
Pada saat semua orang memusatkan pandangan ke tanah berlubang, di permukaan kali terlihat sosok yang berdiri tegap. Tetapi bila dicermati, sebenarnya sosok itu berdiri di atas landean tombak. Sosok itu tiada lain ialah ki Kala Sargota. Rupanya orang dari telatah Lasem tersebut sempat menghindar sambil menancapkan tombak ke kali dan berdiri dengan gagahnya.
.
Orang - orang yang menyaksikan banyak yang memuji. Sesudahnya mereka kembali bertempur lagi menghadapi lawan - lawannya. Kembali perkelahian seru mewarnai tepian kali Brantas. Panas mentari menjelang siang tak dihiraukan sama sekali oleh orang - orang ditepian.
.
Sementara itu rasa mengkal yang sangat membuat ki Kala Sargota langsung mengungkap ilmu pamungkasnya. Ilmu berlandaskan racun sebagi ciri khusus gerombolan Kala Ireng siap menyeruak dan dipusatkan di tangan kanannya. Tangan sebatas pergelangan terlihat hitam legam dan berbau anyir.
.
"Pukulan itu.... " desis Jati Pamungkas atau orang bercambuk.
.
Menyaksikan lawan siap mengadu nyawa melalui pukulan mendebarkan, Jati Pamungkas tak tinggal diam. Pemuda yang masih berdarah bangsawan Majapahit itu tak ingin tubuhnya dilumat atau pun terhantam racun pada isi dadanya. Oleh karenanya tubuhnya kembali dibentengi aji Tameng Waja. Cambuk yang sebelumnya ia pegang langsung ia sampirkan di leher, dan selanjutnya aji Lebur Saketi yang sudah diramu dengan ilmu inti Windujati siap meladeni keinginan lawan.
.
__ADS_1
Di sisi lain juga terlihat perkelahian yang mendekati puncaknya. Yaitu perkelahian Arya Dipa dan ki Ajar Lodaya. Sebelumya dua kawan ki Ajar Lodaya sudah dapat dihentikan Arya Dipa melalui perkelahian yang cepat dan seru. Kekalahan saudara kembar Palguna dan Palgunata telah membuat orang dari timur Penarukan itu marah. Aji Gelap Sayuta sudah manjing untuk melibas pemuda di depannya.
.
Di depan, Arya Dipa menghela napas atas tingkah laku orang tua pemimpin padepokan Lemah Jenar. Ilmu yang akan diungkap tentu pada akhirnya akan berakhir dengan menyakitkan, entah itu dirinya atau ki Ajar Lodaya. Tetapi tiada jalan lain selain mengadu ilmu untuk menghentikan perkelahian yang mulai dari fajar dan mendekati tengah hari. Terpaksalah aji Niscala Praba menyeruak melindungi tubuh pemuda itu, serta aji Sepi angin bersumber kekuatan sang Bayu pun tak ketinggalan diungkap.
.
Empat orang linuweh memusatkan nalar dan budi. Berbagai jenis ilmu berbeda tak lama kemudian menjadikan pinggiran kali Brantas kembali berderak hebat. Suara dentuman membahana membuat telinga pengang tiada terkira. Suasana betul - betul memukau dengan adanya sinar berbeda - beda disusul suara dentuman tadi.
.
"A..ku akan mem..bina..sakan..mu... !"
.
Limbunglah orang tua itu dan terjatuh menelungkup menghadap Sang Pencipta.
.
__ADS_1
Kekalahan ki Kala Sargota dan ki Ajar Lodaya, menggetarkan hati anak buah gerombolan Kala Ireng, tak terkecuali Jaladri. Mereka bergegas meninggalkan tepian dan menyusup dilebatnya semak belukar.
.
Windujaya membiarkan saja tingkah laku lawannya. Ia berjalan menghampiri orang bertopeng yang jaraknya lebih dekat dibandingkan letak Arya Dipa berdiri.
.
"Bagaimana keadaan, tuan ?" tanya Windujaya.
.
Dibalik topengnya, Jati Pamungkas tersenyum, "Syukurlah, Gusti Agung masih melindungi diriku."
.
"Syukurlah... " ucap Windujaya lega.
.
__ADS_1
Sementara itu Arya Dipa memeriksa keadaan sepasang Elang dari Penarukan. Ternyata keduanya hanya pingsan saja. Agar mereka tidak membuat ulah, Arya Dipa melepas ikat kepala keduanya dan diikatkan ke tangan keduanya.