BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
84


__ADS_3

ORANG bermata tajam yang masih mengawasi Sanjaya, terbuai oleh angan - angannya. Sudah terbayang akan hadiah yang dijanjikan oleh gurunya. Tanpa disadari orang yang harus ia awasi telah meninggalkan tempat tanpa ia ketahui.


"He, mana dia ?" orang itu berdiri kebingungan.


"Ki Werdi !" panggilnya kepada pemilik kedai.


Pemilik kedai bergegas mendekati orang bermata tajam, "Ada yang bisa saya bantu, anakmas Putut Pinuluh ?"


"Kemana ketiga orang yang berada di bangku tengah tadi ?!"


"O.. Ia sudah keluar mengarah jalan utama, anakmas."


"Hm.. " desuhnya sambil merogoh uang dan meletakan di meja. Lalu bergegas keluar seraya berkata, "Ambil kembaliannya.."


"Terima kasih, anakmas." ucap pemilik kedai sambil menatap kepergian orang bermata tajam.


Di luar kedai, orang bermata tajam atau Putut Pinuluh bergegas menaiki kuda dan melarikan kudanya bagai angin. Debu yang ditinggalkan membuat orang yang lalu lalang memaki walau hanya dalam hati. Kudanya terus ia larikan hingga akhirnya sampai di persimpangan jalan.


"Setan alas... !" umpat seseorang dengan kasarnya, "Matamu sudah lamur he, Pineluh ?!"


"Maaf, kakang Jenggala." ucap Putut Pineluh yang menarik kekang kudanya.


Hampir saja kuda yang ditunggangi oleh Putut Pineluh melanggar iringan kuda yang muncul dari arah kanan persimpangan, jikalau semua penunggangnya tak mampu mengendalikan kuda - kuda mereka.


"Mau kemana kau ?"


"Sanjaya meninggalkan kedai, kakang."


"He, kemana ?"

__ADS_1


"Entahlah, tapi kemungkinan terbesar ia menghindari padepokan kita."


Orang yang disebut Jenggala itu terlihat berpikir sejenak, lalu katanya, "Ayo kita kejar lewat jalan utama saja !"


Maka mereka segera melarikan kuda mereka ke jalan utama demi mengejar orang yang diinginkan oleh guru mereka. Dengan memacu kuda secepat - cepatnya, iringan itu akhirnya melihat titik - titik kuda di dapannya.


"Itu mereka !" seru Putut Jenggala.


Dan kuda mereka pun dapat menyusul dua kuda di depannya.


"Berhenti.. !" seru PututJenggala.


Kedua penunggang itu heran dengan teriakan dari belakang mereka. Walau begitu kedua penunggang kuda itu tetap memacu kudanya dengan pelan.


"He, berhenti... !" sekali lagi Putut Jenggala berteriak lebih keras dari sebelumnya.


"Kita ikuti permintaan mereka, Widura." desis penunggang kuda hitam legam.


"Selamat siang, kisanak semua. Adakah sesuatu yang barang kali bisa saya bantu ?" kata penunggang kuda hitam legam, ki Lurah Sempono.


"Oh.. " desuh Putut Pineluh, lalu melangkahkan kuda mendekati kuda Putut Jenggala, "Bukan mereka kakang."


Putut Jenggala menatap lekat - lekat mencari ketegasan dari adik seperguruannya, dan setelah yakin ia mulai berkata kepada ki Lurah Sempono dan Widura, "Oh.. Maafkan kami, kisanak. Kami salah orang, silahkan teruskan perjalanan kalian."


Hampir saja Widura akan berbicara andai tidak segera didahului oleh ki Lurah Sempono, "Baiklah, kisanak. Tak mengapa."


Maka iringan Putut Jenggala kembali membedal meninggalkan ki Lurah Sempono dan Widura, untuk kembali mengejar orang yang dituju.


"Ki Lurah membiarkan kelima orang padukuhan itu ?" gerutu Widura.

__ADS_1


"Sudahlah, sepertinya mereka juga berurusan dengan pemuda licik itu." desis ki Lurah Sempono, lalu lanjutnya, "Kita lihat apa yang akan terjadi."


Widura hanya menghela nafas. Sebenarnya ia sudah bosan mengikuti langkah pemuda yang menyimpan seribu rahasia itu. Widura merasakan lebih tenang jika berada di Purbaya ikut berperang melawan pasukan Demak saja daripada berurusan dengan pemuda itu. Tetapi semuanya sudah perintah dari kepala kesatuannya dan tak bisa diganggu gugat, kalau ia tak ingin kepalanya digantung.


Kemudian ia pun mengikuti perbuatan ki Lurah Sempono, yaitu memacu kudanya. Jalan - jalan yang awalnya lebar menjadi semakin kecil dan menciut sebatas satu gerobak saja. Di kanan kiri jalan sawah membentang dengan tanaman jagung di akhir musim penghujan.


Dan saat itulah terdengar adanya ribut - ribut di balik kelokan jalan.


"Berhenti.. " desis ki Lurah Sempono, "Sembunyikan kuda dan kita lihat apa yang sedang terjadi."


Widura dengan cekatan mengambil alih kuda ki Lurah Sempono dan segera membawanya memasuki lebatnya pohon jagung setinggi orang itu. Di sembunyikanlah kedua kuda di tengah pohon jagung, kemudian lekas kembali ke tempat dimana ki Lurah Sempono berada.


"Hati - hati dan jangan berbuat apa pun."


Widura mengangguk dan kemudian mengikuti langkah ki Lurah Sempono, yang sangat hati - hati menyibak lebatnya pohon jagung. Dan ternyata dari balik pohon jagung, mereka melihat orang - orang yang menghentikan tadi sedang berselisih paham dengan Sanjaya.


"Aku tak mempunyai waktu untuk mengunjungi gurumu, Jenggala." kata Sanjaya.


"Kau akan memutus hubungan yang akan disambungkan oleh guru, Sanjaya ?" Putut Jenggala bertanya dengan kerasnya.


"Huh, itu hanya sepihak saja. Dan belum tentu Sri Tanjung setuju."


"Kau.. " tapi suara Putut Jenggala belum selesai..


"Hahaha.. Bukankah kau juga menginginkan gadis putri gurumu itu, Jenggala ?" potong Sanjaya, "Aku rela jika kau akan menikahinya, dan sudi kiranya jika kau mau menjadikan jabang bayi dalam kandungannya itu layaknya anakmu sendiri."


Muka Jenggala memerah penuh kemarahan. Begitu halnya dengan Putut Pineluh dan kawan - kawannya.


"Serigala kau Sanjaya !" teriak Putut Jenggala.

__ADS_1


Sanjaya menoleh kepada Duaji dan Bango Banaran dengan senyum mengembang, "Kalian dengar bukan, mereka menyebutku serigala.. hahaha, keliru aku adalah naga perkasa... hahaha... "


__ADS_2