
Setahun lamanya setelah kemelut di bukit Prawoto, suasana Demak terlihat tenang tiada pergolakan. Pasukan Demak yang berada di Purbaya berhasil mendesak pasukan Bang Wetan. Kini Purbaya untuk sementara dibawah kendali Pangeran Timur, putra bungsu Sultan Trenggono. Dalam pada itu, di Demak sendiri muncul warta yang mengatakan adanya rencana Kanjeng Sultan untuk menyatukan telatah Bang Wetan ke dalam naungan Demak Bintara. Namun, sebelumny rencana itu harus ditunda dahulu, dikarenakan adanya sesuatu yang mendesak dan sangat penting. Yaitu mengenai telatah Jipang dan Pengging.
"Kakang Patih, apakah Mas Karebet dan Arya Jipang sudah kau panggil ?" tanya Kanjeng Sultan Trenggono disuatu kali.
Patih Wanasalam anom menghaturkan sembah dan barulah menyahut, "Hamba, Kanjeng Sultan. Ananda berdua sudah tiba dan siap menghadap."
"Hm.. Suruh keduanya menghadap.. "
Patih Wanasalam Anom memberikan isyarat kepada prajurit dalem untuk memanggil Mas Karebet dan Arya Jipang. Dan tak berselang lama, dua lelaki muda dengan perawakan gagah, memasuki ruang paseban dengan laku ndodok. Keduanya menghaturkan sembah layaknya seorang abdi terhadap gustinya, dan duduk bersila dengan kepala menunduk menatap lantai.
"Ananda berdua.. " ucap Sultan Trenggono.
"Hamba, Pamanda Sultan.. " sahut Arya Jipang.
Sedangkan Mas Karebet juga tak ketinggalan, "Hamba, Ayahanda Sultan.. "
Kanjeng Sultan mengangguk dan menjelaskan kenapa beliau memanggil keduanya. Tiada lain pemanggilan keduanya mengenai berlangsungnya tata prajan di telatah Jipang maupun Pengging yang sudah lama kosong dari seorang penguasa. Maka untuk mengisi kekosongan itu, Sultan Trenggono yang sebelumnya sudah memperundingkan dengan sesepuh Kesultanan, menetapkan Arya Jipang sebagai Adipati baru di Jipang, dan juga menetapkan Mas Karebet menjadi Adipati di bekas telatah Pengging.
Kemurahan berupa pengangkatan kedua pemuda pilih tanding itu, membuat keduanya bergegas mengucapkan banyak terima kasih. Tetapi agak berbeda dengan apa yang ada dalam hati Arya Jipang. Putra mendiang Pangeran Sekar itu menganggap kalau pengangkatan dirinya sangatlah lumrah, dan terkesan ada niat dibalik semua itu. Terutama ini menyangkut hubungan dirinya dengan pamannya, yang ia yakini ikut melenyapkan ayahandanya.
Meskipun begitu, ia masih sadar siapa dirinya. Saat ini jalan yang paling baik ialah berlaku tenang tanpa menimbulkan gejolak, seperti yang dipesankan oleh Tumenggung Prabasemi atau-pun Tumenggung Haryo Kumara. Bahkan jika ia menerima pengangkatannya menjadi penguasa Jipang, ia akan lebih leluasa menggalang kekuatan sebanyak - banyaknya. Apalagi saat ini padepokan Sekar Jagat dibawah kepemimpinan Patih Mentahun, sepenuh tenaga mendukungnya. Juga beberapa perguruan disekitar Jipang.
Maka sudah ditetapkan oleh Kanjeng Sultan, secepatnya kedua pemuda itu dengan didampingi oleh seorang Panji per-orangnya, akan mempersiapkan segala bentuk alat pemerintahan sebuah kadipaten. Mulai dari bangunan kadipaten, Nayaka Praja, perbendaharaan, umbul - umbul berupa rontek maupun panji dengan lambang bercirikan kadipaten tersebut, serta kelengkapan prajurit. Tak ketinggalan kadipaten itu harus menetapkan pamong praja dibawahnya dengan baik.
Jika Jipang yang hanya melakukan perubahan sedikit, lain halnya dengan telatah bekas Pengging. Mas Karebet harus bekerja dengan keras untuk kembali meramaikan kadipaten yang akan dipimpinnya. Karenanya ia meminta bantuan uwaknya dan beberapa sesepuh, dalam membentuk kekuasaannya atas limpahan dari Demak. Dan atas pertimbangan dari uwanya ki Kebo Kanigoro, dicarilah sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari bekas kadipaten Pengging. Disanalah nantinya sebuah bangunan akan didirikan.
Di kala pembangunan mulai dilaksanakan, Mas Karebet tiada menyangka kalau kawan - kawannya banyak yang datang dan membantunya. Dari Sela sebuah iringan dipimpin oleh Pemanahan dan Penjawi datang dengan peralatan yang memadai. Lalu Banyubiru nampak hadir putra ki Ageng Gajah Sora, Arya Salaka disertai pengikutnya. Juga hadir dari Butuh dan Tingkir.
__ADS_1
"Terima kasih, kakang berdua sudi datang kemari.. " ucap Mas Karebet menyambut Pemanahan dan Penjawi.
"Hee, Adi. Bukankah kita bertiga sudah bersumpah dihadapan Kanjeng Sunan Kalijaga, kalau kita akan selalu bersama ?" kata Pemanahan, "Karenanya setelah kami mendengar kalau adi mendapar perintah membuka kembali telatah ini, kami bergegas kemari."
"Benar, adi. Itu semua karena persaudaraan yang kita jalin." tukas Penjawi, "O, ya. Kakang Juru Mertani menitipkan pesan kepadamu, Adi."
Mas Karebet baru menyadari kalau dari tadi ia tak melihat saudara seperguruannya yang tertua, "Apa dia tidak ikut bersama kakang berdua ?"
"Begitulah.. Saat ini ada sesuatu hal yang harus ia kerjakan. Tetapi tenanglah, suatu kali ia akan berkunjung kemari." jawab Penjawi.
Mas Karebet menggangguk. Ia pun juga menyambut sahabatnya yang lain. Ada ki Wuragil, Wila dan Mas Manca dari Butuh, yang pernah bersamanya saat menghadapi puluhan buaya putih. Semakin riuhlah suasana di tempat itu.
Di hari berikutnya, mulailah perkerjaan untuk meratakan tanah dari pohon, ilalang, semak belukar atau-pun batu. Sebagaian yang lain mendapat tugas ke Pengging untuk mengambil batu yang sudah dibentuk menjadi ompak. Rupanya sebelumnya, ki Kebo Kanigoro sudah memesan ompak kepada seorang pengrajin batu di Pengging. Lainnya lagi bertugas ke sebuah hutan yang ditumbuhi pohon jati yang berukuran besar - besar, untuk nantinya dijadikan tiang bangunan utama.
Pembagian tugas berjalan dengan baik. Pekerjaan di hari pertama berjalan lancar tiada suatu halangan. Sebagian kecil sudah didirikan barak sementara sebagai tempat bermalam serta tidak lupa sebuah dapur telah siap menjadi penopang para pekerja. Karena dari dapurlah sebuah tenaga sangat diperlukan oleh seorang manusia yang mengerjakan tugas sehari - hari.
Malam itu, seperti malam sebelumnya, dimana sesepuh merundingkan susunan praja dan juga sebuah tetenger kadipaten yang akan berjalan ini. Dari ki Kebo Kanigoro, sebaiknya nama Pengging diharap tidak dipakai lagi.
"Apa alasan kakang Kanigoro mengenyampingkan nama Pengging ?" ki Ageng Gajah Sora agak heran.
Sebelum menjelaskan, ki Kebo Kanigoro menggeser duduknya. Lalu ucapnya, "Adi Gajah Sora. Aku mengusulkan hal itu, supaya masa lalu antara Demak dan Pengging terlupakan. Aku tak ingin jika nantinya jika Anakmas Karebet menjadi Adipati, permasalahan antara ayahnya dan mendiang Sultan Patah, diungkit - ungkit kembali."
Para sesepuh mengangguk memahami maksud ki Kebo Kanigoro.
"Lalu, kita sebut apa telatah ini pada nantinya.. ?" kini giliran ki Ageng Butuh yang bersuara.
Suasana hening beberapa saat. Hingga suara binatang malam yang berada diluar terdengar nyaring. Suara cengkerik berderik - derik, seakan ingin mengusulkan sebuah nama. Tetapi kuasa Sang Illahi membuat kedua mahkluk ciptaan-NYA itu, tiada memahaminya.
__ADS_1
Suatu kali barulah sebuah suara dari pojokan terdengar meminta waktu untuk menyampaikan perkataan. Dan semua orang langsung tertuju ke arah suara tersebut.
"Oh, Anakmas Lurah Arya Dipa. Adakah sesuatu yang ingin anakmas usulkan ?" tanya ki Kebo Kanigoro.
Memang orang tadi ialah Lurah muda Tamtama dari Demak yang tiada lain ialah Lurah Arya Dipa. Tadi pagi ia baru datang mengiringi seorang Tumenggung Wreda atas perintah Sultan Trenggono dengan tugas menilik telatah yang akan dijadikan kadipaten oleh Mas Karebet. Sebelum sampai ditempat yang dituju, Lurah Arya Dipa berjumpa dengan Waliullah dari Kadilangu. Rupanya Waliullah tersebut menitipkan pesan kepada Lurah Arya Dipa, untuk disampaikan kepada para tetua yang sedang ikut membangun sebuah kadipaten.
"Paman Kanigoro, dan para sesepuh sekalian. Sewaktu tadi aku dalam perjalanan, aku bertemu dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau menitipkan pesan berupa nama telatah ini." ucap Lurah Arya Dipa.
Semua orang saling berpandangan satu dengan lainnya.
Selanjutnya Lurah Arya Dipa menuturkan pesan yang ia dapat dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Dimana beliau menyampaikan sebuah tetenger dari tempat yang akan menjadi sebuah kadipaten baru dibawah kekuasaan Demak. Telatah itu nantinya disebut kadipaten PAJANG.
"Pajang... " desis semua yang hadir.
"Begitulah, paman Kanigoro."
"Hm... Baik, tetenger itu aku rasa sangat bagus." ucap ki Kebo Kanigoro.
Mulai malam itu, telatah yang mereka buka sudah mendapatkan tetenger, Pajang. Semakin bergairahlah penghuni Pajang dalam menyongsong masa depan. Di mana hari berikutnya sebuah tatanan sudah diterapkan disertai bermacam bidang tata pemerintahan.
Dengan datangnya Lurah Arya Dipa, ikut hadir juga Tumenggung Wreda yang menyampaikan titah dari Sultan Trenggono. Bila saatnya nanti pengangkatan telah siap, Mas Karebet akan mendapat kekancingan Adipati dan sebuah gelar, "Hadiwijaya". Selain itu, Mas Karebet harus menyusun orang - orang yang akan menempati dampar nayaka praja dan keprajuritan.
Untunglah semuanya sudah tersusun tanpa adanya keributan dari setiap nama yang dicantumkan. Telah terpilih, Mas Manca sebagai patih kadipaten Pajang. Ki Pemanahan dan ki Penjawi mengisi bidang keprajuritan, sebagai panglima Tamtama di kadipaten Pajang. Selanjutnya ki Wuragil dan ki Wila diangkat sebagai Ngabehi abdi dalem. Wenang, Seorang pemuda yang masih cucu ki Ageng Butuh, dijadikan Senopati dibawah panglima Tamtama. Dan masih banyak lainnya, orang - orang yang berkemampuan mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya.
"Baiklah.. Tugasku sudah tuntas dalam menilik telatah Pajang ini." kata seorang Tumenggung Wreda, "Kalau begitu aku mohon pamit, anakmas."
Tumenggung Wreda yang dikawal oleh Lurah Arya Dipa-pun, meninggalkan Pajang. Apa yang dilihat di Pajang akan dilaporkan kehadapan Kanjeng Trenggono.
__ADS_1