BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
87


__ADS_3

Ada yang mengatakan kalau sabar ada batasnya. Begitulah yang dirasakan oleh ki Trunalaya pada saat itu. Walau putrinya saat ini tengah mengandung akibat ulah pemuda Sanjaya, ki Trunalaya masih bersikap lunak untuk memberikan maaf kepada pemuda itu.


Beberapa pekan yang lalu, saat Sanjaya singgah di padepokannya untuk ke-dua kalinya, ki Trunalaya dan segenap isi padepokan menyambut baik dan menganggap pemuda itu bagai keluarga sendiri. Hingga satu hari terjadilah peristiwa antara Sanjaya dan Sri Tanjung berhubungan badan layaknya suami istri.


Kejadian itu tentu mengejutkan seisi padepokan. Tetapi dengan bijaknya, ki Trunalaya mempertemukan ke-duanya untuk duduk bersama demi menggali lebih dalam, bagaimana hal itu terjadi. Setelah diteliti ternyata antara si pemuda dan si gadis melakukan itu karena suka satu dengan lainnya, oleh karenanya ki Trunalaya yang mengharapkan adanya tanggung jawab dari si pemuda.


Kala itu Sanjaya berjanji akan mengawini Sri Tanjung secara sah. Tetapi karena orang tuanya tinggal di Tumapel, maka Sanjaya minta waktu untuk kembali pulang dan memberitahukan kepada orang tuanya. Sekaligus meminta orang tuanya untuk melamar Sri Tanjung.


Kepergian Sanjaya dari padepokan sudah lewat dari waktu yang ditentukan. Resah melanda hati ki Trunalaya. Apalagi perut putrinya semakin hari bertambah besar bersamaan usia jabang bayi dalam kandungan.


Hingga suatu hari tersiar warta sepak terjang dari Sanjaya. Namun ki Trunalaya mencoba menyingkirkan dan menganggap warta itu tidak benar.


Dan hari inilah tanpa diduga pemuda yang ia harapkan muncul disekitar padepokannya. Awalnya saat melihat pemuda itu berseteru dengan murid tertuanya, ki Trunalaya menyesali perbuatan muridnya. Ini dikarenakan ki Trunalaya sebagai orang tua yang sudah kenyang manis asamnya kehidupan, melihat dan mengetahui kalau murid tertuanya juga mempunyai rasa yang sama terhadap putrinya. Sudah lumrah jika antara pemuda berkelahi memperebutkan cinta terhadap wanita, bila antara pemuda itu tak mampu mengekang amarahnya.


Tetapi semuanya bagai karang yang dihempaskan ombak samudera selatan. Di depan matanya sendiri si pemuda yang dahulu berjanji akan menjadi bapak dari calon cucunya, menolak dan ingkar dengan janjinya.


Orang tua mana yang tak akan marah bila gadis yang ia sayangi satu - satunya telah dipermainkan oleh lelaki tak bertanggungjawab ? Begitu juga yang dirasakan oleh ki Trunalaya. Darah sudah mulai bergolak bagai debur ombak dahsyat dipesisir laut. Luapan amarah membuncah tak terbendung siap melahap mayapada dan seisinya.


Ki Trunalaya seorang pemimpin padepokan Karang Tunggal mengamuk bak banteng ketaton. Kaki kokohnya melenting ke udara secepat angin. Di udara kedua kaki ditekuk dan kedua tangan mengembang siap meremukan tulang lawan.


"Breeeet..."


Sanjaya terhenyak mengetahui kesebatan ki Trunalaya. Dirinya terlambat menghindari serangan dan membuat pakaian di pundaknya sobek terkena terkaman ki Trunalaya. Selanjutnya pemuda itu bersikap lebih hati - hati.


Perkelahian semakin sengit diantara keduanya. Sergapan demi sergapan susul menyusul tiada henti. Tendangan dan pukulan ikut mewarnai jalannya perkelahian itu.


Di balik pohon jagung, ki Lurah Sempono dan Widura terus memperhatikan dengan cermat setiap tata gerak dari Sanjaya dan ki Trunalaya. Rasa kagum sempat terlintas dibenak keduanya terhadap pemuda yang sudah satu candra ini, mereka ikuti.


Sementara itu Putut Pineluh yang berdiri agak jauh dari saudara seperguruannya, terlihat gelisah seperti menunggu kedatangan seseorang. Tanpa diketahui oleh orang, ia menyelinap memasuki pohon jagung sisi lain dan terus memasuki lebih dalam.


"Kakang, kami disini.." sebuah suara menegur Putut Pineluh.


Seketika Putut Pineluh melengos ke arah suara. Di situ lebih dari sepuluh orang dengan pundak memanggul wadah panah dan busur.


"Bagus.. " kata Putut Pineluh, "Mangsa di jalan, hancurkan tanpa tersisa.."


Mereka dengan dipimpin oleh Putut Pineluh mendekati tepian pohon jagung yang berbatasan dengan jalan dimana perkelahian anatara ki Trunalaya dan Sanjaya terjadi.


"Serang... "


Belasan anak panah terlontar dari tali busur dengan cepatnya. Tentu saja itu mengagetkan semua orang yang berada di jalan. Empat murid ki Trunalaya yang berada di jalan tumbang dengan punggung tertancap tajamnya mata panah. Untunglah Putut Jenggala berhasil menghindari meskipun lengannya saja yang terkena.


Nasib tak baik dialami oleh ki Trunalaya, saat serangan anak panah terjadi, dirinya sedang menghindari pukulan Sanjaya. Sehingga orang tua itu gagal mengetahui adanya serangan panah. Hingga tubuhnya terkena dua anak panah dan menghempaskan tubuhnya ke tanah tanpa mengetahui apa yang terjadi.


"Guru...... !" teriak Putut Jenggala sambil menangkis serangan anak panah dengan menggunakan pedangnya.


"Seraaaang...... !"


Dari balik pohon jagung puluhan orang keluar dengan berbagai senjata. Hal itu mengejutkan berbagai pihak yang tak tahu adanya kekuatan tersembunyi.

__ADS_1


"Tinggalkan tempat ini... " seru Sanjaya dan bergegas berlari ke kudanya dan segera memacunya kencang - kencang.


"Biarkan mereka, yang paling penting tangkap kakang Putut Jenggala !" perintah Putut Pineluh.


Orang - orang yang berada dibawah perintah Putut Pineluh segera mengerjakan perintah menangkap Putut Jenggala yang terlihat memeluk tubuh ki Trunalaya. Dan mengangkat membawanya ke hadapan Putut Pineluh. Tetapi betapa marahnya Putut Pineluh kepada anak buahnya itu.


"He, buka mata kalian !" bentak Putut Pineluh, sambil menampar salah satu anak buahnya.


Ternyata orang yang disangka sebagai Putut Jenggala, bukanlah dia. Melainkan murid ki Trunalaya yang lain. Sedangkan Putut Jenggala diwaktu riuhnya penyerangan gelap tadi, berhasil meloloskan diri.


"Cepat cari dia !" teriak Putut Pineluh, lalu lanjutnya, "Dan ikat anak ini !"


"Baik, tuan."


Sehabis memberi perintah Putut Pineluh menaiki kudanya dan memacu ke sebuah tempat rahasia. Yaitu sebuah gua buatan dan disamarkan dengan tetumbuhan merambat dimulut gua. Sampai di mulut gua, ia disambut oleh seorang lelaki lebih tua setingkat darinya.


"Kerja bagus, Putut Pineluh. Raden Sanjaya menunggumu." ucap lelaki itu.


"Terima kasih, kakang." kata Putut Pineluh, sesudah turun dari kudanya.


Keduanya lantas memasuki gua buatan tersebut. Mereka menyusuri gua melalui lorong kecil seukuran dua kali tubuh manusia dewasa, dengan pelita menempel didinding sebagai penerangan. Semakin ke dalam, ruangan dalam gua cukup lebar dan luas. Dan seperti yang dikatakan oleh lelaki yang menyambut Putut Pineluh, di dalam dua orang sudah menunggunya.


"Kau bekerja dengan baik, Pineluh. Tidak percuma aku memberi kepercayaan kepadamu." kata salah seorang yang duduk.


Putut Pineluh mengangguk hormat kepada orang itu, dan barulah ia menjawab, "Ini semua karena kemurahan dan petunjuk dari Raden Sanjaya. Yang memberikan jalan kepada hamba untuk memimpin padepokan Karang Tunggal sekaligus mendapat garwà triman."


"Hm, lalu sudahkah kau membunuh Jenggala dan saudara seperguruanmu yang ikut pengejaran tadi ?"


"Braaak...!"


Orang yang dipanggil Raden itu menggebrak bangku di depannya. Wajahnya memerah menandakan kalau ia tak senang dengan kesalahan yang dibuat oleh Putut Pineluh dan orang - orangnya.


"Ampuni, hamba Raden. Hamba siap dihukum... " pinta Putut Pineluh sambil menelungkup ke tanah meminta ampun.


Seorang yang berdiri menyandar tembok terdengar mendesuh sambil membatin, "Hm... Tak ku sangka, anak muda ini memiliki kekuatan bayangan. Siapa sebenarnya pemuda ini ?"


"Beruntung kau Pineluh, aku mengampunimu untuk saat ini, karena aku masih ada kepentingan lain yang jauh penting dari masalah di telatah ini." nada suara orang itu masih menunjukan kemarahannya, dan lanjutnya, "Namun saat aku kembali, Jenggala harus tewas."


"Baik, Raden. Hamba akan mencari dan menyerahkan kepalanya."


"Hm.. Kalau begitu aku akan pergi. Semua yang disini aku titipkan kepadamu."


Dan orang itu memberi isyarat kepada kedua orang kawannya beranjak pergi dari gua itu. Tidak lewat jalan yang tadi dilewati oleh Putut Pineluh, melainkan lewat sebuah pintu rahasia di sisi lain.


Di waktu bersamaan seorang pemuda dengan luka akibat anak panah, berhasil lolos dari sergapan orang - orang Putut Pineluh. Pemuda itu ialah Putut Jenggala. Sewaktu tadi masih riuh adanya serangan gelap, pemuda itu diyakinkan oleh Saudara seperguruannya untuk lolos dari tempat itu.


"Pergilah, kakang. Guru sudah tak bernyawa lagi." pinta saudara seperguruan Putut Jenggala.


"Aku tidak bisa membiarkan pembunuh itu tertawa atas kemenangan mereka."

__ADS_1


"Cepatlah, kakang. Jika kau ingin balas dendam, kau harus tetap hidup. Dan juga kakang jangan lupa dengan nini Sri Tanjung."


Demi disebutnya nama Sri Tanjung, kesadaran membuka mata dan hati pemuda itu. Kini dialah yang harus menjaga putri gurunya.


"Tetapi, kau sendiri... " Putut Jenggala mengawatirkan saudaranya.


"Sudahlah, kakang. Aku akan mencoba menahan mereka mereka."


Dan begitulah yang terjadi, Putut Jenggala mau meninggalkan saudara - saudara dan mayat gurunya, tiada lain ingin memberikan perlindungan bagi putri gurunya, Sri Tanjung. Walau tangannya terluka, ia kuatkan untuk menerobos lebatnya pohon jagung. Dan pemuda itu memiliki keberuntungan lagi, yaitu tanpa sengaja ia melihat dua kuda tertambat di balik semak - semak. Tanpa pikir panjang, ia lepas ikatan tali kekang kuda dan ia gunakan kuda itu ke padepokan.


Mendekati padepokan kuda, Putut Jenggala tak langsung masuk lewat regol utama. Melainkan ia memutar dan lewat pintu butulan. Kemudian mencari bangunan dimana putri gurunya berada.


Dengan langkah hati - hati Putut Jenggala memasuki bangunan itu. Saat membuka pintu seorang wanita dalam perut membesar, kaget dan hampir menjerit kalau tidak segera menyekap mulutnya oleh Putut Jenggala menggunakan tangannya.


"Emh.. Emh.. Emh.. " wanita itu mencoba meronta, tetapi tangan kokoh Putut Jenggala terlalu kuat ia lawan.


"Nini, ini aku Jenggala." bisik Putut Jenggala.


Dirasa tak ada lagi perlawanan dan wanita itu sudah tenang, maka Putut Jenggala melepas sekapan pada mulut wanita itu. Wanita itu heran sekaligus tak menyangka atas perbuatan yang dilakukan oleh murid tertua ayahnya. Apalagi terlihat darah merembes dari balik pakaian Putut Jenggala.


"Jangan salah paham dahulu, nini. Ini semua aku lakukan karena situasi sangat gawat." Putut Jenggala mendahului berkata manakala wanita muda itu akan bersuara.


"A.. apa yang kakang katakan ini ?"


Kemudian Putut itu menceritakan keadaan yang terjadi di luar padepokan, meskipun tak sepenuhnya ia katakan. Seperti tewasnya ki Trunalaya.


"Sebaiknya kita menyingkir dahulu dari padepokan. Ayah nini saat ini menunggu di suatu tempat. Bawalah pakaian seperlunya saja." kata Putut Jenggala setelah usai menerangkan apa yang terjadi.


Untunglah Sri Tanjung menerima alasan yang dituturkan oleh murid tertua ayahnya. Ia kemudian merapikan barang atau pun pakaian ia bawa, tentunya yang perlu - perlu saja. Setelah semuanya sudah, Putut Jenggala membimbing Sri Tanjung keluar dari bangunan dan padepokan melalui pintu butulan kembali.


Tidak berselang lama setelah kepergian dari Putut Jenggala dan Sri Tanjung, dari jalan mendekati regol padepokan terdengar derap kaki kuda lebih dari sepuluh ekor.


"Buka regol... !" seru salah seorang penunggang kuda.


Teriakan itu tak perlu diulang. Penjaga regol bergegas membuka pintu regol dan membiarkan semua penunggang kuda memasuki halaman padepokan. Pemimpinnya bergegas turun dari kuda dan menyerahkan tali kuda kepada cantrik padepokan. Selanjutnya ia berlari menaiki tlundak dan terus memasuki ruang dalam bangunan tersebut.


Tak berselang lama, orang itu keluar lagi. Wajahnya memerah dan membentak penjaga padepokan dengan kerasnya.


"Apa tugasmu hanya tidur saja, he !"


Orang itu kebingungan dengan sikap dari pemimpin penunggang kuda, "A.. ada apa, kakang Pineluh ?"


"Kau masih berani bertanya, Waju ? Sri Tanjung tak ada ditempatnya. Apa yang akan kau katakan, he ?!"


"Ta.. tapi tak ada orang yang memasuki bangunan ini, kakang."


"Bandu..!" seru Putut Pineluh, "Ikat Waju dan cambuk ia seratus kali.. !"


"Oh.. Ampun, kakang..."

__ADS_1


Sia - sia saja bagi Waju, dua orang telah menangkapnya dan membawanya ke ruang lain untuk mendapatkan hukuman cambuk. Sementara Putut Pineluh memerintahkan orang - orangnya untuk mencari jejak kepergian Sri Tanjung.


"Hm.. Tak salah lagi, ini tindakan kakang Jenggala." desisnya.


__ADS_2