BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
128


__ADS_3

Ki Mahesa Jenar bergegas mempersiapkan diri untuk menghadapi salah seorang saudara gerombolan Ular Sendok dari gunung Kendeng itu. Namun, belum lagi ia beranjak dari tempatnya berdiri, lelaki tua menghardik dengan kerasnya.


   "Ketemu juga kau, Mahesa Jenar !"


   Kedatangan lelaki tua itu membuat Mahesa Jenar tercekat, begitu juga dengan Blego Trengganis dan Blandong Kraksaan. Ketiga orang itu tahu betul orang yang baru datang dengan perawakan layaknya raksasa. Dialah penguasa pulau Sempu yang berjuluk ki Dibyo Manggala. Seorang yang menganut ilmu sesat untuk menyempurnakan ilmunya.


   "Kau Dibyo Manggala ?!" seru ki Mahesa Jenar.


   Orang itu tertawa angker dan memperlihatkan gigi besar dan runcing layaknya taring. Matanya liar menatap ki Mahesa Jenar, orang bertopeng dan dua saudara dari gunung Kendeng. Dari kesemuanya itu ia menatap lebih tajam ke arah orang bertopeng di sebelah ki Mahesa Jenar. Seakan ingin menguliti wajah dibalik topeng.


   "Herr... He, kaukah orang bercambuk yang menggetarkan telatah Jawa ini, he ?!" Tanya ki Dibyo Manggala keras.


   Orang bertopeng menggelengkan kepalanya, "Bukan kisanak. Aku tidak sehebat kawanku itu. Aku hanyalah Kilatmaya dari lereng Penanggungan."


   "Ho... Sombong sekali gelar yang kau pakai, Kilatmaya. Ingin rasanya aku menjajal kemampuanmu !" ucap ki Dibyo Manggala.


   Tiba - tiba Blandong Kraksaan menyela dengan keras disertai ilmu yang mengagumkan, "He, orang Sempu ! Dia sudah menjadi incaranku !"


   Ki Dibyo Manggala melirik Blandong Kraksaan dan sejenak kemudian meludah, "Cih... Cecunguk pemuja Anta Boga namun berkelakuan bejat berani mengumbar adat !"


   "Cobalah kau kalahkan orang bertopeng itu dengan cepat sebelum aku mengalahkan murid Handaningrat, Blandong Kraksaan. Tetapi bila aku yang dulu mengalahkan lawanku, aku akan merebut incaranmu itu." lanjut ki Dibyo Manggala, dengan angkuhnya.

__ADS_1


   Kilatmaya yang dijadikan barang rebutan, tertawa renyah. Sehingga orang -  orang merasa aneh dengan tawa orang bertopeng itu.


   "Siapapun yang menghadapi diriku, boleh saja. Tetapi orang disebelahku bukanlah seorang yang diam saja menyaksikan sikap kalian. Bukan begitu tuan ?" kata Kilatmaya dan mengajukan kata kepada ki Mahesa Jenar.


   Ki Mahesa Jenar yang seorang tidak pandai berolah kata, hanya mengangguk saja. Baginya Dibya Manggala atau dua saudara Ular Sendok, harus mendapat perhatian yang sungguh - sungguh. Karena ki Mahesa Jenar sudah mengenal secara langsung maupun tidak langsung, kemampuan tiga orang itu setara dan bahkan lebih tinggi dari tokoh Sima Rodra dan dua saudara Uling dari Rawa Pening.


   "Herrr..... " gigi ki Dibyo bergemelutakan dengan kerasnya.


   Orang dari pulau Sempu seketika meloncat menyerang ki Mahesa Jenar. Tangannya mengembang bagai harimau menerkam mangsanya. Meskipun gerakan ki Dibyo sangat cepat, nyatanya murid ki Ageng Pengging Sepuh dapat lolos dengan merendahkan dirinya dan menggeser kakinya.


   Sementara itu, Kilatmaya menotolkan kakinya ke tanah, untuk memindahkan tubuhnya mendekati putra ki Ageng Gajah Sora. Gerakannya begitu indah hingga membuat cucu ki Ageng Sora Dipayana terkagum - kagum. Dalam keadaan terpana itulah, orang bertopeng mengangsurkan keris kepadanya.


   "Gunakan keris ini untuk beberapa hari kedepan."


   "Bila tubuhmu tak mengalami luka, lawanlah Blego Trengganis sekali lagi. Gunakan kyai Sangkelat untuk melawannya. Tapi ingat, jangan kau terburu - buru." kata Kilatmaya.


   Tanpa menunggu jawaban, Kilatmaya sudah menggenjot tubuhnya untuk menghadang pergerakan dua bersaudara dari gunung Kendeng.


   Tangan Kilatmaya mengembang bak burung garuda saat menghadang langkah dua bersaudara dari gunung Kendeng. Bersamaan dengan tubuh memutar, dua serangan ia lancarkan memukul dada lawan - lawannya. Meskipun pada akhirnya, lawan mampu menangkis dan satunya lagi menghindar. Namun itu semua sudah dapat diduga oleh Kilatmaya. Oleh karenanya dengan gesit saat kaki sudah kembali menginjak tanah, tendangan memutar ia layangkan kepada Blego Trengganis dan putaran lanjutnya menghajar pundak Blandong Kraksaan.


   Datangnya serangan cepat itu tak membuat Blandong Kraksaan dan Blego Trengganis, gentar. Dua orang itu dapat menangkis dengan baik dan bahkan membalas serangan ganda. Yaitu dua pukulan dari Blego Trengganis, lalu sodokan disertai tendangan dilancarkan oleh Blandong Kraksaan. Sungguh kerjasama yang bagus diterapkan oleh dua saudara itu.

__ADS_1


   Keadaan itu memang menguras tenaga bagi Kilatmaya, terutama serangan - serangan dari Blandong Kraksaan. Kemampuan lawannya itu jauh lebih hebat daripada Blego Trengganis. Dan apa ia duga sejak awal memang benar adanya kalau kemampuan dan tenaga Blandong Kraksaan memang mendebarkan.


   Dalam pada itu, Arya Salaka yang tidak lain putra ki Ageng Gajah Sora, mulai berdiri dan meloncat mengambil lawan Blego Trengganis. Namun kali ini remaja belum genap dua puluh tahun itu telah mengingat pesan orang bertopeng. Untuk menghadapi lawannya, ia harus mengendapkan hatinya dan tak berlaku grusa - grusu. Maka terlihatlah betapa tata gerak perpaduan Pengging dan Banyubiru luluh menimbulkan daya gedor lebih berbobot dan hebat.


   Apa yang dilakukan Arya Salaka kali ini menimbulkan keterkejutan bagi Blego Trengganis. Dia merasakan perbedaan mencolok dari apa yang ia saksikan saat ini. Seolah lawan yang masih pupuk bawang itu mendapat limpahan tenaga kasat mata.


   "Aneh, kenapa tenaganya begitu berbobot seperti ini ?"  ucap Blego Trengganis dalam hati, lalu ia ingat ketika orang bertopeng mengangsurkan benda sekaligus membisiki remaja itu.


   Dicobanya meningkatkan tatarannya selapis lebih tinggi. Tetapi lawan dapat mengimbangi dengan baiknya. Karenanya kembali pemimpin gerombolan Ular Sendok meningkatkan kemampuannya, dan lagi - lagi Arya Dipa bisa menandinginya. Maka terjadila susul menyusul adu keprigelan tata gerak dari masing - masing jalur olah kanuragan yang mereka sadap dari guru masing - masing.


   Di sisi lain perkelahian juga semakin seru, dimana ki Mahesa Jenar menghadapi si raksasa Dibyo Manggala. Sepak terjang ki Mahesa Jenar sangat menakjubkan manakala menerapkan ilmu Pengging serta satu dua ilmu dari Sela. Tangannya yang kuat menggebuk dada lawan yang berdada bidang dengan kerasnya. Serangan itu membuat tubuh lawannya tergeser dua langkah ke belakang.


   "Hehehe.... Kuat juga ilmumu, Mahesa Jenar !" seru ki Dibyo Manggala, diiringi tawanya.


   Raksasa dari pulau Sempu itu menggenjot kakinya untuk melambungkan tubuhnya. Gerakan kaku menjulur lurus ke depan ia lakukan untuk menggedor pertahanan lawan. Dan rupanya lawan tidak menghindar sama sekali. Tak pelak, adu kerasnya tulang terjadi di pinggiran pategal Banyubiru.


   Kaki ki Mahesa Jenar tergeser empat langkah dengan tangan masih menyilang di depan dada. Sedangkan ki Dibyo Manggala membal tapi dengan memutar tubuh dua kali di udara dan selanjutnya dapat mendarat dengan sempurna. Keduanya menggambarkan dua harimau yang sama - sama tanggon.


   Tidak mengulur waktu lama, keduanya kembali bergerak sekaligus meningkatkan kemampuan mereka. Tandang keduanya semakin lama bertambah ngedab - ngedabi. Debu di sekitar mereka ikut bergolak mengudara. Dan tanah pun tak luput menderita terinjak - injak tak karuan.


   Air yang terkandung dalam lapisan daging menyeruak lewat sela - sela lapisan kulit dan menimbulkan keringat yang merembes membasahi pakaian. Menandakan tenaga yang diungkap sangat menyita tubuh mereka. Namun bagi seorang olah yuda, hal itu tak menyusutkan langkah mereka dalam mengungguli lawan.

__ADS_1


   Tiga kalangan manusia jauh dari kemampuan wajar seseorang, berlomba - lomba dapat menekan lawan masing - masing. Tetapi yang hakiki ialah adanya perbedaan tujuan utama mereka dalam mengakhiri perkelahian itu. Bagi Orang bertopeng, ki Mahesa Jenar dan Arya Salaka, tujuan mereka ialah mengalahkan niat lawannya saja bila memungkinan tanpa melenyapkan nyawa yang terkandung dalam raga kasar itu. Tetapi sangat berbeda dengan lawannya, ketiga orang itu memang sengaja ingin melenyapkan jiwa raga ki Mahesa Jenar dan yang lainnya.


__ADS_2