
Kematian kanjeng Sultan Demak II di selat Malaka yang sudah berlalu sepekan itu masih dipergunjingkan oleh kerabat kesultanan maupun kawulo alit, di ksatrian, katumenggungan, barak prajurit, pasar maupun tempat umum lainnya, bahkan di sawah dan tegalan para petani ikut mempersoalkan kematian raja yang sangat mereka kagumi itu.
"Aku tak mengira jika kanjeng Sultan akan pergi di usia terlalu muda bila dibandingkan dengan mendiang kanjeng Sultan sebelumnya." gumam seorang petani.
"Itulah takdir, kang. ingatkah dengan jlitheng anaknya ki jagabaya.? usianya baru seumur jagung, tapi anak itu sudah menghadap Sang Kuasa." sahut kawannya, sambil menikmati makanan siang di gubuk.
Petani yang lebih tua itu mengangguk, memang namanya lahir, rejeki, jodoh dan kematian sudah di atur Gusti Agung, manusia sepertinya hanya berusaha saja.
Sementara itu di barak pasukan Wira Tamtama, Arya Dipa telah kedatangan pangeran Trenggono dengan didampingi ki panji Mahesa Anabrang bersama ki rangga Reksotani. Dengan tergopoh - gopoh pemuda itu menyambut pangeran Trenggono.
"Sudahlah kau tak usah berlaku begitu, Arya Dipa." kata pangeran Trenggono sambil duduk di amben.
"Aku sudah tahu semuanya mengenai dirimu, dari ayahmu angkatmu ini aku tahu jika sebenarnya kau cucu dari paman tumenggung Lembu Kumbara." lanjut pangeran itu.
Pemuda itu memandang ayahnya sejenak dan melihat ki panji Mahesa Anabrang mengangguk perlahan.
"Sebenarnya kau berhak mendapatkan tanah dimana paman tumenggung pernah berdiam, apakah kau berkenan Dipa.?"
__ADS_1
"Terima kasih atas kebaikan, kanjeng pangeran. Namun apakah nantinya tidak akan menimbulkan masalah bagi kerabat mendiang eyang tumenggung Lembu Kumbara.? Bila itu akan terjadi, lebih baik hamba tak memintanya, kanjeng pangeran."
Pangeran putra raden Patah ini mengerti jalan pikiran pemuda di depannya, memang tanah ki tumenggung Lembu Kumbara saat ini ditempati oleh saudaranya yang sehari - harinya bekerja sebagai saudagar. Dan jika Arya Dipa mengaku cucu ki tumenggung Lembu Kumbara, tak ada bukti atau yang meyakinkan.
"Baiklah jika kau tak menghendaki hal itu." sejenak pangeran Trenggono berhenti, lalu lanjutnya, "kedatanganku selain hal itu ingin meminta kesediaanmu untuk berada di dekat putraku, Angger Mukmin. Apakah kau bersedia, ngger.?"
"Sendiko dawuh, pangeran, hamba akan menjalankan perintah dari pangeran dengan senang hati."
"Terima kasih, sebenarnya aku mendapat laporan dari ayahmu ki panji Mahesa Anabrang, akan adanya sekelompok orang yang ingin mencelakakan putraku itu, sebenarnya aku bisa memerintahkan satu bergadha untuk mengawalnya, namun anakku tak mau dan menganggap itu berlebihan, dan aku rasa kau yang sebaya dengannya akan cocok ." terang pangeran Trenggono.
"Sendiko, pangeran."
"Sendiko, pangeran."
Setelah itu pangeran Trenggono keluar dari barak bersama ki lurah Reksotani, sementara itu ki panji Mahesa Anabrang masih tinggal di barak.
"Kau pasti bertanya - tanya mengenai ayahmu inikan, Dipa.?"
__ADS_1
"Begitulah ayah, aku tak mengira bahkan bermimpi pun tidak, jika ayahku seorang perwira Demak."
"Maafkan ayahmu ini, ngger. Tapi itu semua demi kebaikanmu, aku tak ingin mempengaruhi watakmu di masa kecil hingga remaja."
"Ah ayah pasti mengira jika aku tahu kalau ayahku seorang perwira prajurit, aku akan berlaku sombong saat bersama kawan - kawanku di padukuhan Pudakan, bukankah begitu ayah.?"
"Hahaha, tapi jika kau akan berlaku begitu kau akan ditertawakan oleh kawan - kawanmu."
pemuda itu pun ikut tertawa.
"O ya ki panji, siapakah yang berani mencelakakan raden Mukmin.?" tanya ki lurah Arya Dipa, berlagak berbicara dengan atasannya.
"Kau harus memijit badanku dulu, ki lurah. Nanti kau akan kuberi tahu." goda ki panji Mahesa Anabrang.
Walau senyum mengembang di bibir lurah Wira Tamtama, tapi tangannya bergerak memijit pundak ayahnya yang jenjang keprajuritannya dua tingkat di atasnya, sambil berkata, "Sendiko ki panji."
Ki panji Mahesa Anabrang tak bisa menahan tawanya, sehingga bilik bagian barak itu riuh tawa antara ayah dan anak dan mengundang penasaran kawan - kawan ki lurah Arya Dipa.
__ADS_1