BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
89


__ADS_3

Dua orang lelaki paruh baya dan remaja keluar dari balik semak. Semuanya berseru memanggil satu dengan lainnya, menunjukan kalau Putut Jenggala dan Sri Tanjung mengenali dua orang itu. Begitu pun sebaliknya dengan dua orang yang baru muncul itu.


.


Sri Tanjung nampak berseri dengan kedatangan dua orang itu, lalu sapanya, "Uwa Barda dan adi Panca.."


.


"Oh.. Kalian berdua.." seru orang tua itu, dengan perasaan lega, "Syukurlah kalian belum tertangkap.."


.


"Oh, ki Barda sudah mengetahui apa yang terjadi dengan padepokan ?"


.


"Hm.. " desuh ki Barda, "Hampir saja aku dan Panca masuk dalam sarang serigala."


.


Putut Jenggala dan Sri Tanjung saling berpandangan.


.


"Sepertinya kalian berdua kurang memahami dengan pasti, apa yang aku maksud dengan sarang serigala itu ?" tanya ki Barda, yang mampu menyelami perasaan keduanya.


.


" Begitulah, ki Barda."


.


Ki Barda mengangguk sesaat, kemudian orang tua itu duduk di bawah pohon keluwih dan menghela nafas. Panca, anak remaja yang tadi berdiri di belakang ki Barda, mengikutinya dengan duduk disamping orang tua itu. Anak remaja itu membuka bungkusan dan mengambil kotak kecil, dan dari kotak dijumutnya selembar daun sirih, cairan kapur atau yang disebut enjet, gambir. Semuanya dimasukan dalam lipatan daun sirih dan diserahkan kepada ki Barda.


.


"Terima kasih, ngger." ucap ki Barda dan mengunyah lipatan daun sirih itu.


.


Memang sudah kebiasaan bagi ki Barda dalam kesehariannya tak lepas dari mengunyah daun sirih, atau dalam sebutan orang jawa, nginang.


.


"Adi-mu, Pineluh. Bekerja sama dengan Sanjaya." kata ki Barda kepada Putut Jenggala.


Perkataan dari ki Barda telah diartikan berbeda oleh Putut Jenggala dan Sri Tanjung. Kalau dalam pengertian Putut Jenggala, sudah mengerti kalau adik seperguruannya berkhianat dan.. Ah, akhirnya bayang - bayang makin jelas terlihat oleh Putut Jenggala. Penyerangan gelap itu adalah ulah adiknya sendiri, dan ialah yang membuat gurunya tewas.


.


Berbeda dengan Sri Tanjung, wanita muda ini mengira kalau murid kedua ayahnya berhasil bertemu dengan Sanjaya, lelaki pujaannya.


.


"Jadi, uwa ke sini untuk menjemputku ?" tanya Sri Tanjung dengan girangnya.


.


Hal itu membuat ki Barda mengernyitkan alisnya, ia juga memandang ke arah Putut Jenggala. Dan anak muda yang ia tatap dengan tajam itu, menggelengkan kepalanya. Sehingga ki Barda menghela nafas.


.


"Ada apa, uwa ?" tanya Sri Tanjung, heran.


.


"Hm.. Tanjung, putriku. Tahukah kau, mengapa aku keluar meninggalkan padepokan satu candra yang lalu ?"


.


Wanita itu menggeleng pelan. Memang putri ki Trunalaya itu tidak tahu mengapa pamannya itu pergi dari padepokan Karang Tunggal. Saat ia bertanya kepada ayahnya, jawaban ayahnya hanya mengatakan kalau pamannya itu sedang jalan - jalan saja.

__ADS_1


.


Ki Barda kembali menghela nafas dan membatin, "Hm, adi Trunalaya. Kau terlalu tertutup dengan putrimu."


"Nduk, kepergianku kala itu tiada lain untuk mencari keberadaan anakmas Sanjaya dan mengetahui siapa dia sebenarnya." kata ki Barda, "Bukankah ayahmu sudah mengatakan semuanya dan mungkin kau lupa ?"


.


"Menurut ayah, kakang Sanjaya putra seorang bangsawan. Tetapi ayahnya tidak menyetujui kebersamaan kami, walau begitu kakang berjanji akan hidup bersama denganku di padepokan."


.


"Oh, Batara Agung.. " desis ki Barda perlahan.


.


Kemudian ia berkata kepada Sri Tanjung, "Nduk, cah ayu. Maafkan uwa-mu ini, akan aku katakan kebenaran yang menyangkut diri anakmas Sanjaya."


.


Lalu dituturkan-lah dengan sejelas - jelasnnya jati diri Sanjaya serta tingkah lakunya. Ternyata ki Barda dalam pengembaraannya bersama Panca menemui titik terang dari pemuda rupawan itu. Sanjaya merupakan anak seorang bangsawan dari Tumapel dari garwo selir. Sejak kecil ia diasuh oleh kakeknya di sebuah pulau selatan jawa. Dan kakeknya ini merupakan seorang sakti, tetapi juga bertabiat buruk, terutama mengenai nafsu terhadap wanita. Sayang sungguh disayang, perilaku itu menurun kepada Sanjaya.


.


Tangis sesenggukan disertai jerit kecil melanda Sri Tanjung. Jika yang memberitahu perilaki Sanjaya orang lain, Sri Tanjung tak bakal percaya. Tetapi uwanya-lah yang berkata. Seorang yang ia kenal sejak kecil, dimana orang tua itu sangat baik dan jujur dalam bertindak dan berucap.


.


Di-usap rambut hitam arang wanita itu, oleh ki Barda. Ia bisa merasakan betapa hati kemenakannya hancur berkeping - keping. Ki Barda tak mengira dengan keadaan kemenakannya saat ini. Dalam usia lima tahun, ibunya meninggal karena penyakit yang dideritanya. Lalu, kemarin ayahnya tewas ditangan muridnya sendiri. Kemalangan masih berlanjut dengan tindakan tercela oleh Sanjaya, lelaki yang dicintai kemenakannya itu.


"Tabahkanlah hati-mu, nduk. Semuanya sudah suratan Dewata."


.


"Angger Jenggala, sebaiknya kita menyingkir dari telatah Karang Tunggal. Di sini kita dalam bahaya, waktu aku ke sini tadi, aku mendengarkan kalau kau dalam incaran orang - orang Pineluh. Tidak hanya itu saja, Pineluh selain ingin menguasai padepokan Karang Tunggal, ia juga inggin mendapatkan Sri Tanjung."


.


.


"Endapkanlah perasaan kalian berdua, kuasai amarah dan kendalikan dengan sebaik - baiknya. Supaya tidak menyeretmu dalam bahaya sebenarnya." ki Barda mencoba menenangkan Putut Jenggala dan Sri Tanjung.


.


"Bagaimana aku akan tenang, ki Barda ?" kata Putut Jenggala, "Padepokan itu sudah dikuasai oleh seorang murid durhaka, dan sekarang ia ingin merampas nini Sri Tanjung."


.


"Lalu apa yang akan kau lakukan ? Menyerbu sendiri ke sarang serigala itu ?" kata ki Barda dengan kerasnya, "Sungguh ksatria tindakan-mu, Jenggala. Tetapi setelah itu kau bagai macan yang dipermainkan di alun - alun. Tubuhmu arang kranjang dan kau rela jika Sri Tanjung berada dalam kekuasaan Pineluh ?"


.


"He.. " Putut Jenggala lemas, "Lalu apa yang harus aku lakukan, ki Barda ?"


.


"Jika kau mau, ikutlah bersamaku menuju Perdikan Anjuk Ladang." kata ki Barda, "Kau juga Sri tanjung."


.


Tak ada pilihan bagi Putut Jenggala dan Sri Tanjung. Maka keduanya mengikuti ki Barda, ke Perdikan Anjuk Ladang.


Sejak sebagian rahasia yang menyelimuti teka - teki jati diri Arya Dipa dan kakeknya Bagawan Jambul Kuning, kehidupan mereka pun semakin cerah untuk hubungan darah keduanya.


.


Kepada cucunya itulah, Begawan Jambul Kuning mengatakan asal - usulnya sesungguhnya. Semuanya tak terkecuali disisakan sedikit pun.


.


Riwayat hidupnya berawal dari trah keraton Kadiri, yaitu dari Pangeran Banyak Paguhan, yang masih kerabat dari Prabu Giriwardhana. Sudah menjadi rahasia umum nama Prabu Giriwardhana merupakan seorang penguasa Kadiri yang menentang dan menggulingkan Prabu Brawijaya Pamungkas, raja kerajaan Majapahit atau Wilatikta.

__ADS_1


.


Walau ayahnya dan ia masih kerabat dari Prabu Giriwardhana, Pangeran Banyak Paguhan dan Raden Arya Bancak tidak setuju dengan tindakan yang akan dilakukan Prabu Giriwardhana. Karenanya, ayahnya dan dirinya dijatuhi hukuman buang di timur gunung Lawu. Tak hanya Raden Arya Bancak saja, sahabat dan saudara seperguruannya yaitu Raden Branjang Mas juga mendapat hukuman sama.


.


Di tempat hukumannya, keluarga Pangeran Banyak Paguhan selalu mendapat pengawalan ketat dari orang - orang Prabu Giriwardhana. Sehingga untuk mencari hubungan keluar sangat sulit. Bahkan saat terdengar adanya warta mengenai pelarian Prabu Brawijaya Pamungkas ke gunung Lawu, tiada celah sedikit pun untuk menggabungkan diri.


.


Hingga akhirnya Pangeran Banyak Paguhan mendengar kalau raja yang ia cintai, telah moksa di puncak gunung Lawu, setelah memberi wejangan kepada abdi setianya Sabdo Palon dan Naya Genggong. Tangis sedih melanda hati Pangeran Banyak Paguhan, untuk itu kemudian Pangeran itu menyepi hingga akhir hayatnya.


.


Sementara itu jaman bagai roda pedati yang terus berputar. Prabu Giriwardhana yang sempat merasakan dampar keraton Wilatikta terlena dan mendapat karmanya. Putra mendiang Prabu Brawijaya, Raden Patah yang sebelumnya menjadi adipati di Glagahwangi mengobarkan semangat juang setelah mendapat restu dari Kanjeng Sunan Giri. Dan perjuangan Raden Patah membuahkan hasil dengan melengserkan Prabu Giriwardhana.


.


Kemudian keraton Wilatikta dipindahkan ke Glagahwangi serta merubah keraton menjadi Demak Bintoro, dengan Raden Patah sebagai raja dan ki Wanasalam sebagai patih Demak.


.


Semenjak tanah Jawa Dwipa dibawah naungan Demak, Gunung Bancak tidak lagi dalam pengawasan. Dan Raden Arya Bancak telah bebas tidak lagi mendapat tekanan. Di gunung Bancak, Raden Arya Bancak menanggalkan gelar kebangsawanannya dan memilih sebagai seorang Begawan dengan sebutan Begawan Jambul Kuning. Mengapa memilih nama Jambul Kuning ?


Nama Jambul Kuning diambil setelah Raden Arya Bancak melakukan semedi di puncak gunung. Dalam keheningan bersemedinya, ia selalu menjumpai seorang Resi Suci yang selalu ditemani se-ekor burung cantik dan sakti. Burung itu mempunyai jambul di kepalanya berwarna kuning keemasan, sangat indah bila dipandang. Masih di dalam keheningan semedinya, burung itu setiap kali ikut dengan Resi Suci melakukan tapa ngrame dalam memberantas keangkaramurkaan.


.


Di malam terkhirnya, saat lelaki semedi mendekati akhir, Resi Suci itu tersenyum kepada Raden Bancak, "Angger, semenjak kecil kau berperilaku angin - anginan. Itu merupakan sifat yang membuatku sedih. Tetapi ada yang membuat hatiku merasa bangga terhadapmu, yaitu saat ada seekor burung yang hampir mati."


.


Resi Suci itu terdiam sesaat. Sedangkan Raden Arya Bancak hanya mendengarkan tak berani menyela.


.


"Dan inilah burung itu. Ia tumbuh menjadi burung Suci mendampingiku." kata Resi Suci itu.


.


Raden Arya Bancak terperanjat. Ingatan masa lampaunya kembali terlintas dalam benaknya. Memang dirinya pernah menyelamatkan seekor burung, tapi burung itu sangat jelek dan tak mempunyai jambul indah seperti itu.


.


Rupanya sang Resi dapat membaca hati Raden Arya Bancak, maka Resi Suci berkata, "Burung jelek adalah sebuah tindakan manusia yang terkekang dalam nafsu duniawi. Nafsu sesungguhnya karunia dari Sang Pencipta untuk manusia, karena adanya nafsu kita mampu merasakan apa itu rasa. Tetapi jika nafsu tak terkendali dan berlebihan, maka nafsu akan menjadi malapetaka bagi kita."


.


Sejenak sang Resi berhenti untuk mencari kesan.


.


"Bila manusia itu mampu mengendalikan nafsu dan menggunakan dalam kebajikan, maka akan tumbuh sebuah benih kebaikan, yang digambarkan oleh jambul si burung. Lalu apa makna warna kuning keemasan ?"


.


Raden Arya Bancak terlihat berpikir, tetapi tak keluar jawaban dari mulutnya.


.


"Kebaikan kalau hanya ditujukan kepada Sang Pencipta, kebaikan itu hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi jika kita menolong dan membantu sesama insan, maka kebaikan itu akan memancar sinar kuning keemasan layaknya sinar mentari. Cahaya sinar mentari di pagi hari, menyehatkan bagi tubuh dan terasa ikhlas adanya." kata Resi Suci, "Suatu saat kau akan mengerti, angger."


.


Seusai semedi itulah nama Jambul Kuning selalu melekat menjadi satu dengan Raden Bancak. Ia berharap hidupnya seperti burung sakti dan seperti mentari pagi.


.


Lalu ia pun mendapat jodoh seorang wanita ayu, dan mempunyai anak tunggal yang dinamai, Arya Wila. Dan Arya Wila ini mampu membuat seorang Tumenggung Demak senang, oleh karenanya sang Tumenggung menjodohkan Arya Wila dengan putrinya, Dyah Ratna.


Dari perjodohan Arya Wila dan Dyah Ratna, lahirlah seorang bayi mungil dan tampan. Sang ayah yang saat itu mengagumi kisah Mahapatih Gajah Mada, lalu mengambil nama muda sang patih untuk dijadikan nama anaknya, yaitu ARYA DIPA.

__ADS_1


__ADS_2