
Pada hari Anggara di Demak Bintara tampak suasana berbeda di hari - hari sebelumnya, khususnya di alun -alun Demak Bintara telah didirikan panggungan yang cukup lebar dan memanjang dengan hiasan umbul dan rontek serta tunggul ciri kebesaran kesultanan Demak, di depan panggungan berbaris berbagai pasukan dari Wira Tantamayuda, Wira Manggalayuda, Wira Braja, Wira Jalapati, dan Wira Radya dengan pakaian kebesaran mereka juga di samping setiap barisan terdapat tunggul bergambar simbol pasukan masing - masing kelompok pasukan Demak Bintara.
Suasana semakin semarak saat pangeran Trenggono beserta kerabat keraton menaiki panggungan, tampak pangeran ketiga itu bangga menyaksikan prajurit Demak yang menyorakan nama pangeran.
"Hidup Demak...! Hidup pangeran Trenggono..!" sorak para pasukan beberapa kali.
"Silahkan pangeran." sambut ki tumenggung Gajah Pungkuran yang memakai pakaian dari Wira Tantama.
"Terima kasih, paman tumenggung." sahut pangeran Trenggono, sambil menyalami tumenggung itu dan tumenggung lainnya, yaitu ki tumenggung Gagak Kukuh dari pasukan Wira Braja, ki tumenggung Suranata dari pasukan Wira Manggala, ki tumenggung Siung Samudro dari pasukan Wira Jalapati, dan ki tumenggung Pideksa dari Wira Radya, sedangkan pasukan Patang Puluhan tak nampak dikarenakan ikut bersama kanjeng sultan ke Malaka.
Di situ juga ada tamu undangan dari berbagai telatah kadipaten, tanah perdikan atau simo dan beberapa kademangan. Kadipaten Jipang Panolan diwakili oleh pangeran Sekar, kadipaten Ponorogo diwakili oleh ki tumenggung Tunggul Manik, kadipaten Jepara diwakili oleh adipati Kalinyamat atau raden Hadiri suami ratu Kalinyamat, dan masih banyak lainnya.
Pelaksanaan wisuda itu dibuka dengan pemukulan bende kebesaran Demak, lalu sambutan dari ki rangga Gajah Sora yang merupakan pimpinan pengawas yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pendadaran calon prajurit baru. Setelah itu barulah kanjeng pangeran Trenggono menyatakan bahwa calon prajurit baru itu sah menjadi prajurit Demak seutuhnya dengan kewajiban membela serta menegakkan keutuhan kerajaan di tanah Jawadwipa ini.
__ADS_1
Tak hanya itu saja, beberapa calon prajuritakan mendapatkan sebuah jenjang keprajuritan lurah prajurit, selain itu beberapa perwira juga mendapat kenaikan jenjang keprajuritan sesuai pengabdiannya selama ini. Ki lurah Tohjaya yang sebelumnya berada di barak pasukan Wira Tantama, mendapatkan jenjang keprajuritan rangga dan bertugas mengepalai pasukan penjaga gedung perbendaharaan sekaligus pusaka sipat kandel keraton. Ki lurah Anggoro pun juga menjadi seorang rangga yang bertugas mengepalai pasukan Patang Puluhan menggantikan ki panji Kalayuda, juga ki lurah Angkayuda, ki lurah Yudapati, ki lurah Lembu Pangraron, dan masih banyak lainnya.
Sementara itu Arya Dipa, Wiratsemi, Bojang Geni, Bangau Lamatan, dan Banyak Wide telah diangkat menjadi lurah prajurit di pasukan masing - masing.
Sorak gemuruh menggetarkan bumi Demak atas pewisudaan itu serta pemberian kekancingan keprajuritan bagi calon prajurit baru itu. Seorang lelaki merasa terharu ketika menyaksikan anaknya telah menjadi prajurit yang akan ikut andil dalam memperkuat negerinya itu.
"Berbanggalah kakang demang, anakmu sekarang seorang lurah prajurit yang memimpin empatpuluh prajurit." desis seseorang kepada kawannya.
"Iya adi, aku tak mengira anak bengal yang dulu selalu mengganggu dan merepotkan diriku yang tua ini, telah menjadi lurah prajurit. Aku harap angger Bojang Geni dapat mengharumkan kademangan yang aku pimpin."
"Sudah waktunya ia mengetahui jati diriku selama ini." desis orang itu yang tak lain ki Mahesa Anabrang.
Di sampingnya seseorang menggamitnya, seraya bertanya, "Kau mengenal pemuda itu, ki panji.?"
__ADS_1
"Bagaimana aku tak mengenalinya, ki panji Sambipati. ia anak angkatku yang aku rawat selama bertugas di kadipaten Ponorogo."
"Apakah ia tak mengetahui jika ayah angkatnya ini prajurit telik sandi Demak.?"
Ki Mahesa Anabrang menggeleng perlahan.
"Tidak ki panji, saat aku pergi meninggalkan gubuk di padukuhan Pudakan aku selalu bilang ingin mengunjungi kawanku dan ia kutitipkan kepada tetanggaku."
"Cek..cek..cek bahkan kepada anak angkatmu pun kau merahasiakan jati dirimu, ki panji. Pantas kau selalu bisa melakukan penyusupan tanpa diketahui oleh lawan." ujar ki panji Sambipati.
"Ah.. kau ini, o ya bukankah anakmu juga diwisuda, ki panji.?"
"Hem, tapi ia tak seberuntung putramu, mungkin anak itu berulah waktu pendadaran, biarlah itu menjadi pelajaran baginya." sahut ki panji Sambipati sambil memerhatikan anaknya, Sambi Wulung yang berdiri berkerumun dengan kawan - kawannya.
__ADS_1
"Marilah kita kembali ke barak, wisuda ini sudah usai." ajak ki Mahesa Anabrang, yang ternyata seorang panji dari pasukan telik sandi Demak Bintara.
"Hahaha, kau takut jika putramu itu mengetahui jati dirimukan..?" goda ki panji Sambipati, sambil berjalan mengikuti ki panji Mahesa Anabrang.