
Tak terasa perang tanding antara Arya Salaka dan Mas Karebet sudah hampir mendekati akhir. Keduanya siap mengungkap ilmu pamungkas masing - masing. Nampak semakin nyata diperlihatkan bagaimana Arya Salaka memasang kuda - kuda yang kokoh dalam lambaran aji Sasra Birawa, warna terang memercik dari kepalan tangan pemuda itu. Sedangkan di depan, tak kalah menakjubkan adanya cahaya hijau kebiruan menyelimuti tubuh Mas Karebet, yang sudah mempersiapkan aji Lembu Sekilan. Beberapa wajah semakin tegang menyaksikan sikap daripada pemuda - pemuda pilih tanding. Terutama ketegangan itu terpancar dari wajah ki Ageng Gajah Sora, ayah Arya Salaka.
"Aku akan menghentikan semuanya... " desis ki Ageng Gajah Sora, perlahan.
Walau kata itu sangat lirih, ki Mahesa Jenar yang dekat dengan kepala tanah perdikan Banyubiru itu, mendengar juga. Oleh karenanya dengan cepat ki Mahesa Jenar menggamit kawannya supaya tak beranjak dari tempatnya.
"Tenangkan hatimu, kakang.. " bisik ki Mahesa Jenar.
Bagaimana bisa tenang seorang ayah yang akan menyaksikan anaknya berhadapan dengan maut ? Ki Ageng Gajah Sora tahu betul kehebatan aji yang diterapkan oleh Jaka Tingkir itu. Ilmu yang menurut penuturan dari orang - orang tua dahulu, pernah dimiliki juga oleh Mahapatih Gajah Mada, mampu melontarkan tenaga dahsyat yang dilancarkan lawan kembali kepemiliknya lagi.
"Adi, Sasra Birawa akan mental ke tubuh putraku. Bagaimana aku dapat bersikap tenang ?"
Ki Mahesa Jenar menghela nafas sejenak dan kemudian ucapnya, "Percayalah dengan kemampuan putramu, kakang. Biarlah permainan ini cepat selesai.."
Mata ki Ageng Gajah Sora hampir tak berkedip. Apa maksud dari ucapan yang ia dengar dari kawan setianya itu ? Apalagi terlihat sunggung aneh disudut sahabatnya.
Tiba - tiba suara ledakan keras terdengar menggemparkan bukit Prawoto. Rupanya aji Sasra Birawa meluncur deras menghantam kokohnya benteng kasat mata aji Lembu Sekilan. Debu tebal menghambur mengaburkan pemandangan ditengah kalangan. Namun sesaat terlihat sesosok tubuh mencelat dan bergulingan ke tanah.
"Putraku..... !" teriak ki Ageng Gajah Sora dan ki Mahesa Jenar.
"Adi Salaka.... " seru Kilatmaya.
__ADS_1
Memang kedahsyatan aji Sasra Birawa sangatlah besar yang diterapkan oleh Arya Salaka. Tetapi serangan itu membal ke tubuh pemuda itu kembali, sehingga membuatnya mencelat. Untunglah pemuda itu sudah digembleng oleh ki Mahesa Jenar dan beberapa orang tua, yang dapat membuat tubuhnya tetap utuh dari gempuran balik tenaganya.
Perlahan Arya Salaka menyadari apa yang terjadi dan berusaha mengumpulkan tenaganya untuk bersila dan melancarkan peredaran darah dalam tubuhnya. Pening di kepala berangsur hilang, hanya saja dadanya masih terasa sesak bagaikan tersumbat batu sebesar anak kerbau.
Saat itulah dari dalam kemah munculah beberapa orang dan mendekati kalangan. Perbawa dari orang yang berada paling depan, mampu membuat semua orang menunduk hormat. Rupanya Kanjeng Sultan Trenggono, sudah berpikiran untuk saatnya menyelesaikan permainan ini. Tentunya ditemani oleh Raden Buntara, salah seorang pangeran dari garis Majapahit.
Dengan penuh wibawa, Kanjeng Sultan Trenggono memerintahkan agar supaya perang tanding antara Mas Karebet dan Arya Salaka, dihentikan. Juga tidak lupa meredekan suasana tegang yang menyelimuti bukit Prawoto dari Laskar Banyubiru maupun, pasukan pengawalnya. Tidak ketinggalan, walaupun sebagai seorang pemimpin tertinggi di tanah Jawa, beliau menyapa beberapa orang sepuh yang hadir dalam permainan ini. Yaitu, Ki Ageng Pandan Alas dari Gunung Kidul dan Ki Ageng Sora Dipayana dari Banyubiru.
"Agar suasana ini semakin semarak layaknya pertemuan antara kerabat sendiri, sudilah kalian semua singgah ke barak perkemahanku." kata Kanjeng Sultan Trenggono.
"Segala titah Kanjeng Sultan, kami junjung tinggi... " seru sekalian dengan serentak.
Bukan hanya itu saja, kegembiraan sang Sultan semakin bertambah manakala juga hadir seseorang yang dahulu merupakan bagian Tamtama pasukan Demak, yaitu ki Mahesa Jenar atau Rangga Tohjaya. Rangga yang kini menjadi seorang yang dielu - elukan oleh kawula alit sebagai seorang yang berlaku kebajikan dalam menumpas segala tindakan yang menyimpang dari paugeran. Dia juga yang sangat gigih dan bertanggungjawab mencari pusaka Demak yang hilang dengan mempertaruhkan jiwa raganya, hingga dirinya telah dalam mengarungi mahligai rumah tangga. Itu semua sudah terpikirkan oleh Sultan Trenggono setelah mendengarnya dari Pangeran Buntara.
Karenanya, setelah menjelaskan dan menerangkan kejadian yang baru saja terjadi, Kanjeng Sultan Trenggono dan Pangeran Buntara menyanggupi seluruh keberlangsungan pernikahan antara ki Mahesa Jenar dan Rara Wilis cucu ki Ageng PandanAlas. Serta pernikahan Arya Salaka dan Endang Widuri.
Bukan hanya itu saja, hal paling utama akan terjadi di kotaraja, dimana Putri Mas Cempaka akan disandingkan dengan Mas Karebet. Tentu saja warta itu membuat semua yang hadir meluapkan kegembiraan tak terkira. Rupanya sebentar lagi akan berlangsung keramaian di kotaraja dan Banyubiru. Kawula akan mendapat hiburan kesenian tak hanya semalam saja, tapi sepasar tiada henti - hentinya. Dalam pada itu, Pangeran Buntara mendekati Kilatmaya. Digamitnya bahu pemuda bertopeng itu dan diajak keluar. Udara diluar terasa lebih segar dan membuat tubuh bergairah dalam mengucap rasa syukur.
"Angger, Kilatmaya.. " ucap Pangeran Buntara atau Panembahan Ismaya.
"Iya, Eyang Panembahan.. "
__ADS_1
"Kau pun sudah waktunya membangun rumah tangga. Aku sudah mendengar kalau ada seseorang yang merindukanmu di kotaraja." kata Panembahan Ismaya.
Tak terasa kepala pemuda itu menunduk. Sekian lama ia meninggalkan belahan hatinya yang rupanya masih setia menunggunya.
Belum lagi Kilatmaya menjawab, Panembahan yang sudah kenyang dengan dunia ini, telah berkata sareh seakan disampingnya itu adalah cucunya sendiri.
"Kali ini kau harus memikirkan keadaan dirimu sendiri, ngger. Karena aku merasakan untuk saat - saat ini Demak akan diselimuti kain tebal yang sulit diguncang. Oleh karenanya, tepatilah janjimu kepada kekasihmu itu.."
Sebenarnya Kilatmaya atau Arya Dipa sendiri juga memikirkan apa yang dibicarakan oleh Panembahan Ismaya. Hatinya sudah mantab untuk segera membina rumah tangga bersama Ayu Andini. Karenanya ia-pun mengatakan dengan sejujurnya niatnya kepada Panembahan Ismaya.
"Syukurlah jika angger berniat menyegerakan hubungan angger dengan nimas Ayu Andini.. " ucap Panembahan Ismaya.
Waktu-pun berlalu dengan semestinya. Keris kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten sudah menempati ruang pembedaharaan kesultanan Demak Bintara. Serta beberapa waktu yang lalu, kotaraja nampak semarak dengan hiasan janur menandakan adanya penyelenggaraan perkawinan Putri Mas Cempaka yang disandingkan dengan Mas Karebet.
Tak berpaut jauh dari kotaraja, dikediaman Panji Mahesa Anabrang juga melangsungkan perkawinan putra angkatnya, Arya Dipa. Penyelenggaraan yang diadakan secara sederhana itu rupanya tak menyurutkan sanak kadang yang bertempat jauh dari kotaraja. Hadir beberapa orang - orang yang sangat mengagumi Arya Dipa, dari Bang Tengah maupun Bang Wetan. Begawan Bancak atau Begawan Jambul Kuning bersama murid dan saudara seperguruannya telah datang sepasar sebelumnya. Juga Resi Puspanaga yang semakin tua tidak ketinggalan menyaksikan muridnya bersanding dengan putri angkat Resi Citrasena.
Semaraklah kediaman ki Panji Mahesa Anabrang kala itu. Semuanya membicarakan kebahagiaan saja dengan riuhnya canda tawa. Tak lupa sebagian pemuda mencoba menggoda pengantin lelaki, hingga membuat Arya Dipa merah pipinya dan menundukan kepalanya. Rupanya seorang pemuda yang perkasa di medan perang, bertekuk lutut oleh candaan kawan - kawannya. Aji Niscala Praba, Sepi Angin dan Gelap Ngampar tak berdaya sedikit-pun.
Menjelang siang, serombongan orang berkuda meriuhkan jalan di depan kediaman ki Panji Mahesa Anabrang. Rombongan itu ternyata adalah Kanjeng Sultan Trenggono yang diiringi oleh Adipati Anom dan juga putra menantunya. Bingunglah jadinya ki Mahesa Anabrang mendapati kunjungan sang nata Demak, walau hanya sesaat.
Tak terlalu lama iringan Kanjeng Sultan berada dikediaman ki Panji Mahesa Anabrang, setelah mengucapkan selamat serta memberi petuah, beliau-pun kembali ke keraton, diantar oleh orang tua sampai di depan regol. Sepeninggal Sultan Trenggono, kediaman ki Panji Mahesa Anabrang masih ramai dihadiri sanak kadang dan undangan. Mereka bersuka cita atas menyatunya hubungan Lurah Arya Dipa dan Ayu Andini, dalam membentuk sebuah keluarga.
__ADS_1