
Sikap dari lawan - lawannya itu telah memantabkan hati ki Wijang Pawagal untuk mengungkap ilmu yang bersumber sama dengan lawannya, yaitu inti api dari aji Brajadaka. Selain itu, Sepi Angin melambari setiap gerakan kaki dan tubuhnya dalam mementahkan kecepatan lawannya. Tak ayal tindakan dari murid pertama ki Ageng Sekar Jagat sepuh itu membuat tiga anak buah gerombolan Ular Sendok kalang kabut.
Tak jauh dari kalangan ki Wijang Pawagal, telah berlangsung keseruan yang menggila. Ganter dan keempat kawannya berlomba - lomba menundukan lawan yang pernah mereka kalahkan. Namun kali ini kejadian seperti dahulu tidak lagi dengan mudah mereka ulang. Tata gerak Panca Margi Pralaya sudah mencapai tingkat empat tidak mampu menekan lawannya itu. Tentu saja hal itu membuat kelima orang itu gusar bukan kepalang. Apalagi jika menyadari betapa keempat kawan mereka yang melawan orang tua itu, kewalahan.
Keputusan terakhir yang diambil kemudian ialah mengikutsertakan senjata mereka untuk menundukan lawan yang hanya satu orang saja. Maka selanjutnya dari balik baju mereka tersembul rantai sepanjang dua jengkal berujung pisau kecil. Sungguh hebat juga kerjasama yang mereka tunjukan. Sebuah aba - aba telah menggerakan kelima orang itu menghujamkan pisau kecil diujung rantai.
Lima serangan dari lima penjuru memang hebat. Tetapi Panji Tohjaya dalam pusat sasaran cepat bertindak dalam menangani serangan bersama itu. Tubuhnya membal ke atas setelah kakinya menggenjot tanah. Selanjutnya tubuh itu mengapung tepat diatas kelima pisau kecil itu. Sungguh mengagumkan yang mana waktu bagai terhenti, dan itu semua terjadi dari penerapan aji Alang Alang Kumitir.
__ADS_1
Di waktu itulah tubuh Panji Tohjaya menggempur lawan - lawanya dengan hebatnya. Kelima lawannya terdorong sejengkal dengan keluhan tergambar dari bibir mereka. Meskipun begitu, kelima orang itu cepat meredakan rasa sakit pada tubuh mereka dan kembali berulah lebih dahsyat.
Kerepotan yang diderita oleh anak buah gerombalan Ular Sendok dari gunung Kendeng, memanaskan jantung Blego Trengganis. Lelaki berpakaian hijau tua dan bersenjata tongkat berkepala ular itu telah mengamuk melibas lelaki bertopeng. Kemarahannya ia luapkan kepada lawan yang sebelumnya tidak ia duga itu.
Tongkatnya berkelebat hebat menggemplang, menyodok dan menghujam dengan dahsyatnya. Ini membuktikan betapa trengginas dan ngedab - ngedabi tandang Blego Trengganis.
Untunglah orang bertopeng yang tak lain Arya Dipa adalah seorang pemuda pilih tanding. Berbekal ilmu Cakra Paksi Jatayu dan ikat pinggang kyai Anta Denta, pemuda ini mampu mengikuti gerakan lawannya. Dan apalagi sesudah mempelajari sebuah rontal dari Panembahan Anom, tandang Arya Dipa semakin hebat.
__ADS_1
Saat kaki sudah berdiri kokoh, tangan Blego Trengganis telah bergerak bagai kilat. Rupanya ia mengambil senjata rahasia dari balik pakaiannya dan menyaplokan ke arah Arya Dipa. Dan ini tidak diwaspadai oleh Arya Dipa yang mengendorkan aji Niscala Praba. Sehingga senjata rahasia itu mengenai pundak Arya Dipa.
"Uh..... " keluh Arya Dipa sembari meraba pundaknya.
Sebuah jarum menancap di pundaknya. Secepatnya ia mencabut jarum itu dan ia perhatikan. Ujung dari jarum itu berwarna kuning menandakan ketidakwajaran dari jarum itu. Kesimpulan yang ia dapat ialah kalau jarum itu beracun.
"Tamat riwayatmu, setan bertopeng !" seru Blego Trengganis penuh kemenangan.
__ADS_1
Seruan itu memancing rasa cemas ki Wijang Pawagal dan Panji Tohjaya. Keduanya merasa kurang cepat dalam menangani lawan masing - masing dan mengakibatkan sang penolongnya celaka.
Tubuh Arya Dipa agak membungkuk seperti orang kesakitan. Tetapi tidaklah seperti apa yang dicemaskan oleh ki Wijang Pawagal dan Panji Tohjaya, atau rasa bangga yang dirasakan oleh Blego Trengganis. Wajah di balik topeng tipis itu menyunggingkan senyum rasa bersyukur, karena ia mendapat karunia berupa tubuh yang kebal dengan racun setelah menghadapi ular naga Anta Denta di lereng Penanggungan.