
Debu dari bekas pijakan kaki kuda menyisakan jejak yang diteliti oleh seorang lelaki berjambang. Lelaki itu memperhatikan dengan cermat jejak yang baru saja ditinggalkan kurang dari sepengunyah sirih. Ternyata lelaki ini ahli dalam meneliti jejak dan mampu memperkirakan waktu dari bekas jejak tersebut.
"Apa yang kau temukan, Widura ?" seorang lelaki paruh baya bertanya kepada lelaki berjambang.
Masih dengan menyentuh tanah, lelaki berjambang itu menjawab, "Tiga kuda baru saja melewati jalan setapak ini, ki Lurah."
"Mungkinkah itu mereka ?"
"Pemuda licik itukah yang ki Lurah maksudkan ?" Widura bertanya balik.
"Hm.. Iya, Widura. Pasti itu dia dan kedua pengikutnya." jawab lelaki paruh baya sambil bersedekap.
"Lalu apa yang akan ki Lurah lakukan untuk selanjutnya ?"
"Kita hanya ditugaskan untuk mengikutinya dan memberi laporan kepada Pangeran Singasari." lelaki itu berhenti bicara seraya mengernyitkan alisnya.
"He.. Widura, lihat itu mereka !" kembali lelaki paruh baya itu berkata dengan menunjuk ke arah bawah lembah.
"Kita susul mereka." serunya.
"Mari ki Lurah."
Keduanya bergegas menaiki kuda yang sebelumnya telah mereka sembunyikan di balik semak - semak, dan segera menyusul ketiga orang berkuda di bawah lembah.
__ADS_1
Widura dan lelaki paruh baya itu selalu menjaga jarak dengan ketiga orang berkuda di depan. Semakin lama mereka memasuki padukuhan yang cukup ramai, dan hal itu memudahkan Widura dan lelaki paruh baya dalam melakukan pengawasan.
"Mereka sepertinya akan memasuki kedai, ki Lurah." kata Widura manakala memperhatikan ketiga penunggang kuda di depan membelokan kuda ke dalam halaman kedai.
"Hm.. kita tunggu di tempat orang jualan dawet itu saja."
"Ah, mengapa kita tidak masuk saja, ki Lurah ?" Widura mencoba mengajak masuk ke kedai, "Siapa tahu kita dapat mendengarkan mereka membicarakan pusaka dan harta itu ?"
Lelaki paruh baya yang dipanggil ki Lurah itu tetap menolak, "Dia tak akan membicarakan pusaka dan harta karun itu. Kita ke tempat orang jualan dawet."
Meskipun mengikuti langkah kuda yang ditunggangi oleh lelaki paruh baya, tetapi dalam hati Widura masih mengeluh dengan sikap atasannya itu.
"Ki Lurah Sempono terlalu takut dikenali oleh mereka." gerutunya.
Sementara ketiga orang yang masuk ke dalam kedai ialah, Sanjaya dan kedua kawannya. Karena perut sudah kluruk meminta makan, maka ketiganya memutuskan mencari warung atau kedai di padukuhan tersebut.
Sanjaya dan kedua kawannya menyerahkan tali kendali kuda ke pelayan itu, untuk diikatkan ke tonggak yang sudah tersedia.
"Beri makanan dan minuman terbaik untuk kuda - kuda kami." Sanjaya meminta perawatan untuk kuda tersebut.
"Baik denmas."
Ketika pelayan kedai membawa ketiga kuda, seorang pelayan lainnya berlari dari dalam kedai dan menyongsong kedatangan Sanjaya.
__ADS_1
"Mari - mari silahkan masuk tuan." sambut pelayan kedai itu.
"Siapkan makanan paling enak di kedai ini." kali ini Bango Banaran yang memesan.
"Baik, tuan. mohon tunggu sejenak." sahut si pelayan kedai dan berlari menuju ruang dalam.
Setelah kepergian pelayan itu, Sanjaya dan kedua kawannya mengambil tempat duduk di bangku agak besar, berada di tengah ruangan, karena bangku itulah yang tersisa. Ternyata kedai di pagi menjelang siang itu ramai penuh pelanggan. Entah dari penghuni padukuhan maupun orang - orang yang berlalu lalang melewati padukuhan itu.
Di bangku pojok, seorang bermata tajam selalu memperhatikan ke arah bangku Sanjaya. Orang itu molotot tajam saat memperhatikan telapak luar Sanjaya.
"Bandu, orang yang kita cari ada disini." desis orang bermata tajam.
"He, mana kakang ?"
"Di bangku tengah, orang termuda dengan pakaian hijau pupus itu." kata orang bermata tajam, lalu lanjutnya, "Cepat kau lapor guru."
Orang bernama Bandu itu lekas berdiri dan keluar dari kedai tanpa membuat Sanjaya dan kawannya curiga.
Sementara orang bernama Bandu meninggalkan kedai, pelayan kedai sudah menghidangkan makanan paling enak yang tersedia di kedai tersebut.
"Silahkan, tuan. Jika perlu sesuatu panggil kami."
"Hm.. " desuh Bango Banaran sambil menggerakan tangan tanda menyuruh pelayan itu pergi.
__ADS_1
Ketiganya lantas menikmati hidangan tanpa mengawatirkan kejadian yang akan terjadi di kedai tersebut. Sedangkan di bangku pojok, orang bermata tajam terus mengawasi Sanjaya dan kawan - kawannya.
"Mimpi apa aku tadi malam, tak ku sangka aku akan mendapat hadiah dari guru." batin orang itu.