
Kembali dengan mundurnya pasukan Demak yang sangat rapi meninggalkan bukit kecil, maka Laskar Banyubiru juga ditarik mundur atas perintah ki Wanamerta yang mendapat amanah dari ki Ageng Gajah Sora. Perasaan Laskar Banyubiru yang tak karuan dapat ditenangkan oleh ki Wanamerta, meskipun awalnya terjadi perbedaan pendapat. Itu karena pusaka kyai Bancak diperlihatkan kepada Laskar itu, yang membuat mereka yakin kalau memang itu semua dikehendaki oleh ki Ageng Gajah Sora.
Begitu juga dengan pasukan Demak pun juga terjadi silang pendapat setelah penyerahan ki Gajah Sora. Untunglah diwaktu genting itu muncul Pangeran Timur, yang mampu meredam dan mengokohkan kepemimpinan ki Panji Arya Palindih sebagai senopati tertinggi pasukan yang membawahi kesatuan Wira Tamtama dan Wira Radya. Khususnya dalam tugas yang menyangkut tanah perdikan Banyubiru, yang kini harus membawa kepala tanah perdikan untuk dihadapkan kepada Kanjeng Sultan Demak, di kotaraja Bintoro.
Di persimpangan jalan pasukan Demak terpisah menjadi dua pasukan. Pasukan yang sebelumnya dibawah pimpinan Tumenggung Prabasemi, mengarah ke timur laut. Sedangkan pasukan yang membawa ciri Tunggul Dahana mengarah jalur kiri.
"Eyang Palindih, maafkan paman Tumenggung Prabasemi yang telah menyalahi tatanan keprajuritan. Namun sebenarnya akulah yang bersalah karena meninggalkan pasukan demi mengejar seseorang." kata Pangeran Timur.
"Oh... Tak sepantasnya gusti Pangeran meminta maaf kepada hamba." sahut ki Panji Arya Palindih, "Hamba tak mempersoalkan, karena semuanya sudah berlalu, Pangeran."
Pangeran yang masih remaja itu tersenyum, lalu kemudian mengajak Raden Arya Ngabehi Wiratanu dan pasukannya untuk melanjutkan tujuan mereka yang tertunda karena pokal Tumenggung Prabasemi.
Sepeninggal Pasukan Pangeran Timur, Ki Panji Arya Palindih memerintahkan pasukannya untuk bergerak. Jalur jalan kirilah yang dituju oleh pasukan itu. Pasukan yang kini membawa seorang kepala tanah perdikan, yang ditempatkan di tengah bersampingan dengan tunggul Dahana, tunggul Radya dan bendera Sang Gula Kelapa, yang berkibar - kibar dengan megahnya.
Iringan pasukan perlahan merayap bak liukan seekor ular raksasa. Sebuah iringan yang merupakan sebagian dari kekuatan kesultanan Demak yang selesai dalam tugas, walaupun sebenarnya tugas itu tak sepenuhnya berhasil. Karena sebenarnya tugas mereka ialah membawa pusaka kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten.
Saat itulah dari atas bukit nampak bintik - bintik warna hitam yang bergerak menuruni lereng bukit. Jalan yang diapit dua bukit kecil itu tiba - tiba tercurah sebuah pasukan dari berbagai lereng yang dengan cepat membentuk gelar perang, Samudra Rob.
"Serang.. ! Serang.. ! Serang..!" teriakan melantang dari pasukan yang menuruni lereng - lereng bukit.
Sergapan bergelombang terus menerus bak debur ombak lautan itu, tak membuat pasukan Demak gentar ataupun gugup. Ki Panji Arya Palindih dengan sigap memberi isyarat untuk melawan dengan menerapkan gelar perang Gedong Minep. Maka dengan cepat para senopati meneruskan kepada para pemimpin kelompok dan dilanjutkan kepada prajurit bawahannya.
Gerakan dari pasukan yang terlatih itu sungguh mengagumkan. Dalam waktu singkat gelar Gedong Minep sudah mapan yang sulit ditembus gelombang air bah dari lautan para penyerang. Hal itu mengagetkan para penyerangnya yang tak mengira jika serangan dadakan mereka mampu tertahan.
Denting senjata mulai terdengar dari segala titik, disambut dengan teriakan umpatan maupun keluhan yang dialami oleh kedua pihak.
"Ki Panji Reksotani, bawa anakmas Gajah Sora ke sini." seru ki Panji Arya Palindih.
"Jangan, ki Panji. Itu sangat bahaya dan akan merugikan kita." bujuk ki Panji Reksotani.
"Mengapa berbahaya ? Malah dengan adanya dia di depan, ia akan mampu meredam orang - orangnya ini yang berbuat gila."
"Tapi para penyerang sepertinya tidak seperti pasukan yang berada di atas bukit tadi, ki Panji." masih ki Panji Reksotani memberikan uraiannya.
Sejenak ki Panji Arya Palindih mengeliarkan pandang ke arah para penyerang, lalu katanya, "Hm.. Gantikan posisiku, aku akan mencoba bertanya kepada Gajah Sora."
"Baik, ki Panji."
Lantas ki Panji Arya Palindih menghampiri ki Ageng Gajah Sora yang berada di tengah gelar dan kemudian melontarkan pertanyaan.
"Bukan, paman Palindih. Mereka bukan orang - orang Banyubiru." jawab ki Ageng Gajah Sora, setelah ditanya mengenai orang - orang yang melakukan penghadangan kepada pasukan Demak.
"Anakmas jangan berbohong."
"Aku bersumpah paman, mereka bukan orang - orangku." jawab ki Ageng Gajah Sora, tegas.
"Hm...Untuk saat ini aku percaya, anakmas. Tapi sepanjutnya tentu kami akan melakukan penyelidikan." kata ki Panji Arya Palindih.
Kemudian ki Panji Arya Palindih melalui senopati memberi isyarat. Secepat kilat isyarat itu menjalar dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Sebuah isyarta untuk melakukan tata gerak berkelompok.
Pemandangan tata gerak pasukan yang awalnya rapi, tiba - tiba mengalami perubahan yang mana gelar terdepan terlihat mengalami kelemahan dan menimbulkan lubang - lubang kecil.
"Hancurkan pasukan Demak !" seru penyerang, "Lihat meraka mulai kewalahan.. !"
Teriakan itu membangkitkan semangat juang bagi penyerang, yang mampu merobek gelar terdepan pasukan Demak. Lantas dengan berani mereka terus merangsek membobol pertahanan gelar lawan dengan segenap kekuatan.
Garis pertama pasukan Demak akhirnya jebol dan membuat lawan mampu merangsek semakin dalam, hingga garis kedua dan ketiga. Dan inilah yang ditunggu oleh pasukan Demak, yang memang sengaja membiarkan garis pertahanan terdepan jebol. Sebuah isyarta dari lambaian tunggul merupakan kelanjutan taktik ki Panji Arya Palindih. Jebakan dengan melempar umpan dengan rakusnya dimakan buruan. Gelar Gedong Minep tanpa disadari oleh para penyerang, berubah menjadi gelar Jurang Grawah. Menelan lawan sebanyak - banyaknya.
Teriakan demi teriakan melengking mengerikan dari pasukan penyerang. Darah membasahi jalan di bawah bukit menjadi merah dengan bergelimpangan mayat manusia. Sebuah pemandangan yang mengerikan akibat peperangan antar anak manusia. Nyawa terasa murah dan tak berharga, setelah loncat dari raga.
Di atas burung - burung pemakan bangkai berkoak - koak menanti selesainya pertumpahan darah yang sangat memguntungkan bagai burung pemakan bangkai. Perut mereka sebentar lagi akan terpuaskan dengan santapan yang begitu melimpah ruah. Daging lezat dari mahkluk yang disebut manusia, mahkluk yang katanya mempunyai akal dan hati nurani, tapi perbuatan mereka masih seperti binatang.
__ADS_1
Dalam pada itu di atas tebing sekelompok orang memandang ke bawah tebing dengan duduk diatas kuda - kuda mereka.
"Laskarmu sepertinya akan terbantai, ki Ageng." desis seorang pemuda dengan senyum aneh.
Orang yang disebut ki Ageng itu lantas menatap tajam kearah pemuda yang menegurnya, lalu serunya, "Diamlah kau Jaka Soka !"
Pemuda Jaka Soka itu malah mengumbar tawa yang membuat telinga panas. Tapi Orang yang disebut ki Ageng hanya diam saja. Malah orang lainlah yang bersuara.
"Hentikan tawamu itu, Jaka Soka. Supaya aku tak kelepasan tangan !"
"Huh...Hanya tangan selunak sidat saja, mana mungkin mampu melukai mulutku." ejek Jaka Soka.
"Bangsat kau, Jaka Soka !" teriak orang itu, yang tak lain Uling Muda dari Rawa Pening.
"Sudahlah, adi. Tak usah kau hiraukan mulut licin ikan Nusakambangan itu." cegah Uling Tua, menenangkan saudaranya, "Lihatlah pasukan kita semakin terdesak."
Memang benar di bawah pertempuran semakin sengit, dimana pasukan Demak mampu menekan pasukan pernyerang, yang tak tahunya sebuah pasukan gabungan dari orang - orang golongan hitam. Walau kedua pihak telah berjatuhan korban, namun korban dari penyeranglah yang paling banyak berjatuhan.
Pasukan Demak semakin hebat mendesak lawan - lawannya, khususnya dari kesatuan Wira Manggala kelompok ki Lurah Arya Dipa. Kelompoknya yang paling dekat dengan tempat ki Ageng Gajah Sora berada. Karena tempat inilah tujuan utama pasukan gabungan dari tokoh - tokoh golongan hitam dan ki Ageng Lembu Sora, pada saat gelar Gedong Minep terbuka.
Seorang lelaki berperawakan tinggi tegap dengan bulu dada lebat, berusaha melakukan serangan gelap terhadap ki Ageng Gajah Sora dengan melempar pisau kecil.
"Wuuuss... !!!"
"Triiing.. !!!" sebatang pedang menghalangi laju pisau belati orang tadi.
"Bangsat !" maki orang tadi dengan menyalangkan matanya kepada seorang pemuda, "Minggir anak muda, jangan mengganggu pekerjaanku !"
"Hm.. Kau aneh, kisanak. Ini medan perang, bukanlah ladang atau sawah !" seru pemuda itu.
"Hm.. " dengus orang itu, "Ingin mati rupanya kau, anak muda. Tak tahukah kau berhadapan dengan siapa ?"
"Hordah.. Kau jangan berkelakar, anak ingusan !"
"Hehehe.. Siapa yang berkelakar, kisanak ? Bukankah malah kisanak ini yang berkelakar ? Dengan menyebut diriku seorang anak yang ingusan ?"
Sungguh panas kuping dan hati orang yang berperawakan tingge tegap itu, maka amarah yang tak mampu dibendung telah jebol meluap memuntahkan api kemarahan mengarah lawannya. Dengan teriakan nyaring orang itupun menyerang ki Lurah Arya Dipa, menggunakan bindi berduri.
Kesiur angin bindi orang itu tak olah - olah dahsyat tenaganya. Bila mengenai sebuah batu, tentu akan hancur berkeping - keping, apalagi jika orang yang terdiri dari gumpalan daging dan cairan darah, pasti ***** mengerikan.
Untunglah serangan itu mengarah seorang Arya Dipa, seorang pemuda yang ditempa dengan lelaku berat oleh guru gaibnya, serta tuntunan seorang resi dari Penanggungan. Gerakan mengisar kaki ringannya mampu menghindari bindi aneh dari lawan serta bersiap membalas serangan secara langsung.
"Hebat juga kau anak muda !" puji orang itu, yang kemudian mampu membaca kalau lawannya akan membalas serangan, maka orang itu telah mendahului menyodok perut lawan, "Awas !"
Sungguh mengherankan orang itu, jarak yang sulit untuk melakukan sodokan mampu diperagakan dengan sempurna. Bindinya yang begitu berat juga tak menyulitkan tata geraknya untuk melakukan sodokan kepada ki Lurah Arya Dipa.
Tak sempat ki Lurah Arya Dipa untuk menghindar ataupun melakukan serangan balik. Tinggalah pemuda itu menanti sodokan tangan lawan yang terlihat kokoh.
"Huup.. dess.. !"
Kejut merayapi hati lawan ki Lurah Arya Dipa, yang tak menyangka siku tangannya kesakitan bagai mengenai tumpukan baja saat mengenai pinggang ki Lurah Arya Dipa. Keanehan tak berhenti di situ saja, tangannya terasa panas bagai tersulut bara. Tanpa malu - malu orang itu meniup - niup sikunya.
Sedangkan di depan ki Lurah Arya Dipa juga merasakan keanehan ketika melihat lawannya berbuat seperti yang nampak di depannya. Alis pemuda itu mencuat naik tak menyangka sodokan lawannya itu malah membuat lawannya kesakitan. Tanpa disadari tangan ki Lurah Arya Dipa menyibak pakaiannya.
"Oh.. Ikat pinggang kyai Naga Denta. Pantas orang itu kesakitan." desis ki Lurah Arya Dipa.
Demi merasakan panas dan kesakitan yang dideritanya mulai reda, orang itu kembali menyerang. Kini tenaga yang diterapkan dingkatkan beberapa lapis. Tak ingin lagi dirinya mengalami hal serupa untuk kesekian kalinya.
"Jangan berbangga dahulu, anak muda. Kala Ditya tak segan lagi melumatkan dirimu !" seru orang itu.
"Hm.. Jadi kisanak ini yang pernah mengacaukan telatah perdikan Anjuk Ladang ?" tanya ki Lurah Arya Dipa.
__ADS_1
"Syukurlah jika kau mendengar, anak muda. Apakah kau sekarang menyesal ?"
"Sangat menyesal ki Kala Ditya." jawab ki Lurah Arya Dipa.
Orang yang bernama Kala Ditya langsung membusungkan dadanya seraya tertawa terkekeh - kekeh, "Hehehe.. Kalau begitu cepat kau menyingkir, anak muda."
"Mengapa harus menyingkir, ki Kala Ditya ?"
"He...Bukankah kau menyesal melawan diriku ?" ki Kala Ditya malah bertanya balik seraya mengerutkan keningnya.
Senyum menghias dibibir ki Lurah Arya Dipa, lalu katanya, "Memang aku menyesal, ki Kala Ditya. Tapi yang aku sesali ialah pokal kisanak terhadap telatah perdikan Anjuk Ladang."
"Cukup !" bentak ki Kala Ditya, "Mulutmu perlu mendapat hajaran, anak muda !"
Usai berkata ki Kala Ditya melakukan serangan dengan dahsyatnya. Bindi berduri dengan ganas mengayun - ayun mencari sasaran. Tenaga ayunan ki Kala Ditya sudah tak ditahan - tahan lagi. Kemarahan sudah menguasai seluruh jiwa raganya. Hanya kematian lawanlah yang bisa membuat amarah nafsu reda dan puas. Perihal inilah yang ditakuti oleh setiap manusia. Nafsu yang tak mampu dikendalikan sangat menakutkan bagi orang itu dan orang yang berada disekitarnya. Dan nafsu yang berlebihan tentu akan menyeret siempunya menderita dunia dan akhirat. Oleh karenanya, hanya orang yang bersungguh - sungguh dalam memegang erat ajaran Sang Pencipta itulah yang bisa mengendalikan nafsu di dalam dirinya.
Kedua orang itu membuat orang - orang disekitarnya menyibak, seakan - akan memberi tempat bagi keduanya untuk beradu kerasnya tulang dan liatnya daging. Selain itu dikarenakan hempasan tenaga dalam setiap tata gerak keduanya juga mempengaruhi keadaan dimana keduanya bertempur. Seakan - akan udara menjadi hangat dalam pusaran badai api, yang siap menggilas siapa pun yang mendekati perkelahian itu.
Ki Kala Ditya masih terus mengayun - ayunkan bindi berduri dengan serangan gencar. Kemana saja lawan bergerak menghindar, bindi itu selalu mengejar seolah - olah memiliki bola mata, sebagai penglihatan senjata aneh itu. Sungguh menakjubkan ilmu senjata daripada ki Kala Ditya, setiap ayunan yang luput berlanjut dengan serangan seoanjutnya dan selanjutnya. Susul - menyusul tiada henti kecuali sasaran ***** tercabik - cabik oleh kerasnya bindi dan tajamnya duri - duri di sekeliling bindi.
Untuk itu ki Lurah Arya Dipa terus memusatkan perhatiannya dengan menerapkan ilmu meringankan tubuh, untuk mengimbangi kecepatan serangan lawan. Pemuda satu ini selalu tak ingin meremehkan kemampuan lawannya, apalagi lawannya seorang tokoh golongan hitam di telatah bang wetan, yang pernah membuat ki Gede Anjuk Ladang tewas dalam perang tanding di lereng gunung Wilis, satu tahun silam. Padahal sudah terkenal dikalangan dunia kanuragan, ki Gede Anjuk Ladang seorang yang mempunyai ilmu mendebarkan, yaitu aji Bandung Bondowoso yang mampu meluluh lantahkan gunung anakan dengan sekali pukul. Dan inilah yang membuat ki Lurah Arya Dipa berhati - hati.
Suatu kali bindi berduri itu melesat dengan pesatnya mengarah lambung ki Lurah Arya Dipa.
'' Mampus kau anak muda !" seru ki Kala Ditya.
"Wuuusss !"
Sekali lagi bindi itu hanya mengenai tempat kosong, karena dengan lincahnya ki Lurah Arya Dipa melenting layaknya belalang. Hal itu semakin membuat kesal dihati ki Kala Ditya, yang kembali melakukan loncatan panjang seraya melakukan gemplangan ke arah kepala ki Lurah Arya Dipa.
Kembali bindi itu mengenai udara kosong, dikarenakan ki Lurah Arya Dipa mendoyongkan tubuhnya ke belakang. Namun secepat kilat ki Kala Ditya menggerakan bindinya meluncur ke tubuh lawan yang masih dalam keadaan mendoyong. Sungguh ini sangat berbahaya bila mengenai sasaran empuk itu. Ki Kala Ditya yakin kalau lawan sudah dalam keadaan mati gerak, dan ini akan menjadi akhir dari perkelahiannya itu.
"Takk !"
Suara benturan tulanglah yang terdengar kemudian, serta lepasnya bindi di tangan ki Kala Ditya yang meluncur jauh entah dimana jatuhnya. Mengapa bisa terjadi demikian ?
.Itu dikarenakan saat ki Lurah Arya Dipa masih dalam keadaan tubuh mendoyong ke belakang dan mengetahui adanya kesiur angin menerpa tubuhnya, segera Lurah Wira Tamtama itu menggunakan tangannya sebagai landasan untuk menopang berat tubuhnya, kemudian kedua kaki terangkat menendang tepat mengenai pergelangan tangan lawan. Namun kaki Lurah muda itu tak hanya memakai tenaga biasa, melainkan pemuda itu menerapkan tenaga cadangan yang dipusatkan di kedua kakinya. Akibat yang ditimbulkan membuat lawannya terperangah serta rasa ngilu di pergelangan tangannya, dan juga ki Kala Ditya kehilangan senjata yang selama ini selalu menemani kemana saja orang itu melalang buana dalam dunia kanuragan.
"Hm..... !!!" geram ki Kala Ditya.
Bersamaan dengan menggeram, orang itu dari bang wetan itu melakukan sebuah tata gerak aneh. Entah dari mana tiba - tiba ditangan orang itu terlihat sebuah benda berkilauan. Dibarengi sebuah gerungan keras ki Kala Ditya meloncat tinggi segaris lurus cahaya sinar bagaskara. Dan tubuh itupun terasa lenyap entah ke mana.
Kejutlah yang dirasakan oleh ki Lurah Arya Dipa kemudian. Saat itulah dalam keadaan masih dicengkam keterkejutan, sebuah goresan dirasa mengenai punggung ki Lurah Arya Dipa.
"Uh.. " keluh ki Lurah Arya Dipa seraya meloncat menjauh menjaga jarak dari lawan, supaya terhindar dari serangan lanjutan lawan.
Dan lawannya memberikan waktu luang kepada Lurah muda itu. Bahkan terdengar tawa bergemuruh dari orang tinggi tegap itu.
"Walau kau memiliki ilmu setinggi langit, jika terkena pusaka Kala Brahu miliku ini, ilmu mu tak akan mampu membendung racun yang terkandung dalam pusaka ku ini, anak muda." ucap ki Kala Ditya, dengan menunjukan sebuah keris kecil atau yang disebut patrem.
Di depan ki Lurah Arya Dipa berdiri dengan kuda - kuda kokoh dan mata tajam menatap lawannya. Tangan kanannya meraba punggung yang terkena goresan patrem milik lawan. Terasa sebuah cairan merembes dari luka itu, cairan berupa darah dari ki Lurah Arya Dipa. Cairan yang melekat di jari tangan, setelah diperhatikan berwarna merah kehitam - hitaman, menandakan sebuah racun ganas.
"Hm.. Ini kesalahanku yang tak menerapkan aji Niscala Praba, sehingga patrem itu mampu menggores kulitku." desis ki Lurah Arya Dipa, agak terengah - engah.
"Oh... Ki Kala Ditya, jadi kau mengalahkan ki Gede Anjuk Ladang seperti yang kau lakukan saat ini ?" tanya ki Lurah Arya Dipa agak kesal.
Ki Kala Ditya tersenyum, "Benar, hanya dengan patrem inilah orang timur alas Caruban itu aku singkirkan !"
"Licik kau, Kala Ditya !" teriak ki Lurah Arya Ditya, "Dalam perang tanding itu sudah diatur tak boleh menggunakan senjata !"
"Huh.. Tahu apa kau anak muda !? Tenangkanlah dirimu yang sebentar lagi akan menemui Bethara Yamadipati.. !" seru ki Kala Ditya.
__ADS_1