BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
47


__ADS_3

Kademangan Kenduruan merupakan sebuah kademangan bertanah subur dengan hasil pertanian yang melimpah setiap tahunnya. Sejak turun temurun kademangan ini menjadi pemasok pertanian utama bagi kadipaten Tuban. Kerena itulah Panembahan Bhre Wiraraja setalah menguasai Tuban telah menempatkan pasukannya lebih besar daripada ditempat lainnya. Disini seorang panji yang disegani dan merupakan tangan kanan Panembahan Bhre Wiraraja mendapat tugas sebagai panglima , meskipun oleh Nayaka Praja yang mempunyai tingkatan lebih tinggi dari sang panji tersebut.


"Kakang panji, pasukan Jipang dibawah pimpinan ki tumenggung Sardulo telah tiba dan siap bergabung." lapor Rangga Rawes.


"Sambut mereka dengan baik, Rawes. Dan suruh ki tumenggung Sardulo menghadapku." sahut orang yang disebut kakang panji, dengan suara berat penuh wibawa.


Lantas rangga Rawes undurkan diri untuk menyambut pasukan Jipang Panolan yang dipimpin oleh tumenggung Sardulo. Sepeninggal rangga Rawes, seorang lelaki yang memakai pakaian resi bertanya kepada panji itu.


"Anakmas panji Senggageng, apakah penunjukan tumenggung Plangkrongan di kademangan Trucuk itu, tidak terlalu gegabah ?" tanya resi itu.


"Maksud paman resi ?" panji Senggageng balik tanya.


"Anakmas, bukankah semuanya mengetahui kalau tumenggung dari Lasem itu selalu bertindak grusa - grusu." sejenak resi itu menyelidiki kesan diwajah panji Sengganggeng, lalu lanjutnya, "Ingatkah anakmas saat penyerangan kita ke Tuban dulu ? Hampir saja pasukan kita hancur gara - gara kecerobohan tumenggung Plangkrongan."


Wajah panji Sengganggeng menunjukan kerut merut, dan rasa sesal pun menyelimuti perasaannya.


"Sebenarnya akupun tak menyetujui penunjukan itu, paman resi Padutapa. Tapi semuanya wewenang dari Panembahan Bhre Wiraraja sendiri, dan tiada yang berani membantahnya, meskipun ia kakak iparku." ucap panji Sengganggeng.


"Oh... semoga tumenggung dari Lasem itu tak mengulangi kesalahannya." harap resi Padutapa, lirih.


Bersamaan dengan kata terakhir dari resi Padutapa, lurah prajurit datang menghadap.


"Ada apa lurah Sempeno ?" ki rangga Tandes, mendahului bertanya.


"Ampun ki rangga, ada warta dari kademangan Trucuk." jawab lurah Sempeno.


"Katakanlah... !"


"Ampun, ki panji. Pasukan tumenggung Plangkrongan berhasil dihancurkan pasukan Demak."


"Braaak !"


Meja di depan ki panji Sengganggeng pecah seketika terkena gebrakan tangannya.


"Oh jagat Baratha, apa yang aku cemaskan terbukti sudah..." desis resi Padutapa.


"Rangga Tandes, kumpulkan pasukan Demit dan pergilah ke padukuhan Kanten. Awasi dengan seksama pasukan lawan, bila mereka bergerak kemari sebagian dari kalian cepat meminta bantuan pasukan induk di kademangan Kedungmulyo barat grojokan Nglirep." perintah panji Sengganggeng.


"Baik kakang panji." kata rangga Tandes, lalu bergegas menjalankan perintah.


"Kakang tumenggung Ra Yuyu dan ki Banyak Wedi, perkuat telatah barat padukuhan terdepan dari kademangan ini. Bila ada sesuatu mencurigakan segeralah beri isyarat."


"Baik, adi Sengganggeng." dan tumenggung Ra Yuyu dan ki Banyak Wedi langsung menuju ke padukuhan pertama yang berjarak tiga ratus tombak dari kademangan Kenduruan.


Saat itulah masuk ki tumenggung Sardulo dan ki rangga Rawes yang mengambil tempat duduk berseberangan.


"Mengapa kakang tumenggung merubah rencana kita ?" tanya panji sengganggeng.


Tumenggung Sardulo mendesuh sesaat seraya memperbaiki duduknya.


"Maafkan aku adi panji Sengganggeng, ini dikarenakan ulah patih Mentahun yang menyetujui bergabungnya pasukan Demak dari Wira Braja."


"Oh jadi pasukan mereka dibagi dua ?"


"Begitulah menurut yang aku dengar dari kakang tumenggung Harya Kumara, yaitu pasukan utama di selatan yang dipimpin sendiri oleh pangeran Trenggono dan pasukan kedua dipimpin oleh tumenggung Gagak Kukuh." tutur tumenggung Sardulo.


"Pantas jika tumenggung Plangkrongan dapat dilumpuhkan."


"Oh... " kejut tumenggung Sardulo, "Apa telingaku salah mendengar ?"


"Tidak anakmas Sardulo, baru saja seorang prajurit mewartakan kekalahan di medan selatan itu." resi Padutapa yang menyahuti.


"Oh ya kakang, dimana kakang Harya Kumara ?" tanya panji Sengganggeng.


"Dia masih di Jipang, adi."


"Apakah ia tak akan mengalami kesulitan dengan adanya kakang disini ?"


"Aku sudah mengatur semuanya, adi. Sehingga pihak Demak dan Jipang tak akan menyentuhnya."


"Maksud kakang ?"


Maka tumenggung itupun menjelaskan apa yang sudah ia lakukan di padukuhan ujung kadipaten Jipang.


.......


Di kala mentari memasuki peraduannya waktu itu bersamaan dengan datangnya pasukan Demak yang dipimpin oleh tumenggung Gagak Kukuh, di padukuhan yang dijadikan pertahanan orang Jipang. Tapi betapa terkejutnya saat melihat keadaan padukuhan itu tak karuan. Rumah rumah banyak yang dibakar, dan semakin ke dalam banyak bergelimpangan prajurit Jipang beserta kuda mereka tak bernyawa.


"Kita terlambat, ki tumenggung." kata ki panji Sambipati, yang berkuda disebelah tumenggung Gagak Kukuh.


"Sepertinya begitu, ki panji." sahut tumenggung Gagak Kukuh, "Lurah Bangau Lamatan, bawalah prajurit dan periksa keadaan dengan teliti."


"Baik ki tumenggung."


Sementara itu sebagian prajurit mendapat tugas untuk mengumpulkan mayat mayat yang mulai dikerubuti oleh lalat, dan segera diselenggarakan. Sebagian lagi memadamkan api supaya tak merembet semakin luas.


Tugas prajurit Demak meskipun berat saat menjumpai padukuhan ujung Jipang itu tak membuat mereka lengah. Di malam itu semuanya dikerjakan dengan cepat serta tak melupakan penjagaan demi menjaga kemungkinan yang tak terduga. Untunglah sampai matahari terbit tiada sesuatu yang membahayakan bagi mereka.


"Lurah Saroyo, bawalah dua kawanmu menuju Jipang. Kabarkan kalau pasukan mereka banyak yang tewas, dan sebagian lagi kemungkinan menjadi tawanan musuh." perintah ki tumenggung Gagak Kukuh.


"Baik, ki tumenggung."


Lalu tumenggung dari Wira Braja itu beralih kepada seorang lurah dari pasukan telik sandi.


"Adakah laporan yang kau katakan, lurah Kuda Lirboyo ?"


"Iya, ki tumenggung. Pertama dari pasukan induk yang berada di selatan telah mendapat kemenagan mutlak, ki tumenggung." sejenak lurah Kuda Lirboyo mengambil napas, lalu lanjutnya, "Yang kedua yaitu tanpa sengaja hamba melihat sebuah iringan pasukan menuju kademangan Kanduruan."


"Tahukah kau, siapa dan dari mana pasukan itu ?"


"Melihat panji ataupun umbul dan ronteknya, sepertinya dari kadipaten Jipang, ki tumenggung."


"Baiklah, ada yang lainnya ?"


"Cukup untuk sementara, ki tumenggung."


"Terima kasih ki lurah, beristirahatlah dahulu sebelum engkau melanjutkan tugasmu." ucap tumenggung Gagak Kukuh.


Di hari itu pasukan yang dipimpin tumenggung Gagak Kukuh, untuk sementara waktu tinggal di padukuhan ujung timur kadipaten Jipang, menanti perkembangan keadaan selanjutnya.


Usai menuntaskan pertempuran di utara gumuk Watujajar, pasukan induk Demak bergerak ke kademangan Trucuk. Tenyata di kademangan itu sudah kosong menyisakan bekas - bekas jejak pasukan bang wetan yang tersisa, berupa bekal makanan dan beberapa kuda, sedangkan penghuni kademangan sudah lama mengungsi keluar kademangan.


"Tempatkan tawanan di banjar kademangan, dan awasi mereka." perintah tumenggung Suranata kepada prajuritnya.


Meskipun menjadi tawanan, sisa pasukan bang wetan diperlakukan tak semena - mena. Mereka ditempatkan di banjar serta mendapatkan makanan sama seperti yang dimakan oleh pasukan Demak.

__ADS_1


Di pendopo kademangan yang tak jauh dari banjar kademangan, pangeran Trenggono berkumpul dengan para senopatinya demi merundingkan tugas selanjutnya dalam penggempuran pusat pertahanan lawan, yang berada di kademangan Kenduruan, Kedungmulyo ataupun di Jatirogo.


Saat itulah seorang utusan dari Demak datang menghadap untuk menyampaikan keputusan dari sesepuh Demak.


"Ampun, kanjeng pangeran. Hamba diutus para sesepuh Demak untuk mengharapkan pangeran kembali ke kotaraja Bintara." ucap prajurit mengunjukan sembah.


Kerut merut menghiasi dahi pangeran Trenggono, yang kemudian bertanya kepada prajurit utusan, "Tahukah engkau, mengapa para sesepuh mengharap aku kembali."


Sejenak prajurit itu memperbaiki duduknya, seraya memasukan tangannya ke dalam pakaian, dimana saat tangan itu keluar kembali, sebuah bumbung dihaturkan kepada pangeran.


"Silahkan, kanjeng pangeran membaca surat yang berada dalam bumbung ini."


Diraihlah bumbung itu, lalu perlahan dibuka penutupnya dan secarik kertas bergulung diurai sehingga berderet aksara tertera membentuk kalimat. Helaan napas mengakhiri pangeran Trenggono membaca kalimat yang tertera di secarik kertas yang kembali digulung dan dimasukan kembali ke dalam bumbung.


"Prajurit, bilamana kau kembali ke kotaraja katakan Besok aku akan kembali ke kotaraja."


"Kasinggihan dawuh, kanjeng pangeran." kata prajurit itu, setelah diperkenankan meninggalkan tempat, maka ia pun mengundurkan diri dan kembali ke kotaraja.


Sepeninggal utusan dari Demak, pangeran Trenggono memberi penjelasan kepada senopati yang berada di pendopo kademangan Trucuk.


"Paman sekalian pasti bertanya - tanya mengenai utusan sesepuh Demak yang mana memanggilku kembali ke Demak." sejenak pangeran Trenggono berhenti demi mencari kesan disetiap senopati yang hadir.


"Maksud dari sesepuh ialah tiada lain akan mengumumkan seseorang yang berhak menjadi penerus dari kakangmas Sultan Pati Unus, demi melanjutkan roda pemerintahan Demak. Oleh karena itulah para sesepuh mengharapkan aku kembali." lanjut pangeran Trenggono.


"Ampun pangeran, jikalau hamba boleh tahu, siapakah kira - kira yang akan dinobatkan menjadi sultan selanjutnya ?" tumenggung Pideksa memberanikan diri bertanya.


Putra raden Patah itu menggelengkan kepala, "Aku sendiri juga gelap mengenai hal itu, paman Pideksa."


Ruang pendapa terasa hening beberapa jenak, semua yang hadir tenggelam dalam ruang pengandaian masing - masing. Tetapi kebanyakan dari senopati itu mengharapkan pangeran Trenggono lah yang diangkat sebagai raja yang memangku bumi Demak peninggalan mendiang orang tuanya.


Selanjutnya pangeran Trenggono merencanakan akan berangkat besok pagi bersama tumenggung Suranata dan seratus pasukannya. Sedangkan tampuk pimpinan pasukan yang akan menggempur pasukan bang wetan akan diserahkan kepada tumenggung Pideksa. Dan atas pertimbangan yang baik sepeninggal pangeran Trenggono, sebaiknya pasukan ini nantinya menyatu dengan pasukan yang dipimpin oleh tumenggung Gagak Kukuh.


Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, maka di pagi harinya seratus prajurit mengawal pangeran Trenggono kembali ke kotaraja. Iringan berkuda itu bergerak ke selatan menyeberangi bengawan dan selanjutnya berjalan melewati jalur selatan dari kadipaten Jipang Panolan. Namun iringan itu sejak mendarat dari bengawan, telah diamati seorang telik sandi yang bergegas melaporkan hal itu kepada atasannya.


"Terus awasi iringan pasukan itu."


"Sendiko, ki lurah." dan telik sandi itu kembali mengintai pergerakan iringan yang mengawal pangeran Trenggono.


Sementara orang yang disebut lurah oleh telik sandi, bergegas menuju sebuah bangunan dimana di dalam bangunan telah duduk beberapa orang.


"Mohon maaf, ki tumenggung. Prajurit sandi kita melaporkan adanya pasukan kecil melintas selatan bengawan mengarah ke barat." lapor lurah prajurit itu.


"Tahukah siapa yang memimpin pasukan itu ?"


"Pangeran Trenggono, ki tumenggung." jawab lurah itu.


"Bagus, tak disangka kitalah yang akan membinasakan pangeran itu. Lurah Puranta, kumpulkan pasukan yang memadai, kita kejar pasukan itu dan kita hancurkan." kata tumenggung yang tiada lain ki tumenggung Harya Kumara.


"Sendiko dawuh, ki tumenggung." sahut lurah Puranta.


Lalu tumenggung Harya Kumara mengedarkan mata ke arah seseorang yang duduk di pojok.


"Panji Jaran Tangkis, kali ini kau masih aku butuhkan, tebuslah kesalahanmu dengan membunuh pengiring pangeran Trenggono sebanyak - banyaknya."


"Baik, ki tumenggung."


Dengan cepat orang - orang bawahan tumenggung Harya Kumara dipersiapkan tanpa meninggalkan senjata andalan mereka, maka pasukan itu bergerak mengejar iringan dari Demak.


Pengejaran kali ini melibatkan beberapa perwira serta orang - orang pinunjul dari dunia olah kanuragan yang mau menggabungkan diri demi mengharapkan imbalan jasa berupa harta dan jabatan. Salah satunya seorang pemimpin padepokan di telatah Jipang Panolan, yaitu ki Rambatan pemimpin padepokan Kedung Banteng.


Ketika berada disekitar bukit tanah kapur maka semakin jelas dan nampak terlihat sebuah perkemahan didirikan.


"Bagus, itu mereka sedang bermalam di bawah bukit kapur." seru tumenggung Harya Kumara.


Lalu tumenggung itu mengatur siasat demi melumpuhkan lawan yang hanya berjumlah kurang lebih seratus orang. Ki panji Jaran Tangkis dengan dibantu oleh ki Rambatan, memutar jalan turun menyusuri anak sungai kering demi melakukan hadangan di esok hari.


"Bilamana kalian sudah berada dikelokan jalan melingkar bukit kapur, segeralah lepaskan isyarat." kata tumenggung Harya Kumara memberi perintah.


Anggukan kepala mengiringi penyahutan dari ki panji Jaran Tangkis, "Baik ki tumenggung."


Maka seratus pasukan mengikuti ki panji Jaran Tangkis menyusuri anak sungai yang mengering di gelapnya malam. Meskipun hari semakin gelap, hal itu tak menyurutkan langkah kuda mereka. Perlahan namun pasti iringan yang bertujuan mencegat iringan pangeran Trenggono, semakin dekat dengan tempat yang telah disepakati, yang kemudian menanti hingga datangnya mentarai pagi.


Dalam keadaan gawat menghantui perjalanan dari pangeran Trenggono, sejumlah kecil prajurit Demak dari arah barat juga mendekati jalan dikelokan dimana ki panji Jaran Tangkis dan pasukannya bermalam.


"Berhenti... " seru seorang prajurit muda yang memimpin sejumlah prajurit, seraya meloncat turun dari kudanya.


Perilaku prajurit muda itu membuat sepuluh prajurit yang mengikutinya, menarik tali kekang kuda mereka dan mengelus bagian leher kuda agar tenang.


"Ada apa ki lurah ?" tanya seorang prajurit.


"Cepat sembunyikan kuda kalian, sepertinya ada sesuatu yang menarik di depan jalan itu." kata prajurit yang dipanggil lurah seraya memberi perintah.


Usai menyembunyikan kuda mereka, maka lurah prajurit diiringgi dua prajurit lainnya, berjalan mengendap mendekati arah yang ditunjuk oleh lurah tersebut. Dari balik gerumbul, ketiga prajurit itu mengerutkan dahi mereka manakala memandang ke jalan di depan. Sebuah pasukan pangatus menyebar memenuhi jalan itu.


"Siapa mereka ki lurah ?" desis salah satu dari prajurit yang menyertai lurah muda, "Sepertinya mereka bukan iringan prajurit Demak."


"Aku akan mencoba lebih dekat, siapa tahu salah satu dari mereka berbincang dengan kawannya dan tanpa sengaja menunjukan siapa mereka sebenarnya." sahut lurah prajurit itu, "Tunggulah di sini."


Tanpa menunggu jawaban dari kawannya, lurah prajurit itu menggeser langkahnya mendekati sekumpulan prajurit yang sedang berkasak kusuk di antara mereka.


"Kenapa kau memandangi terus pedangmu, Simo ?" tanya seorang prajurit.


Orang yang dipanggil Simo itu memandang ke arah kawannya sambil terus mengelus pedang yang ia pegang.


"Wiru, tahukah kau sudah berapa lama pedang ini menyertaiku di medan peperangan ?" Simo balik bertanya.


"Mana aku tahu, itu pedangmu bukan milikku."


"Huh, kau... ketahuilah pedang ini peninggalan kakekku dan sudah menyertaiku puluhan kali di medan tempur menghadapi begal ataupun perampok. Namun besok merupakan pengalaman pertama pedang ini mengayun dan menggores tubuh prajurit Demak."


Kata terakhir dari orang yang bernama Simo itu, membuat kejut menyelinap dihati lurah prajurit yang sedang mengintai.


"Benarkah apa yang aku dengar tadi, mereka akan menghadapi prajurit Demak ? Siapa yang mereka maksud itu ? Apakah prajurit yang aku pimpin yang hanya berjumlah sepuluh orang ?" batin lurah prajurit itu.


Di depan dua prajurit itu masih meneruskan percakapan mereka.


"Hahaha yang kita hadapi ini bukan prajurit biasa Simo, melainkan sepasukan khusus yang mengawal seorang pangeran, bila kau tak berhati - hati bukan pedangmu yang menggores di tubuh lawan, tapi kau lah yang terluka arang kranjang."


"Huh gayamu seperti ilmumu sundul langit, sehingga mengguruiku, Wiru. Aku Simo murid seorang ajar memiliki segudang ilmu kanuragan." seru orang itu sambil membusungkan dada.


Sudah cukup bagi lurah itu untuk menarik sebuah kesimpulan mengenai pasukan dihadapannya yang mempunyai tujuan melakukan penghadangan terhadap iringan pangeran Trenggono. Maka dari itu ia kembali kepada kedua kawannya dan mengajak keduanya kembali ketempat dimana kawan - kawannya berada.


"Lalu bagaimana menurut pendapat, ki lurah ?" tanya seorang prajurit, setelah selesai mendapat penuturan lurah muda mengenai pasukan yang berada di depan mereka.


"Malam semakin mendekati tengah malam, sebaiknya hal ini diberitahukan kepada iringan pangeran Trenggono yang saat ini berada di depan pasukan musuh. Tapi kita harus melewati pasukan itu." kata lurah itu.

__ADS_1


"Adi Arya Dipa." seorang prajurit mendekatinya, "Aku tadi tanpa sengaja menemukan anak sungai yang mengering, dan aku rasa sungai itu bila kita menyusuri ke hilir kemungkinan mendekati tempat disekitar bukit kapur. Apakah sebaiknya kita mencoba melewati anak sungai itu ?"


Wajah lurah yang ternyata ki lurah Arya Dipa, berubah cerah.


"Oh.. dimana jalur sungai itu, kakang ?"


"Mari aku tunjukkan." prajurit itu kemudian menunjukan dimana dirinya tanpa sengaja menemukan jalur sungai yang mengering kepada lurah Arya Dipa.


Keduanya kemudian menuju sungai itu setelah sebelumnya memberi pesan kepada kawan - kawannya, untuk menunggu di tempat itu. Setelah ditelusuri memang sungai itu mendekati tempat dimana pangeran Trenggono dan kawannya bermalam, dan jika terus dilanjutkan tentu sampai juga di tempat ki tumenggung Harya Kumara berada.


Lurah Arya Dipa dan kawannya dengan hati - hati mendekati perkemahan tanpa mengejutkan penghuninya. Tapi tetap saja hal itu membuat prajurit yang sedang berjaga menghardiknya.


"Siapa kau !?!" seru prajurit itu.


"Aku prajurit Demak, ki prajurit. Ingin menghadap kanjeng Pangeran." jawab lurah Arya Dipa.


Prajurit yang mendapat tugas berjaga itu mempertajam penglihatannya dan memerhatikan dengan teliti pakaian dua orang dihadapannya.


"Oh... " desuhnya saat mengetahui pakaian yang dikenakan oleh salah satu orang itu, bercirikan lurah prajurit Tamtama.


"Oh.. Mari ki lurah, maaf telah mencurigai ki lurah."


"Tak mengapa ki prajurit, itu memang tugas yang engkau emban." lurah Arya Dipa, memaklumi dengan apa yang dilakukan prajurit itu terhadapnya.


Debur kejut mengombak dihati pangeran Trenggono manakala dua pemuda telah dihadapkan kepadanya di malam menjelang puncaknya. Apalagi salah satunya, pemuda itu tiada lain seorang lurah prajurit yang selama ini ditugaskan untuk mengawal putranya.


"Kau lurah Arya Dipa."


"Hamba, kanjeng Pangeran." sahut lurah Arya Dipa, seraya merapatkan kedua telapak tangan menempel di hidung.


"Adakah sesuatu yang menyangkut putraku, si Bagus Mukmin ?"


Sejenak lurah Arya Dipa mengemasi letak duduknya dan kemudian dengan perlahan memyampaikan maksud kedatangannya.


"Ampunkan hamba, kanjeng pangeran. Bilamana kedatangan hamba di tengah malam ini telah mengganggu istirahat kanjeng pangeran." lurah Arya Dipa mulai berkata, lalu lanjutnya, "Kedatangan hamba sebenarnya tak menyangkut perihal diri raden Bagus Mukmin, melainkan perihal yang lain."


"Oh... " kelegaan hati terasa manakala pangeran Trenggono mendengarkan tiada sesuatu yang menyangkut dengan putranya, "lalu gerangan apakah itu ?"


"Kanjeng pangeran, sebenarnya hamba saat ini mendapat tugas dari kesatuan hamba untuk berkunjung ke tanah perdikan Sembojan. Namun dalam perjalanan, hamba menjumpai sesuatu yang aneh." sejenak pemuda itu berhenti demi mengatur napas, lalu lanjutnya, "Setelah hamba dan kawan hamba selidiki, ternyata di kelokan jalan seberang bukit kapur ini terdapat pasukan pangatus."


Tawa renyah mengiringi bibir pangeran Trenggono.


"Maksudmu pasukan itu ialah pasukan yang mengiringiku ini ?" sangka pangeran itu.


"Oh bukan, kanjeng pangeran." jawab ringkas lurah Arya Dipa.


"Hah... jadi ?" kejut pangeran Trenggono dengan menampakan kerut dalam di keningnya.


Lurah muda itu menggeser letak duduknya supaya lebih nyaman.


"Ampun, kanjeng pangeran. Pasukan itu berada di barat yang mana di sana juga terdapat kelokan. Dan disanalah pasukan pangatus yang hamba ketahui dari kadipaten Jipang Panolan yang bertujuan menunggu pasukan yang mengiringi kanjeng pangeran ini."


Bilamana terdengar halilintar hal itu jamak bilamana mengejutkan telinga seseorang, namun tiada badai dan halilintar malam itu tetsp mengejutkan dan mengagetkan sang pangeran demi mendengar laporan dari lurah wira Tamtama, Arya Dipa. Maka dari itu pangeran Trenggono beralih memandang tumenggung Suranata.


"Ki tumenggung, bagaimana pandanganmu mengenai pasukan yang tidak kita ketahui maksud dan tujuannya itu ?"


Tumenggung Suranata sejenak berpikir dan memulai menduga apa maksud dari pasukan itu, lalu katanya, "Pangeran, mohon kiranya hamba ingin menanyakan sesuatu kepada lurah Arya Dipa."


"Silahkan, ki tumenggung."


Karena ijin sudah didapat, maka tumenggung dari kesatuan Wira Manggala mengisarkan pandang kearah dimana lurah Arya Dipa duduk bersila.


"Lurah Arya Dipa, tentunya kau menyelidiki lebih teliti mengenai pasukan pangatus itu, bukan ?" tanya tumenggung Suranata.


"Benar, ki tumenggung." jawab lurah Arya Dipa.


"Lalu tahukah engkau dengan maksud dari pasukan pangatus itu, yang menghadang di kelokan seberang bukit kapur ?"


"Saat hamba mendekat demi mencari keterangan yang lebih, tanpa sengaja dua orang dari pasukan itu mengatakan akan melakukan penyerangan terhadap pasukan ini, ki tumenggung." terang lurah muda itu.


"Begitukah, prajurit Wasis ?" tanya tumenggung Suranata kepada pemuda yang berada disamping lurah Arya Dipa.


"Benar apa yang diucapkan ki lurah Arya Dipa, ki tumenggung." jawab prajurit Wasis, tegas.


Demi mendengar hal itu tumenggung Suranata menganggukan kepala, lalu menoleh terhadap pangeran Trenggono.


"Pangeran, sudah tegas tindakan kita untuk menghadapi pasukan itu, jika memang kenyataanya mereka akan menyerang kita."


"Tapi ki tumenggung, bukankah hal itu akan memperuncing keadaan antara Demak dan Jipang Panolan ? Dan apakah pasukan itu benar - benar sepengetahuan dari paman Adipati Sepuh ?"


Memang apa yang dikatakan oleh pangeran Trenggono menjadi sesuatu yang patut mendapat perhatian lebih, karena akan menyangkut keutuhan kerajaan Demak nantinya. Apalagi di bang wetan keadaan masih panas dan menguatirkan.


"Mohon beribu ampun, kanjeng pangeran." suara lurah Arya Dipa telah memecah ketermenungan pangeran dan tumenggung.


"Apakah kau akan memberikan pendapat, lurah Arya Dipa ?"


"Jika kanjeng pangeran berkenan, hamba akan menyampaikan sesuatu yang mungkin dapat dipertimbangkan."


"O... Katakanlah." seru pangeran Trenggono.


"Begini, kanjeng pangeran. Hamba yang lancang ini telah memahami jikalau pangeran merasa enggan menghadapi pasukan itu." lalu terusnya ketika melihat tumenggung Suranata akan menukas, "Tunggu dulu ki tumenggung, bukan maksud hamba mengecilkan keengganan kanjeng pangeran. Melainkan hamba mengerti keengganan kanjeng pangeran dikarenakan tak ingin merusak hubungan Demak dengan kanjeng Adipati Sepuh, yang sangat dihormati kanjeng pangeran."


Penuturan dari lurah muda itu tak disangka oleh semua yang hadir dalam tenda tersebut. Ternyata seorang lurah yang masih berumur sangat muda itu mampu merangkai kata demikian.


"Lanjutkan ki lurah."


"Oleh karena itulah hamba yang hina ini, mengharap agar pasukan ini tak berbenturan seperti yang diharapkan oleh kanjeng pangeran, sebaiknya meninggalkan perkemahan ini secara diam - diam."


Hiruk pikuk terdengar dari seluruh senopati yang ikut mengawal pangeran Trenggono. Dan hal itu sudah diterka sebelumnya oleh anak angkat ki panji Mahesa Anabrang, maka dari itu ia pun menyusuli dengan kata - kata selanjutnya.


"Mohon kiranya kanjeng pangeran dan tuan senopati sekalian, menganggap hamba pengecut. Namun sebaliknya, disaat kanjeng pangeran Trenggono dan pasukan ini menyingkir, maka esok hari hamba dan kawan - kawan hamba akan bertindak mengacaukan pasukan itu."


"He... Lurah Arya Dipa, apakah kau hilang kiblat ? menyarankan pasukan yang berjumlah banyak dari prajurit yang kau bawa untuk tak berbenturan, tapi malah kau ingin mengacau." seru ki panji Surayada.


Seruan itu mewakili hati beberapa senopati yang menganggap lurah muda yang berada dihadapan mereka, terlalu sembrono dan sombong.


"Benar apa yang dikatakan kakang panji Surayuda dan hal itu juga akan terbaca jika prajurit Demaklah yang melawan mereka." celetuk ki rangga Lembu Pangraron.


"Maaf ki panji dan ki rangga, bukan maksud hamba mengecilkan kemampuan dari pasukan ini. Tapi kami pun hanya melakukan pengacauan untuk memberi waktu supaya pasukan ini semakin dekat dengan kotaraja dan pasukan mereka akan mengurungkan niat mereka." kembali pemuda itu terdiam untuk mengatur napas sekaligus mencari kesan disetiap mereka yang hadir.


"Dan hamba dan kawan - kawan dalam melakukan pengacaun, tentunya tak mengunjukan ciri dari keprajuritan kami."


Akhirnya pangeran Trenggono memahami dan mengerti maksud dari lurah Arya Dipa, "Lalu bagaimana caranya pasukan ini bisa melanjutkan jalan tanpa diketahui oleh mereka ?"


"Kanjeng pangeran, saat kami kemari, kami melintasi sebuah anak sungai yang mengering. Dimana hilir dari jalur itu berada di seberang bukit kapur di depan pasukan Jipang. Dan itulah jalan terbaik untuk penghindaran."

__ADS_1


Setelah disepakati maka dimalam itu juga, pasukan yang mengiringi pangeran Trenggono, bergerak menyingkir demi menghindari pertumpahan darah melalui jalur anak sungai yang mengering. Sehingga pasukan itu lepas dari pantauan pihak tumenggung Harya Kumara dan ki panji Jaran Tangkis.


__ADS_2