
Sama hal-nya keadaan yang dialami oleh ki Ageng Gajah Sora, dua musuhnya juga sangat menakutkan dalam setiap tandangnya. Setiap gerakan tangan atau kakinya mengandung hawa kematian. Bahkan kain panjang keduanya bila mengenai kulit membuat rasa nyeri sampai ke tulang.
Apa sebenarnya maksud daripada orang - orang itu ? Yang dengan mati - matian berusaha melenyapkan ki Ageng Gajah Sora ?.
Pertanyaan itulah yang membuat hati dan pikiran ki Buyut Banyubiru itu menemui jalan buntu. Oleh karenanya kesempatan itu ia gunakan untuk melontarkan pertanyaan kepada lawan - lawannya.
"Kisanak, apa yang kalian inginkan dari ku ?" tanya ki Ageng Gajah Sora seraya mengimbangi gerak lawan.
"Hm.. " geram salah seorang, yang mempunyai hidung bagai paruh burung kakak tua, "Nyawamu, Buyut !"
Walau sudah menduga dengan jawaban lawannya, tetap saja hati ki Ageng Gajah Sora berdesir, "Lalu apa untungnya setelah aku mati ?"
"Hahaha... Kau kira kami akan terpancing dengan kata - katamu itu, Buyut bodoh !" kali ini orang satunya.
"He.. Galih Lumintang, jangan kau kurang tata terhadap seorang Buyut !" seru orang berhidung mancung.
Orang yang disebut Galih Lumintang itu, tertawa sinis seraya mengejek, "Itu dulu, Kuda Krida. Sekarang ia hanyalah seorang tawanan Demak saja."
Panas terasa menyengat telinga ki Ageng Gajah Sora, mendengar ejekan dari Galih Lumintang. Kemarahan Buyut Banyubiru bagai gunung Merbabu yang tak kuat menahan limpahan lahar dari inti bumi. Begitu cepat geraknya dalam melakukan serangan, hingga Galih Lumintag kaget bukan kepalang. Pundak Galih Lumintang dapat diterkam erat, lalu tubuh orang itu diangkat dan diputar demikin cepatnya.
"Mati aku... !" batin Galih Lumintang.
Melihat kawannya dalam bahaya, Kuda Krida berniat menyelamatkan kawannya. Tetapi baru melangkah satu tindak, serangkum angin mengarah kepadanya.
"Oh.. " desuh Kuda Krida sambil menyambut serangkum angin yang berasal dari hempasan tubuh Galih Lumintang.
Walau agak keteteran untung saja Kuda Krida mampu menahan tubuh Galih Lumintang. Dan segera siap menanti sergapan lawan selanjutnya.
__ADS_1
"Licik kau Gajah Sora !" seru Galih Lumintang, ketika kakinya sudah menginjak tanah.
"Tahu apa kau dengan kata licik, kisanak ?!" seru ki Ageng Gajah Sora yang kembali menyerang.
Hanya dengusan yang terdengar dari Galih Lumintang. Orang itu memerhatikan kawannya yang sedang meladeni serangan laksana badai dari ki Buyut Banyubiru. Rasa kagum sempat menusuk hati Galih Lumintag, tetapi secepatnya rasa itu ia singkirkan dan berganti rasa dengki serta ingin membuat lawan Kuda Krida menyesali tindakannya.
Majulah dia ikut mengeroyok seorang yang harus mati di malam itu juga. Bila Buyut itu mati, maka kerjasama kelompoknya dengan telatah Banyubiru akan menguntungkan di masa yang akan datang. Dan ia akan menerima ganjaran berupa uang atau bahkan kedudukan dari junjungannya. Oleh karenanya Galih Lumintang sangat bernafsu dalam melancarkan setiap serangannya. Begitu juga dengan Kuda Krida yang tak mau kalah dengan kawannya.
Peluh sudah membasahi tubuh mereka yang bertempur, sampai - sampai merembes ke pakaian mereka. Namun memang orang - orang itu lain dari orang pada umumnya. Tenaga mereka sungguh mengagumkan. Sepasang kaki mereka mampu membuat tanah bagai terbajak. Sepasang tangan mereka bisa meremukan batu ataupun membuat batang pohon berukuran sedang, terpapas.
Sudah sekian lama perkelahian itu belum ada ujungnya. Keuletan dan ketangguhan ki Lurah Arya Dipa dan ki Ageng Gajah Sora masih mampu melayani lawan - lawannya. Sama halnya dengan ki Ajar Bajulpati, meskipun wadagnya lebih tua dari lawannya, orang tua itu masih bisa berloncatan dengan begitu gampangnya.
Gelapnya malam semakin kelam manakala di langit, segumpal awan tebal beriring - iring memayungi hutan bambu itu. Air yang terkandung di awan dengan rintik - rintik mulai turun. Tetapi perkelahian masih berlanjut dengan sengitnya. Malah air gerimis itu membuat tubuh mereka kembali segar.
"Huh.. Sudah sekian lama, apa yang diperbut oleh Galih Lumintang dan Kuda Krida ? Hanya menghadapi seorang saja, sampai sebegitu lamanya ?" batin Raden Singasari, "Juga dengan Panji Menak Sengguruh, padahal Rangga Rawes membantunya."
"Apa yang sedang kau pikirkan, Raden ?" tanya ki Ajar Bajulpati.
"Hm... Aku ya aku, sedangkan muridku ya muridku. Juga tak semua muridku ikut - ikutan dengan junjunganmu itu." jawab ki Ajar Bajulpati.
"Apa kau tak takut jika padepokan yang kau tinggalkan itu akan karang abang ?!" ancam Raden Singasari.
Tiada terlihat rasa cemas di raut wajah orang tua pendiri padepokan Bajulpati, ketenangannya dalam menyikapi kejadian yang dialami sungguh mengagumkan.
"Hohoho.. Padepokan itu sudah tak ada sangkut pautnya denganku, Raden. Aku sudah menyerahkan padepokan itu kepada murid termudaku, Raganata. Dan bila kau berusaha mengusik padepokan itu, kau akan berurusan dengan kadipaten Puger dan Blambangan."
"Omong kosong !"
__ADS_1
"Coba saja jika kau penasaran." tantang ki Ajar Bajulpati, "Raganata itu kemenakan Adipati Blambangan dan calon menantu Adipati Puger."
Sejenak hati Raden Singasari tercekat, tapi ia malu untuk mengunjukan di wajahnya. Yang ada ialah semakin gencarnya serangannya. Namun kali ini ada yang berbeda dari tubuh bangsawan dari bang wetan itu.
"Hm.. Kakang Pambarep Adi Wuragil.." desis ki Ajar Bajulpati.
Semakin nyatalah perkelahian antara dua orang itu. Semakin lama ilmu simpanan keluar satu demi satu. Raden Singasari yang sudah melambari aji Braja Bayu, pernah mengeluarkan aji Nágábándhá dan kini aji yang nggegirisi, yaitu aji Kakang Pambarep adi Wiragil.
Sementara orang tua dari alas Baluran itu tak mau kalah. Aji Brajamusti yang melambari setiap gerakannya, juga telah mengungkap aji Welut putih, dan kini orang itu juga mengejutkan lawannya.
"He.. " kejut salah satu tubuh Raden Singasari.
"Mengapa kau begitu pucatnya, Raden ?" kata ki Ajar Bajulpati, yang tak terlihat wujudnya.
"Pengecut kau orang tua ! Ilmumu itu hanya cocok disandangkan bagi seorang maling kampungan !"
"Hahaha... Terserah kau berkata Raden, yang penting aku tak berbuat hal serendah itu dengan ilmuku ini." sahut suara ki Ajar Bajulpati.
Ketiga tubuh Raden Singasari terlihat bingung menentukan arah sumber suara lawannya. Suara lawan seolah - olah terdengar disegala penjuru.
"Keluar kau !" teriak salah satu tubuh Raden Singasari.
"Hm.. Baik jika itu mau mu.. " sahut suara ki Ajar Bajulpati.
Sejenak kemudian sesosok tubuh dengan cepat bagai mengudara dari langit, menerjang salah satu dari tubuh Raden Singasari.
"Dess.. ! Bukk.. "
__ADS_1
Tubuh seorang Raden Singasari mencelat jauh mengenai rimbunnya batang bambu.
"Byaar.. Cess.. !" tubuh itu terbakar dan kemudian lenyap.