
Kedatangan kereta jenasah kanjeng Sultan Demak kedua di kotaraja membuat kotaraja bagai lautan manusia. Berbondong - bondong berbagai penghuni kotaraja ikut berbela sungkawa untuk melihat jenasah raja mereka, namun tak sembarang orang dapat memasuki gerbang keraton yang dijaga ketat oleh prajurit pasukan Wira Braja dan Wira Manggala.
"Maafkan kami ki patih, hamba tak bisa melindungi kapal yang ditumpangi kanjeng Sultan, serangan itu tak pernah kami perhitungkan sedikitpun." ucap raden Tu Bagus Pasai, sesampainya di balai Manguntur.
"Bagaimana itu bisa terjadi, anakmas raden.?"
"Waktu itu kami bersama dengan armada kerajaan sahabat bertemu dengan kapal perang kerajaan Pahang yang sudah kami anggap saudara sendiri, namun hal yang tak kami duga itu terjadi, ternyata mereka berkhianat dan menyerang kapal yang ditumpangi oleh kanjeng Sultan di malam buta. Tak hanya itu saja ternyata kami terperangkap dengan datangnya armada musuh sehingga kami terdesak mundur." jelas pangeran dari tanah Malaka itu.
Gemeratak gigi pangeran Trenggono tatkala mendengar penghianatan kerajaan Pahang yang mengakibatkan saudaranya itu gugur.
"Sebaiknya raden membersihkan diri terlebih dahulu, biarlah pasukan dari Wira Tantama yang akan mengambil alih ini semua."
"Baik ki patih." jawab raden Tu Bagus Pasai.
Maka pasukan yang baru datang itu di antar oleh ki rangga Yudapati ke tempat peristirahatan.
Sementara itu pangeran Arya Jepara dengan wajah murung selalu disamping jenasah ayahandanya, hal itu mengetuk hati seorang pangeran yang masih muda, yang melangkah mendekati pangeran Arya Jepara.
"Tabahkan hatimu, kakanda pangeran."
__ADS_1
Pangeran Arya Jepara menoleh ke arah suara yang ada di sampingnya.
"Kau adinda Mukmin, lihatlah adinda kini aku sendiri, ayahanda dan kakandaku telah mendahuluiku menghadap Sang Pencipta." kesedihan pangeran Arya Jepara membuat suaranya parau.
"Tidak kakanda pangeran, disini masih ada kerabat kerajaan yang masih sedarah denganmu, aku Mukmin, nimas Retna Kencana, nimas Cempaka, dan adinda Timur dan di Jipang ada kakanda Arya Jipang dan adinda Arya Mataram, serta yang lainnya." hibur raden Mukmin.
"Terima kasih adinda, tapi setelah ini mungkin aku akan ke pergi ke ujung kulon, menghadap eyang kanjeng sunan Gunung Jati."
"Tapi bukankah kakanda akan meneruskan tugas dari pamanda kanjeng Sultan.?" raden Mukmin bingung.
Pangeran Suryadiwang atau pangeran Arya Jepara menggelengkan kepalanya.
Sementara itu seorang lurah muda dari pasukan Wira Tantama yang bertugas mengamankan para tamu telah dikejutkan dengan hadirnya seseorang yang sangat ia kenal.
"Ayah..." desis pemuda itu, sambil melangkah menuju orang yang dianggap ayahnya itu.
"Ayah Mahesa Anabrang." tegur lurah muda itu.
Orang yang memang ki panji Mahesa Anabrang itu menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
lurah muda itu memerhatikan ki panji Mahesa Anabrang mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, pemuda itu merasa heran memerhatikan pakaian yang dikenakan oleh ayahnya itu merupakan pakaian perwira prajurit Demak.
"Jadi ayah merupakan prajurit Demak..." tanyanya.
"Maafkan aku, ngger. Selama ini aku menutupi jati diriku ini."
"Mengapa ayah..?"
"Ah sudahlah, nanti aku akan ceritakan kepadamu." janji ki panji Mahesa Anabrang.
"Tapi.." kata - kata itu terpotong.
"Lihatlah aku seorang panji, ngger jangan membantah." potong ki panji Mahesa Anabrang dengan senyum dibibirnya.
Terpaksa ki lurah Arya Dipa mengurung niatnya untuk mendesak ayah angkatnya.
"Lanjutkan tugasmu, nanti aku akan pergi ke barakmu."
Setelah semua kerabat keraton dan para nayaka praja berkumpul serta jenasah kanjeng Sultan sudah dibersihkan dan dirawat secara semestinya, maka jenasah itu dibawa ke masjid Agung Demak untuk di sholatkan yang dipimpin oleh sunan Giri. Selanjutnya jenasah itu dimakamkan di lingkungan makam kerabat keraton bersebelahan dengan kanjeng Sultan sebelumnya, yaitu raden Patah.
__ADS_1