
Selama sepekan Arya Dipa berdiam di padepokan Karang Tumaritis, Panembahan Ismaya mendapat warta dari cantrik yang ia utus untuk mengamati jalan antara telatah perdikan Banyubiru dan Rawa Pening. Dari cantrik itulah, diketahui adanya segerombolan orang tak diketahui jati dirinya, beriringan dengan diam - diam menuju Banyubiru. Tentu saja hal itu mencurigakan, apalagi suasana saat - saat ini sangat mencekam di telatah Banyubiru. Karenanya, Panembahan Ismaya yang merasa mempunyai kepentingan khusus dengan penerus kepala perdikan Banyubiru di masa yang akan datang, mencoba ikut mengamankan telatah itu dari rongrongan kekuasaan tokoh - tokoh hitam.
Sebenarnya ia sendiri akan turun langsung melihat kenyataan yang bergolak di telatah Banyubiru, tetapi setelah menyadari adanya Arya Dipa disampingnya, Panembahan Ismaya menjatuhkan pilihan untuk meminta tolong terhadap pemuda itu. Dengan perkataan indah dan lunak, Panembahan Ismaya memberitahukan apa yang terjadi saat itu. Bukan hanya warta dari cantrik tadi saja, tetapi adanya perencanaan jangka panjang yang akan menempatkan seorang trah Pengging untuk memasuki kesultanan Demak.
"Maksud eyang Panembahan, adi Karebet ?" kata Arya Dipa untuk mencari kepastian.
"Benar, ngger." jawab Panembahan Ismaya, tegas.
"Maaf, eyang Panembahan. Bukannya aku tidak setuju, tetapi apakah hal itu tidak membahayakan putra paman Gajah Sora ?"
Orang tua yang sudah lanjut itu, mendesuh perlahan. Memang apa yang dicemaskan oleh Arya Dipa itu beralasan. Tetapi sudah puluhan kali Panembahan Ismaya memikirkan dan meyakinkan apa yang akan ia lakukan demi berjalannya rencana pemulihan trah Pengging. Orang tua itu pun, nantinya akan muncul saat - saat yang menentukan, karenanya ia harus meyakinkan rencananya kepada pemuda di sampingnya itu.
"Percayalah kepadaku, ngger." kata Panembahan Ismaya, lalu katanya kemudian, "Baiklah, aku akan membeberkan sedikit kepadamu."
Mata Arya Dipa tak berkedip dan daun telinganya ia buka lebar - lebar, demi mendengar apa yang akan dikatakan oleh keturunan Majapahit itu.
__ADS_1
"Kami, orang - orang tua yang cinta kedamaian di bumi Jawa Dwipa ini, telah melakukan pertemuan untuk membahas berjalannya kemakmuran di telatah ini. Kala itu juga datang seorang wali dari Kadilangu, beberapa pemimpin tanah perdikan dan kabuyutan dan tokoh sepuh trah Wilwatikta. Seharusnya, kakekmu Begawan Bancak dan Panembahan Anom akan kami undang juga pada pertemuan itu. Tetapi kedua orang tua itu sulit diketahui rimbanya dan terlibat kejadian di bang wetan." Sejenak orang tua itu terdiam, demi melihat kesan pada wajah Arya Dipa.
Lalu lanjutnya, "Sudah menjadi kesepakatan antara kami, serta dikuatkan oleh ketajaman mata hati Sunan Kalijaga, satu - satunya jalan ialah menempatkan anakmas Karebet kembali memasuki pranatan keraton."
Jantung Arya Dipa bagai disentakan tali. Getaran yang awalnya perlahan, mendadak kencang. Karenanya demi mengurangi rasa yang tidak - tidak, ia memberanikan diri untuk bersuara.
"Sebelumnya aku minta maaf, eyang Panembahan." ucap Arya Dipa, lalu, "Apakah kelanjutan dari kesepakatan itu adalah untuk mengganti wahyu keprabon dengan paksa ?"
"Hehehe.... " tawa Panembahan Ismaya disertai gelengan kepala.
"Tidak, ngger... Tidak."
"Begitulah, ngger. Nanti apabila pelungguhan Adipati sudah disandang Anakmas Karebet, jalan menuju ke dampar keraton akan terbuka tanpa adanya tindakan mbalelo atau makar." kata Panembahan Ismaya, mengakhiri penuturannya.
Legalah hati pemuda itu. Hatinya yang awalnya was - was, kini bisa bernapas seperti sediakala. Ia tak ingin bila berhadapan dengan kawannya, Mas Karebet. Bukannya ia takut atau jerih dengan ilmu murid ki Ageng Sela dan Sunan Kalijaga itu, tetapi semuanya karena adanya tali persahabatan semata.
__ADS_1
"Baiklah, eyang Panembahan. Kini hatiku semakin mantab untuk ikut berusaha melapangkan jalan bagi adimas Karebet." kata Arya Dipa, " Kalau begitu, sekarang juga aku akan menghadang gerombolan gelap itu."
"Hati - hati, ngger." pesan Panembahan Ismaya, sambil mengangsurkan keris kyai Sangkelat orang tua itu berkata lebih lanjut, "Bawalah ini, dan pinjamkan kepada Arya Salaka."
Diterima keris kyai Sangkelat dan disisipkan keikat pinggangnya.
"Satu lagi, ngger. Sebaiknya kau menutupi jati dirimu kepada siapa pun tak terkecuali." tambah Panembahan Ismaya.
Arya Dipa mengernyitkan alis, menandakan keheranan atas pesan dari orang tua pemimpin padepokan Karang Tumaritis. Dan Panembahan Ismaya sebagai orang tua yang kesdik, tanggap akan keheranan pemuda di hadapannya itu.
"Ini demi kebaikanmu dimasa yang akan datang."
"Bila eyang Panembahan Ismaya menyarankan seperti itu, aku sebagai anak kemarin sore, patut mengikutinya, eyang Panembahan."
Di tepuknya pundak Arya Dipa. Orang tua itu merasa tepat telah memilih pemuda yang masih trah Kadiri itu. Seorang pemuda yang berjiwa besar dan tak ada secuil rasa hitam di hatinya. Maka ketebalan pengharapan di masa yang akan datang, pemuda ini akan mengiringi perjalanan wahyu keprabon sampai orang yang tepat.
__ADS_1
"Aku setuju dengan penilaian kanjeng Sunan Kalijaga, terhadap pemuda ini." batin Panembahan Ismaya.
Disuruhnya pemuda itu untuk beristirahat dan berkemas - kemas. Karena esok hari, perjalanan yang penuh ancaman maut akan dilaluinya.