BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
67


__ADS_3

Dirasa dirinya tak kuat untuk mempertahankan pijakannya atau pun melepas lilitan kain panjang milik ki Ageng Gajah Sora, terpaksa Galih Lumintang mengendorkan tenaganya. Sudah bisa dibayangkan tubuh itu terseret tenaga tarikan dari lawan dengan kencangnya. Dan ini memang diharapkan oleh Galih Lumintang untuk melakukan rencananya. Yaitu sekali kaki tak lagi menginjak tanah, serta tubuh melayang ke depan akibat tarikan tenaga lawan, kecepatan pikiran menggerakan kakinya lurus menggejik dada ki Ageng Gajah Sora.


Adanya serangan kaki dari Galih Lumintang tak membuat gugup ki Ageng Gajah Sora. Kedua tangan yang masih memegang kain panjang, ia gerakan memutar kain panjang itu. Akibat yang ditimbulkan semakin membuat lilitan tak hanya di tangan Galih Lumintang saja, malah ke tubuh orang itu. Sembari beringsut di hentakan kain itu sedemikian kuatnya.


"Hegg.. Blukk.. "


Tubuh Galih Lumintang terbanting ke tanah. Sebelum orang itu menyadari keadaan, secepat kilat ki Ageng Gajah Sora meloncat dan menyentuh simpul di tubuh orang itu.


"He lepaskan sentuhanmu dan kita lanjutkan perkelahian kita sampai kematian mengakhiri sapah satu dari kita.. !" seru Galih Lumintang penuh kegeraman dan mata memerah.


"Istirahatlah, kisanak." sahut ki Ageng Gajah Sora, singkat.


Kemudian ki Buyut Banyubiru itu memperhatikan lingkungan disekitar tempat itu. Hujan sudah reda, tinggalah perkelahian yang masih berlangsung dengan serunya. Manakala ki Ageng Gajah Sora memandang ke sisi selatan, tatapannya tertumbuk dengan pandangan salah satu sosok dari Raden Singasari.


"Kedalaman ilmu dari orang itu, sungguh mendebarkan." batin ki Ageng Gajah Sora, dengan menyiagakan diri jikalau sesuatu terjadi.


Di sisi selatan perkelahian terlihat aneh. Dikatakan aneh karena munculnya dua sosok Raden Singasari yang menghadapi sosok timbul tenggelam ki Ajar Bajulpati. Kadangkala diselingi beradunya tenaga dahsyat aji Braja Bayu dan Brajamusti. Juga adanya pergumulan adu kekuatan aji Nágábándhá yang dapat dimentahkan licinnya aji Welut putih.


Sementara tak jauh dari situ, beradunya senjata berdenting keras disertai pecikan bunga api. Darah dari luka sudah mulai ikut berbicara dari salah satu dari mereka. Ki Rangga Rawes mengumpat ketika ia merasakan pedang tipis lawan meliuk dan menggores pundaknya. Senjata pedang tipis itu sangat luwes ditangan lawannya yang masih berusia dua puluhan tahun. Ini yang membuat dirinya tak mengakui kekalahannya.


Untuk itu ki Rangga Rawes dengan meng-eratkan pegangan keris panjangnya, yang kemudian menebas dengan sepenuh tenaga.


"Tak.. !"


"He.. " kejut perwira bang wetan itu.


Di ulangi serangannya untuk meyakinkan apa yang ia lihat benarkah terjadi.


"Tuk.. "


Kerisnya bagai mengenai lapisan besi gligen. Tak mampu menembus sejarak seruas tubuh lawan, yang berwarna kuning kemilau. Dirinya tak sempat untuk melanjutkan keheranannya, karena pedang tipis lawan kembali menggores lengan tangan kanannya. Seketika ki Rangga Rawes meloncat surut menjaga jarak. Senjatanya sudah lepas dari tangannya tergantikan rasa pedih dilengannya, terkena goresan pedang Jatayu.


"Jangkrik.. Demit cilik.. " makinya dengan kasar.


Ki Lurah Arya Dipa tak menghiraukan umpatan dari lawannya itu, karena ia harus menyambuti pedang berkait dari ki Panji Menak Sengguruh. Mata pedang dengan ujung berkait itu sungguh mendebarkan. Apalagi ilmu yang diterapkan juga penuh ancaman terhadap keselamatan nyawa.


Tak hanya itu saja, sembari menyerang menggunakan senjata, ki Panji Menak Sengguruh juga menerapkan aji Prahara Geni. Gelembung - gelembung kecil itu berusaha memecah perhatian dari ki Lurah Arya Dipa. Andai saja Lurah muda itu tak mempunyai aji Niscala Praba, tubuhnya akan leleh terkena gelembung Prahara Geni.


Tandang ki Panji Menak Sengguruh semakin cepat. Aji Prahara Geni yang dirasa tak menemui hasil, segera ia pusatkan ke senjatanya untuk menambah gedor tenaganya. Selapis semburat merah menghiasi daun pedangnya, yang kemudian ia ayunkan dengan kerasnya ke tubuh lawan.


"Traaaang.... !"


Bunyi keras disertai percikan bunga api sekaligus mencelatnya tubuh ki Lurah Arya Dipa. Aji Niscala Praba tergetar hebat hingga membuat sang pemiliknya merasakan rasa nyeri yang sangat.


Di depan ki Panji Menak Sengguruh menganggukan kepala dan tatapan tajam ke depan. Pedang ia tancapkan ke tanah, kemudia dengan sikap sempurna ia memusatkan nalar dan budinya. Segelombang hawa panas tiba - tiba terlihat dari segenap penjuru dan berkumpul di depan ki Panji Menak Sengguruh. Gelompak itu semakin membesar membentuk pusaran badai api setinggi pohon kelapa.


"Hiaat... !" seru ki Panji Menak Sengguruh seraya melepas pusaran badai api ke depan.


Di depan sebenarnya ki Lurah Arya Dipa sudah siap melepas aji Sepi Angin. Tapi betapa kagetnya ketika ia melihat bayangan ki Ageng Gajah Sora berusaha menggempur pusaran itu dengan aji Lebur Saketi.


"Wuts.. Byaaar.. "


Aji Lebur Saketi tak mampu menahan gempuran aji Prahara Geni tingkat tinggi itu. Tubuh ki Ageng Gajah Sora terhempas jauh bagai layang - layang putus.


"Ki Ageng.... !" teriak ki Lurah Arya Dipa seraya mengejar dan menangkap tubuh itu.


Berhasil diri pemuda itu menangkap tubuh ki Ageng Gajah Sora. Tetapi, untung tak dapat diraih, sial tak mampu dihindari. Kakinya menginjak tanah gembur ujung tebing yang rawan longsor.


Akibatnya tubuh itu meluncur deras ke bawah tebing yang tinggi.


"Mampus kalian !" seru ki Panji Menak Sengguruh.


Teriakan itu membuat ki Ajar Bajulpati dan Raden Singasari menghentikan pertarungan dan memperhatikan apa yang terjadi.


"Oh .." kejut ki Ajar Bajulpati seraya meloncat jauh ketika menyaksikan tubuh ki Lurah Arya Dipa dan ki Ageng Gajah Sora terjun ke bawah tebing.


Sementara Raden Singasari meloncat membebaskan kedua bawahannya yang tak mampu bergerak akibat sentuhan tangan lawannya.


"Ki Panji, lekas tinggalkan tempat ini.." serunya.


Kepergian orang - orang itu dibiarkan saja oleh ki Ajar Bajulpati. Orang tua itu lebih mencemaskan nasib ki Ageng Gajah Sora dan ki Lurah Arya Dipa. Bergegas ia mencari jalan untuk menuruni tebing dekat hutan bambu itu.


"Aku harus bergegas.. " desisnya, " Ya Gusti, semoga welas asihMu menyertai mereka... "

__ADS_1


Alam mulai terlihat sumringah dengan bersinarnya surya di langit nan biru. Mendung di malam hari telah tertiup angin ke arah utara setelah mencurahkan kandungan air hasil uap di samudera selatan. Sungai ber-air keruh dari luapan air akibat hujan semalam. Terus mengalir menyusuri alur tanah rendah dan akhirnya akan sampai di samudera.


Di pinggiran sungai dua sosok tubuh tersangkut sebatang batang pohon waru, yang menjorok ke bibir sungai. Dua tubuh itu tiada bergerak, entah mati atau hanya pingsan saja.


Teriknya sinar mentari-lah yang ikut andil memberikan tanda adanya kehidupan dengan sosok tubuh itu. Awalnya ada gerakan perlahan dari tangan salah satu sosok itu. Kemudian dilanjutkan secara perlahan mata itu mulai terbuka.


Sejenak terlihat bingung mencuat di raut wajah sosok yang masih muda itu. Rasa pening di kepala berdenyut memainkan rasa dengan liarnya. Untuk mengurangi rasa pening, si pemuda mengangkat tangan dan memijit perlahan peningnya, juga mencoba menghirup segarnya udara di pagi hari itu.


Akhirnya pening di kepalanya berangsur reda dan ingatannya kembali mengisi relung pikiran dan hatinya. Apalagi ketika pemuda itu bangkit duduk dan menoleh ke samping kanan.


"Ki Buyut.. " serunya sambil menggoyang tubuh yang terlentang itu.


Tubuh itu tetap diam. Segera pemuda yang tak lain ki Lurah Arya Dipa, mengangkat tubuh ki Buyut yang tak berdaya ke tempat yang mapan. Dibaringkan tubuh itu di tanah yang ditumbuhi serumpun rumput hijau. Ia tempelkan telinganya di dada orang tua itu.


"Syukurlah, ki Buyut hanya pingsan." desis ki Lurah Arya Dipa.


Selanjutnya ki Lurah Arya Dipa berlari kecil memetik daun pohon jati dan menuju ke sungai, berniat mengambil air.


"Ah.. Terlalu keruh." desis ki Lurah Arya Dipa, lalu saat meliarkan pandang ke pinggir sungai arah hulu, "Ha.. Air terjun."


Ia pun berlari ke air terjun yang keluar dari rembesan padas tebing. Dengan menggunakan daun untuk menampung air itu dan di bawa ke tempat ki Ageng Gajah Sora terbaring.


Setitik demi setitik air diteteskan ke mulut Buyut Banyubiru itu. Segarnya air perlahan meresap membasahi bibir kemudian masuk ke tenggorokan terus berlanjut ke dalam lambung, dicerna ke segenap alat karunia Illahi di dalam tubuh manusia, diubah menjadi tenaga.


"E... e.. " bibir ki Buyut Banyubiru sudah mulai bergerak.


Rasa syukur terucap dari mulut ki Lurah Ary Dipa sampai dalam hati. Menunjukan ketulusan dalam arti ucapan syukur itu, atas keadaan ki Ageng Gajah Sora. Harapan adanya kehidupan selanjutnya semakin besar.


Sesaat kemudian nyatalah ki Ageng Gajah Sora siuman dengan membuka kedua panca penglihatannya.


"Berbaringlah, ki Ageng." kata ki Lurah Arya Dipa ketika ki Buyut itu akan bangkit duduk.


"A.. anakmas, apa yang terjadi selanjutnya ?" tanya ki Ageng Gajah Sora.


Lurah muda itu menghela napas, "Entahlah Ki Buyut. Saat aku hendak menangkap tubuh ki buyut dan berhasil menangkapnya, kakiku menginjak tanah bibir tebing yang gembur. Sehingga kita berdua terjatuh ke bawah tebing."


Uraian dari pemuda itu masih belum dipahami benar oleh ki Ageng Gajah Sora, "Anakmas apakah tak menyadari sepenuhnya ?"


"Benar, ki Ageng..."


"Baik, paman." sahut ki Lurah Arya Dipa, yang kemudian menerangkan apa yang juga ia alami.


"Jadi anakmas juga pingsan dan hanyut bersamaku ?"


"Iya, paman. Saat aku menangkap paman dan kaget ketika akan terperosok ke bawah tebing, seleret sinar menghentak dadaku. Dan kemudian aku tak menyadari selanjutnya, sampai akhirnya aku siuman." kata ki Lurah Arya Dipa.


"Maafkan aku, anakmas. Itu semua karena kesalahanku." pinta ki Ageng Gajah Sora.


"Tidak, paman. Karena paman Gajah Sora sebenarnya berniat baik dengan tindakan yang paman lakukan." kata Lurah muda itu.


"Ilmu lawan anakmas sungguh mendebarkan. Selama hidupku baru dua kali aku merasaka kekuatan seperti itu." ucap ki Ageng Gajah Sora, "Yaitu saat aku beradu tenaga dengan sahabat, adi Mahesa Jenar yang kemudian sering dipanggil Tohjaya."


"He.. " seru ki Lurah Arya Dipa, kaget.


"Ada apa, anakmas ?"


"Pa...man tadi menyebut Tohjaya ?" tanya ki Lurah Arya Dipa, lalu, "Maksud paman, ki Rangga Tohjaya ?"


"Benar, anakmas. Apa kau mengenalnya ?"


"Tentu, paman. Saat masih dalam pendadaran prajurit, ki Rangga yang masih seorang Lurah menjadi pembimbing kelompok ku." jawab Lurah muda itu, "Tahukah paman dengan keberadaannya saat ini ?"


Putra ki Ageng Sora Dipayana itu tersenyum, "Adi Mahesa Jenar berada di Banyubiru, anakmas."


"He.. Benarkah itu paman ?"


"Mengapa aku harus bohong dengan orang yang sudah tiga kali menyelamatkan ku ? Saat kita saling berhadapan di bukit Telamaya, ia juga hadir bersamaku. Bahkan dialah yang meredakan dan membujuku untuk tidak gegabah dalam menanggapi persoalan Banyubiru dengan Demak." kata ki Ageng Gajah Biru, dan orang itu terbatuk.


"Ah.. Paman sepertinya terkena luka dalam ?" cemas ki Lurah Arya Dipa.


"Hm.. Tak apa - apa, mungkin dengan mengatur pernapasan keadaanku akan segera pulih."


Dengan duduk bersila, ki Ageng Gajah Sora memusatkan nalar dan budinya untuk memperbaiki simpul - simpul alur darah yang mengalami sumbatan akibat dirinya membenturkan aji Lebur Saketi dengan aji Prahara Geni, milik ki Panji Menak Sengguruh. Sementara ki Lurah Arya Dipa duduk sekaligus menjaga keadaan di sekitar tebing itu.

__ADS_1


"Kreshekk...Kreshekk.. Kreshekk.. "


Terdengar bunyi gremeseknya semak belukar, terkena gesekan entah itu orang atau hewan. Hal itu membuat ki Lurah Arya Dipa waspada dan siap menyongsong kemunculan makhluk dari balik semak belukar.


"Angger, ini aku Ajar Bajulpati." seru seorang dari balik semak belukar itu.


"Oh, ki Ajar." kata ki Lurah Arya Dipa sambil mengangguk hormat.


Saat bersamaan, ki Ageng Gajah Sora sudah menyelesaikan dirinya dalam melancarkan perputaran darah dan pernapasannya. Kepala perdikan Banyubiru itu berdiri dan ikut menyambut sesepuh kanuragan dari timur alas Baluran itu. Segera ia mengucapkan terima kasih atas pertolongan ki Ajar Bajulpati dari ancaman Raden Singasari yang mengelabuinya, menggunakan aji malih rupa.


"Sudahlah, anakmas. Semua itu atas kehendakNYA." kata ki Ajar Bajulpati, lalu orang tua itu memandang ki Lurah Arya Dipa, "Ki Lurah, bukankah kau tadi malam memperagakan tata gerak dari sebuah kitab kuno ?"


Kerut mendalam terlihat di dahi anak muda itu, atas pertanyaan ki Ajar Bajulpati. Mungkinkah orang ini juga mengetahui mengenai kitab Cakra Paksi Jatayu ? Ah.. Pemuda itu ingat saat dirinya sudah mewarisi ilmu itu baru satu tahun. Seorang ajar dari padepokan Lemah Jenar juga mengetahui dan ingin merebut kitab itu.


"Angger, Sedikit banyak aku pernah mendengar dan milhat dari kawanku yang tinggal di Penarukan. Yaitu selembar lontar dengan guratan tata gerak dari ilmu yang angger peragakan." sejenak orang tua itu berhenti, lalu sambungnya, "Namun tata gerak itu putus - putus tak selengkap tata gerak angger. Ia pun mengatakan itu hanyalah lembaran tiruan dari kitab aslinya."


Sambil duduk beralaskan rumput, ki Ajar Bajulpati kemudian menceritakan apa yang ia dengar dari kawannya tentang sebuah kitab kuno peninggalan raja Bedahulu di pulau dewata.


Sri Raja Mahendradatta adalah seorang raja yang bijaksana dalam memerintah kerajaannya. Raja yang masih ada pertalian keluarga dengan Medang Kumalan ini, mempunyai tiga orang anak. Anak pertama seorang pemuda tampan yang bernama Airlangga, dan setelah remaja dinikahkan dengan putri Raja Medang Kamulan atau Mataram kuno di jawa bagian timur. Memang awalnya Mataram kuno di masa pendahulunya, yaitu Sri Sanjaya terletak dekat dengan gunung Merapi, tetapi karena adanya letusan gunung merapi oleh Prabu Mpu Sendok di pindah ke timur gunung Lawu tepatnya saat ini di Maospati sampai raja terakhir, prabu Teguh Darmawangsa yang tak lain mertua Airlangga muda.


Karena Airlangga muda harus mengikuti sang istri, sang Prabu Mahendradatta mewariskan sebuah kitab Cakra Paksi Jatayu. Tetapi kedua adiknya iri dengan Ramandanya menyerahkan kitab itu kepada Airlangga, namun untuk merebut secara langsung keduanya tidak berani.


Untunglah sang Prabu selain seorang yang putus dalam ilmu sastra dan nagari, beliau juga seorang wicaksana dan mampu membaca isi hati seseorang. Oleh karenanya sehari sebalum Airlangga berangkat ke Jawa Dwipa, sang Prabu memanggil ketiga putranya di balai agung.


"Putranda sekalian, pada hari Sukra ini kalian aku panggil untuk menghadap di balai agung Bedahulu ini." sejenak Prabu Mahendradatta menghentikan ucapannya demi melihat kesan dari ketiga anaknya.


"Tahukah putranda sekalian dengan maksud ramanda ini memanggil kalian ?"


Ketiga pangeran itu saling berpandangan satu dengan lainnya. Kenyataannya memang tiada yang tahu maksud hati ramandanya.


Airlangga yang merupakan putra tertua memberanikan diri untuk mewakili adik - adiknya, "Ampun, Ramanda. Sungguh putranda ini picik dari segala - galanya, oleh karenanya jika ramanda melimpahkan kemurahan hati, mohon kiranya ramanda memberitahukan supaya putranda sekalian ini, lebih terang dengan semuanya."


Mengangguklah kepala sang Prabu atas ucapan putra sulungnya itu.


"Ananda sekalian tahukan kalain dengan rontal ini ?" tanya sang Prabu yang sudah memegang sebuah kitab dari lembaran rontal.


"Ampun, ramanda prabu. Kalau tidak salah bukankah itu kitab Cakra Paksi Jatayu ?"


"Hm.. Bagaimana dengan ananda berdua ?" selanjutnya tanya Prabu Mahendradatta kepada kedua adik Airlangga.


"Ampun, Ramanda Prabu. Kami berdua sependapat dengan kakanda Airlangga."


"Bagus.. " seru sang Prabu, "Kalian bertiga merupakan putra yang sangat aku sayangi dan cintai. Tiada dalam hati kecilku untuk memanjakan salah satu dari kalian bertiga, semua sama dalam segala hal. Dan hari ini aku akan mewariskan kitab ini kepada salah satu diantara kalian, jika kitab ini berjodoh dengan salah satu dari kalian."


Kedua adik Airlangga mendongakan kepala saat mengetahui ramandanya merubah niatnya untuk tidak menyerahkan kitab itu langsung kepada kakandanya. Hati kedua pangeran itu senang bukan main, masih ada peluang bagi mereka berdua untuk mendapatkan kitab sakti itu. Terlihat wajah keduanya berseri - seri layaknya sinar mentari di pagi hari.


Sangat jauh berbeda dengan pangeran Airlangga. Dalam hati pangeran sulung itu sebenarnya tiada maksud secuil pun untuk mendapatkan kitab itu. Oleh karenanya dengan tatag Pangeran Airlangga bersembah kepada ramandanya, "Duh Ramanda Prabu, yang sangat hamba cintai. Bukannya hati ananda ini berlaku deksura atas kemurahan ramanda yang sangat besar ini. Namun bila ramanda berkenan, biarlah kedua adinda saja yang berhak mewarisi kitab itu."


Alis sang Prabu mencuat, walau dalam hatinya sudah memahami perkataan dari putra sulungnya itu. Lalu katanya, "Hm.. Tidak, kalian bertiga harus mencobanya dahulu, apa yang akan aku katakan ini."


"Sudah ku katakan dari awal, kitab ini bukan sembarang kitab. Di lembar pertama ada sebuah guratan cakra yang melingkari seekor burung garuda yang mengepakan sayapnya." sambung sang Prabu, sambil memperlihatkan guratan itu, lalu kemudian, "Bukalah pakaian atas kalian."


Ketiga pangeran itu nampak bingung dengan perintah dari ramandanya, tetapi perintah itu keluar dari seorang Prabu Bedahulu, oleh karenanya ketiga pangeran itu kemudian membuka pakaian yang menutupi dada bidang mereka.


"Menghadaplah putranda ke timur." seru sang Prabu.


Kembali ketiganya bingung, karena jika menghadap ke timur maka ketiganya akan membelakangi Prabu Mahendradatta.


"Cepat kalian bertiga menghadap ke timur !" seru sang Prabu agak keras.


Seketika ketiganya menghadap ke timur. Keajaiban muncul melingkupi balai agung. Cahaya kuning kemilau bersinar terang mengelilingi ketiga pangeran itu, dan secara mendadak setelah berputaran cahaya itu menusuk salah satu dari pangeran Bedahulu.


"Cess.. Cess.. Cess.."


Cahaya kuning kemilau menggores punggung salah satu pangeran dengan kerasnya, tetapi tiada terdengar rintihan dari pangeran itu. Sebuah goresan membentuk Cakra melingkari seekor burung garuda yang mengepakan sayap. Dan yang terpilih ialah pangeran Airlangga.


Kemudian setelah sinar itu sirna, sang Prabu menyuruh kedua adik pangeran Airlangga untuk melihat punggung kakandanya. Kejut menghinggapi hati keduanya, tubuh kakandanya yang sebelumnya putih bersih, kini terdapat sebuah simbol yang mirip dengan simbol di kitab Cakra Paksi Jatayu.


Sang Prabu pun kemudian mengumumkan bahwa kitab itu berjodoh dengan Pangeran Airlangga. Tetapi ketika memandang kedua pangeran yang lain, raut wajah mereka masih belum puas dengan keputusan yang ia ambil. Maka sang Prabu berdiri dan mendekati ketiga putranya.


"Hm.. Putranda sekalian, aku akan berlaku adil untuk kedua kalinya. Yaitu akan aku tunjukan kitab ini kepada kalian bertiga. Salinlah kitab ini di sebuah lembaran kulit, dan serahkan kepadaku di esok hari. Siapa yang jodoh dengan kitab ini akan dengan gamblang menyalinnya."


Ke esok harinya ketiga pangeran itu menghadap kembali ke Balai Agung. Ketiganya kemudian memperlihatkan hasil dari salinan kitab Cakra Paksi Jatayu kepada sang Prabu. Keanehan terjadi kembali, ketiga pangeran itu sebenarnya seorang yang mempunyai ingatan bagus dan dalam membuat goresan tata gerak sangat mahir. Tetapi kali ini sangat lain dengan hari - hari yang lalu. Hanya Pangeran Airlangga saja yang sama persis.

__ADS_1


Kembali Pangeran Airlangga yang berjodoh dengan kitab Cakra Paksi Jatayu. Demi melihat keanehan - keanehan itu, kedua saudaranya dengan ikhlas menerima keputusan sang Prabu. Maka hari itu juga pangeran sulung berangkat ke Jawa Dwipa setelah menerima warisan berharga dari Prabu Mahendradatta. Bukan kerajaan tetapi sebuah kitab kanuragan yang memuat tata gerak, jaya kawijayan, dan kebatinan tingkat tinggi. Sedangkan kerajaan Bedahulu dilanjutkan oleh adik - adik Airlangga.


"Begitulah, ngger. Dan salah satu salinannya berada di sahabatku." kata ki Ajar Bajulpati, mengakhiri ceritanya.


__ADS_2