BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
73


__ADS_3

Seleret warna merah membara terlontar dari tangan ki Jara Murda setelah mengakhiri umpatannya. Aji Waja Geni atau Wesi Geni meningkat pada sifat dan kemampuannya, lebih dahsyat dari sebelumnya. Selain itu, ilmu ini ialah hasil dari penempaan diri ki Jara Murda selama ini untuk mencari kesempurnaan ilmunya.


Di depan Arya Dipa yang tak pernah mengendorkan kewaspadaannya, terus tetap bersiaga. Maka lontaran aji dari ki Jara Murda dapat ia hindari dengan cara melentingkan tubuhnya ke samping kanan.


Alangkah terkejutnya Arya Dipa, saat dirinya yakin akan terhindar dari terjangan tenaga lontaran dahsyat, ternyata lontaran lawan tak berhenti sampai di situ saja. Seleret warna merah membara kembali terlontar dari ki Jara Murda tanpa henti.


"Mampus kau anak setan !" seru ki Jara Murda dengan keyakinan tinggi.


"Bluum.. Bluum.. Bluum.. Bluum.. Bluum.. "


Tenaga dari aji Waja Geni terarah ke satu titik, yaitu dimana Arya Dipa berdiri di atas tanah semula. Kobaran api membara meluluh lantahkan tanah beserta rumput sejarak empat kali tangan merentang. Serta tanah itu berlubang cukup besar menyisakan bara yang masih terlihat dari kegelapan malam.


"Luar biasa orang ini." desis seorang pemuda yang duduk di atas batang pohon.


Sementara ki Jara Murda setelah memerhatikan disekitarnya, ia menyeringai bagaikan serigala yang kenyang seusai melahap mangsanya. Dadanya membusung lebih maju, seolah - olah menunjukan kalau di dunia ini tiada yang mampu menyainginya.


"Kebesaran kitab Prabu Airlangga ternyata hanyalah omong kosong belaka !" serunya disusul dengan tawa menggelora.


Mengetahui ki Jara Murda terbuai dengan kemenangannya, orang yang duduk di cabang pohon hanya menggeleng - gelengkan kepalanya. Sejenak orang itu mengambil nafas untuk melonggarkan rasa sesak di dada. Lalu dengan gerak ringan orang itu menjejak cabang pohon, kemudian melontarkan tubuhnya ke udara dengan berjumpalitan dua kali, dan kemudian menginjakan kakinya di bumi.


Saat sepasang kaki orang itu menginjak tanah, kegusaran melanda hati ki Jara Murda. Untuk meyakinkan bahwa orang yang berdiri dihadapannya benar - benar orang, tangan ki Jara Murda mengucek - ucek kelopak matanya.


"Ka.. Kau masih hidup ?!"


"Lihatlah kakiku, ki. Bukankah kakiku masih menapak di tanah ?" balas orang yang baru turun dari cabang pohon.


"Te.. ta.. pi Ah mustahil kau mampu menahan aji Waja Geni-ku !"


Orang yang berdiri di depan ki Jara Murda tiada lain Arya Dipa, memandang dengan perasaan lembut. Sekali lagi pemuda itu mencoba memberi peringatan kepada ki Jara Murda untuk menyadari kekeliruannya.


"Lebih baik kisanak mengundurkan diri dari tempat ini. Ajaklah murid kisanak itu, bila kisanak kasihan dengannya."


Tanpa sadar ki Jara Murda memandang ke arah muridnya yang mengalami tekanan hebat dari lawannya. Orang tua itu kembali terkejut saat matanya dengan cermat memperhatikan adanya sinar aneh dari lawan muridnya.


"Sebuah ciri aji Lembu Sekilan." desis ki Jara Murda, "Siapa sebenarnya anak muda itu ?"


Demi mendengar disebut sebuah aji yang langka, tak pelak Arya Dipa juga kaget bukan kepalang. Tadi dirinya hanya memperhatikan bagaimana Bagus Sagopa terdesak oleh Jaka Tingkir tanpa meneliti sinar samar yang menyelimuti murid Kanjeng Sunan Kalijaga itu.


"Lembu Sekilan.. "ucapnya lirih mengulang kata dari ki Jara Murda.


Sementara itu, ki Jara Murda yang mampu berpikir untung ruginya, telah memutuskan untuk menghindar dari kademangan Mlanding. Oleh sebab itu, ia dengan tangkas melenting ke arah muridnya dan menyambar membawa Bagus Sagopa pergi.


Perginya ki Jara Murda dan Bagus Sagopa, merupakan pukulan berat bagi gerombolan Kalamuda. Karena orang tua dan muridnya itu salah satu kekuatan yang mendukung gerombolan dari hulu sungai Tuntang sekaligus sahabat dari ki Ploso Slangkrah. Hal itulah yang kemudian mengakibatkan sebagaian dari anak buah gerombolan Kalamuda menyerah.


"Bagus, bila kalian menyerah kami akan menjamin keselamatan kalian !" teriak Jaka Tingkir.

__ADS_1


Lain halnya dengan ki Ploso Slangkrah dan nyi Cempaka, kaburnya ki Jara Murda dan Bagus Sagopa membuat keduanya semakin menggila. Tandang keduanya bagai malaikat pencabut nyawa yang haus dengan nyawa lawan - lawannya.


Bila ki Sembada mampu mengimbangi nyi Cempaka, tak begitu dengan ki Demang Mlanding. Ki Demang Mlanding jauh tertinggal dari ilmu kakaknya, ki Ploso Slangkrah. Tubuhnya bertubi - tubi terkena hantaman dan tendangan yang sulit dielakan. Serta darah merembes dari mulutnya saat sebuah gamparan mengenai pipi kanannya.


Darah yang keluar dari mulut ki Demang itu membuat ki Ploso Slangkrah lebih bernafsu untuk segera mengakhiri hidup adiknya. Tangan kanan ki Ploso Slangkrah meraih keris di balik pinggang adiknya, dan mencabut dari warangkanya. Tajamnya keris nampak berkilat ketika sebuah cahaya obor mengenainya, dan sejenak kemudian keris itu mulai terayun menebas leher ki Demang Mlanding.


"Plaakkk... Dess.. !"


Tubuh kokoh itu terguling menghantam pagar pembatas halaman rumah penduduk. Tubuh itu berusaha bangkit seraya menahan rasa pedih menyengat pergelangan tangan yang sebelumnya memegang keris.


"Sadarkah kau, kisanak ?!" sebuah suara mengelora menghentak udara, "Betapa kejamnya kau ini. Bukankah ki Demang itu adik kandung, kisanak ?"


Ki Ploso Slangkrah terdiam. Entah sadar akan ucapan orang yang memapas tangannya dengan daun pedang, ataukah menahan rasa pedih di tangannya ?


Sementara ki Demang yang mengetahui siapa penolongnya, bernafas lega, "Terima kasih, anakmas Arya Dipa."


Arya Dipa sesaat menengok ke arah ki Demang dan mengangguk perlahan. Selanjutnya pemuda itu kembali menatap tajam kepada ki Ploso Slangkrah. Baru kali ini dirinya merasakan adanya kemarahan yang menyesak dalam hatinya, manakala melihat ki Ploso Slangkrah akan menebas leher adiknya sendiri.


"Kau hanyalah orang luar, anak muda !" seru ki Ploso Slangkrah, lanjutnya, "Ini urusan keluarga kami."


"Tidak !" kata Arya Dipa lantang, "Ini sudah menjadi urusan umum !"


Ki Slangkrah tertawa hambar demi menanggapi teriakan dari pemuda yang telah memukul pergelangan tangannya. Rasa pedih yang menyengat pergelangan tangan dan tubuhnya sudah mulai reda. Murid durhaka dari ki Kalaseta berdiri tegap dengan mendongak menatap langit di malam hari.


"Danureja, berapakah upah yang kau berikan kepada nya ?" tanya ki Ploso Slangkrah.


"Mustahil bila tiada uang yang kau berikan kepada orang - orang ini, sehingga mereka membelamu !"


"Kau keliru, kisanak. Tak semua orang seperti itu, yang berbuat keliru demi mendapatkan uang atau pun harta." Arya Dipa-lah yang menjawab.


Ki Ploso Slangkrah kembali tertawa, tawa yang sangat memuakan bagi pendengarnya. Habis tertawa tangan orang itu mencabut senjata di balik pinggangnya. Sebuah keris agak besar dengan warna hitam pekat, menandakan keris itu telah dilumuri warangan yang mematikan.


"Hiaat... !" teriak ki Ploso Slangkrah sambil menghunuskan keris ke dada lawan.


"Trang.. Trang.. Trang..!"


Tiga kali keris itu bergerak, tiga kali senjata Arya Dipa mampu menghadang pula. Maka percikan bola api timbul dari gesekan dua senjata berbeda jenis dan bahannya. Keris ki Ploso Slangkrah terbuat dari besi baja pilihan dari bumi. Sedangkan senjata tipis kyai Jatayu terbuat dari pecahan batu lintang langit yang ditempa oleh seorang empu, yang masih keponakan dari empu Supa.


Beradunya kedua senjata yang juga dilambari ilmu olah senjata, menimbulkan adanya tenaga dahsyat mengoyak udara dalam jangkauan kedua senjata. Selain itu desir angin yang ditimbulkan juga tak kalah dahsyatnya, dibandingkan dari senjata sesungguhnya.


Suatu kali keris ki Ploso Slangkrah melaju lurus mengarah dada lawan, tetapi saat lawan berusaha menebas tajamnya keris, ki Ploso Slangkrah dengan cepat menarik serangan seraya memutar tubuhnya. Niatnya yaitu menyasar pinggang samping lawannya.


"Tuuk.. !"


"He.. " kejut ki Ploso Slangkrah, karena kerisnya mengenai benda tajam di balik pakain lawannya.

__ADS_1


Saat itu memang nyata keris ki Ploso Slangkrah tepat mengenai pinggang Arya Dipa. Dan Arya Dipa sengaja tak menghindar dari serangan itu, karena ia yakin dengan kerasnya ikat pinggang kyai Anta Denta yang ia pakai.


Namun lawannya tak berhenti sampai di situ saja. Perasan penasaran dalam hati disertai kemarahan, membuat ki Ploso Slangkrah melakukan tindakan yang disebut licik. Tangan kiri dengan cepat merogoh sesuatu dari balik pakaiannya. Yaitu sebuah bumbung kecil dengan sumbatan kain merah. Selekasnya orang itu mencabut sumbat kain merah sekaligus menebarkan isi di dalam bumbung ke arah Arya Dipa.


"Byaaar..... !"


Serbuk pekat bertaburan ke muka Arya Dipa, sehingga pemuda itu menjadi bingung sesaat. Tepat bersamaan dengan bingungnya Arya Dipa, ki Ploso Slangkrah menendang keras tubuh lawan sebanyak dua kali. Maka tubuh pemuda itu terdorong lima tindak, walau tak sepenuhnya tubuh itu terjerembab.


"Mati kau, anak muda. Kau sudah menghirup serbuk Kalapati !!" seru ki Ploso Slangkrah.


"Oh.. "Kejut ki Demang dengan tegangnya, lalu kemudian ia mendekat seraya berkata, "Kakang ampuni jiwa anakmas Arya Dipa. Berikanlah penawar itu kepadanya. Aku akan melakukan apa pun yang kau pinta, walau itu nyawaku."


"Hahaha... Baik sekali hatimu Danureja, tepatnya hatimu terlalu lunak !" sahut ki Ploso Slangkrah sambil menuding dengan kerisnya.


"Semua sudah terlambat, karena kematiannya juga akan kau susul dengan kematianmu beserta orang - orang yang berpihak padamu !" kembali ki Ploso Slangkrah berseru.


"Ka.. Kakang.. !"


Sebuah tangan menyentuh pundak ki Demang Mlanding dan terdengar suara yang lembut, "Ki Demang tak usah mengkwatirkan diriku. Aku tak apa - apa, ki Demang."


Ki Demang tak percaya dengan kata - kata dari Arya Dipa. Oleh sebab itulah ki Demang memperhatikan tubub Arya Dipa, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang tak ada sesuatu yang menimbulkan rasa kawatir. Pada tubuh itu tiada timbul tanda - tanda keracunan akibat serbuk Kalapati dari perguruan Kalamuda.


"Bagaimana ini bisa terjadi, anakmas ?"


"Gusti Agung telah melimpahkan kekebalan racun dalam diriku, ki Demang." jawab Arya Dipa.


"Oh.. Syukur Ya Tuhan.. " desis ki Demang Mlanding.


Bila ada petir menghentak di malam itu, tak-kan mengagetkan ki Ploso Slangkrah sekaget ketika menyaksikan racun yang ia handalkan mampu dimentahkan lawannya, apalagi lawannya masih terlalu muda. Inilah pukulan yang menyakitkan hatinya. Seakan - akan wajahnya telah tersuruk ke dalam kotoran binatang peliharaan.


Semburat warna merah membias dalam wajahnya. Giginya bergemeretakan dibarengi tarikan nafas susul menyusul. Selekas itulah ia memusatkan segenap tenaganya dalam satu titik, di tangannya.


"Mohon ki Demang menyingkir." desis Arya Dipa, setelah mengetahui lawan sudah dalam tahap akhir dari sebuah pertarungan.


Ki Demang menurut saja demi memberikan kesempatan kepada Arya Dipa untuk menghadapi ilmu kakangnya, yang ia anggap sudah jauh dari jalur kebenaran. Ia sudah memasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta, dari akhir perseteruan antara ia dan kakangnya di malam ini.


Arya Dipa sudah melindungi dirinya dengan aji Niscala Praba dan juga menerapkan aji Sepi Angin untuk mengimbangi tenaga lawan. Karena tak mengetahui seberapa tinggi kekuatan lawan, Arya Dipa menerapkan ajinya sampai tingkatan mendebarkan.


Di depan ki Ploso Slangkrah juga menerapkan aji kebanggaannya yang mampu ia gunakan dalam pembunuhan kepada gurunya, ki Kalaseta. Sebuah aji bersumber dari api, yaitu aji Guntur Geni.


Tak dapat terelakan tenaga dahsyat dari keduanya bertemu di satu titik, yaitu saat kedua tangan dari orang berbeda menempel satu dengan lainnya. Bergemuruhlah tanah Mlanding sekali lagi. Udara panas menghentak ke segala arah dan mengakibatkan benda disekitarnya tumpah ruah tak karuan. Daun dan ranting meranggas luluh ke bumi. Tanah dan kerikil muncrat memenuhi sekitar titik pertemuan tenaga dahsyat. Begitu-pun dengan debu juga turut andil mewarnai keadaan yang membuat orang terbelalak dan menganga.


Angin malam-lah yang kemudian memberikan kesegaran pada saat itu. Yang mampu meluruhkan kembali debu seperti sediakala, sehingga samar - samar terlihat seorang yang masih berdiri kokoh memandang tubuh di depannya.


"Kakang.... !" dua teriakan berbeda sumber berlari ke arah tubuh yang tak berdaya.

__ADS_1


Sementara itu, ki Sembada membiarkan lawannya berlari ke arah tubuh itu berbaring lesu dan ia kemudian mengikuti dengan perlahan.


__ADS_2