BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
60


__ADS_3

"Aku harus menyusul kakang Gajah Sora." bathin Mahesa Jenar, lalu ia pun dengan sigap menaiki kuda dan memacu ke arah dimana ki Ageng Gajah Sora melarikan kudanya.


Derap kaki kuda Mahesa Jenar menggetarkan tanah yang dipijaknya, meninggalkan debu membumbung di belakangnya. Semakin jauh kuda itu meninggalkan padukuhan induk, semakin nampaklah asap hitam membumbung di langit dan ketika langkah kaki kuda bertambah, terlihat api berkobar - kobar menjilat atap bangunan.


Bersamaan dengan derap kuda itu dari arah depan banyak para pengungsi yang berjalan tergesa - gesa bahkan berlarian sambil membawa anak, harta benda dan bahkan hewan peliharaan. Melihat itu Mahesa Jenar turun dari kudanya dan bertanya dengan salah seorang pengungsi.


"Tunggu sebentar paman, apa yang sebenarnya terjadi di padukuhan Paminggir ?" tanya ki Mahesa Jenar.


Orang itu tampak cemas dan ada rasa takut yang sangat demi melihat orang yang tak ia kenal. Untunglah hal itu mampu terbaca oleh Mahesa Jenar, sehiggga ia berusaha meyakinkan orang itu dengan menyebut dirinya teman ki Ageng Gajah Biru.


"Oh.. Maaf anakmas, aku terlalu mencurigai anakmas. Di sana prajurit Demak dengan kasar dan ganas membakar rumah dan merampoki harta benda kami.." ucap orang itu.


.


"Bagaimana paman mengetahui kalau orang - orang itu prajurit Demak ?"


.


"Itu pangakuan mereka, anakmas."


.


"Apakah paman bisa menunjukan ciri pakaian mereka ?"


.


Orang itu mencoba mengingat pakaian yang dikenakan oleh para perusuh itu, lalu katanya, "Mereka mengenakan pakaian merah, celana merah, ikat kepala merah dan kain hitam."


.


"Terima kasih paman, silahkan paman ke padukuhan induk." ucap Mahesa Jenar.


.


Setelah orang itu pergi dan kini tinggal Mahesa Jenar yang berdiri mematung di samping kudanya. Tampak dirinya sedang memikir apa yang disebutkan oleh paman tadi dengan ciri - ciri pakaian prajurit yang membuat kerusuhan.


"Prajurit Wira Tamtama-lah yang mengenakan pakaian itu, memang hampir mirip dengan prajurit Wira Manggala hanya saja prajurit Wira Manggala menggunakan ikat pinggang kuning dan ikat kepala biru seperti yang aku kenakan disaat terakhir aku bertugas." desis Mahesa Jenar.


.


Teringatlah bagaimana dahulu dirinya memasuki dunia keprajuritan dari dasar, dimana dirinya dengan tekun dan sabar mulai meningkat jenjang kepangkatannya. Awalnya Mahesa Jenar ditempatkan sebagai pemimpin kelompok, lalu meningkat menjadi Pangatus, kemudian Lurah pengawas Tamtama, Rangga Tamtama dibidang pengawas gedung perbendaharaan dan yang terakhir menjadi pengawal Kanjeng Sultan dalam kesatuan Wira Manggala.


"Semuanya kini tinggal kenangan," desis Mahesa Jenar seraya tangannya menyingkap pakaian, sehingga tersembulah ikat pinggang berwarna kuning dengan timang ciri Wira Manggala.


Kemudian ia pun bergegas mendekati padukuhan Paminggir. Betapa terkejut dan marahnya saat memandang seorang yang mengenakan pakaian keprajuritan sedang mengambili harta milik penghuni padukuhan. Maka dengan cepat Mahesa Jenar berdiri di punggung kuda yang kemudian meloncat menerjang orang itu.


"Dess.. dess.. dess.. "


Terdengar keluhan dari tiga orang yang memakai pakaian keprajuritan Demak, setelah menerima tendangan dari Mahesa Jenar.


"Kurang ajar, kalian telah mencemari prajurit Demak ! Siapa kalian ini, he ?" bentak Mahesa Jenar.


Seseorang yang masih mengusap dadanya memandang dengan rasa bangga seraya berkata lantang, "Lebarkan matamu, Kami prajurit Wira Tamtama Demak !"


Tetapi betapa terkejutnya orang - orang itu ketika jawaban dari orang yang membuat mereka jatuh jungkir balik, yang dikira gentar dengan menyebut diri mereka sebagai prajurit Demak.


"Penipu busuk ! Kalian jangan membohongiku seperti kanak - kanak ! Lihat ini dan buka mata kalian !" seru Mahesa Jenar seraya menyingkap pakaiannya.


"Oh... " kejut orang - orang itu, manakala melihat orang di depannya memperlihatkan ikat kepala keprajuritan.

__ADS_1


"Apa kata kalian ?!"


Ketiga orang itu saling berpandangan satu dengan lainnya. Sesaat kemudian salah seorang bersiul keras. Dan kemudian dari beberapa arah muncul orang - orang yang berpakaian mirip ketiga orang pertama.


"Cincang orang ini !" perintah orang yang bersiul tadi.


Tak menunggu lama semua orang mencabut pedang dan bergerak mendekati Mahesa Jenar. Pedang tajam dan berujung runcing mereka bolak - balik seperti memainkan dan memberi rasa jerih terhadap lawan, yang hanya satu orang.


Tiba - tiba dari arah alun - alun Kabuyutan terdengar kentongan bertalu - talu. Sehingga menimbulkan berbagai tanggapan di hati Mahesa Jenar dan lawan - lawannya. Pertanda apakah itu ? Dalam hati Mahesa Jenar timbul dugaan kalau pihak musuh semakin gencar dalam membuat kerusuhan, sehingga menimbulkan perlawanan dari laskar Banyubiru.


Sementara dari orang yang berpakaian keprajuritan, sebaliknya. Bisa saja itu akan membuat mereka kesulitan di waktu yang akan datang. Sebab dari itu seorang yang terlihat sebagai pemimpin, segera memberi isyarat dan berlarian kocar - kacir.


Melihat tindakan mereka yang kabur, Mahesa Jenar membiarkan saja. Karena ia ingin mengetahui apa yang terjadi di alun - alun Banyubiru. Segera ia meloncat menaiki kudanya untuk menuju alun - alun. Sesampainya disana betapa terkejutnya dirinya ketika mengetahui di alun - alun sudah berkumpul laskar Banyubiru dalam kesiagaan. Tak hanya berhenti disitu saja, dalam genggaman ki Ageng Gajah Sora terlihat sebuah tombak pusaka tergenggam erat.


"Oh.. Kyai Bancak !" kejut Mahesa Jenar.


Perlahan Mahesa Jenar mendekati Ki Ageng Gajah Sora yang diapit oleh ki Wanamerta dan Penjawi.


"Kakang, para perusuh itu sudah kabur. Tetapi mengapa kakang mengumpulkan laskar Banyubiru layaknya pergi berperang ?" tanya Mahesa Jenar.


"Kau keliru adi Mahesa, orang - orang Demak sudah bersiap di bawah lembah Telomoyo." kata ki Ageng Gajah Sora.


"Mana mungkin itu, kakang ? Perusuh di padukuhan Paminggir bukanlah prajurit sebenarnya, mereka hanyalah orang - orang yang mencari keuntungan di air keruh semata."


Putra ki Ageng Sora Dipayana itu mengerutkan kening serta mencuatkan alisnya. Dipandanginya sahabatnya itu dengan seksama.


"Adi, para pengawas di atas tebing telah melaporkan adanya pergerakan dari pasukan Demak saat aku hendak ke padukuhan Paminggir. Dan Penjawi telah meyakinkan dengan dirinya melihat sendiri." kata ki Ageng Gajah Sora.


"Tapi ini semua tentu hanya salah paham saja, kakang. Bila kakang terus menggerakan laskar Banyubiru, Demak akan menganggap kakang dan Banyubiru berbohong dalam hal yang menyangkut dua pusaka itu. Kabuyutan yang berdiri sejak Prabu Brawijaya Pamungkas akan hilang dari peradaban seperti kadipaten Pengging." Rangga Tohjaya masih berusaha membujuk sahabat yang juga sudah ia anggap sebagai saudara sendiri itu.


"Terima kasih atas perhatianmu, adi. Tapi aku juga tak mau jika aku serta tanah kelahiranku ini diinjak - injak oleh mereka. Bila aku salah tentu aku akan menurut, dan aku yakin diriku sudah bertindak semestinya, oleh karena itu aku akan tetap maju." sejenak ki Buyut itu berhenti berkata dan nada yang sebelumnya meledak - ledak, berubah halus, "Adi Mahesa, aku cuma meminta tenagamu."


Ki Gajah Sora tertawa renyah, lalu katanya, "Bukan itu adi, melainkan jagalah Arya Salaka dan bimbinglah ia dalam menekuni ilmu kanuragan dan kajiwan."


"Oh.. Kakang.. "


Kata Mahesa Jenar terputus karena ki Ageng Gajah Sora melambaikan tangan memberi isyarat kapada laskar Banyubiru untuk bergerak.


"Tunggu kakang !" seru Mahesa Jenar seraya mengikuti langkah sahabatnya itu.


Tetapi ki Ageng Gajah Sora terus melangkahkan kaki kudanya menuju sebuah lembah dimana pasukan Demak dalam kesiagaan tertinggi.


Waktu di padukuhan Paminggir mengalami kerusuhan dengan adanya rumah - rumah terbakar, terlihatlah api itu membumbung menggapai langit, sehingga dari lembah Telomoyo api itupun terlihat juga. Apalagi tak berselang lama terdengar kentongan bertalu - talu dengan kerasnya.


"Oh.. Mereka benar - benar ingin memberontak ! Cepat siapkan pasukan !" perintah ki Panji Arya Palindih.


Perintah itu sungguh mengejutkan bagi beberapa perwira, dan salah satunya ialah ki Lurah Arya Dipa. Oleh karenanya perwira muda itu memberanikan diri untuk berbicara dengan Senopati Demak.


"Mohon kiranya ki Panji menyelidiki dahulu. Bukankah ki Panji kenal benar dengan tabiat dari ki Ageng Gajah Sora ?"


"Hm.. Memang aku mengenalnya, ki Lurah. Tetapi dia sudah keterlaluan dengan mempersiapkan laskarnya di alun - alun Banyubiru !"


"Dari mana ki Panji mengetahuinya ?"


Namun sebelum ki Panji Arya Palindih menjawab, seorang lelaki berbadan tinggi dengan mata tajam dan hidung bagai paruh burung Kakaktua muncul dari balik kain penyekat tenda, "Aku sendiri yang melihatnya, ki Lurah."


"Oh.. ki Tumenggung Prabasemi.." kejut ki Lurah Arya Dipa, sedikit heran, "Kapan ki Tumenggung tiba di telatah ini ?"


"Mengapa kau mempertanyakan hal itu, ki Lurah." ucap orang yang disebut Tumenggung Prabasemi, agak ketus dan selanjutnya tanpa menghiraukan ki Lurah Arya Dipa, Tumenggung itu berkata kepada ki Panji Arya Palindih "Kakang Panji, walau aku setingkat lebih tinggi daripada kakang, namun aku hanyalah sebagai pendamping saja. Pasukan ini tetap berada dibawah pimpinanmu, begitu pun dengan pasukan Manggala dan Jalapati yang aku bawa."

__ADS_1


"Oh.. " kembali ki Lurah Arya Dipa terkejut.


Namun lain halnya dengan ki Panji Arya Palindih, orang tua dari Bergota ini menyambut baik atas bantuan dari Tumenggung Prabasemi. Lantas ki Panji Arya Palindih dengan sikap tegas memberi perintah kepada ki Lurah Arya Dipa untuk bersiap - siap.


Tugas adalah tugas dan harus ditaati untuk kemudian dikerjakan. Maka ki Lurah Arya Dipa keluar dari tenda menuju pasukannya dan mempersiapkan segalanya, walau hatinya masih terusik dengan kehadiran Tumenggung Prabasemi di lembah Telomoyo ini, apalagi Tumenggung itu tanpa memakai pakaian bercirikan seorang prajurit Tumenggung.


"Oh.. Bila terjadi sesuatu dengan ki Ageng Banyubiru, akulah yang bersalah. Semuanya sudah tak sejalan dengan rencana dari ki Ageng Sora Dipayana dan paman Empu Citrasena." keluh Lurah yang sangat muda itu.


Pemuda itu tampak termenung ditengah hiruk pikuknya prajurit yang mempersiapkan diri. Kembali teringat dirinya dengan orang yang datang pada saat malam hari di timur Prambanan. Ki Lurah Arya Dipa sangat yakin kalau orang itu benar - benar Empu Citrasena, ayah angkat Ayu Andini. Dan saat itu memberikan secarik surat yang nyata dari Ayu Andini, serta menceritakan mengenai adanya dua pusaka ditangan ki Ageng Sora Dipayana. Kemudian membisikan sesuatu rencana untuk membawa pasukan Demak ke Banyubiru untuk membawa ki Gajah Sora demi memancing gerombolan para perusuh.


Namun kenyataannya sangat berlainan sama sekali, karena dalam rencana itu ki Ageng Sora Dipayana dan Empu Citrasena akan muncul disaat ki Panji Arya Palindih berkunjung di pendopo Kabuyutan, tetapi hal itu tak terbukti.


"Oh.. Mungkinkah orang itu.. " suara ki Lurah Arya Dipa tercekat, tak mampu dirinya untuk melanjutkannya.


Lurah muda itu kemudian sibuk dengan mengatur kelompoknya, bersama ki Rangga Gajah Sora dan ki Lurah Saroyo. Pasukan Wira Tamtama mulai terlihat teratur dengan pakaian serba merah, dan yang paling mencolok yaitu dengan adanya dua pedang disisi pinggang prajurit itu.


Pasukan yang awalnya dari pasukan Wira Tamtama dan Wira Radya, kini bertambah dengan adanya Wira Jalapati dan Wira Manggala. Semakin banyaklah pasukan itu untuk menggempur Laskar Banyubiru yang berada di dataran agak tinggi darioada pasukan Demak.


Pergerakan mulai terlihat secara perlahan mendekati sebuah dataran yang lapang di bukit Telamaya. Rumpun tetumbuhan yang hijau segar terinjak - injak oleh kaki - kaki sekian banyaknya, entah itu dari manusia ataupun kuda tungganngan.


Di depan Laskar Banyubiru yang bergerak dengan gelar Dirada Meta tak kalah gagahnya. Ki Ageng Gajah Sora diapit oleh ki Wanamerta dan Penjawi, nampak begitu tatag dalam menghadapi pasukan yang lebih besar dari Laskarnya. Agak di belakang panji - panji juga ikut berkibar memberi semangat tersendiri, apalagi di dalam gelar itu terdapat panji Dirada Sakti, yaitu sebuah panji dengan dasaran merah berlukiskan seekor gajah berwarna kuning keemasan. Panji kebesaran Kabuyutan Banyubiru.


Sekelompok Laskar dipimpin oleh seorang kepercayaan ki Ageng Gajah Sora, yaitu ki Pandan Kuning dipercaya mengawal panji Dirada Meta. Sementara di sisi kanan gelar telah ditempatkan Bantaran yang berbadan layaknya raden Gathotkaca. Sedangkan di sisi kiri dipimpin oleh Sawungrana, seorang lelaki jujur namun setiap tindakannya dalam bertempur sigap dan trengginas.


Pergerakan antara dua pasukan itu semakin dekat antara keduanya. Dan hal itu membuat Mahesa Jenar bagai dipersimpangan jalan, yang saat itu duduk diatas kudanya di luar gelar Laskar Banyubiru. Menatap ke depan, jantungnya berdebar sangat kencang. Bagaimana tidak ? Di depan pasukan Demak yang menerapkan gelar Cakra Byuha tersusun dari berbagai kesatuan yang sangat ia kenal.


Di depan terlihat pasukan dari kesatuan Wira Tamtama dengan Tunggul Dahana, yaitu sebuah bendera atau panji dengan dasaran merah dengan garis bercorak lintang yang melintang. Lalu di sisi kanan ada kesatuan Wira Jalapati dengan ciri panji Sura Pati, yaitu sebuah panji berlukiskan ikan sura raksasa menggigit sebilah keris berwarna putih.


Kemudian di sisi kiri terdapat kesatuan Wira Manggala, salah satu kesatuan yang tak asing bagi Mahesa Jenar, yang mana dalam tugas terakhirnya ia ditempatkan dalam kesatuan ini, tepatnya di pasukan pengawal raja. Dan yang ini pasukan penggempur dengan panji Garuda Rekta, yaitu sebuah panji warna dasar kuning dengan lukisan garuda berwarna merah. Serta tak ketinggalan pasukan penjaga kota yaitu, Manggala Sraya dengan tunggul Mega, bendera dengan dasaran merah terdapat garis silang berwarna putih.


"Begitu dahsyatnya pasukan yang diturunkan, apalagi di tengan gerigi tak ketinggalan bendera sang Gula Kelapa dengan dikawal pasukan bertombak dari Wira Radya." desis Mahesa Jenar atau Rangga Tohjaya.


Lalu Mahesa Jenar memandang Laskar Banyubiru, ia pun merasa bangga melihat bagaimana pasukan sahabatnya itu, tak menampakan rasa gentar meskipun akan menghadapi pasukan yang hampir lengkap dari Demak. Kegagahan Laskar Banyubiru dengan menggunakan gelar Dirada Meta, menunjukan keyakinan mereka dengan kemampuan yang dimilikinya mampu mengoyak cakra raksasa dengan gading - gading sang gajah.


"Sebuah adu taktik perang yang mendebarkan bagi keduanya." batin Mahesa Jenar.


Ketika Mahesa Jenar dengan sungguh - sungguh memperhatikan gelar kedua pasukan, ia dikejutkan dengan hadirnya seorang remaja yang menunggangi seekor kuda hitam dengan riangnya.


"Oh.. Arya Salaka, kenapa kau kemari ?"


Remaja itu dengan senyum mengembang dan mata berbinar - binar menatap kedua pasukan yang baru ia lihat selama hidupnya, menjawab dengan enteng, "Hanya ikut melihat latihan perang - perangan itu, paman."


Jawaban itu sungguh membuat Mahesa Jenar bingung tak karuan. Bagaimana tidak, di depan nyata - nyata sebuah gelar sesungguhnya, bukan permainan untuk dipamerkan. Tapi ia pun tak berhak untuk menyalahkan dengan jawaban dari remaja yang memang tak mengerti urusan orang dewasa.


"Salaka, sebaiknya kau cepat pulang."


"Kenapa paman ? Aku masih ingin melihat latihan pasukan itu dengan pasukan ayah Gajah Sora."


"Salaka itu.. "


Kata Mahesa jenar tak diteruskan, karena saat memerhatikan ke depan yiatu di pasukan Demak terjadi perubahan gelar.


"Oh.. Garuda Nglayang.. " desis Mahesa Jenar.


Lalu Mahesa Jenar mengalihkan pandangannya ke Laskar Banyubiru. Namun tiada perubahan gelar yang ditunjukan, malah terlihat ki Ageng Gajah Sora nampak terdiam. Hal itu membuat Mahesa Jenar gelisah bukan main.


"Kenapa kakang Gajah Sora tak menggambil tindakan ?" batin Mahesa Jenar, "Apakah ia putus asa ? Oh...Gawat jika ia mengambil tindakan tanpa perhitungan mantap, semoga ia tak mengganti gelarnya dengan Samudra Rob atau pun Glatik Neba. Aku harap ia mampu menerapkan gelar Wulan Punanggal."


Tetapi yang terlihat masih tiada perubahan sedikit pun. Malah ki Ageng Gajah Sora terlihat sedang berbicara dengan ki Wanamerta dan Panjawi. Lalu kemudian Buyut dari Banyubiru itu memandang ke Mahesa Jenar yang berada di luar gelar dan melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Ada apa ?" desis Mahesa Jenar yang kemudian melecut kudanya demi menghampiri Ki Ageng Gajah Sora, tanpa menghiraukan lagi keberadaan Arya Salaka.


__ADS_2