
Bunyi denting beradunya senjata terdengar begitu cepat. Tanah lapang yang ditumbuhi rumput pendek setinggi kurang dari mata kaki itu, berubah hiruk pikuk karena adanya lima orang mengeroyok seorang lelaki. Sehingga menjadikan lelaki itu harus berhati - hati dalam menentukan sikap tata geraknya, untuk menghalau datangnya serangan.
Dua pedang dari dua orang pengeroyok melaju kencang dari dua sisi berbeda. Ditambah lagi seorang pengeroyok yang bersenjatakan nanggala, sudah menanti dibelakang lawannya. Sementara dua pengeroyok tersisa berdiri dua - tiga langkah sambil mengayun - ayunkan senjata mereka.
Menyikapi tindakan yang dilakukan oleh para pengeroyoknya, lelaki tersebut tidaklah menunjukan rasa jerih barang sedikit. Malah, tombak pendeknya semakin tergenggam erat ditangan kanannya dan bergerak dahsyat tak terduga. Yaitu, menangkis serangan pertama pedang sisi kanan, lalu sambil menggeser kakinya, tangan kirinya menyentuh pergelangan tangan lawan satunya yang mengakibatkan pedang orang itu terlepas. Lalu barulah menghadapi seseorang bersenjatakan nanggala dibelakangnya, berupa loncatan kecil sambil menghentakan tebasan keras ke arah lawan.
Sungguh mengagumkan orang itu. Hentakan tadi dapat mencelatkan nanggala dari pemiliknya. Juga disusul tendangan keras ke dada lawan, hingga lawannya terjungkal keras menubruk pohon.
"Kurang ajar.... !!!" geram kawan orang yang jatuh terkapar, seraya meloncat menebaskan kampaknya.
Kampak ditangan orang berbadan tinggi besar layaknya raksasa, menderu tajam membelah udara. Karenanya lawannya harus bersikap lebih berhati - hati dalam menghadapinya. Belum lagi, masih ada tiga kawannya yang sepertinya akan ikut menyerang.
Sebenarnya siapa mereka ini yang saling berkelahi di tanah lapang ?
Beginilah awalnya. Setelah ki Panji Tohjaya meninggalkan banjar padukuhan, ia memacu kudanya ke arah utara. Kira - kira sepuluh tombak, kudanya dibelokan menuruti tikungan ke kiri. Dan terlihatlah ujung regol padukuhan, menandakan jalan keluar dari padukuhan yang kemudian tergantikan hamparan sawah.
Jalan yang sepi memancing ki Panji Tohjaya untuk memacu kuda lebih cepat dari sebelumnya. Lari kudanya begitu pesat meninggalkan debu dibelakangnya. Dan puluhan tombak dilalui dan kini tiba ditanah lapang.
Saat itulah dari sisi berbeda muncul orang - orang yang mengumbar derai tawa. Hal itu membuat ki Panji Tohjaya mengerutkan keningnya labih dalam. Karena tak mengerti sebab dari orang - orang itu tertawa kencang. Namun, kewaspadaan seketika menggelayuti hatinya, demi adanya perasaan yang tidak baik melintas dibenaknya.
"Hoho.. Ini dia penghianat Jipang !" seru orang berbadan tinggi besar, dipinggangnya terselip kampak.
__ADS_1
"Benar, kakang. Kepalanya lumayan digantikan puluhan kepeng." sahut kawannya.
Di atas kuda, ki Panji Tohjaya menghela napas. Sedikit banyak dirinya tahu kalau yang dihadapinya adalah orang - orang upahan seseorang yang menginginkan dirinya lenyap dari percaturan pemerintahan Jipang Panolan. Meskipun dirinya sendiri sangat jarang berada di pura Jipang. Namun, dihadapannya maut mengancam dirinya, sehingga mau tidak mau kekerasan sepertinya tidak dapat dielakan lagi. Dan selanjutnya terjadilah perkelahian di tanah lapang antara ki Panji Tohjaya dan lima orang penghadang.
Dan saat ini kampak seorang yang sepertinya adalah pemimpin kelompok penghadang, menebas kepala ki Panji Tohjaya dengan sebatnya. Tetapi si-empunya kepala tak mau membiarkan lepas dari batang leher, maka berusaha menghindar ke belakang, akan tetapi si pemimpin penghadang tidak membiarkan mangsanya lepas dengan mudah. Pemimpin penghadang langsung membelokan kampaknya mengarah pundak lawan.
"Triiing.....!"
Mata tombak ki Panji Tohjaya masih mampu menahan laju daripada kampak lawan, serta sedikit perubahan gerak dari tombak yang awalnya untuk bertahan, berubah haluan menyerang berupa tusukan langsung.
"Haiit... !" desis pemimpin penghadang yang hampir saja bahunya tertusuk mata tombak.
Terancamnya pemimpin penghadang, membuat anak buahnya ikut membantu lagi. Dua pengguna pedang ditambah seorang yang memakai rantai berbandul sebagai senjata andalannya. Ketiganya sepertinya akan bekerja sama satu dengan lainnya. Itu terbukti saat tata gerak ketiganya sangat serasi dan condong dapat menutupi kelemahan kawannya.
Orang berjuluk Gento hanya mengangguk tanpa berpaling. Dia dan kawannya terus mengintari lawannya sambil memutar rantai berujung bandul bola berduri. Dan dibarengi teriakan keras, ketiganya mulai bergerak secara bersamaan, yaitu menyerang lawannya.
Sungguh mengejutkan tindakan dari Gento dan kedua kawannya. Serangan serentak dari sudut dan sasaran berbeda, juga cepat dan mematikan, akan membuat lawan bingung dan kalut tentunya. Tetapi betapa bingungnya ketiga orang itu yang mendapati lawannya sirna tak tampak sama sekali.
Sementara pemimpin penghadang terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Orang yang ia kira akan ***** tubuhnya, tiba - tiba lenyap tak terbekas sama sekali. Sadarlah ia mengenai seorang yang ia incar selama ini adalah salah seorang murid dari padepokan Sekar Jagat di gunung Lawu, adik seperguruan Patih Mentahun.
Rupanya ki Panji Tohjaya telah mengungkap ilmu yang ia pelajari dari paman gurunya ki Wijang Pawagal, yaitu Alang - Alang Kumitir. Itu baru sekelumit ilmu yang bersumber di padepokan Sekar Jagat dan hanya tiga - empat orang saja yang mampu menerapkan, dan salah satunya ki Panji Tohjaya. Karenanya, tak dapat dipungkiri jika para penghadang yang memiliki ilmu kanuragan sebatas kekuatan kewadagan, gampang terperdaya.
__ADS_1
Tubuh ki Panji Tohjaya sehabis terelakan oleh serangan Gento dan kedua kawannya, tahu - tahu sudah di belakang pemimpin penghadang seraya melekatkan mata tombak kyai Giri di tengkuk orang itu. Tentu saja tindakan ki Panji membuat tubuh pemimpin penghadang bergemetaran, terkejut bercampur rasa jerih.
"A.. ampuni aku, tu.. tuan.. " pemimpin penghadang itu merengek minta ampunan, sementara anak buahnya bingung.
"Sangat mudah aku mengampunimu, kisanak." sahut ki Panji Tohjaya, "Asal saja kau mau berbicara mengenai orang yang mengupahmu."
Mulut pemimpin penghadang itu kelu. Sebenarnya sangat mudah dalam menyebutkan orang yang menyuruhnya. Tetapi, dahulu waktu ia menerima perintah, ia sudah berjanji tak akan angkat bicara walau nyawanya melayang. Namun, keadaan yang ia hadapi saat ini juga akan mengancam nyawanya, jika ia terus berdiam. Akibatnya peluh mulai menyeruak membasahi wajah dan tubuhnya, apalagi mata tombak semakin menyakitkan di tengkuknya.
"Ah.. Sepertinya kesetiaanmu terbayarkan oleh nyawa dalah wadagmu, Kisanak." desis ki Panji Tohjaya, disertai menekan tengkuk lawan menggunakan tombak pendeknya.
"Ba.. Baik, tuan. Aku akan angkat bicara.. " suara pemimpin penghadang agak gemetar.
"Jangan, kakang !" seru Gento.
Seruan Gento tak digubris oleh pemimpinnya. Bibir orang itu sebentar lagi mulai bergerak, namun sesuatu yang mendebarkan telah terjadi. Suara jerit kesakitan menggema membelah udara tanah lapang. Suara yang berasal dari mulut pemimpin penghadang itulah gema tadi, juga adanya pisau belati menancap di keningnya dan membuat orang itu jatuh tertelungkup.
Kejadian itu membuat ki Panji Tohjaya kaget, namun belum selesai rasa kagetnya, teriakan demi teriakan terulang susul - menyusul. Tiga tubuh para penghadang rubuh dengan luka sama antara yang satu dan lainnya, yaitu semuanya terluka di kening akibat lemparan pisau belati.
"Pengecut.... !" teriak ki Panji Tohjaya, sembari mengeliarkan pandangannya menyapu seluruh tempat. Namun tak ada balasan.
Walau masih tidak ada pergerakan yang mencurigakan, ki Panji Tohjaya tetap waspada. Tombak pendek Kyai Giri pemberian ki Wijang Pawagal semakin erat tergenggam menyilang di depan dada. Matanya setajam raja rimba terus mengamati pohon ataupun semak belukar dekat tanah lapang, yang berjarak agak jauh. Ditunggu - tunggu, masih tiada sesuatu yang mencurigakan.
__ADS_1
"Siapa gerangan penyerang gelap tadi ?" batin ki Panji Tohjaya.