
Tubuh ki Ageng Sungsang Bawono meluncur berupa putaran deras menghujam Panembahan Anom, yang menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Benturan hebat terjadi mengakibatkan tubuh Panembahan Anom terdorong beberapa tindak, sampai tanah yang dipijak ikut tergerus dalam. Sebaliknya dengan tubuh ki Ageng Sungsang Bawono, tubuh orang itu mencelat walaupun akhirnya dapat mendarat di atas bumi berpasir.
.
Tidak menunggu waktu berlalu, gerakan demi gerakan sudah kembali dilakukan oleh kedua orang tua itu. Di mana tangan Panembahan Anom yang dilambari tenaga besar menghantam lawannya. Tentu saja lawannya tidak tinggal diam, tangannya maju menahan gempuran dahsyat dari Panembahan Anom. Bisa dibayangkan pertemuan dua tenaga membuat udara menggelegak jadinya.
.
Tataran demi tataran mulai merambah ke tenaga cadangan. Orang - orang tua itu belum memercayakan adu kanuragan dengan menggunakan senjata. Karena bagi seorang yang tuntas dalam ilmu kanuragan, senjata yang paling ampuh ialah berupa anggota tubuh mereka disertai akal semata. Inilah yang menjadikan ki Ageng Sungsang Bawono dan Panembahan Anom lebih trengginas dan ngedab - ngedabi.
.
Serangkum angin tajam menyeruak manakala kain panjang ki Ageng Sungsang Bawono, dikebatkan. Sementara Panembahan Anom untuk mementahkan serangkum angin tersebut, berusaha memusatkan tenaga pukulan ditangannya. Sebuah penerapan aji Kumayan Jati menghamburkan angin dari kibasan pakaian ki Ageng Sungsang Bawono.
.
"Babo.. Babo... " desis ki Ageng Sungsang Bawono.
.
Orang ini tidak tinggal diam atas dimentahkan serangannya. Tiba - tiba tubuh berbadan tinggi tegap itu melenting ke belakang dan saat ujung kakinya menyentuh tanah, kembali tubuh itu melenting tinggi. Namun yang mengejutkan ialah saat tubuh itu di udara, bagai memecah diri menjadikan ki Ageng Sungsang Bawono menjadi dua.
.
"Kakang Pambareb Adi Wuragil... " desis Panembahan Anom, sembari menghindari salah satu gempuran dari tubuh ki Ageng Sungsang Bawono.
__ADS_1
.
Terpaksa tubuh Panembahan Anom menggelinding di tepian kali Brantas dan setelah yakin tiada ancaman, tubuh itu melenting berdiri kembali. Baru saja bernapas sesaat, dua serangan dari dua sisi kembali mencecar lebih hebat. Untunglah Panembahan Anom dapat menghindarinya meskipun agak kerepotan juga. Bagaimana tidak repot, dua sosok ki Ageng Sungsang Bawono yang memiliki persamaan kekuatan dan kemampun sangatlah menyita banyak tenaga.
.
"Kali ini aku tidak akan melepaskan dirimu lagi, Mapanji !" seru ki Ageng Sungsang Bawono.
.
"Kalau begitu, akulah yang akan mencobanya, ki Ageng." sahut Panembahan Anom.
.
Selepas dirinya berkata, Panembahan Anom meningkatkan ilmunya selapis lebih tinggi. Layaknya danau yang tenang, tiba - tiba riak kecil berubah dahsyat menggelegak membuat debur ombak membuncah segalanya. Dua tubuh ki Ageng Sungsang Bawono dihempaskan oleh tenaga hebat itu.
.
Terlihat sebuah rantai sepanjang dua depa merentang dari ujung satu ke ujung lainnya. Inilah senjata andalan dari ki Ageng Sungsang Bawono. Sangat jarang ia menggunakan senjata itu, jika keadaan benar - benar membuatnya marah.
.
Di depan, Panembahan Anom mendesuh perlahan. Ia menyadari kalau lawan mulai memuncak kemarahannya. Maka bagi dia pun harus siap dan karena tak ingin dirinya celaka, maka ia pun mengurai senjata dibalik pakaiannya. Kyai Samber Geni sebuah nama diperuntukan untuk pecut yang ia terima dari gurunya dahulu, ia tempelkan didahi dan ia lecutkan
.
__ADS_1
"Taarrrrrrr.... !"
.
Lecutan itu menimbulkan suara keras menghentak. Membuat semua orang tercuri perhatiannya dan mencoba melihatnya.
.
"He... Orang itu juga bercambuk !" seru sebagian orang.
.
Sementara Jati Anom sendiri, mencuatkan alisnya. Meskipun akhirnya ada perbedaan antara senjatanya dan senjata dalam genggaman Panembahan Anom. Bila senjatanya terbuat dari urat binatang dan panjang serta diujungnya ada rumbai besi, sedangkan milik Panembahan Anom hanyalan sepanjang tangan orang dewasa dan terbuat dari kulit kayu yang tumbuhan di luar pulau Jawa.
.
"Semakin menarik... " desis pemuda itu.
.
"He.. Lawanlah aku, jika kau tak ingin lepas kepalamu dari leher !" seru Raden Sajiwo terhadap Jati Anom.
.
"Hm... Baik, kisanak. " ucap Jati Pamungkas dan juga mengurai cambuknya.
__ADS_1
.
Seperti tindakan Panembahan Anom, Jati Pamungkas juga melecutkan cambuknya. Ledakan dahsyat memekakan telinga terulang kembali. Angin bagai menghambur saat cambuk itu dilecutkan.