
Sekali lagi tubuh ki Ajar Bajulpati lenyap dan muncul secara tiba - tiba di dekat tubuh Raden Singasari lainnya. Kejadian mengerikan kembali terulang dengan tubuh Raden Singasari itu. Saat kepalan tangan ki Ajar Bajulpati mendarat di dada bangsawan itu, tubuh itu terbakar dan lenyap.
"Kini tinggal kau dan aku lagi, Raden !" seru ki Ajar Bajulpati.
"Kau salah, orang tua. Lihatlah di belakangmu !"
Segera ki Ajar Bajulputih menengok ke belakang. Bersamaan dengan diri orang tua itu menoleh, kesiur angin dari sebuah pukulan mengarah dadanya. Dengan gerak naluriah orang tua itu mengisar kakinya untuk menghindari pukulan dari sosok yang mirip daripada Raden Singasari. Walau ki Ajar Bajulpati sempat menghindar, tiada sepenuhnya berhasil, malah pundaknya kini yang menjadi bulanan pukulan tangan sosok kembaran Raden Singasari.
"Dess.. "
Tubuh orang tua itu bagai layang - layang putus dari benangnya. Mencelat jauh dan hampir jatuh dibibir jurang. Bergegas orang dari timur alas Baluran itu bangkit seraya menyeka darah yang merembes dari bibirnya. Dan tak lama kemudian tubuhnya raib tak nampak oleh mata wadag.
"Kurang ajar, orang itu hilang kembali !" gerutu Raden Singasari.
Sementara itu di sisi selatan ki Panji Menak Sengguruh mulai mengeluarkan aji Prahara Geni. Gelembung - gelembung bola api menghujam tubuh Ki Lurah Arya Dipa. Begitu juga dengan ki Rangga Rawes, ilmu Tapak Dahana menyeruak dari telapak tangannya.
"Dess.. Dess.. Dess.. !"
Dua gelembung Prahara Geni dan pukulan Tapak Dahana mendarat di tubuh Lurah muda Demak itu. Untunglah sebelumnya aji Niscala Praba sudah melindungi diri pemuda itu. Sehingga ki Lurah Arya Dipa mampu menahan semua gempuran tenaga dahsyat dari kedua orang itu.
"Edan.. !" maki ki Rangga Rawes sembari meloncat menjauh dari lawannya, "Ilmuku membal. Cahaya apa kuning kemilau yang menyelimuti pemuda itu ?"
"Hati - hati, adi Rawes. Pemuda ini sangat sakti." seru ki Panji Menak Sengguruh.
Keduannya kembali memusatkan nalar dan budinya untuk melontarkan ilmu masing - masing. Di depan pun ki Lurah Arya Dipa tak tinggal diam. Kuda - kuda yang mantab dan kokoh, lalu kemudian aji Niscala Praba masih terus menyelimuti pemuda itu, dan kini aji Sepi Angin siap ia lontarkan.
"Buuummmmm... !!!!"
Tanah bagai dilanda gempa dan terdengar ledakan yang memekakan telinga bagi siapapun yang mendengarkan. Air hujan seakan - akan buyar bersamaan dengan muncratnya rumput, tanah, dan bebatuan kecil. Dimana tempat berdirinya ki Lurah Arya Dipa, tak terlihat karena terhalang oleh bekas ledakan itu.
Ki Panji Menak Sengguruh sudah tak berada di tempatnya juga. Tubuhnya mencelat dua tombak dan terlihat payah. Dari mulutnya merembes darah segar dan dadanya selalu ditekan. Sama juga dengan ki Rangga Rawes, saat pertemuan tenaga itu dan terjadi ledakan yang dahsyat, tenaganya terasa membalik ke arahnya dan membuat isi dalam dadanya nyeri sekali. Darah segar pun terlihat membasahi bibirnya. Kedua orang itu segera duduk memusatkan nalar dan budi untuk mengendalikan pernafasan dan meredakan rasa sakit dalam dada mereka.
Bekas tempat ki Lurah Arya Dipa berdiri kini tinggalah lubang besar, tiada wujud anak muda itu secuil pun. Sehingga ki Ageng Gajah Sora dan ki Ajar Bajulpati yang sempat memerhatikan adu tenaga tadi, terlihat cemas dangan keadaan ki Lurah Arya Dipa.
"Ah.. Hancurkah anak muda tadi ?" batin ki Ageng Gajah Sora.
"Sekarang kau akan menyusul juga, ki Buyut !" seru Kuda Krida sambil menjulurkan pedang yang sudah ada ditangannya.
Hampir saja pedang itu memengal kepala ki Buyut Banyubiru, andai tak segera merendahkan tubuhnya. Namun lawannya tak tinggal diam, ditariknya pedangnya dan mengayun ke bawah. Untung saja ki Ageng Gajah Sora cepat bertindak dengan melentingkan tubuhnya ke belakang agak jauh. Tetapi lawan yang lainnya sudah memperhitungkan langkah selanjutnya daripada Orang Banyubiru itu. Tangan kuat dari Galih Lumintang langsung menumbuk punggung anak ki Ageng Sora Dipayana.
"Duukk... !"
__ADS_1
Rasa nyeri menjalar punggung ki Ageng Gajah Sora, akibat jotosan dari Galih Lumintang. Tak sempat orang itu untuk mengeluh, karena lawan satunya sudah siap mengancam nyawanya dengan sebilah pedang tajam. Sekali ia lengah maka matahari indah di esok hari, tentu tak akan ia lihat kembali. Dengan menggelindingkan tubuhnya ki Ageng Gajah Sora menghindari terjangan tajamnya pedang, lalu setelah dirasa aman bergegas ia melenting berdiri dan waspada.
"Nafasku hampir putus.. " keluh ki Ageng Gajah Sora.
Mendadak Galih Lumintang sudah meloncat tinggi dan Kuda krida juga merangsek mengayun - ayunkan pedangnya. Walau nafas sudah saling berkejaran, ki Ageng Gajah Sora siap menanti serangan dua lawannya. Pertama dengan kedua tangan menyilang, ia tahan gempuran dari Galih Lumintang. Selanjutnya setelah berhasil mengatasi gempuran lawan, dengan gerak ringan badan ki Ageng Gajah Sora melenggak demi menghidari tusukan pedang Kuda Krida, lalu dengan kerasnya memukul pergelangan tangan dan satu lagi memukul dada lawannya.
"Heegg.. " dada Kuda Krida bagai tersodok batang besi dan tangannya terasa nyeri terkena tebasan alu, sehingga pedangnya jatuh ke tanah. Tetapi orang ini tak ingin dirinya sendiri yang menderita. Sambil membungkukan badan, ia sundul lambung lawan dengan kerasnya.
Ki Ageng Gajah Sora hampir saja terjatuh. Namun secepatnya ia mengokohkan kakinya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Debar jantung masih berdetak kencang bila menyaksikan apa yang terjadi kemudian. Dimana tangan kanan Galih Lumintang sudah tergenggam sebuah nanggala dan dengan gerakan cepat mengarah tengkuk ki Ageng Gajah Sora.
Meskipun terasa kesiur angin menerpa tengkuknya, ki Ageng Gajah Sora tak sempat untuk menghindar atau pun menangkis. Jantungnya bagai tercekat berhenti berdetak, menanti ajal yang akan datang kepadanya.
"Oh.. Inikah ajalku ?" batinnya.
Saat itulah sebuah bayangan sudah dekat dengan tubuh ki Ageng Gajah Sora. Sebuah pedang tipis tepat menempel ditengkuk ki Buyut Banyubiru.
"Tring.. Bukk.. Bukk.. "
Pertama bunyi bertemunya nanggala dan pinggang daun pedang, lalu disusul dua tumbukan mendarat di tubub Galih Lumintang hingga membuat orang itu mencelat.
"Ki Ageng tak apa - apa ?" tanya orang itu, cemas.
Lurah muda itu tersenyum dengan tindakan ki Ageng Gajah Sora, "Yang Maha Agung masih bermurah hati melindungiku, ki Buyut."
Gerimis masih turun membasahi hutan bambu itu. Bahkan semakin lama bertambah deras. Tak jauh dari hutan itu terdengar suara air mengalir dengan derasnya, mungkin malah dikatakan banjir. Memang hutan bambu itu berdekatan dengan anak sungai yang berada di bawah tebing curam.
"Bersiaplah, ki Buyut. Sepertinya mereka akan melanjutkan tindakan mereka." kata ki Lurah Arya Dipa.
"Hm.. Iya anakmas, begitu juga dengan lawanmu itu." sahut ki Ageng Gajah Sora, mengarahkan pandangannya ke arah ki Panji Menak Sengguruh dan ki Rangga Rawes.
"Maaf, ki Ageng. Aku akan melawan dua orang lawanku yang sebelumnya. Semoga ki Ageng tak segan - segan untuk memberi pelajaran kepada ki Ageng."
"Hahaha.. Pergilah, anakmas. Aku akan berusaha mengatasi dua orang ini." kata ki Ageng Gajah Sora, sambil memandang kepergian anak muda yang umurnya lima tahun lebih tua dari anaknya.
"Murid siapa dia sebenarnya ? Tak ku sangka ia semuda itu mampu melawan aji - aji yang mendebarkan." sambung putra ki Ageng Sora Dipayana.
Kepala tanah perdikan Banyubiru itu harus menghentikan rasa kagumnya kepada pemuda yang dua kali menyelamatkan nyawanya. Karena lawannya, Kuda Krida dan Galih Lumintang sudah bergerak. Kembalilah perkelahian itu terulang dengan serunya.
Sementara ki Lurah Arya Dipa bersungguh - sungguh menangani lawannya. Pedang kyai Jatayu tergenggam erat di tangan kanan. Mata tajam setajam burung garuda. Selapis warna kuning kemilau selalu melindungi tubuh perwira muda itu. Sebuah sikap dan tata gerak yang membuat lawan terkesima.
__ADS_1
Ki Rangga Rawes mengeraskan hatinya, agar lepas dari pengaruh perbawa dari lawannya, sambil berucap perlahan,."Dia hanya anak - anak yang baru belajar berloncatan."
Dari balik kain pakaiannya tersembul keris panjang luk sebelas. Pusaka andalannya yang ia warisi dari gurunya di telatah pulau selatan. Keris kyai Sisik Jangkung.
Sedangkan di tangan ki Panji Menak Sengguruh, Tergenggam senjata berwujud pedang, pedang lengkung dengan ujung berkait. Sekali pedang itu menghujam daging, apabila ditarik tentu akan menimbulkan luka mengerikan, daging robek dan sangat menyakitkan.
Walau terlihat dalam kewadahan rasa tatag dan jauh dari rasa gentar, kenyataannya dalam hati kecil seorang Lurah Arya Dipa sungguh miris. Mengapa seorang bernama manusia masih menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan setiap masalah ?
Tapi itulah yang terjadi sejak manusia terlahir dan kehidupan selanjutnya. Kekerasan dengan mengucurkan darah sesama tak terhenti. Sudah terukir dengan jelas di rontal - rontal, kitab - kitab kuno, kakawin dan sejenisnya bagaimana kejadian itu terus berlangsung.
"Hiatt.. !" teriak ki Rangga Rawes, seraya mengayunkan keris panjangnya.
"Tring.. Tring.. Tring.. "
Suara beradunya logam pilihan mulai terdengar bersamaan berpercikan api dari dua batang besi pilihan. Ilmu senjata keduanya sangat mengagumkan dengan bermacam corak dan kembangan.
Apalagi saat ki Panji Menak Sengguruh memasuki perkelahian, perkelahian itu semakin seru dan sengit. Pedang berkait milik Panji dari bang wetan itu sungguh ngedab - ngedabi. Sekali pedang itu menusuk saat ditarik, pedang itu berusaha mengait senjata lawan atau tubuh lawan.
"Mati Riko !" teriak ki Panji Menak Sengguruh dengan logat Blambangan.
Pedang berkait itu menebas tangan ki Lurah Arya Dipa, saat pemuda itu masih menahan serangan ki Rangga Rawes. Demi menghindari tebasan pedang berkait, terpaksa ki Lurah Arya Dipa melepas pedang kyai Jatayu. Dan pedang itu jatuh, tetapi secepat kilat kaki pemuda itu menendang tangkai pedangnya dan dengan meloncat tinggi, pedang kyai Jatayu telah kembali dalam genggaman.
"Hebat benar kau, anak muda !" puji ki Rangga Rawes yang sudah melakukan serangan ganda.
"Tring.. Tring.. Dess.. Dess..!"
Dua kali tajamnya keris panjang dan dua kali tendangan dan pukulan dari ki Rangga Rawes, berhasil dimentahkan. Selanjutnya kedua orang dari bang wetan itu terus merangsek menghalau ki Lurah Arya Dipa. Beradunya tajam senjata disertai pukulan atau pun tendangan semakin sering terlihat.
Tak jauh, ki Ageng Gajah Sora berusaha meladeni kedua lawannya. Kedua lawannya dengan mati - matian terus malakukan serangan mematikan dan bahkan disebut buas. Tata gerak Kuda Krida dan Galih Lumintang terlihat kasar dengan umpatan - umpatan kasar.
"Apa kedua orang ini seorang perampok atau berandal ?" batin ki Ageng Gajah Sora sembari menghindari sergapan senjata Kuda Krida.
"Wuts.. "
Sembari menghindar tadi, ki Ageng Gajah Sora berhasil melontarkan pedang lawan dengan menggunakan kain panjangnya. Meskipun begitu ia pun harus membayar dengan tumbukan kepalan tangan Galih Lumintang tepat di pinggangnya. Tak sempat ki Buyut itu untuk mengeluh demi melihat lawan satunya lagi akan menendang tubuhnya. Kain panjangnya segera ia kibaskan dan melilit kaki Kuda Krida. Disentaklah kain itu dengan kerasnya.
"Heeg.. Duk.. Duk.."
Tubuh Kuda Krida terjengkang dan rubuh. Tak hanya itu saja, punggungnya juga terkena sabetan kain panjang ki Ageng Gajah Sora.
Mengetahui kawannya dihajar babak belur, Galih Lumintang yang sudah menerapkan aji Hasta Wesi langsung menumbuk putra ki Ageng Sora Dipayana. Tetapi ki Ageng Gajah Sora tak lengah atas lawannya itu. Kakinya bergegas mengisar ke samping seraya melintangkan kain panjangnya dan segera melilitkan ke tangan itu.
__ADS_1
Terjadilah adu tenaga dari dua orang itu, yang kini tiada yang mengganggu. Dikarenakan Kuda Krida tak mampu bergetak akibat dari sentuhan kain panjang ki Ageng Gajah Sora yang mengenai titik simpul.