BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
118


__ADS_3

Amukan badai debu akibat bertemunya dua kekuatan hebat berbeda jalur, perlahan berangsur luruh kembali jatuh ke bumi pertiwi. Dua sosok tubuh dalam keadaan sama - sama mengalami kepayahan melanda tubuh masing - masing, berusahan bertahan dan menjaga tubuh agar tidak rubuh menimpa tepian pasir kali Brantas. Yaitu, Raden Sanjaya menghujamkan keris kyai Cangkring ke tanah, dengan badan setengah jongkok, serta darah segar merembes dari sela - sela bibirnya. Satunya lagi, Arya Dipa terlihat memegang dadanya yang sesak bagai tersumpal bongkahan batu karang, tak luput darah segar juga mengalir dari sela bibirnya.


.


Kejadian itu memancing kedua belah pihak untuk saling berlomba menguasai lawan - lawan mereka. Tetapi tidak untuk tiga orang, dimana ketiga orang itu melompat mendekati kedua orang yang lemah akibat benturan tenaga murni tersebut. Ki Ageng Sungsang Bawono meloncat meninggalkan lawannya untuk mendekati muridnya. Begutu juga dengan Panembahan Anom dan Jati Pamungkas, keduanya bergegas menjaga setiap kemungkinan yang terjadi, oleh karenanya keduanya berdiri di depan Arya Dipa.


.


Sembari mengawasi tindakan yang dilakukan oleh ki Ageng Sungsang Bawono, Jati Pamungkas bertanya keadaan pemuda di belakangnya.


.


"Bagaimana keadaanmu ?" tanya Orang Bercambuk itu.


.


"Syukurlah, aku masih mendapat pertolongan-NYA untuk menghadapi ilmu hebat tadi." jawab Arya Dipa, sambil menyeka darah di bibirnya.


.


"Telanlah obat padat ini... " kembali Jati Pamungkas berkata sembari melemparkan obat padat.


.


"Terima kasih... " ucap Arya Dipa.


.


Sementara itu ki Ageng Sungsang Bawono yang sedikit banyak mengerti ilmu pengobatan, bergegas menyentuh beberapa titik penting ditubuh muridnya. Dan secepat ia menyelesaikan tindakan untuk menyelamatkan jiwa muridnya, akalnya mampu menilai keadaan dengan cepat, untuk itu ia pun dapat memperkirakan apabila perkelahian itu dilanjutkan.


.


"Kita tunda dahulu urusan ini, ngger.. " desis orang tua itu.


.


Tanpa menunggu jawaban dari muridnya, orang tua itu menggamit muridnya dan ia bawa pergi dari tepian kali Brantas. Sungguh sebat dan hebat gerakan ki Ageng Sunggsang Bawono, hanya beberapa loncatan kaki saja, tubuh itu sudah lenyap dibalik lebatnya malam. Dan untungnya, lawannya membiarkan kedua orang itu lenyap dari tempat itu.


.


"Berhentilah kalian..... !" seru Panembahan Anom, lalu lanjutnya, "Pemimpin kalian telah meninggalkan kalian... !"


.


Seruan itu menyadarkan para pengikut Raden Sajiwo dan Raden Sanjaya. Tak ada pilihan lain, selain mendengarkan seruan dari Panembahan Anom, demi kemungkinan dilain waktu. Oleh karenanya, mereka pun menyudahi perkelahian dan selekasnya menjauhi tepian itu dengan dendam dan sakit hati membekas dalam dada mereka.

__ADS_1


.


Sepeninggal orang - orang Raden Sajiwo dan Raden Sanjaya, semua orang berjalan ke gubuk milik tukang satang. Rupanya di situ, kemenakan tukang satang sudah datang dan merawat pamannya yang sudah sadar dari pengaruh racun Kala Sargota. Berkali - kali tukang satang dan kemenakannya mengucapkan terima kasih, kepada Arya Dipa, Windujaya dan Jati Pamungkas.


Malam merambat terus tanpa dapat ditunda. Panembahan Anom pada waktu itu mengajak Arya Dipa untuk mengikutinya keluar dari gubug. Keduanya berjalan ke arah hilir kali Brantas dan berhenti sejarak puluhan tombak. Tepat di bawah pohon gayam keduanya duduk menatap sinar rembulan yang tak terhalang lebatnya daun gayam.


.


"Angger Dipa.. " ucap Panembahan Anom, mengawali pembicaraan.


.


"Iya, eyang Panembahan.. " sahut pemuda itu.


.


"Ku ingat, kau mengatakan telah memasuki gua dipesisir laut kidul yang masih telatah Gunung Kidul. Dan kau mendapati sebuah kotak yang berisi warangka keris ?"


.


"Begitulah eyang.. "


.


Panembahan Anom mengangguk dan percaya. Tetapi ia masih bertanya kepada pemuda di sampingnya itu.


.


.


Sejenak pemuda itu menarik napas perlahan. Lalu mata Arya Dipa memejam sembari kedua telapak tangan saling bertemu bagai orang menyembah. Tiba - tiba, tangan yang awalnya kosong sudah nampak membekal warangka keris dengan lapisan teretes intan.


.


Melihat kejadian itu, Panembahan Anom mengangguk kagum apa yang dimiliki oleh pemuda itu. Sangat jarang orang yang bisa menyimpan sebuah benda di alam berbeda dan mampu mengambilnya bila diinginkan.


.


"Inilah warangka itu, Eyang. Semuanya masih utuh, yaitu sebuah kulit bergambarkan lambang Surya Kencana berada dalam warangka itu." ucap Arya Dipa.


.


"Hehehe... Bagus.. Bagus, angger cah bagus. Memang kaulah yang berjodoh dengan keris peninggalan Wilwatikta. Meskipun hanyalah sekejap saja kau menyimpannya."


.

__ADS_1


"Aku sudah menyadarinya, eyang. Sebenarnya aku hanyalah utusan saja dari eyang Raden Buntaran."


.


"Kakangmas Buntaran, kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan." desis Panembahan Anom, lalu kemudian, "Kau tak perlu menunggu waktu senja hari mencari gumuk yang berkilaun layaknya emas. Sekarang juga aku akan menyerahkan pusaka itu kepadamu."


Seperti yang dilakukan oleh Arya Dipa, Panembahan Anom juga melakukannya, yaitu memejamkan mata dan menempelkan telapak tangan di dekat dahinya. seberkas warna kemilau mengawali adanya sebuah keris pusaka. Di cium tangkai keris dan kemudian ia serahkan kepada Arya Dipa. Dan pemuda itu menerimanya dengan penuh syukur.


.


"Terima kasih, eyang atas kepercayaannya." ucap Arya Dipa, sambul memasukan keris ke dalam warangkanya.


.


"Jagalah kyai Sangkelat ini. Raden Buntaran pasti percaya kepada Demak dan memberikan pusaka ini sebagai sipat kandel kerajaan itu." kata Panembahan Anom.


.


Sejenak malam itu hening. Kemudian orang tua yang masih berdarah keraton itu berkata.


.


"Apakah kau tidak menanyakan harta peninggalan Majapahit, ngger ?"


.


Sebuah gelengan dilakukan oleh Arya Dipa, "Tidak, eyang Panembahan. Itu bukanlah hak-ku."


.


Rasa kagum menyentuh hati orang tua itu. Karenanya ia ingin memberikan sesuatu dari dirinya supaya dapat terus berkelanjutan apabila ia kembali ke alam kelanggengan. Tangan tua itu mengambil sesuatu dari balik pakaiannya.


.


"Angger, kalau begitu mohon diterima ini." katanya seraya menyodorkan rangkain lontar, sebelum Arya Dipa berkata bergegas Panembahan Anom mendahuluinya, "Aku mohon terimalah ini.. "


.


Karena tak ingin membuat hati Panembahan Anom kecewa, Arya Dipa menerima rangkaian rontal tersebut. Ternyata itu adalah sebuah tuntunan ilmu tingkat tinggi dari perguruan Panembahan Anom.


.


"Oh.. Terima kasih, eyang Panembahan."


.

__ADS_1


Malam itu adalah malam penuh keberuntungan yang menimpa diri Arya Dipa. Selain tugas mendapatkan pusaka keris kyai Sangkelat, ia pun mendapatkan kitab jalur perguruan Panembahan Anom. Dan keesokan harinya, setelah berembug dengan para sesepuh, Arya Dipa kembali ke telatah Jawa bagian tengan, untuk menyerahkan pusaka kyai Sangkelat.


__ADS_2