BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
106


__ADS_3

Orang yang dipanggil guru oleh Raden Sanjaya, menjejak permukaan pelepah pisang dan membal melesat ke daratan, tepat di tengah antara rombongan Raden Sajiwo dan Arya Dipa. Kedua tangan dibelakang tubuh dengan lagak tiada permasalahan yang dihadapi. Sejenak kemudian tangan kanan bergerak mengelus jenggot yang sudah memutih.


.


Di lain sisi, dua orang yang sebaya dengan orang tua yang menyeberangi kali Brantas, berhenti selangkah di belakang Arya Dipa. Kedatangan kedua orang tua itu menambah rasa tenang di hati Arya Dipa dan Windujaya. Keduanya bergegas menyapa kedua orang tua itu.


.


Begitu juga dari atas tanggul, dua pemuda yang tiada lain Palon dan Sabdho segera menggabungkan diri. Semakin banyaklah orang - orang di tepian kali Brantas. Belum lagi beberapa orang yang merasa berkemampuan rendah, menyembunyikan diri di sekitar gerumbul.


.


"Sebentar lagi senja akan tiba. Para pemburu sudah siap mencari sisa - sisa buah Maja." suara mengguntur memecahkan ketegangan, yang diucapkan oleh orang tua yang dianggap guru Raden Sanjaya.


.


Tawa renyah menimpali suara guru RadenSanjaya, "Hehehe... Tak dinyana jika itu semua ulahmu, kakang Mapanji."


.


Orang yang disebut kakang Mapanji oleh Begawan Jambul Kuning, mengernyitkan alisnya. Berusaha mengenali siapa orang yang dapat mengenali dirinya. Kerut di dahinya semakin dalam manakala saat memperhatikan dengan seksama wajah yang hampir sebaya dengannya. Tidak hanya satu saja, melainkan dua orang sejaligus. Sehingga mulutnya bergerak perlahan.


.


"Adi Bancak dan adi Branjang Mas... "


.


Meskipun mengenali keduanya, orang itu tidak segera menyapanya atau menyahutinya. Jaman semakin hari semakin berubah, tingkah polah manusia pun tidak ada bedanya. Dahulu baik, entahlah masa sekarang. Dahulunya jahat, bisa saja masa sekarang lebih biadab melebihi hewan. Sangat sedikit orang yang awalnya jahat atau melakukan dosa dan dikehidupan selanjutnya ia memperbaiki dengan berbuat baik, sangat sedikit. Oleh karenanya orang itu masih diam saja.


.


Atas diamnya orang tua itu, sebenarnya Begawan Jambul Kuning akan kembali bersuara, tetapi Raden Sajiwo cepat mendahuluinya..


"Maafkan atas kelancangan kami yang berani mengusik tepian ini, tuan." bangsawan itu mencoba mengambil hati.


.


"Kedatangan kami ke sini hanyalah diutus oleh pewaris Wilwatikta." sambung Raden Sajiwo.


.


Tawa gemuruh keluar dari mulut orang tua itu, "Hohoho.... Sungguh sebuah karunia yang tak terkira. Aku seorang tua yang kerjanya hanya mencari ikan di kali Brantas, mendapat kehormatan dari utusan Wilwatikta."


.


Sesaat orang tua itu terdiam dan memejamkan mata. Kemudian membuka matanya dan memandang ke arah Raden Sajiwo, tetapi diteruskan kepada pemuda dibelakang. Saat itulah pandangan orang tua itu berbenturan dengan Raden Sanjaya, entah bagaimana Raden Sanjaya langsung menunduk.


.

__ADS_1


"Utusan Wilwatikta.. He.. ! Cucunda Trenggono kah maksud, angger ?" seru orang tua itu.


.


Demi disebutnya nama Sultan Demak, hati Raden Sajiwo dan orang - orangnya gelisah. Tetapi saat menyadari kalau jumlah mereka memadai, rasa gelisah itu segera mereka singkirkan. Raden Sajiwo sebagai pemimpin langsung memberi penjelasan.


.


"Tuan, sebelumnya kami ingin memastikan kebenaran dari diri tuan dahulu."


.


"Hm... " dengus orang itu.


.


"Banyak kabar burung mengatakan, tepian kali Brantas khususnya disekitar sini dijaga oleh seorang tua yang bergelar Panembahan Anom. Dan menurut cirinya sangat sesuai dengan tuan ini. Jika memang tuanlah yang bergelar Panembahan Anom, mohon kiranya menyerahkan sisa buah Maja kepada kami." ucap Raden Sajiwo.


.


"Ah... Angger terlalu berlebihan. Memang akulah yang dipanggil Anom, tetapi satu dua orang menambahi dengan gelar Panembahan." kata orang tua itu, lalu sambil menggeleng - gelengkan kepala ia melanjutkan, "Panembahan... Ah terlalu besar perbawa dan tanggung jawabnya."


.


"He... Angger. Aku akan menyerahkan sisa Maja yang kau inginkan, tetapi aku akan bertanya kepada salah seorang yang disana." kembali Panembahan Anom bicara sambil menunjuk ke arah Arya Dipa.


.


"Bukan kau, tetapi anak muda di samping orang bertopeng itu.. ! hardik Panembahan Anom sekaligus menunjuk Arya Dipa.


.


"Huh... " geram Begawan Jambul Kuning.


.


"Sudahlah kakang Bancak." Begawan Kakrasana menggamit saudara seperguruannya itu, "Biarlah Angger Arya Dipa yang menanggapinya. Aku yakin jika nantinya akan membawa kebaikan."


.


Selangkah Arya Dipa maju dan mengangguk hormat kepada Panembahan Anom, "Maafkan jikalau cucu ini menganggap Panembahan sebagai eyang diri ini."


.


"Hahaha... Mengapa kau menganggapku sebagai eyangmu, ngger ?"


.


"Pertama, usia eyang Panembahan sebaya dengan empat orang yang aku panggil eyang."

__ADS_1


.


"Ho.. Sebutkan.. sebutkan.. " Panembahan Anom tertarik.


.


Arya Dipa tidak langsung menjawab. Ia memandang Begawan Jambul Kuning, Resi Puspanaga dan Begawan Kakrasana. Barulah ia berkata dengan halus penuh kelembutan.


.


"Pertama ialah eyang Resi Puspanaga, karena beliaulah yang memberikan segudang wejangan yang sangat berguna. Kedua eyang Panembahan Ismaya, orang tua itu mempercayai diriku sepenuhnya. Ketiga eyang Begawan Kakrasana, seorang yang selalu membuatku tersenyum meskipun tingkahnya bisa dibilang aneh. Dan yang terakhir seorang yang sangat aku rindukan sejak lama, ialah eyang Jambul Kuning atau eyang Bancak."


.


Satu persatu sejak nama - nama itu disebut, berbagai tanggapan dan kesan hinggap dihati semua yang hadir ditepian kali Brantas. Siapa yang tidak kenal nama besar Resi Puspanaga dari gunung Penanggungan ? Disusul nama besar seorang Panembahan Ismaya dari bang tengah, lalu dua begawan bersaudara dari jalur Cakra Ningrat. Ada yang kagum, dan ada juga yang menganggap kalau pemuda itu hanya membual.


.


Sementara Panembahan Anom tidak langsung memberi tanggapan. Ia mencoba mencari kepastian dengan benar. Karenanya ia bertanya.


"Bila ucapanmu itu benar adanya, bagaimana kau membuktikannya, ngger ?"


.


Tepat apa yang di dalam benak dan pikiran Arya Dipa. Pasti orang tua itu akan meminta penjelasan setiap ucapannya. Tentu saja Arya Dipa sudah mempersiapkan dengan sebaiknya.


.


Sebuah gerak dasar langsung diperagakan oleh Arya Dipa. Sebuah tata gerak dari jalur Penanggungan. Apa yang diperlihatkan oleh Arya Dipa, membuat Resi Puspanaga heran sekaligus bangga. Dirinya saat melatih pemuda itu, hanya memberikan ilmu pernapasan dan sedikit gerak dasar saja, dan seterusnya hanyalah membimbing ilmu dari kitab Cakra Paksi Jatayu. Sedangkan bagi Panembahan Anom, gerakan itu ia kenal dari Penanggungan adanya, sehingga ia pun percaya dan menghentikan Arya Dipa.


.


"Cukup, angger. Selanjutnya mengenai Panembahan Ismaya."


.


Selesai mengatur pernapasan, Arya Dipa mendekati panembahan Anom dan berhenti dua tindak di depannya. Ia merendahkan diri dan mengguratkan tangan ke tanah.


.


Sekali lagi Panembahan Anom terkejut. Guratan itu memang ciri dari Panembahan Ismaya atau Raden Buntara. Dibimbingnya pemuda itu untuk berdiri.


.


"Sudah angger, untuk ketiga dan keempat aku juga percaya." ucap Panembahan Anom, "Sekarang aku akan bertanya kepadamu, yaitu apakah kau juga menginginkan sisa buah Maja ?"


.


Terlihat Arya Dipa menggeleng. Gelengan itu membuat orang - orang di pihak Raden Sajiwo langsung ceria. Sebaliknya rasa kejut menghampiri orang - orang di pihak Begawan Jambul Kuning.

__ADS_1


__ADS_2