BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
91


__ADS_3

"Kau hampir saja berhasil mengelabuiku, kakang." seru Windujaya sambil melotot, sesaat setelah adanya suara benda yang jatuh ke bawah rumpun tanaman liar.


.


Ternyata saat Windujaya hampir mendekati rimbunnya tanaman liar, tak sengaja mata pemuda itu melihat adanya genangan air tertutup daun. Oleh karena Windujaya menendang batu sebesar kepala bayi itu. Tentunya tendangan itu dilambari ilmu cadangan.


.


Meskipun tipuan berujung gurauan itu terbongkar, Arya Dipa mencoba berkilah, "A..ku benar tidak tahu, adi. Dahulu, tempat ini banyak lumpur hisapnya."


.


"Tidak kakek tidak cucu, sama saja. Senang mempermainkan orang." gerutu Windujaya dan langsung berjalan meninggalkan tempat itu.


.


Arya Dipa tertawa lepas dan mengikuti langkah Windujaya dengan berlari kecil.


.


Sampailah keduanya di padukuhan paling ujung telatah tanah perdikan Anjuk Ladang. Di regol padukuhan terkesan sepi, padahal sang surya baru gemelincir dari titik tengah cakrawala. Bahkan rumah - rumah yang dilewati oleh keduanya, tiada yang membuka pintunya.


.


"Suasana perang terasa sampai di padukuhan ini, kakang." desis Windujaya.


.


"Sepertinya penghuni padukuhan ini mengungsi meninggalkan rumah mereka." sahut Arya Dipa.


.


Padukuhan itu benar - benar tak berpenghuni. Semenjak pasukan bang wetan yang dipimpin langsung oleh Panembahan Bhree Wiraraja, ki Bekel padukuhan itu menganjurkan kawulanya untuk sementara waktu menyingkir dari padukuhan Wilangan. Dan segenap kawula yang menganggap perang adalah hantu yang menakutkan, bergegas menyingkir ke rumah kerabatnya yang jauh dari garis medan perang atau menuju ke pusat tanah perdikan.


.


Harta berupa benda tak banyak terbawa, hanya pakaian sekedarnya dan ternak saja yang di bawa mengungsi. Bila mereka kembali dari pengungsian, mereka berharap rumah mereka tak mengalami kerusakan akibat perang. Entah itu dari pasukan yang kalah atau pasukan yang menang.


Padahal mereka tahu, semenjak dahulu pasukan yang kalah dari perang selalu bertindak semaunya sendiri. Tidak lagi menggunakan nalar, sehingga selalu melakukan penjarahan berupa harta dan benda. Bahkan bila melewati padukuhan yang ada wanita atau gadis, tindakan mereka lebih berbahaya, khususnya tindakan ini dilakukan oleh prajurit bekas begal atau perampok.


.


Langkah kaki pun tiba di jalan depan banjar padukuhan. Banjar dengan pelataran luas dan adanya sebatang pohon bramasta atau beringin, membuat suasana terasa segar. Pagar dari pelataran banjar itu berbeda dari banjar - banjar yang dilalui oleh Arya Dipa dan Windujaya. Tanaman beluntas semata yang dijadikan pagar hidup, sehingga semuanya terkesan alami.


.


Kemungkinan jikalau tiada perang di Purbaya, padukuhan ini lebih hidup dan semarak. Sayanglah perang terjadi dengan hebatnya di garis Purbaya dan Kurawan.


.


"Kau ingin istirahat lagi, adi ?" tanya Arya Dipa saat memperhatikan Windujaya terus melihat ke tengah pelataran banjar.


.


Tetapi gerakan kepala Windujaya mengisyaratkan penyanggahan, "Tidak, kakang. Langkah kaki kita baru puluhan tombak. Jika kita sering istirahat, rahasia di kali Brantas sudah didahului orang."


.


"Hm.. Baguslah kalau begitu. Kita teruskan perjalanan ini."

__ADS_1


.


Seiring dengan langkah kaki Windujaya dan Arya Dipa, sang surya yang seharian memberikan sinarnya dibelahan buana, kini tergantikan kegelapan menyelimuti langit. Untunglah Sang Pencipta memberikan kemurahanNYA berupa kerlip bintang gemintang. Cahaya kerlip itu mampu membantu menerangi jalan yang dilalui oleh Arya Dipa dan Windujaya, apalagi kedua pemuda itu dikaruniai mata setajam burung hantu di malam hari.


.


Kala itu keduanya menyusuri bulak ombo yang memisahkan padukuhan Wilangan dengan Sela. Semenjak keduanya memasuki bulak itu, mereka merasakan adanya seseorang yang selalu mengawasi dan mengikuti.


.


"Kau merasakan adanya keganjilan ini, adi ?" desis Arya Dipa.


.


"Iya, kakang. Mungkinkah mereka sebangsa begal dan kecu ?"


.


"Siapa pun mereka, sebaiknya kita selalu waspada." kata Arya Dipa, lirih.


.


"Wuuuss..... Claap.. "


.


Dua anak panah lepas dari busurnya, menyambar sangat deras dan cepat mengarah Arya Dipa dan Windujaya.


Dua anak panah lewat setipis rambut dari tubuh Windujaya dan Arya Dipa. Kesebatan keduanyalah yang mampu membuat anak panah lewat dan menancap di pohon randu.


.


.


Oleh karenanya Windujaya berseru, "He.. Kemarilah, kisanak. Janganlah bermain petak umpet !"


.


"Wuuuusss... Wuuuuusss.. Wuuusss.. Wuuusss... !"


.


Seruan Windujaya terbalas oleh luncuran empat batang anak panah dari balik gerumbul sisi utara. Ancaman penuh kematian itu bukan masalah bagi kedua pemuda pilih tanding yang berpengalaman dalam melakukan penghindaran. Selekas bunyi kesiur angin, gerak cepat meliuknya tubuh dapat melepas ancaman anak panah.


.


Dua kali serangan gelap tak mendapatkan mangsa, akhirnya para penyerang gelap menyibak gerumbul dan meloncat menerjang kedua pemuda. Empat orang memakai cadar dengan senjata dalam genggaman, mautlah tindakan pamungkas.


.


Dua orang bercadar bersenjata pedang dan trisula, menyergap Arya Dipa. Sisanya yang bersenjatakan sepasang pisau panjang dan rantai berbandul, mengancam Windujaya.


.


Dari senjata dan tata gerak dari penyerang, sudah menunjukan keahlian yang sangat mumpuni. Gerakan setiap langkah mereka mampu bekerja sama satu dengan lainnya. Sehingga setiap langkah Arya Dipa dan Windujaya selalu mendapat tekanan hebat dari orang - orang bercadar.


.


"Tata gerak mereka melebur menjadi satu. Seolah dua tubuh ini, diperintah oleh satu pikiran saja." batin Arya Dipa, yang masih menghindari serangan lawan.

__ADS_1


.


Sementara itu, Windujaya mengisar langkahnya ketika tajamnya pisau panjang hampir menusuk lambungnya. Tetapi berhasilnya ia menghindar, kesiur angin dari luncuran rantai besi, sudah mengancam punggungnya.


.


"Tring... !"


Panggraita Windujaya yang tajam telah menggerakan tangannya untuk mencabut keris panjang, pusakanya. Keris kyai Samber Geni menangkis luncuran rantai besi berbandul, dan membuat suara berdenting serta percikan bunga api.


.


Saat bersamaan apa yang dialami oleh Arya Dipa, juga membuat pemuda itu melepas pedang kyai Jatayu. Pedang tipis itu bergerak ringan membabat setiap serangan senjata lawan. Sehingga kedua lawannya tercengan dengan wujud senjata pemuda itu, yang sangat tipis tapi dapat menahan pedang dan trisula lawan.


.


Apalagi rasa kejut dirasakan oleh salah satu orang bercadar. Lengannya bagai disengat api dan pedangnya hampir lepas dari tangannya, manakala pedang kyai Jatayu menyabet dengan sisi daunnya.


.


"Setan tetekan... !" umpat orang bercadar bersenjatakan pedang.


.


Untunglah kawannya yang mengetahui adanya ancaman, segera membantunya dengan melancarkan tusukan trisula ke punggung Arya Dipa. Namun orang itu terkejut bukan main dan sempat terkilas sebuah kekaguman dalam benak orang itu.


.


Serangan di titik buta dapat dihindari Arya Dipa dengan melakukan gerakan indah. Tubuh pemuda itu melenting melewati tubuh orang bercadar bersenjata trisula, dengan badan memunggungi orang itu. Dan akibatnya, orang itu hampir mendapatkan sabetan di pundaknya, jikalau ia tidak bergegas menjatuhkan tubuhnya.


.


Mereka tak mengira atas kemampuan kedua orang itu. Biasanya, orang - orang yang dicurigai saat melewati bulak ombo antara padukuhan Wilangan dan Sela, mampu ditumbangkan dengan cepatnya. Terakhir korban mereka adalah Sepasang Ular dari Lembah Lawu, yaitu ki Sawer Gambuh dan nyi Wilatsih.


.


Sepasang Ular itu meskipun seorang ahli kanuragan yang menggemparkan, berkat kerjasama dari keempatnya, tumbang bersimbah darah.


.


"Siapa kalian ini, anak muda ?!" seru salah seorang bercadar.


.


"Bila kami menjawab, apakah kalian akan meminta maaf kepada kami ?" Windujayalah yang membalas.


.


"Tutup mulutmu, anak muda !" bentak orang bercadar bersenjata rantai besi berbandul, " di sini, kamilah yang berkuasa !"


"Hehehe.. Sepertinya kalian bukanlah sebangsa begal ataupun kecu. Apa sebenarnya maksud kalian ?"


.


"Banyak bicara kau, anak setan !" kembali orang bercadar bersenjata rantai besi berbandul membentak seraya menyabetkan senjatanya.


.


Sabetan penuh tenaga itu berhasil dihindari Windujaya. Tapi akibatnya sabetan yang masih berlanjut itu, menghantam tanah dan membuat tanah bermuncratan.

__ADS_1


__ADS_2