BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
127


__ADS_3

Dalam pada itu di jalan yang berbeda, nampak tujuh orang berpakaian hitam kecuali orang terdepan yang berpakaian hijau tua. Wajah dari orang terdepan mengunjukan kegeraman dengan apa yang terjadi sebelumnya. Di mana anak buahnya telah tewas sebanyak tiga orang.


   "Gangsir, berjalanlah ke selatan. Temukanlah kakang Blandong Kraksaan, untuk bergambung dengan kita di tegalan selatan Banyubiru." perintah Blego Trengganis kepada salah seorang anak buahnya.


   "Baik, lurahe." sahut Gangsir dan selanjutnya mendahului iringan kawannya.


   Rupanya rombongan ini adalah gerombolan Ular Sendok yang berhasil lolos dari sergapan Arya Dipa. Dan ternyata, kekalahan tadi merupakan sebuah tamparan keras yang membuat Blego Trengganis tak mampu meredakan gejolak dadanya. Oleh karena itulah ia memerintahkan anak buahnya untuk meminta bantuan kakaknya yang memisahkan diri.


   Blego Trengginas yakin jika saudaranya mau membantu dirinya, tak bakal lawannya tadi bisa menghirup udara segar. Bagi Blego Trengganis, Blandong Kraksaan merupakan seorang yang tuntas dalam dunia jaya kawijayan. Di mana ia pernah menyaksikan sebuah kejadian dari ilmu saudaranya itu, yaitu perubahan wujud kakaknya.


   "Sebagai penganut dewa Anta Boga, kakang mampu menjadikan dirinya ular naga raksasa." batin Blego Trengganis.


   Dahulu, Blego Trengganis dan Blandong Kraksaan merupakan anak yatim yang beruntung setelah bertemu seorang nenek sakti. Oleh nenek sakti itulah keduanya dididik siang dan malam. Tenpaan keras sudah menjadi makanan sehari - hari bagi dua saudara itu. Hingga akhirnya mereka mendapat ilmu pamungkas dari nenek itu, yaitu aji Nagarupa. Sebuah aji yang membuat wujudnya layaknya ular naga berjampang. Tetapi ternyata yang berhasil dengan sempurna hanyalah Blandong Kraksaan, sedangkan Blego Trengganis tak memenuhi syarat.


   Agar kedua saudara itu tidak merasa iri satu lain, nenek sakti pemuja dewa Anta Boga memberikan tongkat sekaligus mantram penanggil ular kepada Blego Trengganis. Dari itulah kedua saudara itu hidup saling menghargai satu sama lain dan terlihat rukun.


   Di depan, Gangsir dengan cepat mencoba menemukan saudara pemimpinnya. Tak memerlukan waktu lama, Gangsir melihat seorang berdiri memunggunginya. Lelaki dengan rambut panjang terurai sambil bersedekap. Mata tajam memandang kejauhan, seakan mampu menembus pusat padukuhan Banyubiru.


   "Hm.. Sepertinya adi Blego Trengganis mengalami kekalahan.." tiba - tiba orang itu berucap.


   Gangsir mendekat dan mengangguk hormat, kemudian menyampaikan apa yang ditugaskan padanya. Mendapat laporan dari anak buah adiknya, Blandong Kraksaan hanya menghela napas.


   "Seperti apa musuh kalian ?" tanya  Blandong Kraksaan.

__ADS_1


   Dengan urut Gangsir menuturkan apa yang terjadi dan menggambarkan perawakan sekaligus ciri - ciri lawan mereka. Dari penuturan Gangsir yang membuat Blandong Kraksaan berkesan, ialah adanya orang bertopeng.


   "Apakah orang itu membekal cambuk ?"


   "Tidak, ki Blandong Kraksaan. Melainkan hanya ikat pinggang yang mampu membuat tanah bermuncratan dan batu pecaj berkeping - keping." terang Gangsir.


   Anggukan kepala dan mencuatnya alis terlihat jelas dalam ungkapan hati Blandong Kraksaan. Tadinya ia mengira kalau lawan yang bertopeng adalah orang betcambuk, ternyata bukan. Blandong Kraksaan penasaran dan ingin menjajal lawan adiknya. Tiba - tiba orang itu duduk bersila dan memejamkan matanya. Dan tak berselang lama, mata itu kembali terbuka.


   "Hm... Searah jalan kami." ucapnya perlahan, lalu katanya kepada Gangsir, 'Bila lurahmu tak segera datang, aku akan meninggalkan tempat ini."


   "Iya, ki Blandong Kraksaan."


Sinar terik sang surya membawa Arya Dipa yang masih menutupi wajahnya dengan menggunakan topeng, sampai di ujung pategalan penghuni pinggiran telatah Banyubiru. Pranggaitanya yang tajam merasakan adanya sesuatu yang mengganjal di relung hatinya. Pemuda sekaligus cucu Begawan Jambul Kuning itu mencoba menenangkan hatinya dengan memejamkan mata seraya memanjatkan do'a kepada Yang Maha Agung.


   Belum berjalan terlalu jauh, ketajaman telinganya telah mengetahui suara gesekan sebuah benda yang mirip dua orang berkelahi. Untuk memastikan apa yang terjadi, Kilatmaya bergegas menghampiri sumber suara tersebut, pastinya dengan tidak meninggalkan kewaspadaan dan hati - hati. Dan apa yang diduga benar jua.


   Dua orang dan salah seorangnya sangat ia kenal walau baru ia jumpai di hari itu. Yaitu pemimpin gerombolan Ular Sendok, Blego Trengganis. Orang itu berhadapan dengan seorang remaja berusia delapan belas tahun.


   "He... Tata gerak itu mirip dengan paman Tohjaya... " desis Kilatmaya, dan saat mengikuti lebih jauh, kembali Kilatmaya tercekat, "Oh.. Itu.. "


   Rupanya remaja yang disaksikan oleh Kilatmaya, telah menerapkan tata gerak dari perguruan Pengging dan sesaat kemudian mampu menerapkan tata gerak yang sangat mirip dengan ilmu ki Ageng Gajah Sora. Dan itulah yang menjadikan Kilatmaya bagai menjumpai bayangan Rangga Tohjaya dan ki Ageng Gajah Sora. Sungguh sangat mengagumkan dua unsur ilmu dari sumber berbeda dapat diramu dalam wadag seorang remaja bertubuh kekar itu.


   Hanya saja, yang membuat Kilatmaya kawatir ialah selalu terburu - burunya remaja itu, sehingga lawan dapat menipu daya dan berhasil menjebak remaja itu. Bila dicermati, ini menunjukan kalau remaja itu masih belum mampu mengendalikan perasaannya dan kurangnya pengalaman. Tentu bagi Kilatmaya yang sudah berpengalaman dapat membaca akhir dari perkelahian itu.

__ADS_1


   "Bila dilanjutkan, anak itu akan celaka." batin Kilatmaya, tetapi pemuda itu belum bergerak.


   Rupanya Kilatmaya tidak hanya memusatkan perhatiannya terhadap pertempuran itu saja. Matanya yang awas berhasil menemukan seseorang di balik pohon nangka. Dan orang di balik pohon nangka itu telah membuat desir halus merambati relung hati Kilatmaya. Itu menandakan kalau orang di balik pohon nangka, seorang yang patut ia waspadai.


   "Siapa orang itu ? Sepertinya ia sengaja mengujukan keberadaannya.." desis Kilatmaya.


   Belum sempat Kilatmaya mengambil kesimpulan, apa yang ia duga telah melanda remaja yang menghadapi Blego Trengginas. Remaja itu mencelat setelah terkena tendangan keras Blego Trengganis. Baru tubuh remaja itu akan bangkit, lawannya telah menggenjot kakinya berupaya melanjutkan gempurannya.


   "Mati aku !" keluh remaja itu dalam hati, sambil memejamkan mata.


   Remaja itu sudah yakin kalau sebentar lagi nyawanya akan terenggut lantaran gempuran lawannya. Tetapi keherananlah yang muncul kemudian. Tubuhnya tak merasakan sebuah tangan menumbuknya. Padahal ia tahu betul kalau lawannya akan mendaratkan tangan ke tubuhnya. Barulah ia terkejut dan membuka mata manakala terdengar lawannya mengumpat dengan kasarnya.


   Saat mata remaja terbuka, yang dilihat adanya dua tubuh tegap tepat di depannya. Satu orang sangat ia hormati, yaitu guru sekaligus kawan ayahnya, paman Mahesa Jenar. Dan satu lagi seorang bertopeng yang tak ia kenal.


   Dalam pada itu, ki Mahesa Jenar yang menatap Blego Trengganis dengan tajam, telah berucap, "Kau tak apa -apa Bagus Salaka ?"


   "Tidak apa - apa, paman Mahesa." jawab remaja yang bernama Bagus Salaka.


   "Syukurlah." ucap ki Mahesa Jenar, yang kemudian menyapa orang disebelahnya, "Terima kasih, kisanak."


   Kilatmaya mencoba menyahut namun suaranya ia samarkan, "Ah, nanti saja, tuan. Lawan  masih mampu bangkit kembali dan lihatlah, kawannya sudah keluar dari kepura - puraannya."


   Seperti perkataan orang bertopeng, Blego Trengganis sudah bersiaga dan orang yang berada di balik pohon nangka juga menghampiri Blego Trengganis. Orang itu adalah Blandong Kraksaan yang menunggu kedatangan orang bertopeng yang mampu membuat adiknya kewalahan.

__ADS_1


__ADS_2