BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
31


__ADS_3

Prajurit penghubung tanpa berpaling terus mengendalikan kudanya mengarah ke keraton dan segera turun dari kudanya menuju gardu penjagaan depan balai manguntur. Seorang prajurit telah menghentikan langkahnya yang tergesa - gesa itu.


    "Semi kau kah itu..?" tanya prajurit penjaga yang mengenali prajurit penghubung.


    "Oh syukur aku bertemu denganmu, kakang Banyak. Ada berita yang harus aku sampaikan kepada kerabat ataupun ki patih yang bertanggung jawab mengendalikan pemerintahan sementara ini."


   "Bisa kau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Semi.?"


  "Tak ada waktu kakang, cepat laporkan hal ini aku akan menghadap sendiri." desak prajurit penghubung.


     "Baiklah tunggulah di gardu, aku akan memberitahukan prajurit Narpacundaka tentang kedatanganmu." kata prajurit itu, yang langsung berlari ke dalam balai Manguntur dan melaporkan kedatangan prajurit penghubung dari Bandar, yang diteruskan laporan itu ke ki tumenggung Suranata.


    "Suruh prajurit penghubung itu menghadap." perintah ki tumenggung Suranata, lalu memanggil ki lurah Banyak Wide, "ki lurah, perintahkan prajuritmu untuk memanggil patih Wanasalam serta kerabat keraton lainnya."


    "Sendiko dawuh ki tumenggung." sahut ki lurah Banyak Wide, dan segera menjalankan perintah.


     Di malam itu Balai Manguntur semua Nayaka Praja dan beberapa kerabat keraton telah hadir semuanya, tak ketinggalan ki tumenggung Gajah Pungkuran dan ki tumenggung Suranata.


"Katakanlah warta itu, prajurit." perintah ki tumenggung Suranata.

__ADS_1


    Prajurit penghubung dari kesatuan Jalapati itu beringsut ke depan dan ngapurancang menghadap pangeran Trenggono dan patih Wanasalam Anom.


    "Ampun kanjeng pangeran dan ki patih, sebuah kenyataan yang mengejutkan telah melanda tanah ini, ka...kanjeng Sultan gugur di medan perang." lapor prajurit itu dengan menundukkan kepala.


    Balai Manguntur bagaikan diguncang gempa tak terkira, semua yang hadir tak percaya atas apa yang mereka dengar.


    "Coba katakan sekali lagi.!"


    "Ampun kanjeng pangeran, kanjeng Sultan telah pralaya dan saat ini jenasah beliau sedang menuju ke kotaraja bersama sisa pasukan yang dipimpin oleh senopati raden Tu Bagus Pasai dan pangeran Arya Jepara."


   Walau hal itu sangat mengejutkan semua pihak, tapi pangeran Trenggono kembali menguasai dirinya dan memerintahkan penyambutan jenasah kakaknya dan memerintahkan agar mengirim utusan ke berbagai pelosok kerajaan mengabarkan gugurnya sang Sultan Demak kedua.


   Ternyata kabar gugurnya sang nata Demak itu begitu cepat tersebar dan sampai ke beberapa pihak, salah satunya terdengar telinga kaki tangan Panembahan Bhre Wiraraja.


     "Ini saat yang bagus menggerogoti Demak dengan melenyapkan beberapa pihak." gumam seseorang berwajah tampan.


    "Apa maksudmu raden, masih banyak adipati yang berada dibawah kekuasaan Demak.?" tanya orang tua yang rambutnya sudah memutih.


    "Hahaha, kita akan menghacurkan satu demi satu serta membujuk adipati - adipati itu, bahwa sepeninggal Sultan Sabrang Lor Demak akan ringkih dan tak mempunyai taring lagi." kata orang yang disebut raden, yang tak lain raden Sajiwo bangsawan dari Kadiri.

__ADS_1


      "Benar apa yang dikatakan raden Sajiwo, aku menyetujuinya." kata ki tumenggung Harya Kumara.


    "Apakah kau tak takut menghadapi saudara seperguruanmu yang kini menjadi patih Jipang itu.?" tanya ki Ageng Bawean, menyindir.


    "Jaga mulutmu, ki Ageng. Aku tak takut dengan siapa pun, bahkan denganmu.!" bentak ki tumenggung Harya Kumara.


    Mendengar tantangan itu, orang dari Bawean itu segera bangkit dari duduknya, namun suara batuk kecil membuat dirinya mengurungkan niatnya.


     "Apa kalian tak memandang sedikitpun kehadiranku.!" suara itu terasa berat.


     "Maafkan kami Lintang Kemukus, ini hanyalah salah paham biasa." pinta ki tumenggung Sardulo.


     "Hindari setiap ketegangan di antara kawan sendiri bila kalian masih ingin mukti bersama Panembahan Bhre Wiraraja." sesaat orang yang memakai cadar itu diam, lalu lanjutnya kepada raden Sajiwo, "Apa rencanamu, raden.?"


Raden Sajiwo berdiri dan membisikkan rencananya itu ke telinga Lintang Kemukus Pangrampung, yang di tanggapi dengan anggukan.


   "Bagus."


    Semua yang hadir saling memandang tak mengerti dengan apa yang dibisikkan oleh raden Sajiwo kepada Lintang Kemukus. Orang bercadar itu bisa membaca hati mereka, lalu ia berkata,

__ADS_1


"tenangkan hati kalian, kita akan melakukan sebuah pertunjukan yang akan merugikan keturunan trah Demak, hahaha..."


__ADS_2