BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
145


__ADS_3

 Sampai terbitnya sang surya, tiada sesuatu yang terjadi. Banjar padukuhan yang mendapatkan dua iringan berbeda, tetap terasa seperti malam - malam biasanya. Bahkan ki Panut yang diserahi tugas untuk merawat serta menjaga banjar, sangatlah ramah dan baik hati. Pagi - pagi sekali ki Panut sudah menghidangkan wedang sere juga ketela rebus sisa tadi malam. Dua gandok yang terisi itupun, penghuninya menikmati hidangan untuk sarapan mereka.


   Usai menyantap hidangan yang disediakan, tamu gandok sebelah kanan berniat meninggalkan balai banjar. Keduanya sudah berdiri dan melangkah keluar pintu gandok. Saat itulah dari arah jalan, terdengar derap seekor kuda yang membuat dua orang itu berdiri dan menatap lurus ke arah regol halaman banjar. Tak terlalu lama seekor kuda berwarna hitam legam muncul memasuki regol dengan ditunggangi oleh seorang lelaki tinggi tegap berdada bidang.


   Adanya derap kuda yang memasuki halaman regol tidak hanya membuat Bajang dan Sambu saja yang merasa penasaran, tetapi ki Panut, juga Kilatmaya dan Kyai Jalasutro yang berada di gandok kanan mencoba mengetahui penungga kuda. Namun dari semua yang melihat, Bajang dan Sambu-lah yang terkesan adanya perubahan diraut wajah mereka. Nampaknya Bajang dan Sambu tercekat tak percaya kalau di halaman banjar itu ada lelaki yang sangat mereka kenali.


   "Ba.. Jang, bukankah itu Raden Panji Tohjaya ?" desis Sambu.


   Bajang yang ditanya hanya mengangguk tanpa menoleh. Seakan - akan dirinya terkena sesuatu yang tidak terlihat dari lelaki yang disebut oleh Sambu.


   "Lebih baik kita lekas menyingkir darinya, Bajang." bisik Sambu, seraya menggamit kawannya itu untuk diajak pamit kepada ki Panut.


   "Kalian sudah ingin meninggalkan banjar ini, kisanak ?" tanya ki Panut, saat tamunya akan pamit.


   "Seperti yang aku katakan tadi malan, ki. Perjalanan yang jauh akan kami lanjutkan ketika fajar sudah merekah." sahut Sambu.


   "Baiklah, selamat jalan." ucap ki Panut.


   Maka, Bajang dan Sambu pergi dari balai banjar. Keduanya berjalan terus tanpa memperdulikan lelaki yang mereka kenal sebagai Panji Tohjaya. Sementara orang yang memang Panji Tohjaya, salah seorang Senopati Jipang Panolan tidak terlalu memperhatikan dua orang yang melewatinya.


  Sepeninggal Bajang dan Sambu, Kilatmaya dan Kyai Jalasutro sebenarnya ingin cepat meninggalkan banjar padukuhan. Namun niat itu mereka urungkan manakala sebuah teguran halus menyapa Kilatmaya. Dan, tegur sapa itu berasal dari penunggang kuda yang baru saja memasuki regol halaman banjar.


   "Selamat pagi, ki Lurah Arya Dipa.. "


   Tentu saja teguran itu membuat Kilatmaya mengernyitkan alisnya. Bagaimana tidak ? Sungguh pemuda itu tidak mengenal orang yang menyapanya, dan baru hari itu ia bertemu dengan lelaki itu. Namun, sebelum ia bertanya lebih jauh, orang itu mendekat dan memperkenalkan diri.


  "Ki Lurah Arya Dipa, perkenalkan aku Panji Tohjaya dari Jipang." kata ki Panji Tohjaya, yang melihat kesan kebingungan dari wajah Lurah Wira Tamtama.


   "Maafkanlah jika aku mengejutkanmu, ki Lurah. Sudah lama sebenarnya aku mengenalmu. Yaitu saat aku ditugaskan dalam menyelidiki kematian Kakangmas Adipati Sekar, dimana aku harus menyelinap ke Ksatrian Demak. Saat itulah aku melihat kalau kau bertugas menjadi pengawal Raden Bagus Mukmin." kata ki Panji Tohjaya, lebih lanjut.


   Kilatmaya masih terdiam, sedangkan Kyai Jalasutro tidak mengerti arah pembicaraan dari ki Panji Tohjaya. Apalagi ki Panut, orang tua itu bingung tak karuan.


   "Hm... " desuh ki Panji Tohjaya, "Tetapi penyelidikanku yang seharusnya dapat menjernihkan kesalahpahaman keluarga keraton, malah ditepis mentah - mentah oleh orang - orang yang mengharapkan kehancuran anak cucu Sultan Patah."


   Kata yang terlontar terakhir berupa kekecawaan itu memancing rasa penasaran Kilatmaya. Karenanya pemuda itu mencoba menggali lebih dalam siapa dan apa maksud kedatangan orang yang mengaku Panji dari Jipang itu. Tentunya rasa waspada tidak pudar dengan cepat dari Kilatmaya. Karena bagaimana-pun segala sesuatu dapat saja terjadi. Namun ada sebuah ganjalan dalam hatinya, yaitu mengenai Bajang dan Sambu yang merupakan tali penghubung untuk mengorek siapa susungguhnya pimpinan dan niat mereka.

__ADS_1


   Sebagai seorang yang lebih tua dan sudah kenyang pengalaman hidupnya, Kyai Jalasutro dapat menyelami isi hati pemuda disampingnya. Karenanya orang tua itu berbisik perlahan.


   "Anakmas tak perlu kawatir memikirkan dua orang tadi. Setelah Anakmas berbicara dengan kisanak ini, selekasnya kita langsung ke padepokan Candra Bumi. Jalan dan tempatnya aku masih dapat mengingatnya."


   Kilatmaya bernapas lega, "Terima kasih, Kyai. Bila tiada Kyai bersamaku, mungkin perjalananku akan menjadi lama."


   Kyai Jalasutro tersenyum.


   Kemudian Kilatmaya meminta waktu barang sejenak kepada ki Panut untuk diam di banjar guna berbicara dengan ki Panji Tohjaya. Syukurlah ki Panut memperbolehkan bagi ketiganya untuk tinggal barang sejenak di pringgitan balai banjar. Bahkan orang tua itu kembali menyuguhkan wedang sere beserta ketela rebus.


   "Maaf merepotkan, ki Panut." ucap Kilatmaya.


   "Hehehe... Tidak mengapa, ki Lurah." sahut ki Panut, yang sudah mengetahui kalau tamunya seorang prajurit Demak.


   Sepeninggal ki Panut, ki Panji Tohjaya memperkenalkan dirinya lebih terperinci. Semua itu ia katakan dengan benar karena sudah mengetahui sikap perilaku ki Lurah Arya Dipa, tentunya setelah melakukan penyelidikan berbulan - bulan terhadap pemuda itu. Selain itu juga adanya dorongan dari rasa kekecewaannya sejak hasil penyelidikannya yang ia sampaikan kepada Nayaka Jipang ditepis, dan seakan - akan tidak dianggap oleh sebagian Nayaka Jipang.


   Ki Lurah Arya Dipa mengangguk dan kadangkala mengerutkan keningnya mendengarkan penuturan ki Panji Tohjaya. Dirinya satu pikiran dengan ki Panji Tohjaya kalau otak pembunuhan Pangeran Sekar bukanlah Adipati Anom Bagus Mukmin.


   "Begitulah, ki Lurah. Meskipun selama ini aku tak dapat mengoyak kabut tebal kematian Kakangmas Adipati Sekar yang sesungguhnya, aku merasakan adanya tangan yang ingin memutus tali dampar kencono Jawa dari trah Glagahwangi." desis ki Panji Tohjaya.


   "Ki Panji, bukankah Jipang mempunyai seorang patih yang bijaksana ?" tiba - tiba Kyai Jalasutro menyela.


   "Ada apa, ki Panji ?" Lurah Arya Dipa bertanya.


   Sejenak ki Panji Tohjaya menatap jauh ke masa lampau, meskipun hal itu tidak akan kembali terulang, dan hanya menyisakan kenangan semata.


   "Benar, Kyai." kata itu terasa berat, "Patih Mentahun memang seorang yang bijaksana dan baik, dia merupakan kakak seperguruanku."


   "He... " Lurah Arya Dipa dan Kyai Jalasutro sedikit tercekat.


   "Entah mengapa sikapnya telah berubah dan cenderung berlaku tidak semestinya." keluh ki Panji Tohjaya.


   Pembicaraan itu berlangsung cukup lama, hingga tak terasa hari semakin terang dimana mentari terasa terik sinarnya. Dalam waktu itu juga Lurah Arya Dipa menyempatkan menelisik sesuatu yang berkaitan dengan pembentukan pasukan khusus Jipang, kepada ki Panji Tohjaya. Lurah Arya Dipa berharap dapat mendapat keterangan terperinci dari senopati Jipang Panolan itu.


  "Ki Panji, jika boleh tau, adakah kesatuan khusus yang akhir - akhir ini terbentuk di Kadipaten Jipang Panolan ?" tanya Lurah Arya Dipa.

__ADS_1


  "Mungkinkah yang ki Lurah maksud ialah kesatuan pangatus Yuda Murda ?"


   "Yuda Murda... " ulang Lurah Arya Dipa.


   "Benar, ki Lurah." tegas ki Panji Tohjaya, seraya melanjutkan, "Yuda Murda adalah kesatuan yang dibentuk oleh Raden Arya Mataram adik Anakmas Adipati Arya Penangsang. Kesatuan ini terdiri dari seratus prajurit yang dipilih sendiri oleh Anakmas Raden Arya Mataram."


   Sejenak ki Panji Tohjaya berhenti karena meneguk wedang sere. Seusai itu barulah ia melanjutkan perkataannya.


   "Perlu ki Lurah ketahui, kesatuan Yuda Murda adalah kesatuan yang bertindak disegala medan dan keadaan tak menentu. Dan kesatuan ini tak memiliki ciri khusus layaknya Wira Manggala atau Wira Braja. Satu lagi, kemampuan mereka dua kali lipat diatas prajurit biasa."


   "Maksud ki Panji setara dengan pasukan pengawal Kanjeng Sultan ?" tanya Lurah Arya Dipa.


    "Bisa dikatakan begitu, ki Lurah." jawab ki Panji Tohjaya.


   Mendengar keterangan seperti itu, Lurah Arya Dipa tanpa sadar menoleh Kyai Jalasutro, yang sejak tadi hanya mendengarkan apa yang menjadi pembicaraan. Tetapi orang tua itu hanya menunggu sikap yang diambil ki Lurah Arya Dipa, sebagai orang yang bertugas secara langsung sebagai prajurit Demak.


  Bagi ki Lurah Arya Dipa, pembentukan kesatuan prajurit di Jipang sudah dianggap sebagai kesalahan. Karena, sudah sangat jelas bagi tata praja dimana ketentuan pembentukan sebuah kesatuan harus dilaporkan terlebih dahulu kepada Demak. Ini jika dibiarkan berlarut - larut, paugeran tata praja akan mudah dibuat sesuka hati penguasa setempat, dalam masalah ini adalah kadipaten Jipang.


  "Bila ada pembentukan kesatuan itu, mengapa pihak Jipang tidak memberikan laporan, ki Panji ?"


   "He... Ah, laporan itu sudah disampaikan saat kunjungan ki Tumenggung Prabasemi, ki Lurah.."


   Ki Lurah  Arya Dipa mengernyitkan alisnya. Gelar tumenggung yang baru saja disebutkan masih terasa terngiang di telinga lurah muda itu. Perjumpaan pertama ialah saat di lembah Telomoyo, ketika pasukan Demak akan menyerang tanah perdikan Banyubiru. Lalu pertemuan kedua bertepatan adanya kesalahpahaman di bukit Prawoto, dimana putra ki Ageng Gajah Sora membuat rusuh perburuan Kanjeng Sultan Trenggono.


   "Ki Tumenggung Prabasemi lagi... " desis ki Lurah Arya Dipa, dalam hati.


   "Baiklah, ki Panji. Bila aku kembali ke Demak, semua yang aku ketahui dari ki Panji, akan aku sampaikan kepada gusti Adipati Anom." kata ki Lurah Arya Dipa, "Lalu, kalau boleh tahu, akan kemana-kah selanjutnya kau, ki Panji ?"


   "Seperti yang aku bilang sejak awal. Kematian Kakangmas Adipati Sekar masih mengganjal dalam hatiku. Jipang yang lebih condong mempersalahkan pihak Adipati Anom, membuatku harus menempuh jalan sendiri, yaitu mencari otak dari pembunuhan itu." kata ki Panji Tohjaya, "Ada kemungkinan kalau tangan - tangan mereka berada di Jipang dan Demak."


   Ki Lurah Arya Dipa dapat mengerti suasana hati yang diderita oleh ki Panji Tohjaya. Dan salah seorang yang ia curigai adalah seorang tumenggung dari Demak itu sendiri, yaitu Tumenggung Prabasemi, seorang tumenggung yang mempunyai sikap tidak bisa diduga sama sekali.


   "Ah.. Sinar surya sudah semakin terik, ki Lurah. Bila kau ingin melanjutkan tugasmu, silahkan. Aku-pun juga lekas meninggalkan padukuhan ini." kata ki Panji Tohjaya.


   Maka pamitlah ki Panji Tohjaya kepada ki Lurah Arya Dipa dan Kyai Jalasutro. Derap kuda-pun terdengar meninggalkan regol halaman banjar, ke arah utara. Semakin lama semakin reda tak terdengar lagi, menyisakan debu dibelakangnya.

__ADS_1


   Sepeninggal kepergian ki Panji Tohjaya, kini giliran ki Lurah Arya Dipa dan Kyai Jalasutro berpamitan kepada ki Panut. Tak lupa keduanya mengucapkan banyak terima kasih terhadap kebaikan ki Panut, yang sudah memperlakukan dengan sangat baik, selama di banjar padukuhan.


   Arah yang diambil oleh keduanya segaris lurus dengan jalan yang diambil oleh murid - murid padepokan Candra Bumi dan juga ki Panji Tohjaya, yaitu jalan ke arah utara.


__ADS_2