
Untuk memberikan penjelasan kepada Arya Dipa yang masih bingung dengan keadaan Mas Karebet, maka putra ki Ageng Pengging anom menuturkan bagaimana dirinya diusir oleh Kanjeng Sultan Demak. Kebenaran dari cerita itu ialah adanya seseorang yang memergoki dirinya sedang bermesra - mesraan dengan gusti Putri Cempaka, di taman Kaputren.
"Sebenarnya Kanjeng Sultan tak melarang hubungan kami itu, karena diantara kami terjalin hubungan cinta yang tulus dan murni. Tetapi adanya seorang ketigalah, maka Kanjeng Sultan telah menjatuhkan titah supaya aku keluar dari kotaraja." Kata Mas Karebet.
"Namun untuk menutupi kesalahanku dalam mempermalukan kaputren, Kanjeng Sultan menyebarkan kalau aku telah membunuh seorang prajurit dalam pendadaran." Sambung Mas Karebet.
Arya Dipa mengangguk, "Kita berdua sama adi, aku pun kini dalam pengasingan juga. Namun selain itu aku juga mendapat tugas dari Sang Nata."
"He.. Betulkah itu kakang ? Apa yang menyebabkan kakang bisa seperti itu ?" tanya Mas Karebet.
"Ini semua karena kurang cermatnya diriku, adi. Ada seseorang yang mengelabui diriku untuk melakukan rencana besar dalam menyangkut dua pusaka Demak dan Banyubiru oleh bangsawan bang wetan."
Semua orang di bangunan itu terkejut, kecuali Panembahan Ismaya. Di sebutnya dua pusaka Demak yang tentu itu kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten telah dikaitkan dengan Banyubiru oleh bang wetan, bagi Mas Karebet dan ki Kebo Kanigara terlalu mengejutkan kedua orang itu. Sedangkan bagi Panembahan Ismaya hal itu ia anggap sesuatu hal yang lumrah saja.
"Dan aku pun masuk dalam perengkap mereka, termasuk paman Gajah Sora. Karena tujuan sebenarnya ialah menguasai tanah perdikan itu untuk pijakan selanjutnya dari Purbaya."
"Lalu Kanjeng Sultan menghukum, anakmas ?"
"Begitulah, paman Kanigara. Tetapi aku boleh kembali ke Demak, asalkan mampu membawa kembali kedua pusaka itu." kata Arya Dipa.
Kata terakhir tadi membuat Panembahan Ismaya sedih, "Anakmas, sungguh sulit dan tak mungkin anakmas dapat menemukan kedua keris itu."
"Oh.. Mohon eyang Panembahan memberikan penjelasan mengapa hal itu sulit, eyang ?"
Orang tua yang menyepi di bukit Karang Tumaritis itu menghela nafas. Mata yang tajam memandang seolah mampu menembus tebalnya dinding kayu bangunan itu. Sekejap kemudian ia menghela nafas kembali dan menatap Arya Dipa.
"Bukan jodohmu, anakmas. Kedua pusaka itu sulit bersatu kembali jika salah satu dapat kau bawa menghadap ke Kanjeng Sultan."
Arya Dipa tak membantah lagi untuk sekedar menanyakan kenapa hal itu bisa terjadi. Kepala anak muda itu terlihay tiada dapat tersangga, sehingga kepala itu menunduk lesu dengan mata terpejam.
Saat itulah tiba - tiba dirinya terasa terbang ke dalam alam yang sangat jauh. Dan terhempas di sebuah padang yang ditumbuhi oleh beragam bunga dengan aroma semerbak menyegarkan hidung. Samar - samar seberkas cahaya putih cemerlang memudarkan asap putih, dan munculah seorang berjubah dengan rambut tergelung ke atas. Wajahnya terlihat putih bersih memancarkan wibawa nan agung.
"Eyang Resi... " desia Arya Dipa.
"Hm.. Angger, cucuku. Mengapa wajahmu bermuram durja ? Adakah kesusahan melanda sanubarimu ?" tanya orang tua itu dengan senyum mengembang.
Arya Dipa menunduk hormat dan bersimpuh di depan kaki orang tua itu. Dengan kata yang halus ia tumpahkan segala beban yang ia rasa menyesakan dadanya.
"Eyang Resi, mohon beribu ampunan atas ketidak becusan, cucu dalam melaksanakan tugas yang eyang berikan kepada cucu ini."
"Hohoho.. Teruskan."
__ADS_1
"Cucu sekarang jauh dari lingkup Kanjeng Sultan, sehingga akan sulit dalam memberikan tenaga dan secuil ilmu cucu dalam melakukan pengabdian ini, Eyang Resi."
Orang tua itu tersenyum dan menepuk pundak anak muda di hadapannya, ujarnya dengan sareh, "Angger, cah bagus. Trenggono seorang nata praja yang mendapat wahyu keprabon yang sah dari Gusti Agung. Di jaman inilah Demak akan jaya dan termasyur sampai beberapa tahun ke depan. Walau bagitu, memang duri - duri kecil akan terus tumbuh membuat rasa pedih dalam tubuh di istana."
Sejenak orang tua itu terdiam demi melihat kesan yang timbul di raut wajah anak muda yang ia banggakan itu. Lalu lanjutnya, "Aku berharap kepadamu untuk tak putus asa dalam mewujudkan pengabdianmu kepada tanah pertiwi ini. Tak usah kau kau berlarut dalam kesedihan, angger. Walaupun kau tak berjodoh dengan kedua pusaka itu, tetapi kau akan tetap dekat dengan Kanjeng Sultan. Sebuah jalan akan menuntunmu menuju ke istana walau jalan itu berliku - liku dan penuh kerikil tajam."
Ketika Arya Dipa akan mengangkat kepala, yang nampak kemudian bukan lagi orang tua yang ia panggil Eyang Resi, tetapi ia kembali di bangunan padepokan Karang Tumaritis.
"Oh.. Terima kasih, Eyang Resi." ucap Arya Dipa dalam hati.
Dipandanglah Panembahan Ismaya dengan senyum ramah. Seolah tiada sesuatu yang memberatkan hatinya kembali. Karena kini hatinya terasa lapang bagaikan padang nun luas.
Hal itu juga membuat Panembahan Ismaya tersenyum, "Kau sudah mendapat jawabannya, anakmas ?"
Arya Dipa mengangguk, "Terima kasih eyang Panembahan sudah menunjukan kalau kedua keris itu tak berjodoh denganku. Jalan itu berbeda eyang Panembahan."
Panembahan Ismaya mengangguk perlahan. Sedangkan ki Kebo Kanigara dan Mas Karebet terlihat tak mengerti dengan kedua orang itu.
"Baiklah, kalau begitu aku tinggal dahulu. Beristirahatlah kalian di sini." kata Panembahan Ismaya dan meninggalkan bangunan itu.
Tak terasa waktu cepat berlalu. Kodrat alam berjalan sesuai dengan garis Sang Pencipta. Matahari bergerak dari timur ke barat menerangi segenap bumi yang dilewatinya. Satwa - satwa bersuka cita dengan berbagai ragam suara yang ditimbulkan, mewarnai indahnya buana ini. Udara semilir terasa bersahabat membuai mahkluk untuk mengucap syukur kehadapan Illahi.
Di malam harinya, Arya Dipa dipanggil secara terpisah oleh Panembahan Ismaya. Tiada lain maksud orang tua itu ialah untuk memberikan jalan keluar bagi Arya Dipa dalam permasalahannya dengan Kanjeng Sultan Demak.
Pemuda itu menatap Panembahan Ismaya dengan tatapan yang menyimpan seribu macam tanda tanya.
"Mohon kiranya eyang Panembahan memberikan kejelasan tentang maksud pemanggilanku ini."
"Baiklah anakmas, aku akan menunjukan jalan yang akan membawamu kembali ke Demak." suara Panembahan Ismaya nampak bersungguh - sungguh. "Tetapi sebelumnya aku akan meyakinkan dirimu untuk tidak terlalu memikirkan keris kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten. Lihatlah ini.. "
Usai berkata, Panembahan Ismaya membuka kotak peti yang sejak tadi berada di depannya. Dari dalam kotak peti, tersembulah bungkusan putih bersih yang diambil oleh orang tua itu.
"Oh.. " Arya Dipa memekik perlahan.
"Kau mengenali benda ini, anakmas ?"
Arya Dipa menggeleng, tetapi ia menjawab walau terlihat ragu - ragu, "Aku tak tahu, eyang Panembahan. Namun aku mengira itulah kedua pusaka Demak yang hilang..."
"Hm.. Memang inilah kedua pusaka itu, anakmas. Pusaka ini akulah yang menyimpannya."
"Apa maksud semua ini, eyang Panembahan ?"
__ADS_1
Orang tua itu tersenyum, lalu katanya, "Kedua pusaka ini merupakan benda yang sangat dikeramatkan bagi beberapa golongan. Sehingga tersiarlah kabar kalau siapa yang mendapatkan kedua pusaka ini, maka orang itu akan menerima pulung keprabon. Namun bukan itu yang menjadikan aku menyimpan benda ini anakmas, karena aku tak silau dengan sesuatu yang menyangkut dengan keraton."
Karena dilihatnya ada kesan yang tak pas dihati Arya Dipa, Panembahan Ismaya telah mengambil sebuah benda dari balik pakaiannya. Benda kuning keemasan dengan simbol matahari dan di hadapkan kepada Arya Dipa.
"Lencana Surya Kencana... !" desis Arya Dipa tak percaya.
"Bukannya aku ingin menyombongkan diri, anakmas. Aku sebenarnya masih kerabat kanjeng Sultan Trenggono. Namaku Buntaran dari Wilwatikta."
"Oh... " kejut Arya Dipa.
Pemuda itu berulang kali dibuat tercengang manakala disekitarnya dikelilingi oleh keturunan Wilwatikta. Dari pertemuannya dengan seorang kakek bongkok di pinggiran hutan, yang ternyata Kanjeng Sunan Kalijaga, putra adipati Tuban Arya Wilwatikta. Lalu ki Sembada dan Mas Karebet, putra dan cucu Adipati Handaningrat Pengging. Dan sekarang dihadapannya duduk bangsawan dari Wilwatikta, yaitu Raden Buntaran.
Untuk membuat suasanan mencair, Panembahan itu kemudian kembali berkata, "Aku akan mengembalikan pusaka ini pada saatnya, tetapi pusaka ini kurang lengkap, anakmas. Dan kaulah yang berjodoh dengan pusaka itu."
Seketika kepala Arya Dipa mendongak demi Panembahan mengatakan kalau dirinya akan berjodoh dengan pusaka yang akan melengkapi keris kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten. Pusaka jenis apakah itu ?
"Besok pagi berangkatlah ke arah matahari terbit. Tembuslah pertahanan pasukan bang wetan di Purbaya. Dan telusurilah aliran Brantas hingga kau menemui onggokan tanah yang menyerupai emas bila terkena sinar sang surya." kata Panembahan Ismaya.
"Baiklah, eyang Panembahan. Mohon restunya supaya aku dapat memenuhi keinginan eyang dalam mendapatkan pusaka itu." kata Arya Dipa mantap. Lalu katanya selanjutnya, "Namun apakah tak sebaiknya aku minta diri kepada paman Kanigara dan adi Mas Karebet ?"
Panembahan itu menggelengkan kepala, "Tidak anakmas, pamanmu Kanigara dan Karang Tunggal saat ini sedang melakukan lelaku di gua belakang padepokan."
"Dan supaya jalanmu tak terganggu oleh seseorang yang kau kenal, lewatlah jalan tikus selatan bukit ini. Sekarang beristirahatlah"
"Baik, eyang Panembahan."
Selanjutnya Arya Dipa kembali ke bangunan yang ia tempati sebelumnya. Disana ki Kebo Kanigara dan Mas Karebet sudah tak ada. Oleh karena itu Arya Dipa segera membaringkan tubuhnya untuk mempersiapkan tenaga untuk esok hari. Sebuah perjalanan panjang akan ia tempuh.
Sekejap kemudian ia pun terlelap dengan buaian mimpi. Kokok ayam pagi harilah yang membuat pemuda itu terjaga dan segera ke pakiwan untuk membersihkan diri dan sesuci. Ketika Arya Dipa memasuki bangunan tempatnya istirahat, di atas bangku sudah tersedia sarapan yang diperuntukan baginya.
Kini saatnya ia pamit kepada Panembahan Ismaya untuk meminta restu dari orang tua keturunan bangsawan Majapahit itu.
"Berhati - hatilah, anakmas. Semoga Gusti Agung selalu melindungimu."
"Terima kasih, eyang. Kalau begitu aku pamit."
Kepergian Arya Dipa diantar sendiri oleh Panembahan Ismaya sampai di depan regol padepokan. Kemudian pemuda itu menuruni undakan tangga tersusun dari batu. Sampailah ia di pertigaan lorong, Arya Dipa mengambil jalan tikus menghindari jalan utama.
Saat itulah dari jalan utama terlihat seorang lelaki dengan anak remaja melewati pertigaan jalan itu dan naik ke arah regol padepokan.
"Ayo cepat Bagus Handoko !" tegur lelaki itu.
__ADS_1
"Baik paman Mahesa." sahut remaja itu seraya mengikuti langkah orang berbadan tegap di depannya.