
Lewat setahun lamanya Arya Dipa berada di padepokan Karang Tumaritis. Keberadaannya di padepokan Telomoyo merupakan kebahagiaan tersendiri bagi para penghuni padepokan, khususnya bagi Panembahan Ismaya. Karena selain sebagai kawan berbincang, pemuda ini ikut membantu majunya padepokan Karang Tumaritis dalam berbagai bidang.
Selain itu, pemuda ini tak segan - segan memberikan sumbangsihnya dalam bidang keprajuritan bagi cantrik yang akan mengabdikan diri mereka ke kotaraja atau kadipaten asal mereka. Bekal dasar berupa pengalaman pertama dalam dunia keprajuritan sangat berguna bagi para cantrik tersebut. Juga kemantaban hati dalam meraih cita - cita selalu dipupuk tanpa menimbulkan celah yang merugikan bagi diri meraka, yaitu dengan menghindarkan sifat tamak terhadap palungguhan.
Cukup banyak cantrik padepokan Telomoyo yang memasuki pendadaran yang diselenggarakan oleh kesultanan Demak. Untunglah bekal yang mereka terima dari Arya Dipa yang dahulunya berpangkat Lurah prajurit, sangat membantu dalam melewati beberapa tahap pendadaran. Semuanya lulus dan diterima menjadi prajurit Demak tak terkecuali.
Sementara itu, di hutan yang dijadikan tempat berburu Kanjeng Sultan, telah terjadi peristiwa yang menggemparkan. Seorang pemuda yang berjuluk Kebodanu, marah besar dan akan mengobrak - abrik perkemahan di mana Kanjeng Sultan Trenggono berada.
Kebodanu ini rupanya seorang pemuda yang berasal dari tanah perdikan Banyubiru dan juga putra ki Ageng Gajah Sora. Juga dikenal dengan nama Arya Salaka atau Bagus Handoko. Dengan membawa tombak pusaka kyai Bancak, Kebodanu memimpin laskar Banyubiru yang terkenal trengginas serta berpengalaman dalam menghadapi berbagai perang gelar atau pun perang brubuh. Di dalam laskar itu juga hadir ki Mahesa Jenar atau ki Rangga Tohjaya, seorang bekas perwira Manggala Demak dan sekaligus guru Kebodanu.
Laskar begitu banyaknya itu tentu saja cepat tercium oleh hidung tajam prajurit telik sandi Demak. Maka bergegas mereka melaporkan pergerakan pasukan yang tak dikenal itu kepada perwira pengawal Kanjeng Sultan. Sehingga membuat pemimpin pengawal keprajuritan Demak gusar bukan main. Pasalnya, prajurit yang mengawal Kanjeng Sultan dalam perburuan tak lebih dari seratus orang saja.
"ki Lurah, ketiwasan..." seorang prajurit telik sandi, datang dengan napas tersengal - sengal.
"Bicaralah yang jelas dan terang, prajurit.."
"Ki Lurah, sebuah pasukan tanpa tanda pengenal sedang ke mari.."
"He... !" Lurah pengawal itu terkejut, "Sudah di mana pasukan itu ?"
Kemudian prajurit itu menunjukan ancar - ancar saat dirinya melihat iringan yang terlihat mengekor merayapi gumuk di barat dekat perkemahan. Terlihat perwira atasannya menunjukan wajah tegang, meskipun kemudian ia berusaha bersikap tenang dan berjalan menghadap senopati ki Panji Reksotani, untuk melaporkan adanya pasukan yang tidak dikenal.
"Siagakan paukan pengawal dan perintahkan prajurit berkuda untuk mencari bantuan terdekat." kata ki Panji Reksotani, setelah mendengar laporan dari perwiranya.
Keributan itu tak lepas dari pendengaran Kanjeng Sultan Demak. Betapa tenang sikap yang ditunjukan oleh putra ketiga Raden Patah itu. Menunjukan sikap sebagai seorang raja yang penuh wibawa tatkala mendengar kalau perkemahannya sedang dilanda prahara.
"Hm... Sudah waktunya, apakah ini sudah waktunya, eyang ?" ucap Sultan Trenggono.
"Sepertinya begitu, Cucunda Sultan." jawab seorang bangsawan tua yang duduk di samping Sultan Trenggono.
__ADS_1
Sultan Trenggono mengangguk perlahan. Diliarkan pandangannya ke segenap penjuru ruang perkemahan. Mata penuh wibawa itu menatap dua pemuda yang ia kenal lahir dan batinnya. Pemuda pertama seorang yang berkumis dengan mata mengandung keganasan, yang dimiliki oleh putra mendiang Pangeran Sekar sedo ing lepen. Sedangkan satunya lagi yang duduk dibelakang bangsawan tua, yang ia kenal sejak pertemuannya di alas Ketonggo.
"Dua pemuda yang mempunyai sifat bagaikan langit dan bumi." batin Sultan Trenggono, "Hm.. Mungkin bila aku tiada, Ananda Bagus Mukmin akan mendapat gangguan dari Ananda Arya Jipang. Meskipun saat ini ia tak berani menunjukan sikapnya secara terang - terangan terhadapku."
Kemudian renungan Sultan Trenggono tertuju kepada pemuda satunya. Harapan besar telah ia tujukan kepada pemuda yang duduk di belakang bangsawan tua. Seorang pemuda berbaju kuning kecoklatan yang pernah mendapat hukuman berupa larangan memasuki kotaraja Demak.
"Pengabdiannya sangat besar terhadap Demak. Waktu pendadaran ia mampu memimpin regunya dalam menumpas gerombolan di pesisir utara. Lalu ia juga pernah membuat pasukan di barat Jipang cerai berai, saat akan menyergapku. Juga terdengar kalau ia pernah menghadapi perwira Bang Wetan saat akan menyusup lewat Banyibiru." kata Kanjeng Sultan Trenggono.
"Meskipin sejak awal ia akan aku anugerahi berupa warisan peninggalan kakeknya, paman Tumenggung Mahesa Praba, ia menolak dan memilih menjadi prajurit dasar. Hm... Apakah ini didikan ki Panji Mahesa Anabrang atau Resi Puspanaga ?"
Lamunan Sultan Trenggono buyar manakala di luar sudah terdengar hiruk pikuk beradunya senjata. Rupanya pasukan yang dipimpin oleh Kebodanu sudah meluber memenuhi perkemahan dan menjadikan pertempuran yang seru. Meskipun pasukan pengawal terlihat terdesak, Sultan Trenggono belum memerintahkan orang - orang yang berada dalam ruang perkemahan, untuk bergerak.
Malam sebelum terjadinya penyerbuan, dua sosok bayangan dengan sebat melintasi semak belukar dan gerumbul perdu. Tiada yang mengira jika salah seorang dari sosok itu adalah Sultan Trenggono sendiri. Kanjeng Sultan yang ditemani oleh ki Panji Reksotani mencoba mengamati sebuah perkemahan yang didirikan oleh Laskar Banyubiru.
"Mohon maaf Kanjeng Sultan, mengapa kita biarkan orang - orang Banyubiru dan Pamingit itu ?'" sebuah suara mengajukan pertanyaan.
"Bersabarlah, ki Panji. Kita ke sini hanyalah mengamati saja." jawab sosok satunya.
"Lihatlah, ki Panji. Tohjaya sangat terampil dalam melakukan pembelajaran terhadap pengawal - pengawal Banyubiru."
Ki Panji Reksotani mengangguk, "Benar, Kanjeng Sultan. Walau begitu akankah bentrokan harus terjadi di esok hari ?"
"Ijinkanlah, hamba untuk bertindak." ki Panji Mencoba mendapatkan perintah untuk mengobrak - abrik perkemahan Laskar Banyubiru.
Kembali Sultan Trenggono menggelengkan kepalanya. Sebenarnya putra ketiga Raden Patah itu juga tak senang dengan tindakan yang dilakukan oleh Laskae Banyubiru yang dipimpin oleh Arya Salaka. Tetapi seseorang mencoba menenangkan hati Sultan Trenggono dan mengatakan kalau itu semua hanyalah sebuah permainan saja.
Dalam pada itu, dua sosok muncul mendekati Sultan Trenggono dan ki Panji Reksotani. Seorang yang lanjut usia dan seorang lagi masih muda. Kedua sosok itu mengucapkan salam dan mengangguk hormat.
"Oh, kau rupanya eyang." ucap Sultan Trenggono.
__ADS_1
Orang yang dipanggil eyang itu tersenyum, "Rupanya Cucunda memastikan dengan menilik secara langsung."
Lalu lanjutnya, "Malam ini tak akan terjadi apa - apa, Cucunda. Gajah Sora dan Tohjaya tentu akan selalu menjaga Arya Salaka sampai esok hari."
"Hm.. Eyang, lalu bagaimana nanti jika para Nayaka Praja di kotaraja jika mendengar apa yang terjadi di bukit Prawoto ? Bukankah mereka akan menudingkan telunjuk ke Banyubiru untuk digulung karena telah melakukan penyerangan terhadapku ?"
Orang tua yang ternyata Panembahan Ismaya itu, menggelengkan kepalanya.
"Cucunda pasti dapat menjelaskan dengan gamblang. Kalau itu semua hanyalah salah paham saja." kata Panembahan Ismaya, lalu lanjutnya, "Putra ki Ageng Banyubiru sedang gelap mata karena calon istrinya dilarikan seseorang yang berada dalam perkemahan Cucunda. Dan menganggap Cucunda berpihak kepada orang yang membawa kabur calon istri Arya Salaka."
"Hm... Kau dengar sendiri ki Panji Reksotani."
"Kasinggihan dawuh, Kanjeng Sultan." sahut ki Panji Reksotani.
"Tak mengapa. Dengan dirimu aku sangat percaya." kembali Sultan Trenggono berkata kepada ki Panji Reksotani, lalu dipandangi wajah seseorang yang berdiri dibelakang Panembahan Ismaya, dan katanya, "Kilatmaya.."
"Hamba, Kanjeng Sultan." sahut Kilatmaya atau Arya Dipa, sembari mengangguk hormat.
"Eyang Buntara dan Kanjeng Sunan Kalijaga sudah mengatakan semua tentang tugas yang kau emban. Meskipun kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten tak dapat kau dapatkan, tetapi kau sudah mendapatkan kyai Sangkelat dengan membenturkan jiwamu menghadapi tokoh kanuragan dari Bang Wetan." sejenak Sultan Trenggono menghirup napas dan kemudian lanjutnya, "Karenanya, kau mulai malam ini mulai bebas dari hukumanmu dan kau akan kembali mendapatkan palungguhanmu sebagai Lurah Wira Tamtama."
Getar hati pemuda itu bercampur aduk tak karuan. Akhirnya ia dapat kembali memasuki dunia keprajuritan dan dapat mengabdikan diri dekat dengan Demak.
"Hamba, Kanjeng Sultan."
"Dan untuk Eyang, aku harap mau mengikutiku ke perkemahan sampai kejadian ini tuntas sampai akhir."
"Apakah ini menjadi sebuah tanggungan yang aku pikul, Cucunda ?" tanya Raden Buntara dengan senyum mengembang.
Kanjeng Sultan-pun terlihat tersenyum, "Nasehat - nasehat dari Eyang-lah yang membuatku ingin menahan Eyang untuk tinggal sementara di bukit Prawoto."
__ADS_1
Ke-empat orang itu kemudian bergerak menuju perkemahan pasukan Demak tanpa sepengetahuan para pengawal prajurit.