BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
116


__ADS_3

"Bagaimana bisa anak itu memiliki pusaka itu tanpa sepengetahuanku ?" ki Ageng Sungsang Bawono, bertanya - tanya dalam hati.


.


Sementara itu, Raden Sanjaya yang sudah mempersenjatai dirinya dengan menggunakan kyai Cangkring, seakan - akan pemuda dapat melipatkan gandakan tenaganya. Berkat keampuhan pusaka buatan Mpu Gandring itulah, tenaga bumi terserap ke wadah besi pilihan yang kini berwujud sebilah keris dengan tangkai kayu cangkring, dan merambat ke urat dan peredaran darah Raden Sanjaya.


.


Entah bagaimana tiba - tiba alam yang awalnya cerah, mendadak bergolak menjadikan tepian kali Brantas tertutup awan tebal menutupi sinar rembulan diawal malam. Kejadian ini tentu saja memancing rasa penasaran orang - orang di tepian kali Brantas tak terkecuali.


.


"Hm... Sepertinya pusaka orang dihadapanku inilah yang mempunyai daya linuweh." batin Arya Dipa, dengan berlaku waspada.


.


Melihat lawannya tak mengunjukan rasa gusar walau sedikit pun, ditanggapi Raden Sanjaya dengan mencibirkan bibirnya, "He, janganlah kau tutupi kegusaranmu dengan membusungkan dada seperti itu, kisanak !"


.


Lalu lanjutnya sambil mengacungkan keris pusakanya, "Mungkin kau belum mendengar kehebatan pusaka ini seutuhnya, tetapi bukankah kau pernah mendengar tutur kata dari orang tua mengenai pusaka yang menewaskan Kebo Ijo, Tunggul Ametung, Ken Arok, dan juga Anusapati serta Tohjaya ? Bahkan pembuatnya juga mati terhujam keris yang sama !"


.


Alis Arya Dipa mengerut, "Hm... Maksudmu, keris yang kau genggam adalah keris Mpu Gandring yang dipesan oleh pendiri Singasari ?"

__ADS_1


.


"Keliru, melainkan keris inilah yang pertama dibuat sebelum keris berdarah itu menghujam Mpu Gandring." jawab Raden Sanjaya, lalu lanjutnya, "Menurut cerita, Mpu Gandring yang berada di Lulumbang, merasakan adanya perasaan aneh sejak dirinya bertemu dengan Ken Arok. Sepasar sebelum kedatangan Ken Arok untuk memesan sebuah pusaka, Mpu Gandring bermimpi aneh yang mana ia juga kedatangan seorang tua dengan pakaian seorang pendeta. Tahukah apa yang dikatakan oleh pendeta yang muncul dimimpi mpu sakti itu ?"


.


Arya Dipa diam dan hanya menunggu saja apa yang akan dikatakan oleh Raden Sanjaya. Tak lama memang Raden Sanjaya menjawab sendiri.


.


"Pendeta itu mengatakan kalau sepasar yang akan datang, akan ada anak muda berkunjung ke Lulumbang dan memesan sebuah pusaka. Pusaka itu nantinya akan merubah keadaan di Jawa Dwipa bagian timur menjadi lebih baik. Tetapi tentunya kemunculan pusaka itu akan membawa bebanten orang - orang terkemuka, untuk mencegah supaya tidak terlalu banyak korban, harus ada pusaka yang akan mengalahkan pusaka pesanan anak muda itu. Oleh karenanya, pendeta itu menyuruh Mpu Gandring untuk membuat pusaka yang hampir mirip dengan pusaka yang akan dipesan pemuda Ken Arok." tutur Raden Sanjaya, "Dan inilah pusaka itu, yang mampu memupus keganasan pusaka keris Mpu Gandring."


Bukannya terkejut, Arya Dipa mengangguk dan tersenyum, "Hm.. Sebuah cerita yang bagus, tuan."


.


.


"Tidak... Tidak... " gumam Arya Dipa, "Aku tidak menyangkal atau membenarkan, karena aku tidak mengetahui dengan pasti. Kenyataannya sekarang ini, alam bergejolak dan pusaka tuan membara. Tentu pusaka itu memang dibuat oleh seorang yang tuntas ilmu kajiwannya."


.


"Hm.. Kalau begitu sebelum kau mati, sebutlah nama bapa biyungmu !"


.

__ADS_1


Selekasnya Raden Sanjaya bergerak menghunuskan keris kyai Cangkring. Sambaran udara terasa tajam manakala ujung keris menghadap lawannya. Sambaran pertama walau cepat, belum mengenai tubuh lawan, maka disusulah sebuah tusukan dan sabetan.


.


Arya Dipa mencoba mengelak dari tusukan lawan dengan mengisar kaki ke samping kanan. Saat bersamaan ternyata lawan sudah siap dengan sabetan ke lambungnya. Hal itu membuat Arya Dipa menyurutkan langkah sembari membalas serangan berupa kepalan tangan kiri menusuk tubuh lawannya. Namun lawan cukup cekatan dalam menggerakan senjatanya, tajamnya keris dengan cepat menghadang laju tangan kiri Arya Dipa. Demi menghindari luka parah, tiada jalan lain kecuali menarik serangan dan mengganti serangan melayang berupa tajamnya kyai Jatayu.


.


"Tring.... !"


.


Dua senjata bertemu dan membuat keduanya terkejut jadinya. Benturan itu membuat rasa panas merambati telapak tangan dan terus mengalir ke urat masing - masing pihak. Keduanya langsung meloncat surut menjaga jarak dan memperhatikan telapak tangannya. Tangan mereka masih bergetar dan panas, keduanya bergegas memulihkannya.


.


Senjata - senjata itu ternyata sama - sama besi pilihan yang mempunyai susunan awal terbentuk yang cukup baik di alam ini. Apalagi setelah ditangan yang terampil dan memiliki ahlian dalam mengolah, dibarengi dengan lelaku yang tidak gampang. Siapa yang tidak kenal dengan Mpu Gandring, seorang manusia pilihan yang tuntas ilmu kajiwan dan kanuragan di masa akhir Kadiri. Dan Siapa juga yang tidak kenal Mpu Supa Indragiri di masa kejayaan Majapahit yang secara tidak langsung telah ikut membuat pedang kyai Jatayu lewat tangan keponakannya, Mpu Citrasena dari kademangan Tegowangi. Tak heran jika kedua senjata itu sama - sama hebat dan mendebarkan siapa pun yang menyaksikan.


.


Sambil menggeretakan giginya, Raden Sanjaya berusaha menghajar lawannya dengan menggunakan kyai Cangkring. Denting kedua senjata tak pelak terdengar bersamaan dengan lincah dan terampil tangan - tangan mereka. Tusukan.. Sabetan.. Tebasan.. terus mengalir bak arus air kali Brantas sampai beberapa waktu.


.


Demi menghindari sesuatu yang dapat merugikan jiwanya, dari tubuh Arya Dipa menyeruak warna kuning berkilau dan melapisi tubuh pemuda itu. Pertahanan aji Niscala Praba ikut andil menjaga kemungkinan buruk nantinya. Selain itu, ilmu dari kitab Cakra Paksi Jatayu juga semakin beragam dan rumit telah keluar dan menunjukan sikapnya.

__ADS_1


.


Munculnya gerakan - gerakan aneh dari Arya Dipa membuat Raden Sanjaya sempat bingung dan keteteran. Baru kali ini ia melihat tata gerak yang sangat rumit dan menggila layaknya puluhan garuda menerjang bumi. Hanya berkat adanya keris Cangkringlah, pemuda ini dapat bertahan dari gempuran ilmu lawannya.


__ADS_2