
Gerimis di pagi hari membuat langkah seorang pemuda tertahan dalam menjalankan tugas dan hukuman. Untunglah disekitar tempatnya berdiri ada sebuah lekukan tanah yang dapat dijadikan tempat berteduh. Selain itu di dalam lekukan tanah yang tak terlalu dalam itu, tumbuh pohon pisang yang sudah matang walau hanya terdiri dari tiga lirang.
"Sungguh Yang Maha Agung melimpahkan nikmat tak terkira." desis pemuda itu, sambil memetik buah pisang dan memakannya.
Daging manis dari buah pisang perlahan memasuki mulut dan terkunyah oleh gigi, sehingga bisa lancar memasuki tenggorokan untuk dicerna alat dalam tubuh. Dua buah sudah cukup membuat tubuh pemuda itu kenyang.
Beristirahatlah pemuda itu sambil menunggu hujan reda. Namun, sayup - sayup terdengar suara seorang wanita berteriak memilukan..
"Jangan.. Jangan tuan... Ampuni aku... "
Pemuda yang tak lain Arya Dipa, langsung berdiri dan mempertajam pendengarannya. Sejenak kemudian setelah memastikan arah suara teriakan, Arya Dipa berlari menerobos lebatnya hujan ke arah sumber suara.
"Hehehe.. Semakin kau melawan, semakin asyik diriku menikmatimu wong ayu... " Kata seoarang lelaki berwajah sangar.
"Jangan tuan, aku mohon.... "
Tetapi orang berwajah sangar tak menghiraukan ratapan dari wanita itu. Tangan kokohnya dengan kasar menarik pakaian di betis wanita.
"Sreeeek.... "
Pakaian itu robek dan menontonkan betis yang indah. Mata orang itu langsung melotot penuh nafsu. Diraih lagi pakaian wanita di hadapannya, untuk mendapatkan pemandangan yang akan membangkitkan gelora nafsu bejatnya.
"Hentikan..... !"
Sebuah teriakan dari arah belakang membuat orang berwajah sangar kaget dan berpaling.
"Bangsat.. Munyuk kecil tak tahu diri !" umpat orang itu dengan kasarnya.
"Pergi kau dari sini, sebelum kau kucincang dengan golokku ini !" lanjut orang berwajah sangar seraya menodongkan golok besar.
Tetapi orang yang baru muncul itu malah masuk ke dalam tanpa menunjukan rasa jerih.
"Berhenti kau monyet !" hardik orang berwajah sangar.
Tiada tanggapan dari orang yang baru muncul. Kaki orang itu terus melangkah lebih dalam.
"Memang minta mampus kau.... !" teriak orang berwajah sangar seraya mengayunkan goloknya.
"Sriingg...!"
Tajamnya golok selapis ujung rambut lewat di depan wajah orang yang baru muncul. Hal itu membuat orang berwajah sangar semakin marah, segera ditarik kembali goloknya dan menebas orang yang mengganggu kesenangannya.
Arya Dipa hanya melakukan penghindaran kecil - kecil saja dengan tujuan melihat sampai dimana kemampuan lawan dalam olah senjata. Sejenak kemudian setelah dengan cermat memperhatikan kemampuan lawan, ternyata hanya tenaganya saja yang besar tanpa didukung ilmu tata senjata yang memadai. Maka sekali tangan Arya Dipa bergerak, golok itu sudah berpindah di tangannya.
"Nyawamu akan lepas jika kau teruskan !" ancam Arya Dipa sambil menghunuskan golok di leher orang itu.
Mata orang itu memerah menandakan kemarahan yang sangat. Tetapi tubuhnya tak bergerak untuk melanjutkan perlawanannya.
"Tinggalkan tempat ini, sebelum aku berubah pikiran !"
Orang itu menggeretakan giginya, lalu dengan meninggalkan tempat itu ia mengancam, "Awas, lain kali kau yang akan kucincang kisanak !"
Sepeninggal orang itu, Arya Dipa mengambil sebuah kain dan memberikan kepada wanita yang masih menangis.
"Sudahlah, nyai Orang itu sudah pergi." kata Arya Dipa, mencoba menenangkan wanita muda di hadapannya.
Walau masih terisak - isak, wanita itu mengucapkan terima kasih kepada Arya Dipa, "Terima kasih, tuan."
Arya Dipa mengangguk, "Dari mana asal, nyai ?"
Sambil menyeka air mata, wanita itu menjawab, "Kademangan Mlanding, tuan."
"Jauhkah dari sini ?"
"Tidak, tuan. Setelah menyeberangi kali Tuntang sudah sampai."
Arya Dipa mengangguk, dilihat keluar hujan sudah reda. Lalu ia pun mengantar wanita itu untuk ke pulang ke rumahnya, di kademangan Mlanding. Tak memakan waktu banyak, sampailah keduanya di regol kademangan.
"Nyi Surkanthi.. " desis seorang pemuda yang duduk di depan rumah.
Pemuda itu pun langsung berteriak, "Nyi Surkanthi kembali... Nyi Surkanthi kembali.. Nyi Surkanthi kembali..!"
Teriakan pemuda itu memancing penghuni kademangan keluar semua. Entah itu lelaki atau perempuan, tua atau muda, besar atau kecil. Semuanya berlari ke arah regol.
"Nyai, kau.. Se..lamat... !?" seorang lelaki mengguncang bahu wanita di samping Arya Dipa.
__ADS_1
Wanita itu meneteskan air matanya, dan memeluk lelaki itu, "Berkat tuan ini, aku selamat kakang Demang."
Dilepasnya pelukan nyi Surkanti oleh orang yang disebut Demang. Lelaki itu kemudian menatap Arya Dipa, "Terima kasih, tuan. Tuan telah menyelamatkan istri saya."
"Semua kemurahan dari Sang Pencipta, ki." sahut Arya Dipa.
Bergembiralah penghuni kademangan Mlanding atas keselamatan dari nyi Surkanthi, istri ki Demang Mlanding. Oleh karenanya, ki Demang mengundang Arya Dipa ke rumahnya.
"Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, tuan." ucap ki Demang, setelah berada di rumahnya.
"Sudahlah, ki Demang. Sudah sepantasnya sesama insan saling membantu terhadap kesulitan yang diderita oleh sesamanya."
"Baiklah. Kalau boleh tahu, siapakah nama tuan ? dan dari mana ? mau kemana ?" ki Demang melontarkan berbagai pertanyaan.
"Ah, kakang Demang terlalu banyak tanya." desis Nyu Surkanthi.
Arya Dipa tersenyum, "Jangan memanggil tuan, ki Demang. Aku Arya Dipa yang berasal dari kadipaten Ponorogo dan saat ini ingin melihat luasnya tanag Jawa Dwipa ini."
"Oh, jadi anakmas ini seorang pengembara ?"
"Begitulah, ki Demang."
Pembicaraan itu terhenti manakala pembantu ki Demang menghidangkan berbagai makanan dan minuman.
"Silahkan, anakmas."
"Terima kasih, ki Demang."
Sambil melahap nikmatnya hidangan, Arya Dipa mengajukan pertanyaan yang menyangkut orang yang membawa nyi Surkanthi.
"Kemunkinan salah seorang gerombolan padepokan Kalamuda, anakmas. Sudah sepekan ini mereka melakukan tindakan yang membuat kami cemas."
"Apakah ki Demang tidak menindaknya ?"
"Sudah, anakmas. Tetapi kami tak berdaya menghadapai mereka. Bahkan ki Jagabaya dan anaknya, tewas oleh mereka." kata ki Demang, sambil menundukan kepala.
"Dimana padepokan itu berada, ki Demang ?"
"Di hulu kali Tuntang, anakmas." jawab ki Demang, "Tetapi sebaiknya anakmas jangan kesana."
"Kenapa ?"
"Lalu siapa sekarang yang menjadi pemimpin mereka ?"
"Murid durhaka, ki..... "
Kata ki Demag tak terselesaikan, dikarenakan adanya seorang bebahu kademangan berlari memasuki pendopo.
"Ki Demang ketiwasan.. " kata bebahu itu dengan nafas terengah - engah.
"Ada apa ki Kamituwo ?"
"Orang - orang Kalamuda mengancam akan membakar kademangan keseluruhannya jika tuntutan mereka tak dipenuhi."
Wajah ki Demang terlihat pucat, "Apakah mereka melakukan pengrusakan ?"
"Benar, ki Demang. Rumah ki Siwi telah mereka bakar."
Arya Dipa bangkit berdiri.
Tetapi ki Demang segera mencegahnya, "Duduklah kembali, anakmas."
"Duduk-lah, anakmas." sekali lagi ki Demang menenangkan Arya Dipa.
Akhirnya Arya Dipa kembali duduk ditempatnya.
"Ki Kamituwo, perintahkan para pemuda untuk bersiaga di regol kademangan." perintah ki Demang.
"Baik, ki Demang." sahut ki Kamituwo yang kemudian bergegas melaksanakan perintah.
Tinggalah ki Demang dan Arya Dipa di pendopo itu. Nyi Surkanthi bersama pembantunya sudah berada di ruang dalam, setelah membersihkan hidangan di pendopo.
"Anakmas, ki Plosorejo yang merupakan murid dari ki Kalaseta kini yang menguasai padepokan Kalamuda. Sepekan yang lalu ia ingin menjadikan dirinya sebagai Demang di Mlanding ini." kata ki Demang, "Sebenarnya aku tak mempersoalkan keinginan kakang Ploso Slangkrah itu."
"Tunggu dulu, ki Demang." kata Arya Dipa sambil mengerutkan keningnya, "Apa maksud dari ki Demang dengan tak mempersoalkan keinginan orang yang ki Demang sebut tadi ? Bukankah itu berarti ki Demang menyia - nyiakan kewenangan dari pelungguhan yang ki Demang peroleh dari turun - menurun ?"
__ADS_1
Helaan nafas begitu berat terhembus dari muluy ki Demang. Mata lelaki berusia kepala empat itu menatap pelatatan dengan kosong, seolah - olah mata itu memandang tempat lain.
"Anakmas Arya Dipa, ayahku ki Demang sebelumnya mempunyai dua anak lelaki. Yaitu kakang Ploso Slangkrah dan aku, Danurejo."
"Jadi orang itu masih saudara, ki Demang ?"
Ki demang Danurejo mengangguk, "Benar, ia kakak yang aku banggakan sejak masa kanak - kanak. Seorang kakak yang selalu menyayangi adiknya dan melindungi dari ancaman anak - anak nakal."
Sambil berkata begitu, ki Demang tersenyum. Seakan - akan masa kanak itu terlihat di depannya. Di mana suasana damai yang pernah ia rasakan bersama kakaknya. Tetapi helaan kembali terulang.
"Kakang Ploso Slangkrah yang juga murid kesayangan ki Kalaseta berubah sejak ia mengenal seorang perempuan itu. Ia menjadi sosok yang menakutkan bagi kademangan ini. Oleh karena itu, ayah mengusir kakang dari kademangan ini." kata ki Demang, lalu sambungnya, "Kemudian akulah yang menggantikan kedudukan ayah sebagai Demang Mlanding."
Arya Dipa mendengarkan dengan sungguh - sungguh setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut ki Demang Danurejo.
"Sebenarnya aku hampir melupakan kakang Ploso Slangkrah, andaikata sebuah kabar tak aku dengar. Kakang muncul di seberang kali Tuntang dengan orang - orang yang tak kami kenal. Selanjutnya aku segera bergegas ke sana, tetapi kakang dan kawan - kawannya sudah pergi meninggalkan sesosok tubuh yang sangat aku kenal, yaitu ki Kalaseta."
Sejenak ki Demang berhenti. Tangannya mengepal seolah - olah meremas sebuah benda di dalam genggamannya, "Dia telah membunuh gurunya dengan kejam ! Kakang tega momotong kepala ki Kalaseta !"
"Oh.. " Arya Dipa terbeliak dengan perkataan ki Demang.
"Mungkinkah hal itu terjadi, ki Demang ?" Arya Dipa mencoba mencari ketegasan.
"Kalau aku tak membaca sebuah pesan yang ia tinggalkan, aku tak akan menuduhnya, anakmas." kata ki Demang dengan suara agak berat, "Ia meminta aku menyerahkan kedudukan Demang kepadanya."
"Lalu bagaimana tanggapan dari ki Demang ?"
"Jelas aku menolaknya. Bukan karena aku gila kedudukan, tetapi adanya sebuah pertimbangan untuk kebaikan kademangan selanjutnya. Dan hal itulah yang mengakibatkan ki Jagabaya dan anaknya tewas di tangan gerombolan kakang Ploso Slangkrah."
Semilir angin tak membuat ruangan pendopo kademangan terasa sejuk di hati. Apalagi ki Demang Mlanding masih mengingat ancaman dari kakaknya. Masih terngiang di telinganya suara kakak yang kini telah berubah watak dan tabiatnya.
"Besok malam jika aku tak menyerahkan kademangan ini kepadanya, ia akan menyerang dengan seluruh gerombolannya."
Tergugahlah hati Arya Dipa dengan permasalahan yang dialami oleh ki Demang. Permasalahan yang menyangkut hak waris dari sebuah palungguhan berupa Demang.
"Mengapa Kanjeng Sunan menyuruh aku melewati daerah ini ?" batin Arya Dipa, "Adakah ini akan mempertemukan aku dengan adi Mas Karebet ?"
Pikiran pemuda itu masih ingat dengan jelas akan kata - kata dari seorang suci di Kadilangu setelah ia pergi dari Demak. Ia di suruh ke arah kali Tuntang, di sana akan ada sebuah peristiwa yang memerlukan bantuan. Serta di seberang kali itu nantinya ia akan berjumpa dengan seorang yang ia cari, yaitu Mas Karebet.
"Anakmas..." seru ki Demang.
"Oh.. Maaf, ki Demang." kata Arya Dipa, setelah dirinya sadar dari lamunannya.
"Adakah yang anakmas pikirkan ?"
Arya Dipa tampak berpikir, lalu kemudian ia pun berkata, "Ki Demang, berapa banyakah gerombolan Kalamuda itu ?"
Ki Demang tak mengerti jalan pikiran dari Arya Dipa. Tetapi tanpa ia sadari mulutnya menjawab, "Sekitar seratus orang, anakmas."
"Lalu berapakah pengawal Kademangan ini ?"
"Hanya lima puluh saja, anakmas."
Sebuah perbedaan yang banyak di dalam jumlah dan tentu kemampuan gerombolan itu juga patut diwaspadai, bila melakukan perlawanan. Untuk melakukan penyerangan ke pusat lawan, tak menguntungkan. Andai meminta bantuan ke prajurit Demak sangat mustahil di dapat, selain dirinya bukan lagi seorang Lurah prajurit, letak Demak jauh.
"Ki Demang, maaf bila aku ingin mengusulkan sesuatu.. "
"Maksud anakmas ?"
"Bila ki Demang ingin melakukan perlawanan, aku ingin membantu tenaga dan pikiran dalam menyelesaikan ancaman di kademangan Mlanding ini."
"Oh.. Anakmas, kau terlalu baik. Sebaiknya anakmas menghindar saja dari pertikaian ini." kata ki Demang.
"Mudah itu ki Demang. Tetapi selanjutnya aku akan dihantui dengan sikap penghindaran itu, ki Demang." Arya Dipa masih mencoba bertahan untuk membantu.
"Bukannya aku menyombongkan diri, ki Demang. Kekuatanku ini hanyalah secuil saja. Tetapi jika ikut bersama ki Demang, tentu akan menambah kekuatan ki Demang walau itu hanya satu orang." sambung Arya Dipa.
"Baiklah bila itu keinginan, anakmas sendiri. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih." Akhirnya ki Demang menerima uluran tangan Arya Dipa." Kalau begitu besok kita akan menghadapi mereka."
"Ki Demang, kalau boleh mengusulkan sebaiknya kita menyusun siasat."
Ki Demang mengernyitkan alisnya tiada terpikir dirinya akan menggunakan sebuah siasat. Dalam pemikirannya ia dan para pengawalnya akan lansung bertempur begitu saja.
"Siasat bagaimana, anakmas ?" tanyanya kemudian.
"Sebaiknya ki Demang memanggil seluruh bebahu dan para pemimpin pengawal ke pendopo."
__ADS_1
Usul itu mendapat tanggapan yang baik oleh ki Demang. Bertepuklah ia untuk memanggil pembantunya dan segera memberikan perintah untuk memanggil seluruh bebahu dan pemimpin pengawal.
"Baik, ki Demang." kata pembantu ki Demang yang kemudian bergegas menyampaikan perintah ki Demang.