
Penuturan dari ki Ajar Bajulpati membuat kesan tersedendiri bagi ki Lurah Arya Dipa dan ki Ageng Gajah Sora. Bagi ki Lurah Arya Dipa, riwayat asal - usul dari kitab Cakra Paksi Jatayu hampir serupa dengan apa yang dikatakan oleh ki Ajar Bajulpati, namun itu hanya secuil saja bila dibandingkan dengan penuturan dari eyang Resi Puspanaga yang merupakan keturunan langsung dari Resi Gentayu.
Sedangkan bagi ki Ageng Gajah Sora, cerita itu bagai dongeng saja. Walau ia dengan hal itu semakin mengagumi sosok pemuda yang kini disampingnya. Sosok pemuda yang sudah beberapa kali menyelamatkan nyawanya dari ancaman maut. Bila pemuda itu benar - benar mewarisi ilmu dari kitab kuno peninggalan Prabu Airlangga, tentu pemuda itu bukan orang biasa.
"Apakah anak ini keturunan ningrat ?" batin ki Ageng Gajah Sora dalam hati.
"Angger, selain tata gerak Cakra Paksi Jatayu, aku pun juga melihat adanya ilmu tata gerak yang sangat aku kenal dari sahabatku yang berada di Penanggungan. Adakah hubungan kau dengan Resi Puspanaga ?" tanya ki Ajar Bajulpati.
Demi disebut Resi Puspanaga sebagai kawan ki Ajar Bajulpati, maka tiada rasa curiga lagi Lurah muda itu terhadap orang dari bang wetan itu, lalu katanya dengan santun, "Ki Ajar, aku yang bodoh ini beruntung atas kemurahan eyang Resi Puspanaga, dengan memberikan tuntunan ilmu Prana."
Ditepuklah pundak anak muda itu, "Sungguh kau sangat beruntung, ngger. Usiamu semuda ini sudah mendapatkan ilmu Prana pemimpin pertapaan Pucangan itu dan kau juga berkesempatan dengan mempelajari kitab Cakra Paksi Jatayu."
"Ah.. Ilmu ku masih mentah bila dibandingkan dengan kemampuan ki Ajar dan paman Gajah Sora." kata ki Lurah Arya Dipa, merendah.
Tawa renyah mengiringi ki Ageng Gajah Sora untuk menyahuti, "Hahaha.. Kau merendah tapi kalau membandingkan denganku, kau berbohong besar, anakmas. Bukankah kau tahu sendiri dengan mudahnya orang yang bernama Menak Sengguruh itu membuatku pingsan ?"
"Hahaha.. Anakmas Gajah Sora, sebenarnya jalur ilmu keluargamu sangat tinggi. Maafkan aku jika aku akan berkata jujur." ucap ki Ajar Bajulpati.
"Berkatalah, ki Ajar."
Sejenak orang tua timur alas Baluran itu menggeser duduknya, lalu kemudian berkatalah ia, "Anakmas belum sepenuhnya menemukan pengembangan dasar ilmu ki Ageng Sora Dipayana."
Kerut melintang di dahi ki Buyut Banyubiru.
"Anakmas, kekuatan aji Lebur Saketi dalam puncaknya sangat mendebarkan. Aji itu bila menumbuk sebuah batu sebesar kerbau, batu itu terlihat masih utuh tiada sesuatu yang terjadi. Namun saat batu itu tersentuh, batu itu luruh menjadi debu halus." orang tua itu berhenti.
Sayup angin semilir membuai daun muda dibagian pucuk tanaman. Bergerak melambai seiring gemulainya sang bayu, yang asyik memerankan perannya di buana raya. Gemericik air terjun menambah suasana syahdu di alam raya. Membuat pikiran tenang dan menemukan pencerahan sampai menyusup ke dalam kalbu.
Begitu pun dengan keadaan ki Buyut Banyubiru. Hatinya menyadari betul dengan apa yang diucapkan oleh ki Ajar Bajulpati. Memang selama ini dirinya terlalu sibuk dengan tanah perdikan Banyubiru dan keluarganya. Gajah Sora muda yang gemar tapa brata, lelaku nepi di tempat - tempat yang wingit dan sepi dari keramaian manusia. Tapi setelah pulang dari selat Malaka, ketekunannya dalam melihat kedirian itu luntur secuil demi secuil. Dirinya setelah menjadi seorang Buyut, terlalu mengandalkan kekuatan laskar Banyubiru semata. Dan tindakan itu sangat merugikan dirinya, atas kegagalannya dalam menjaga dua pusaka Demak.
"Terima kasih, ki Ajar. Ucapan ki Ajar telah memberikan keterangan dalam hatiku. Ku akui selama ini diriku bagai mandeg dalam melihat kedirian dari ilmu yang diwariskan oleh ayah ki Ageng Sora Dipayana." ucap ki Ageng Gajah Sora.
"Syukurlah jika mendengar dengan baik apa yang aku tuturkan tadi, anakmas." kata ki Ajar Bajulpati, "Semuanya belum terlambat, selama nafas masih ada."
Putra ki Ageng Sora Dipayana itu memandang ke arah ki Lurah Arya Dipa, yang kemudian katanya, "Tapi aku sekarang seorang yang diamankan oleh Demak. Bukankah begitu ki Lurah ?"
Suara dari ki Ageng Gajah Sora itu menyadarkan ki Lurah Arya Dipa. Dirinya merupakan seorang prajurit Demak yang mempunyai tugas untuk ikut membawa ki Ageng Gajah Sora. Tetapi ia juga menyadari semua ini adalah ulah dari Raden Singasari yang memperalat dirinya dengan malih rupo menjadi Empu Citrasena.
"Paman, ini semua kesalahanku." desis pemuda itu.
"Apa maksudmu, anakmas ?" ki Ageng Gajah Sora heran.
Untuk mengurangi rasa bersalahnya, ki Lurah Arya Dipa menjelaskan semua yang ia alami saat akan menuju ke Purbaya. Dimana dirinya dikelabui oleh aji dari Raden Singasari.
"Itu semua bukan kesalahanmu, anakmas. Aji itu memang sulit sekali dalam membandingkan wujud yang asli maupun yang tiruan." kata ki Ageng Gajah Sora, setelah mendengarkan cerita pemuda di sampingnya.
"Betul, ngger. Ilmu itu hanya mampu terlihat dengan aji Netra Kinasih dan sejenisnya." sela ki Ajar Bajulpati.
"Apakah ki Ajar memiliki aji itu "
Orang tua itu mengangguk, "Syukur diriku waktu masih muda bertemu seorang sakti yang berdiam di pulau Menjangan."
Ki Ageng Gajah Sora dan ki Lurah Arya Dipa mengangguk - angguk.
Tiba - tiba orang tua itu bangkit berdiri dan menghadap kedua orang itu.
"Anakmas Gajah Sora dan Angger Dipa, karena kalian tak mengalami suatu apa pun dan tiada lagi yang harus dicemaskan, aku akan melanjutkan langkah kakiku."
"Kemanakah tujuan ki Ajar ?" tanya ki Ageng Gajah Sora.
Dengan senyum tulus ki Ajar Bajulpati berkata, "Mengikuti langkah kaki ini, anakmas."
"Baiklah, ki Ajar. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih dan bila sempat mohon sekiranya ki Ajar singgah di Banyubiru." kata ki Ageng Gajah Sora.
"Iya anakmas," sahut ki Ajar Bajulpati, lalu kepada ki Lurah Arya Dipa, "Angger, berhati - hatilah dengan orang yang bernama Lodaya. Dialah yang mempunyai salinan kitab Cakra Paksi yang tak utuh itu."
"Baik ki Ajar Bajulpati."
Setelah sekali lagi ki Ajar Bajulpati mohon diri, dia pun dengan langkah ringan meninggalkan tepian sungai itu. Dan kini tinggalah ki Ageng Gajah Sora dan ki Lurah Arya Dipa.
"Anakmas, bawalah aku ke perkemahan pasukan Demak."
"Tapi, ki Ageng ?"
"Sudahlah, bila aku dan kau menjelaskan semua yang terjadi kepada Kanjeng Sultan, Beliau tentu akan memahami." terang ki Ageng Gajah Sora.
Lantas keduanya mencari jalan ke perkemahan pasukan Demak di bawah senopati Panji Arya Palindih. Setibanya di perkemahan, ki Lurah Arya Dipa menuturkan apa yang terjadi tanpa mengurangi atau melebihkan.
Penuturan itu bagi ki Panji Arya Palindih merupakan bahan yang harus dijadikan pertimbangan mengenai adanya Banyubiru dan orang yang disebut seorang bangsawan dari telatah bang wetan, Raden Singasari. Dan ki Panji Arya Palindih segera memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Demak Bintoro.
Udara terasa memanaskan ruang Balai Manguntur dan sang Nata yang duduk di dampar kencana, manakala terdengar laporan dari ki Panji Arya Palindih mengenai tugas yang diembannya. Dengan sepenuh tenaga Kanjeng Sultan berusaha menekan kemarahannya melalui helaan nafas panjang.
__ADS_1
Kepala Panji Arya Palindih menunduk membeku hanya mampu melihat keindahan ubin tanpa bergerak sedikit pun dari tempat duduknya. Dalam hati sudah mantab andaikata dirinya akan mendapat murka berupa pidana hukum badan atau pencopotan pangkat keprajuritannya. Namun Senopati Bergota itu sangat heran tiada mendengar suara dari Kanjeng Sultan untuk menjatuhkan hukuman kepadanya, hingga terasa waktu begitu lama.
"Paman Panji, walau engkau tiada membawa pusaka kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten, syukurlah paman bisa membawa ki Buyut Banyubiru kehadapanku tanpa adanya korban." akhirnya Kanjeng Sultan bersuara walau nadanya begitu bergetar, "Oleh hal itulah aku mengucapkan terima kasih."
Wajah yang sebelumnya sudah membeku, seketika mencair manakala mendengar ucapan dari sang Sultan. Tak kurang - kurangnya, Panji Arya Palindih mengucapkan syukur kepada Yang Maha Agung dalam hatinya. Serta ia juga mengucapkan terima kasih atas kemurahan sang Nata.
"Sekarang, kalian boleh meninggalkan tempat. Dan untuk ki Buyut dan Arya Dipa, kalian tetap disini."
"Hamba, Kanjeng Sultan !" serempak suara para Nayaka Praja.
Tinggalah kini Kanjeng Sultan Trenggono dan ki Buyut Banyubiru serta Lurah Arya Dipa. Kedua orang itu memang sengaja akan ditanyai sendiri oleh Sultan Trenggono, mengenai peristiwa yang baru terjadi di Banyubiru maupun rentetan terjadinya kejadian yang berkesinambungan.
Pertama - tama Kanjeng Sultan menatap tajam Lurah Arya Dipa. Pemuda yang sangat berkesan dalam hatinya, tetapi kali ini membuatnya sedikit kecewa.
"Lurah Arya Dipa." seru Kanjeng Sultan.
"Hamba, Kanjeng Sultan."
"Sekarang coba kau jelaskan dengan rencana yang kau beberkan waktu itu. Mengapa berakhir seperti ini ?"
Sejenak pemuda itu menggeser letak duduknya, seraya mengankat kedua tangan dimana telapak tangan saling menempel dan kedua ibu jari menyentuh hidung, lalu katanya, "Ampun Kanjeng Sultan, hamba yang picik dan bodoh ini telah melakukan kesalahan yang sangat besar dan sungguh layak, jikalau hamba dijatuhui hukum seberat - beratnya."
"Masalah pidana itu gampang, ki Lurah. Tetapi semuanya harus dilihat secara jelas dengan meneliti dahulu kesalahan yang nyata dari orang itu. Karena itu aku akan mendengarkan apa yang akan kau katakan, dan menilainya apakah perkataanmu itu jujur atau tidak. Sekarang coba kau terangkan lagi."
"Kanjeng Sultan, yang hamba muliakan. Kala itu, hamba kedatangan orang yang sangat hamba kenal yaitu, paman Empu Citrasena." kata ki Lurah Arya Dipa, yang kemudian menceritakan kembali kejadian dimana dirinya berjumpa dengan Empu Citrasena, di perkemahan selatan kademangan Prambanan.
Malam itu sosok yang mengaku Empu Citrasena mendatangi Lurah Arya Dipa. Dalam pembicaran itulah Empu Citrasena berkata, kalau dirinya berjumpa dengan ki Ageng Sora Dipayana dan muridnya.
"Oh.. " kejut ki Ageng Gajah Sora, ketika dalam penuturan itu menyebut adanya ayahnya.
"Ada apa, ki buyut ?" tanya Kanjeng Sultan seraya melirik ke arah ki Ageng Gajah Biru.
"Ampun, Kanjeng Sultan. Memang ayah Sora Dipayana-lah yang merebut kedua pusaka Demak dari tangan Lowo Ijo, tetapi tidak di sekitar Demak, melainkan di Alas Mentaok." jawab Buyut Banyubiru.
Kanjeng Sultan mengangguk, tetapi ia pun memerintahkan kepada Lurah Arya Dipa untuk melanjutkan ceritanya.
Selanjutnya Orang yang mirip dengan Empu Citrasena berbincang - bincang dengan ki Ageng Sora Dipayana, setelah mengalahkan gerombolan Lowo Ijo. Pada waktu itulah ki Ageng Sora Dipayana mempunyai siasat untuk mengembalikan kedua pusaka itu lewat putra yang nantinya akan diangkat sebagai penerusnya, yaitu ki Ageng Gajah Sora.
"Begitulah, Kanjeng Sultan. Tetapi ketika hamba bersama ki Panji Arya Palindih bertamu ke Banyubiru, paman Empu Citrasena dan ki Ageng Sora Dipayana tak nampak hadir sama sekali." akhir dari penuturan Lurah Arya Dipa.
"Ki Buyut, kini giliranmu berkata mengenai kedua pusaka itu. Dari mana kau memperoleh dan mengapa kedua pusaka itu lenyap ?!" perintah Kanjeng Sultan Trenggono.
Suara ki Buyut Banyubiru terdengar mantab dalam setiap katanya. Secara terperinci diceritakan mengenai kedua pusaka Demak yang merupakan sipat kandel kesultanan yang pernah ia abdi.
Tanpa ditanya ki Ageng Sora Dipayana menceritakan kalau keris itu ia dapat dari orang - orang yang menginginkan kedua pusaka itu. Yaitu Lowo Ijo dan seorang pemuda yang mengaku murid sesepuh kanuragan dari Blambangan. Kedua orang itu bertempur habis - habisan demi mendapatkan kedua pusaka yang diyakini mampu menampung wahyu keprabon di Jawa Dwipa ini. Tetapi ternyata keduanya sama - sama sebanding, dalam kecepatan maupun kekuatan tandangnya.
"Disaat itulah seorang pemuda yang mengaku murid ki Ageng Menak Muncar berhasil mendepak buntalan yang ada dalam lindungan Lowo Ijo, hingga mencelat jauh." kata ki Ageng Gajah Sora.
"Hm.. Lalu ayahmu, ki Ageng Sora Dipayana mengambilnya ?" tanya Kanjeng Sultan.
"Hamba, Kanjeng Sultan."
"Lalu.. ?"
Kemudian ki Ageng Gajah sora melanjutkan ceritanya, yaitu ayahnya yang berhasil mengambil bungkusan itu segera dibawa pergi. Awalnya ki Ageng Sora Dipayana ingin membawa ke Demak, tetapi karena jalan yang dilalui melewati kampung halamannya, ia pun singgah sambil melepas rindu kepada keluarganya.
Setelah merasa terobati rasa rindu dengan kampung halaman, ki Ageng Sora Dipayana berangkat ke Demak seorang diri saja. Awalnya tiada sesuatu yang mencurigakan diperjalanan, hingga suatu kali di sebuah gumuk tak kurang dari empat orang menghadang langkah ki Buyut Banyubiru sepuh. Orang - orang yang membuat seorang Sora Dipayana tergetar hatinya. Bagaimana tidak ? Kelima orang itu ialah, Sima Rodra dan kedua anak menantunya serta kawannya dari gunung Kelud, Resi Gangsiran.
Tanpa basa basi keempat orang itu menyerang ki Ageng Sora Dipayana, dengan tujuan mendapatkan kedua pusaka yang mereka yakini di bawa oleh orang dari Banyubiru itu. Sekuat seorang Sora Dipayana tentulah akan sulit jika menghadapi empat pengeroyok yang ilmunya tak jauh beda dengan dirinya. Tak bisa dipungkiri keberuntungan berpihak kepada empat orang lawannya, dengan mengandalkan kerjasama yang apik, lawannya mampu mendobrak pertahanan ki Ageng Sora Dipayana. Sekaligus berhasil membawa kabur kedua pusaka Demak.
Terpaksa ki Ageng Sora Dipayana pulang dengan kekecewaan yang mendalam. Apalagi sesampainya di rumah, seorang utusan dari sahabatnya mengabarkan warta yang membuat ki Ageng Sora Dipayana semakin sedih. Yaitu sahabatnya telah pulang keharibaan Sang Pencipta.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Maka dengan berat hati ki Ageng Sora Dipayana memerintahkan putranya, Gajah Sora untuk mencari keberadaan kedua pusaka Demak.
"Syukurlah, hamba mampu merebut kembali kedua pusaka itu dengan bantuan sahabat hamba, Kanjeng Sultan." ucap ki Ageng Gajah Sora.
"Siapa nama sahabatmu itu, ki Buyut ?"
"Mahesa Jenar, Kanjeng Sultan." jawab ki Ageng Gajah Sora.
Nama itu seperti tak asing ditelinga Kanjeng Sultan. Namun wajah dari nama itu tak terkilas dibenak Kanjeng Sultan Demak. Hanya anggukan kepala saja yang kemudian terlihat dari sang Nata Demak.
"Lanjutkan ceritamu, ki Buyut." kata Kanjeng Sultan Trenggono selanjutnya.
"Tiga hari sebelum kedatangan pasukan yang dipimpin oleh paman Arya Palindih, terjadi penyerangan yang dilakukan oleh gerombolan orang - orang golongan hitam, Kanjeng Sultan. Mereka tiada lain ingin merebut kedua pusaka Demak untuk mereka gunakan sebagai wadah wahyu keprabon."
"Hm... " dengus Kanjeng Sultan sambil mengeraskan kepalan tangan, sehingga terdengar jemari bergemeretakan.
"Sekali lagi hamba mohon beribu maaf, atas ketidak becusan hamba dalam mempertahankan kedua pusaka itu, Kanjeng Sultan." ucap ki Buyut Banyubiru, lalu, " Pusaka yang hamba simpan, berhasil diambil oleh seorang yang masih gelap jati dirinya."
Kali ini Kanjeng Sultan mencoba mengurai setiap kata dari ki Ageng Gajah Sora dan ki Lurah Arya Dipa. Juga mengaitkan dengan laporan ki Panji Arya Palindih, dari keberangkatan ke Banyubiru, sesampainya di Banyubiru, kedatangan pasukan dari Tumenggung Prabasemi, dan yang terakhir seorang bangsawan telatah Singasari yang mampu mengungkap aji Malih Rupá.
__ADS_1
"Kemungkinan itu memang ada. Raden Singasari, hm.. nama itu kembali mencuat lagi, setelah sekian lama hilang." batin Kanjeng Sultan.
Kemudian Kanjeng Sultan berkata, "Buyut Banyubiru, kata - katamu dapat aku percayai."
"Hamba, Kanjeng Sultan."
"Dan kamu, ki Lurah Arya Dipa.."
"Hamba, Sinuwun."
"Kemungkinan engkau memang dikelabui oleh ilmu Malih Rupá, milik Raden dari telatah Singasari itu." kata Kanjeng Sultan, "Walau begitu, engkau tetap salah. Karena menelan dari orang yang kau sangka pamanmu itu, tanpa harus meneliti terlebih dahulu."
Lurah muda itu menggeser tempat duduknya. Dengan hati tatag menyadari kesalahan yang ia perbuat, maka ia pun berkata, "Hamba, Kanjeng Sultan. Hamba siap menerima hukuman yang terberat dengan hati lapang."
"Hm.. Baiklah, aku akan menghukummu. Mulai hari ini kau akan melepas keprajuritanmu."
Bumi bagai bergetar dan suara petir saling bersahut - sahutan memekakan telinga. Cahaya yang menerangi Balai Manguntur tiba - tiba sirna tergantikan kabut hitam pekat menyelimuti penglihatan Arya Dipa.
"Di mana aku ?" desisnya.
Semua sungguh gelap. Bahkan tangannya sendiri tiada nampak, walau samar sedikit pun.
"Aneh.. " desis Arya Dipa, "Tadi aku berada dihadapan sang Nata, tetapi sekarang dimanakah diriku ini ?"
Lamat - lamat terdengar suara tembang mengalun lembut mengusik telinga. Tembang itu terus meluncur masuk ke hati, membuat hati tenteram. Tak berhenti disitu saja, selanjutnya tembang itu berputar mencuat ke arah pikiran dan bersarang di mahkota insan.
"Jalanmu angger." sebuah suara halus terdengar, setelah berakhirnya tembang.
"Oh.. Eyang Pikulun.. " desis Arya Dipa.
Seketika pemuda itu kembali keadaannya dimana ia duduk di Balai Manguntur. Anehnya, walau Arya Dipa mendengarkan tembang di alam yang begitu gelap, namun dirinya tak mendapat teguran dari Kanjeng Sultan. Seperti hanya kilatan cahaya saja, karena ia kemudian hanya mendengar lanjutan dari Kanjeng Sultan.
"Kau tak berpangkat Lurah Prajurit, sampai kau dapat mendapatkan keris kyai Naga Sasra dan kyai Sabuk Inten." seru Kanjeng Sultan saraya memberi perintah kepada Arya Dipa.
Dengan sikap lapang, pemuda itu menerima perintah itu, "Sendiko, Kanjeng Sultan. Hamba siap menjalankan perintah dari Sinuwun."
"Bagus, sekarang juga kau harus meninggalkan Demak."
Setelah memintah pangestu dari junjungannya, Arya Dipa pamit langsung menjalankan perintah sekaligus hukuman yang disandangnya. Walau begitu tak ada secuil rasa mangkel di hati pemuda itu, terhadap Kanjeng Sultan Trenggono. Arya Dipa menyadari kesalahannya yang tak meneliti dahulu sebenarnya yang terjadi.
"Memang aku yang harus menyandang hukuman itu, daripada paman Gajah Sora." desis Arya Dipa, saat ia sudah berada di luar istana.
Sesampainya di lorong luar istana, pemuda itu berhenti dan menoleh ke belakang, yaitu ke arah lorong menuju Kaputren.
"Tidak." desisnya, lalu, "Bila ia tahu keadaanku, tentu ia akan sedih. Biarlah untuk sementara waktu dia menganggapku sedang melaksanakan tugas yang lalu."
Arya Dipa pu kembali melangkahkan kakinya. Tetapi di sebuah tikungan dirinya bimbang. Antara langsung mencari keberadaan kedua pusaka Demak, atau ke Suranatan dimana lurah Mas Karebet berada.
"Aku akan ke sana terlebih dahulu."
Langkahnya kemudian mengarah ke Suranatan. Dengan ramah Arya Dipa disambut oleh penjaga gardu Suranatan.
"Lama sekali, ki Lurah tak main ke sini." kata penjaga gardu Suranatan.
"Iya, paman. Aku baru datang dari Banyubiru." sahut Arya Dipa, "Oh iya paman, adi Karebet ada di rumah ?"
"ki Lurah, sehari setelah kepergian ki Lurah ke Banyubiru, ki Lurah Mas Karebet bagai lenyap tertelan bumi." jawab orang penjaga gardu.
"He.. " kejut Arya Dipa, "Lalu bagaimana dengan paman Ganjur ?"
Penjaga gardu itu menggeleng, "Ki Ganjur telah pulang ke kampung halamannya, ki Lurah."
"Pengging ?"
"Bukan, melainkan ke Tingkir."
.Arya Dipa mengerutkan keningnya, dalam ingatannya Mas Karebet mengatakan kalau dirinya berasal dari Pengging, tetapi mengapa ki Ganjur di katakan orang Tingkir oleh penjaga Gardu itu ?
"Ada apa, ki Lurah ?"
"O.. tidak." kata Arya Dipa, "Baiklah, paman berdua. Kalau begitu aku pamit."
"Eh.. Mengapa ki Lurah buru - buru ?" tanya penjaga gardu.
"Sebaiknya, ki Lurah ikut menyantap ketela rebus dengan kami." sela kawan penjaga pertama.
"Terima kasih, paman. Lain kali saja, karena aku sedang mendapat tugas."
Setelah pamit dengan kedua penjaga gardu Suranatan, Arya Dipa berjalan ke arah gapura kotaraja. Rasa heran menggelayuti hati pemuda itu, mengenai hilangnya Mas Karebet serta perginya ki Ganjur dari Demak.
"Semuanya tak berjalan seperti mestinya. Perkenalanku dengan adi Mas Karebet, seakan - akan ada sesuatu dengan dirinya." desisnya, "Ia pun juga seorang murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga.
__ADS_1
"Hm.. Apakah ia berada di Kadilangu ?" lanjut Arya Dipa, "Ah aku akan ke sana, siapa tahu ada titik terang."
Lapanglah perasaan pemuda itu. Rencana pertama ialah menuju Kadilangu, menghadap Kanjeng Sunan Kalijaga sekaligus mencari keberadaan keris Kyai Naga Sasra dan Sabuk Inten.