanjeng sunan Kudus berada di kotataja Demak, tapi ia menyangsikan keterangan dua orang itu.
Mengetahui santri di atas panggungan mencurigai, salah satu dari penunggang kuda itu mengeluarkan benda berbentuk bintang dan saat terkena cahaya obor, telah memantulkan cahaya gemerlapan. Dan benda itu membuat santri di atas panggungan berteriak kepada kawannya yang berada di bawah.
"Bukakan pintu regol.!"
Selarak pintu regol segera diangkat oleh santri yang ada di bawah, lalu pintu regol itu terbuka lebar.
"Silahkan tuan prajurit."
Salah seorang santri meminta tali kekang kuda untuk dibawa ke tempat kuda ditambatkan pada sebatang patok, sementara kawannya membawa kedua prajurit itu ke pendaoa pondok pesantren Kudus.
"Silahkan tuan, aku akan memberitahukan kedatangan tuan kepada panembahan Kudus, putra kanjeng sunan Kudus." Lalu santri itu bergegas masuk ke dalam mencari panembahan Kudus.
Sepeninggal santri Kudus, dua orang yang memakai pakaian keprajuritan dengan ciri pasukan Wira Manggala duduk dan mengamati sekitar pendapa.
"Yakinkah adi dengan rencanamu ini." desis prajurit yang mempunyai tahi lalat di bawah bibir.
__ADS_1
"Ssstt... " balas prajurit satunya.